Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Sekolah


__ADS_3

“Kamu panggil saya apa tadi?”


“Papa.”


“Kapan saya kawin sama mama kamu!” sentak Deka.


Wajah Tiara sontak berubah sendu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Biasanya ia selalu tegar saat Deka berkata sedikit kasar padanya. Namun, yang terjadi sekarang, air matanya hampir tumpah. Sekali kedip, yakin butiran bening itu akan terjatuh.


Mengapa seperti ini? Bukankah ia adalah gadis kecil yang kuat. Sejak kecil sering mengalami perundungan oleh teman-temannya. Dikatakan anak haram, dicaci, dihina. Seingatnya tidak pernah sekali pun ia menangis. Bahkan saat sang papa tiri melakukan kekerasan terhadapnya juga mamanya, ia tidak menangis, yang ada adalah dendam dan umpatan dalam hati kepada suami mamanya itu.


Pernah menangis saat kakek dan nenek meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hanya berjarak seminggu kedua orang yang mengasuhnya sejak kecil itu meninggalkannya dan sang mama, dua tahun yang lalu.


“Abang! Ga boleh gitu ih!” tegur Ririn yang menyadari raut sendu Tiara.


“Abang sudah janji enggak akan ketus sama Tiara.” Ririn mengingatkan. Padahal baru beberapa menit tadi suaminya itu berjanji untuk tidak berkata ketus kepada Tiara.


“Tapi, anak ini tadi manggil .... “


“Biar atuh, Bang! Biar aja Tiara manggil papa, dia ‘kan pengen punya papa,” sahut Ririn.


Deka terdiam sejenak. Sorot  matanya memperhatikan Tiara yang terus menundukkan kepala.


“Karena hari ini saya lagi senang, boleh deh kamu manggil saya papa,” ujar Deka akhirnya.


Ucapan Deka sontak membuat Tiara mengangkat wajahnya. “Beneran, Pah?” Sorot mata Tiara berbinar ceria.


“Hemm. Untuk hari ini aja. Besok udah ga berlaku!” kata Deka santai  sembari memasukkan roti panggang ke dalam mulutnya.


“Ish, Abang.” Ririn hanya mampu berdesis.


Sementara Tiara tersenyum. Meski hanya sehari boleh memanggil Deka dengan sebutan ‘papa’, ia sudah cukup senang.


 \=\=\=\=\=\=


“Usia kandungannya sudah lima minggu,” ujar dokter sembari tangannya sibuk menggerakkan probe (alat pemindai) pada permukaan kulit perut Ririn.


Sebelumnya dokter lebih dulu melakukan serangkaian pemeriksaan kehamilan seperti mengukur berat badan, mengukur tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan dan suhu tubuh.


“Yang mana sih, Dok, bayi saya?” lontar Deka sembari fokus menatap layar monitor. Di layar monitor itu ia hanya melihat warna hitam dan putih yang bergerak-gerak.


“Ini masih lima minggu loh, Pak. Masih sangat awal dari proses kehamilan yang setidaknya akan berlangsung selama empat puluh minggu secara umum. Memang belum tampak jelas di layar monitor. Bahkan ada yang kantong kehamilannya belum terlihat di usia janin lima minggu. Sehingga biasanya kami akan mengadakan pemeriksaan ulang.” Dokter masih terus berselancar di kulit perut Ririn.


“Tapi kehamilan Bu Ririn ini kantung janinnya sudah kelihatan. Jadi saya bisa pastikan Bu Ririn benar hamil," lanjut sang dokter.

__ADS_1


Deka manggut-manggut mendengar penjelasan dokter spesialis obstetri dan ginekologi itu. Sesekali ia melirik Ririn seraya melemparkan senyum, seolah berkata, "anak aku tuh, Yang."


“Ini loh, Pak, titik hitam kecil ini adalah kantong janin.” Dokter mengarahkan krusor pada titik hitam kecil di layar.


“Ya Allah, kecil sekali ya,” sahut Deka.


Dokter itu tertawa kecil. “Iya dong, Pak. Baru lima minggu soalnya. Ini ukuran janinnya kira-kira sebesar biji wijen.”


“Hah? Biji wijen? Kecil amat?” sahut Deka terkejut.


“Abang, ih! Biasa aja kali,” tegur Ririn yang tengah berbaring di hospital bed. Deka merespon teguran Ririn dengan mengusap pipi mulusnya.


Dokter wanita itu tertawa lagi melihat reaksi Deka.


