Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bab 99


__ADS_3

Ririn membuka kelopak matanya saat merasakan sentuhan tangan seseorang mengusap lembut pipinya.


“Abang!” Ia berseru bahagia saat mendapati Deka berada di sisinya dan mengusap lembut pipinya.


“Ya Allah, alhamdulilah, akhirnya bisa mimpi indah. Mimpi melihat Abang sehat," ujar Ririn dengan binar cerah di matanya.


“Sayang, apa kabar?” lontar Deka.


“Kabar Ririn, selalu merindukan Abang,” sahut Ririn.


“Abang juga rindu Ririn.” Deka mencium kening Ririn.


“Ririn lebih rindu Abang. Kapan Abang pulang?” lontar Ririn saat Deka telah melepaskan kecupannya.


Deka tersenyum menanggapi ucapan Ririn.


Sesaat kemudian Ririn tersadar, merasa kecupan Deka di keningnya tadi sangat terasa seperti nyata.


“Abang, coba cium saya lagi,” pintanya.


Deka tersenyum sejenak, lalu mencium pipi Ririn kanan dan kiri.


Benar, rasanya seperti nyata. Gumam Ririn dalam hati.


“Cium Ririn lagi, Bang!” pinta Ririn lagi. Bermimpi Deka dalam keadaan seperti ini sudah membuat Ririn sangat bahagia. Begitu pikirnya.


Deka kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini pria tampan itu meraup bibir Ririn lalu menyesapnya dengan penuh kelembutan. Ciuman Deka terasa sangat nyata bagi Ririn, sehingga ia membalas ciuman suaminya itu dengan lincah dan penuh gelora.


“Sudah lama ditinggal abang, ternyata kamu jadi jago ciuman, Yang,” ujar Deka mengulum senyum saat melepas pagutannya.

__ADS_1


“Mimpi ini rasanya nyata. Sering-seringlah masuk ke dalam mimpi Ririn seperti ini, Bang.”


“Jangan cuma di mimpi, ah. Maunya langsung," sahut Deka sembari tersenyum.


“Seandainya saja Bang Deka sudah sehat dan pulang kembali ke sini.” Ririn berkata lirih.


“Abang memang sudah ada di sini, Yang. Ini bukan mimpi, ini nyata."


Ririn tercenung mendengar ucapan Deka. Seketika ia mencubit lengannya sendiri.


“Awww, kok sakit," pekik Ririn.


“Ngapain sih, Yang, kamu cubit lengan sendiri. Ini beneran abang. Abang sudah pulang, Yang.”


“Ini bukan mimpi?”


Ririn menyentuh wajah Deka dengan tangannya.


“Rasanya seperti nyata,” ucap Ririn dengan binar haru di matanya.


“Enggak percaya kalau ini nyata? Apa perlu abang buktikan? Apa abang harus menunjukkan naga abang yang jos markojos untuk membuktikannya?”


“Ya Allah, Abang.” Ririn menghambur memeluk Deka.


Mendengar Deka menyebutkan kata ‘naga’, Ririn yakin dan tidak meragukan lagi bahwa sosok yang duduk di sampingnya adalah benar Deka yang naganya luar biasa.


“Ririn kangen Abang. Ririn rindu Abang. Huuu .... “ Ririn menangis haru. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan.


“Abang juga rindu Ririn.” Deka membelai lembut rambut hitam Ririn.

__ADS_1


“Kok abang pulang?” lontar Ririn setelah melepaskan pelukannya.


“Enggak senang abang pulang?”


“Senang banget. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih karena Abang pulang dengan sehat walafiat. Tapi kenapa enggak ada yang bilang sama saya kalau Abang sudah sehat dan mau pulang?


“Abang sudah pulih seminggu yang lalu. Tapi dokter masih mau melihat kondisi abang dulu. Sengaja abang nyuruh Dewa untuk enggak cerita ke kamu tentang kesembuhan abang.”


“Abang jahat, ih!”


“Maaf ya, Sayang.” Deka kembali memeluk Ririn.


“Cium abang lagi dong! Cium yang kayak tadi ya, ganassss,” goda Deka sembari mencubit mesra dagu Ririn.


Dengan wajah tersipu Ririn mendekatkan wajahnya pada Deka. Mengikis hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya. Ririn sudah membuka mulut, bersiap untuk meraup bibir pria yang dicintainya.


Lalu ....


Oek ... oek ... oek


.


.


.


.


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2