
Saat Ririn membuka pintu toilet, tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang karena ditubruk oleh seorang pria yang baru keluar dari toilet wanita. Pria itu keluar toliet dengan menarik paksa seorang wanita.
Yang menyita kepeduliannya adalah wajah sendu sang wanita yang ditarik paksa dan gadis kecil yang berjalan mengekor di belakang keduanya dengan raut sendu pula. Gadis kecil itu menatap Ririn sejenak saat melewatinya, lalu merogoh saku celana dan menyisipkan sesuatu di genggaman tangan Ririn.
Ririn menerka pria dan wanita itu adalah sepasang suami istri. Sedangkan gadis kecil yang berjalan di belakang mereka, ia tidak tahu pasti apakah anak, adik, atau saudara pasangan suami istri tersebut.
Menurut taksirannya, gadis kecil itu mungkin usia kelas enam SD atau usia kelas satu SMP. Tubuhnya baru berkembang layaknya gadis yang baru memasuki masa pubertas.
Jika dikatakan anak, wanita itu terlalu muda untuk memiliki anak seusia gadis yang tingginya hampir menyamai Ririn. Sebab sang wanita diperkirakan masih muda, mungkin hanya beberapa tahun di atas Ririn. Atau seusia Bang Deka. Mungkin. Begitu pikirnya. Sedangkan sang pria diperkirakan berusia sekitar 40 tahun.
"Anjing lo! Berani kabur dari gue!" sentak pria itu kepada sang wanita. Tampak pria itu mencekal kuat pergelangan tangan sang wanita.
"Saya cuma temani Tiara beli perlengkapan sekolah!" Sayup-sayup terdengar suara pertikaian pasangan yang kemungkinan adalah pasangan suami istri. Mereka berjalan semakin menjauh, seperti mengarah ke pintu keluar mal.
Ririn berusaha untuk tidak peduli dengan pertikaian pasangan tersebut, namun secarik kertas di genggaman tangan memaksanya untuk peduli. Secarik kertas yang diberikan secara diam-diam oleh gadis kecil tadi saat berjalan melewatinya.
Ririn membuka kertas itu, lalu membaca tulisan yang tertulis di sana.
Tolong mama saya. Suaminya mama, jahat. Tolong lepaskan mama saya dari suaminya.
Jl. Kenari no. 17. Gg. Apel 2.
Seketika hatinya gundah saat membaca pesan itu. Pesan yang menurut tebakannya adalah tulisan tangan sang gadis kecil.
Tanpa berpikir panjang Ririn segera menyusul ketiga orang tersebut. Ia mengayun langkah cepat, berlari-lari kecil menuju pintu keluar belakang mal. Sampai di pintu keluar, langkahnya terhenti lalu menengok kanan dan kiri. Matanya menangkap tiga orang tadi tengah berjalan menuju area parkir belakang mal. Ia melanjutkan langkah, membuntuti ketiga orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Sakit, Mas!" rintih sang wanita sembari memegangi rambutnya yang ditarik ke belakang oleh si pria.
Suasana area parkir yang sepi membuat si pria semakin bengis menyakiti wanitanya. Pria itu menjambak rambut lalu mendorong tubuh wanitanya ke badan mobil hingga kepalanya terbentur.
"Jangan sakiti mama saya, Om!" mohon sang gadis dengan raut ketakutan.
"Diam kamu!" bentak pria itu pada sang gadis kecil.
"Tiara, masuk ke mobil, Sayang ... mama ga papa kok."
"Tapi, Mah ...."
"Hey anak bangsat, masuk lo! Atau emak lo mau gue hajar lagi!" ancam si pria.
"Hey!" teriak Ririn yang baru tiba di tempat kejadian. Menyaksikan adegan penganiayaan itu, mengingatkannya pada kehidupan masa lalu. Seketika tumbuh rasa empati dan keberanian untuk menghentikan tindakan penganiayaan yang terjadi di depan matanya.
__ADS_1
"Siapa kamu!" sentak sang pria.
"Tidak penting siapa saya. Saya minta Anda berhenti menganiaya Mbak itu," sahut Ririn.
"Jangan ikut campur urusan saya!" Pria bertubuh tinggi besar itu menatap Ririn dengan tatapan nyalang.
"Saya akan panggil satpam kalau Anda tidak berhenti menganiaya Mbak itu!" ancam Ririn. Entah mendapat keberanian dari mana, ia sampai berani mengancam.
"Mbak, jangan ikut campur urusan rumah tangga kami! Ini suami saya. Mbak, silakan pergi," sahut sang wanita kepada Ririn.
"Tapi Mbak dianiaya sama ...."