“Iya, Pak, ukuran janinnya masih nol koma dua belas senti, beratnya masih satu gram,” terang Dokter.


“Janin sebesar itu udah bisa apa, Dok? Apa udah bisa manggil Daddy?”


Lagi-lagi dokter itu tertawa. “Belum dong, Pak. Di minggu kelima ini, janin sedang asyik berkembang. Pada fase ini organ-organ tubuh sudah mulai disempurnakan. Mulai dari struktur dasar otak hingga sistem saraf. Jantung dan organ pencernaan juga mulai berkembang.”


“Apa organ vitalnya juga sudah berkembang, Dok? Maksudnya apa jenis kelaminnya sudah terlihat?”


“Kalau jenis kelamin, belum terlihat di usia ini. Bapak harus bersabar dulu. Paling cepat bisa dilihat di minggu keempatbelas usia kehamilan.”


Dokter mengangguk. “Memangnya Bapak sama Ibu mau anaknya berjenis kelamin apa?”


“Cowok.”


“Perempuan.”


Deka dan Ririn menyahut bersamaan. Cowok adalah jawaban Deka dan perempuan adalah jawaban Ririn.


“Karena ini anak pertama, seharusnya apapun jenis kelaminnya sama saja ya,” ujar Dokter.


“Iya deh, Dok. Apa saja, yang penting sehat,” sahut Deka.


“Amin.” Ririn mengamini.


“Ya sudah yuk, kita ke meja. Saya akan tuliskan beberapa resep vitamin.”


Dokter itu mengakhiri kegiatan pemeriksaan USG. Lalu beranjak menuju mejanya. Diikuti oleh Deka dan Ririn.


“Bu Ririn apa mengalami mual-mual kalau pagi?” tanya Dokter.

__ADS_1


“Enggak, Dok.”


“Mungkin belum atau bisa juga tidak. Karena sebagian wanita hamil, ada yang mengalami mual, ada juga yang tidak. Tapi saya akan kasih obat mual, khawatir ke depannya Bu Ririn mengalami mual-mual. Saya juga akan kasih beberapa vitamin yang dibutuhkan ibu hamil,” tutur Dokter seraya menuliskan resep.


Dokter juga menyarankan untuk melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap dan tes urine antenatal. Tujuannya untuk mendeteksi apakah ibu hamil mengalami gangguan kehamilan tertentu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Fery mendapatkan perintah dari Deka untuk mencari sekolah setingkat SMP yang  dekat dengan kediaman Deka. Setelah mendapat sekolah yang dimaksud, ia langsung pergi ke rumah Deka untuk bertemu Tiara dan mengajaknya ke sekolah tersebut.


“Kirain Papa yang mau daftarin aku langsung ke sekolah yang baru,” ujar Tiara kecewa saat Fery datang dan mengutarakan tujuannya.


“Lah, memang seharusnya papa kamu yang ngurusin sekolah kamu. Ini malah ngerepotin orang lain,” sahut Fery datar.


“Om Deka itu bukan orang lain, dia papa aku,” sanggah Tiara santai lalu melenggang masuk ke mobil.


Fery mengernyit mendengar ucapan Tiara. “Dasar anak halu! Siapa yang enggak mau punya papa setajir Deka. Gue aja mau jadi anak si Deka biar bisa disebut horang kayah. Kalau gue kaya nih, kalau misalnya ngambil duit di atm, duitnya gue buang, struknya gue telen.”


“Om, cepetan!” seru Tiara dari dalam mobil.”


“Iya ...!”


Fery melajukan mobilnya menuju sebuah sekolah islam setingkat SMP.  


Deka yang menginginkan Tiara untuk menempuh pendidikan di sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan agama islam. Alasannya tentu saja agar gadis kecil itu tidak rusak seperti ibunya.


Mendengar kisah yang kerap diceritakan Tiara. Sedikit banyak ia memahami bagaimana kelakuan ayah dan ibunya di masa lalu. Sama-sama bejat. Begitu pikirnya. Meskipun hati kecil Deka juga mengakui, ia pun sama bejatnya ... dulu.


Karena pengalamannya dulu yang kurang dibekali pendidikan dasar agama, hingga menyebabkan hidupnya menjadi liar. Maka ia tidak ingin Tiara tergelincir dalam pergaulan yang tidak benar seperti dirinya. Ini murni rasa kemanusiaan yang bekerja. Bukan karena perasaan tertentu pada gadis kecil itu.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2