Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Tobat


__ADS_3

“Aujubilahiminasaitoni rojeem. Bismilahirohmaniroheem.” Mama dan Papa Deka tengah belajar mengaji iqro bersama Ustaz Arif.


“Audzubillahiminassyaitonirrojiim. Bismillahirrohmanirrohiim.” Ustaz Arif memperbaiki bacaan yang dilafalkan, kemudian Mama dan Papa mengikuti seperti yang dilafalkan Ustaz Arif.


“Sa ba ta, ba ta sa, a ba ta sa.”


“Kalau untuk huruf hijaiyah yang bentuknya seperti perahu dengan titik tiga di atas ini dibacanya ‘tsa’ bukan ‘sa’. Harus dibedakan makhrajnya, karena nanti beberapa langkah ke depan akan bertemu huruf sin, dibacanya ‘sa’. Kalau makhraj huruf ‘tsa’ terletak pada ujung lidah dengan ujung gigi seri bagian atas. Cara pengucapannya adalah ujung lidah sedikit dikeluarkan, lidah bertemu ujung gigi. Tsa tsa tsa, begitu,” papar Ustaz Arif.


“Tsa tsa tsa.” Mama dan Papa menirukan yang dilafalkan Ustaz Arif.


“Nah, begitu benar. Bagus,” puji Ustaz Arif. Tampak raut sukacita dari wajah kedua orangtua Deka sebab bacaannya benar.


“Terus kita ke halaman selanjutnya. Ini huruf apa?” tanya Ustaz Arif seraya menunjuk sebuah huruf jim.


“Ini ha,” jawab Pak Satya.


“Ih, bukan, Pah. Ha mah yang ga ada titiknya. Ini ho ya, Ustaz?” sahut Mama.


Ustaz Arif tersenyum. “Yang ini huruf jim, Bapak Ibu.”


“Oh, jim. Iya, lupa.”


“Coba dibaca.”


“A ja ja. Tsa a ja. A ta ja .... “ Mama dan Papa membaca beberapa halaman iqro 1 sampai akhirnya ditutup dengan shodaqollohuladzim.


“Alhamdulillah, malam ini kita belajar mengaji lagi. Pak Satya dan Bu Satya sudah semakin baik melafalkan hurufnya,” ujar Ustaz Arif.


“Pak Ustaz, kapan kira-kira saya bisa lancar baca Al-Qur’an?” tanya Papa.


“Insyaallah kalau rutin belajar, pasti akan cepat bisa, Pak Satya,” sahut sang ustaz.


“Suami saya ini udah ga sabar ingin berangkat haji, Taz,” timpal Mama.

__ADS_1


“Masyaallah, alhamdulilah, bagus itu.”


“Tapi kalau saya belum bisa mengaji bagaimana saya mau berangkat haji. Apakah haji saya nanti diterima, Pak Ustaz?” tanya Papa.


Pertanyaan Pak Satya bertepatan dengan kehadiran Deka yang baru bergabung. Ia duduk dan turut menyimak pemaparan Ustaz Arif.


“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat. Begitu sabda Rasulullah. Maksudnya, diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya sebuah amalan bergantung pada niatnya, bukan terjadi atau tidaknya amalan tersebut,” tutur Ustaz Arif.


“Tuh, Pah, dengerin! Papa mau naik haji itu niatnya apa?” timbrung Deka.


Papa menggaruk kepalanya dua kali. “Apa ya??”


“Niatkanlah setiap amal soleh dan amal ibadah kita hanya karena Allah,” ucap Ustaz Arif.


“Oh begitu, ya.” Papa manggut-manggut.


Kemudian terciptalah obrolan tanya jawab seputar agama Islam. Papa dan Mama banyak bertanya tentang ilmu dasar fikih. Pertanyaan mereka pun kritis sekali.


Seperti misalnya, "Mengapa kentut itu membatalkan wudu? ***** yang kentut mengapa yang dibasuh bukan anus, tapi anggota tubuh yang digunakan untuk berwudu seperti tangan, wajah dan seterusnya?"


