
Deka terus mengamati sosok itu dari jarak beberapa meter di belakangnya.
Itu apa ya? Orang apa setan? Rampok apa maling?
Lututnya gemetar saat mengingat kenangan masa kecilnya dulu tentang perampok. Malam hari saat Deka kecil tengah menginap di rumah temannya, rumah itu disantroni perampok. Deka ingat betul saat perampok itu mengacung-ngacungkan senjata tajam kepada seluruh penghuni rumah. Sungguh mengerikan.
Kini di hadapannya ada sesosok yang dari postur tubuhnya kemungkinan adalah seorang pria. Sosok itu tengah berusaha mencongkel jendela kamar Ririn. Tidak membutuhkan waktu lama, sosok itu sudah berhasil membuka jendela kamar lalu melompat dan masuk ke dalam kamar Ririn.
Oh, tidak. Ririn dalam bahaya.
Dengan perasaan panik, Deka berlari menuju jendela kamar Ririn. Ia yang penakut, seketika menjadi berani saat menyadari keadaan bahaya yang mungkin akan menimpa wanita cantik itu.
Rasa panik justru membuat Deka menjadi gesit. Jendela yang setinggi dadanya itu mampu ia lompati tanpa hambatan berarti.
Sesaat setelah berhasil masuk kamar, pandangannya tertuju pada Ririn yang tengah berusaha memberontak dari kungkungan pria berpakaian serba hitam itu. Adegan yang terpampang itu membuat Deka naik pitam.
“HEY, BANGSAT LO!!” Deka menarik tubuh pria itu.
Bug ...
Satu pukulan Deka layangkan pada wajah si pria.
Deka belum pernah memukul seseorang sebelumnya. Masa-masa nakalnya dulu hanya tentang wanita bukan tentang pukul-pukulan, perkelahian atau pun tawuran. Namun rasa murka dan amarah yang merajai hati membuat kekuatannya meningkat berkali-kali lipat.
\=\=\=\=\=\=\=
Jefri masih hafal betul pria yang menabraknya di depan kasir sebuah resto. Pria yang dikenalnya sebagai Asep (Dewa). Pria yang pernah tinggal bersama Aki, kakek angkat Ririn.
Ia yang penasaran akan kehadiran Dewa di resto itu, lalu berpikiran untuk menguntit. Seringai senyum jahat terbit saat pandangannya menemukan sosok Ririn di sana.
Aku menemukanmu, Ririn.
Malam itu ia membuntuti mobil yang dikendarai Dewa, yang di dalamnya ada Ririn, Abah, Mami, Mimin dan Syad sampai ke depan rumah. Sempat terkejut saat melihat wanita yang sangat mirip Ririn mengenakan jilbab, yaitu Mimin. Namun, ia kembali memfokuskan pada targetnya, Ririn.
Selama beberapa hari ia mengintai kegiatan Ririn dan keluarganya. Sampai akhirnya pada malam ini. Selepas gemericik hujan yang telah membius sebagian besar warga Cibening, ia memulai aksinya.
Mencongkel jendela menggunakan obeng, ia melompat masuk ke kamar Ririn yang sudah gelap. Ririn biasa tertidur dengan kamar dalam keadaan gelap.
Dengan mengendap-endap ia mendekati tempat tidur Ririn. Tangannya langsung membekap mulut Ririn. Ririn yang baru saja terlelap sontak terbangun karenanya.
“Hai, Sayang ... kita ketemu lagi,” kerling Jefri seraya tersenyum menyeringai.
“Mmmm ... mmmm ....” Ririn meronta berusaha melepaskan tangan kekar Jefri di mulutnya agar bisa berteriak.
“Kamu itu ga akan pernah bisa lepas dari aku!”
“Mmmm ... mmmm .... “ Raut ketakutan tampak di wajah cantik Ririn.
Ririn berusaha memberontak sekuat tenaga namun seakan sia-sia. Jefri telah menindih dan mengunci tubuhnya. Tangan kirinya membekap mulut Ririn sementara tangan yang satunya mengunci dua tangan Ririn.
Air matanya luruh. Bayangan kekerasan yang sering dilakukan Jefri membuat napasnya sesak seketika. Mengapa pria yang telah banyak memberikan luka itu ada di sini. Apakah ini mimpi buruk?
Ririn memejamkan mata. Sebab ia tak sanggup untuk menatap semuanya. Hingga sesaat kemudian ia merasakan kuncian tubuh Jefri terlepas dari tubuhnya. Tangan Jefri yang membekap mulutnya pun terhempas entah ke mana.