"Silakan Mbak pergi, tinggalkan kami! Saya enggak papa," potong wanita dengan pipi tirus.
Ririn dapat melihat setumpuk beban di wajah wanita itu. Kalau dilihat, wajah wanita berkulit putih itu cantik, hanya terlalu tirus. Bukan karena diet, tetapi karena setumpuk beban yang sangat jelas terpancar dari wajah sendunya.
"Ayo, Mas, kita pulang!" ajak sang wanita kepada si pria.
Kemudian ketiga orang asing itu masuk ke dalam mobil. Ririn diam berdiri di tempatnya sampai mobil itu melaju. Saat mobil itu melewatinya, ia sempat bertemu mata dengan gadis berbando merah di kepalanya. Setelah melihat lebih jelas, wajah si gadis memang mirip dengan wanita tadi. Sepertinya benar mereka ada hubungan darah. Entah adik kakak atau ibu anak.
Yang membuat hatinya tergugah adalah tatapan sang gadis yang seolah mengisyaratkan seruan minta tolong. Namun, Ririn tidak mampu berbuat apa-apa.
*****
"Kamu yakin?"
"Yakin. Lagian di dalam toilet cuma ada tiga orang. Ada teman saya sama ibu-ibu dan anaknya. Tapi ibu-ibunya gak pake kerudung. Kalau gak percaya Om masuk aja, cari sendiri."
Seketika wajah Deka tampak pucat sebab rasa cemas dan khawatir yang mendadak datang.
Ya Allah, Ririn ke mana? Lindungi istriku, ya Allah. Batinnya.
"Bang, mau tanya kalau toilet selain di sini apakah ada lagi?" tanya Deka pada seorang pria muda yang baru keluar dari toilet pria. Deka berpikir tentang kemungkinan Ririn pergi ke toilet lainnya.
"Wah, saya kurang tah, Pak. Saya tahunya toilet cuma di sini," jawab pria muda.
"Oh, ya sudah, terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
Deka menunggu di luar pintu toliet. Tidak lama kemudian, seorang gadis ABG keluar dari toilet. Disusul seorang ibu-ibu bersama putra kecilnya.
__ADS_1
"Bu, apa masih ada orang di dalam toilet?" tanya Deka pada si ibu.
"Ga ada kayaknya, Om," sahut si ibu.
"Oke, makasih. Saya sedang mencari istri saya," terang Deka.
Ia segera masuk ke toilet wanita dan mencari Ririn. Membuka satu per satu bilik toilet, tetapi semua bilik tampak kosong tidak berpenghuni.
"Rin ...!"
"Ririn ...!"
"Ya Allah ke mana kamu, Rin?" Deka mengacak rambut frustrasi. Hatinya sungguh cemas, gelisah, gundah, takut dan sebagainya.
"Aaaaa ...!" jerit seorang wanita muda yang baru masuk toilet.
"Kok ada pria di toilet wanita sih?" tanya pengunjung toliet lainnya.
"Om, kok masuk sini sih? Salah kamar, toilet pria di sebelah!" seru pengunjung toilet yang berusia remaja.
"I-iya, maaf."
Deka segera keluar dari toilet wanita. Ia sedang berpikir langkah selanjutnya, apa yang harus dilakukannya. Wajah ceria khas pengantin baru mendadak berubah menjadi pucat karena teramat cemas. Saat membuka pintu toilet, ia malah bertubrukan dengan Ririn.
"Abang ...!"
"Rin ...!" Deka langsung menghambur memeluk Ririn.
"Sayang, kamu dari mana sih? Bikin aku khawatir aja." Deka mengurai pelukan dan mengecupi puncak kepala Ririn.
"Ish, Abang, malu ih! Ini tempat umum." Ririn melepaskan pelukan Deka.
"Biarlah, Rin. Kamu udah terlanjur membuat aku cemas, resah, gelisah. Sekarang kamu harus tanggung jawab menenangkan aku. Sini, peluk aku! Tengan Deka terulur hendak memeluk Ririn, namun Ririn menahannya.
"Nanti aja di rumah, jangan di sini!"
Deka mengembuskan napas kecewa.
"Abang kok masuk toilet perempuan sih?"
"Aku nyariin kamu. Jantung aku mau lepas tau, karena ga menemukan kamu. Sekarang coba cerita, kamu habis dari mana?"
__ADS_1
"Aku mau pipis dulu, Bang. Tunggu ya!" Terburu-buru Ririn masuk toilet. Sementara Deka menunggu di luar.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah," gumamnya seraya menarik napas lega. Apa yang ditakutkannya tadi tidak terjadi.