"Menurut Imam an-Nawawi, kentut itu membatalkan wudhu bila seseorang yakin memang dia benar-benar kentut. Karena itu, jika kita ragu kentut atau tidak, maka wudhunya tidak batal.


Kentut itu 'kan pasti melewati saluran anus, tempat buang feses, alias tinja. Kalau buang air atau mengeluarkan feses dari ***** itu membatalkan wudhu, maka kentut pun sama membatalkan wudhu.


Kita bisa bayangkan, seorang lelaki yang ingin bertemu pujaan hatinya pasti mempersiapkan diri dengan begitu rapi dan wangi, nah makanya kalau kita mau menghadap Allah juga kita harus bersih, masa iya habis kentut, tetap saja solat ga wudu lagi.


Orang saja kalau dikasih kentut tidak suka bahkan ada yang marah, bukan?"


Setelah hampir tiga jam, sesi belajar mengaji pun usai. Papa dan Mama melanjutkan aktivitas lainnya. Sementara Deka masih duduk bersama Ustaz Arif. Deka sengaja menahan sang ustaz agar tak langsung pulang, sebab ada yang ingin ia ceritakan. Tepatnya ingin curhat.


“Pak Ustaz, saya merasa ibadah saya tidak diterima oleh Allah.” Deka berucap dengan menundukkan kepala. Tampak sekali ia terbebani dengan apa yang ia rasakan.


“Astagfirullahaladzim. Kenapa Bang Deka bisa merasa seperti itu?”

__ADS_1


“Saya ini manusia pendosa, Ustaz. Jika yang paling tinggi di jagat raya ini adalah langit, dosa saya mungkin melebihi tinggi langit itu. Jika yang paling luas di jagat raya ini adalah bumi, dosa saya mungkin melebihi luas bumi itu.”


“Allah itu Al-Gofur Maha Pengampun. Dan Allah itu Ar-Rahim Maha Penyayang. Bang Deka tidak boleh berkecil hati. Ampunan Allah itu sangat-sangat luas. Bahkan, pikiran manusia belum tentu mampu mengilustrasikan betapa luasnya ampunan Allah. Jika seorang hamba sungguh-sungguh bertobat yakinlah Allah akan mengampuni segala dosa hamba tersebut.” Deka mendengarkan dengan saksama penuturan Ustaz Arif.


“Ada sebuah hadis yang bunyinya seperti ini. ‘Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik mereka yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat’


Ada sebuah pertanyaan seperti ini, ‘Kenapa Allah masih hidupkan aku hari ini?’ Imam ghazali menjawab ‘Karena dosaku terlalu banyak dan Allah masih izinkan aku bertobat’


Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata, ‘Dosa yang membuatmu sedih dan menyesal itu lebih disukai oleh Allah daripada perbuatan baik yang membuatmu sombong’


Bang Deka ini sudah bagus karena merasa diri penuh dosa, tapi ingat! jangan pernah berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah.


Sekelam apapun masa lalu kita, selagi kita masih bernyawa, kita tetap berpeluang menjadi ahli surga. Jangan pernah berputus asa untuk berubah dan mencari ampunan dari Allah.” Panjang lebar pemaparan Ustaz Arif.


“Astagfirullah, maafkan saya, Ustaz,” ucap Deka.


Ustaz Arif menepuk bahu Deka. “Bang Deka pernah solat tobat?”


Deka menggeleng. “Belum. Apa dan bagaimana itu solat tobat?” tanyanya.


“Solat tobat adalah solat sunnah yang dilakukan seorang muslim saat ingin bertobat dari kesalahan yang pernah ia lakukan.”


“Ajarkan saya solat tobat, Ustaz!” mohon Deka.


“Baik, saya akan ajarkan solat tobat. Semoga dengan melaksanakan solat tobat, hati Bang Deka lebih tenang dan tidak lagi berputus asa akan ampunan Allah.”


“Amin. Mohon bimbing saya, Ustaz."


“Sebelum solat tobat. Jangan lupa untuk mandi tobat terlebih dahulu.” Ustaz Arif mengingatkan


“Iya, Ustaz. Ajarkan saya mandi dan solat tobat,” mohon Deka dengan binar harapan di matanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2