Hal itu sontak membuat Ririn membuka mata. Seketika ia terkejut karena mendapati Deka sudah berada di kamarnya.
__ADS_1
“HEY, BANGSAT LO!!”
Bug ...
Ririn terbeliak menatap Deka yang memukul Jefri. Satu pukulan telak dari Deka berhasil membuat hidung pria itu mengucurkan darah.
Jefri mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Setelahnya ia balas menyerang Deka dengan berang. Menarik kerah baju Deka, lalu balas memukul ... angin, karena Deka berhasil menghindar.
Bug ...
“Ga kena! Weee ....” Deka menjulurkan lidah.
Bug ...
“Anda gagal!”
Bug ...
“Tetot. Anda gagal lagi!”
Deka memang tidak menguasai ilmu bela diri dan tak pandai berkelahi, tapi ia memiliki jurus jitu dalam menghindar. Terinspirasi dari caranya menghindar dari kejaran cewek-cewek rese.
Pergelutan di antara kedua pria itu tak dapat dihindarkan. Saling memukul. Saling menendang. Saling menindih bergantian. Saling berguling-guling di atas kasur, lalu pindah ke atas lantai, lalu pindah ke atas kasur lagi.
Selagi kedua pria itu tengah berkelahi, Ririn keluar kamar meminta bantuan Abah.
Braaaak ...
Jefri mendorong tubuh Deka hingga terjerembab ke belakang mengenai nakas. Jefri mengepalkan tangan melayangkan pukulan. Deka menghindar dengan memutar tubuhnya.
Hati Deka menghangat seketika. Tak menyangka sikap Ririn semanis itu, memajang foto kebersamaan mereka. Rasa sakit akibat pukulan Jefri yang mengenai punggungnya, seolah tak terasa. Melebur bersama hangat hati yang dirasakannya detik ini.
Menyadari tingkah polah rivalnya yang diam saja dan tampak sedang menatap sesuatu, membuat Jefri mengalihkan pandangannya pada apa yang ditatap Deka.
Bertolak belakang dengan Deka, hati Jefri justru meradang menatap foto itu. Ia menarik tubuh Deka dan memutarnya agar berhadapan dengannya.
Bug ...
“Berani-beraninya kamu mendekati Ririn!” Jefri sangat murka. Di kampungnya saja, tak ada yang berani mendekati Ririn karena takut padanya.
Bug ...
Bug ...
Bug ...
Jefri memukul Deka bertubi-tubi. Amarahnya benar-benar berkobar karena melihat foto kebersamaan Ririn dan Deka.
Sementara Deka yang sempat terbuai dalam perasaan, menjadi tak mampu mengelak dari serangan Jefri yang membabi buta.
“ANJING MANEH!!!” Tangan Jefri yang terkepal bergetar karena menahan emosi. Tangan itu siap melayangkan pukulan dengan kekuatan sekuat-kuatnya. Lalu ...
Hap ...
Abah menangkap tangan kekar Jefri lalu memelintirnya.
__ADS_1
“KURANG AJAR KAMU!!” Abah memukul Jefri tepat di perut. Membuat Jefri tersungkur kesakitan dan terbatuk-batuk.
Uhuk ... uhuk ...
Abah menarik baju Jefri
“Kamu orangnya yang sudah menyakiti anak saya selama ini, Hah!!”
Bug ...
Abah meninju Jefri.
“Beraninya kamu mendatangi rumah ini!!”
Bug ...
Abah meninju Jefri lagi.
Jefri yang mendapat dua pukulan dari Abah segera bangkit dan berdiri lalu menyerang Abah. Dengan gesit Abah mengeluarkan jurus kelid Cimande yaitu jurus menangkis serangan lawan sambil berusaha merobohkannya.
Abah merobohkan Jefri dengan memberikan sebuah tonjokan di dekat ulu hati. Membuat Jefri seketika jatuh tersungkur tak berdaya.
“Wanian sire kare wong Banten! Pengen dipence kayane. Semunu durung metu golok e. Wes KO sire!”
(Beranian kamu sama wong Banten! Pengen dipencak kayaknya. Segitu belum keluar goloknya. Udah KO kamu!)
Kalau Abah sudah mencaci-maki dengan bahasa Serang, artinya Abah sedang marah besar. Dengan mudahnya, Abah dapat melumpuhkan Jefri.
Jef, jangan main-main sama Haji Zaenudin. Anaknya aja juara pencak silat PORCAM, apalagi abahnya.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1