Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Sah


__ADS_3

“Ananda Radeka Bastian bin Satya Nugraha saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Sabrina Zahra binti Haji Zaenudin dengan mas kawin uang sebesar satu milyar beserta mesin ATM-nya dibayar tunai.” Abah sedikit mengayun tangannya yang menjabat erat tangan Deka.


“Saya terima nikah dan kawinnya Sabrina Zahra binti Haji Zaenudin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Deka mengucapkan lafal kabul dalam satu helaan napas.


“Bagaimana sah?” tanya penghulu.


“Saaaaahhhh ...!" seru seluruh tamu yang hadir.


“Alhamdulillah. Baarakalllahu lakuma wa baaraka alaikuma.”


(Semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi kalian berdua dan keberkahan dalam apa saja yang dikaruniakan bagi kalian)


 “Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)


Di saat penghulu berdoa untuk kebaikan kedua mempelai, para warga kampung Cibening yang hadir malah sibuk kasak kusuk sambil berbisik.


“Wih mas kawine semilyar.” (Wih, mas kawinnya satu milyar)


“Picis kabeh kuen?” (Duit semua itu?)


“Iye lah mase campur godong.” (Iya lah masa campur daun)


“Kare mesin ATM segale maning.” (Sama mesin ATM segala lagi)


“ATM kuen ape sih?” (ATM itu apa sih?)


“Semacam kartu uleh dinean bank.” (Semacam kartu, dapat dikasih bank)


“Kaye KTP konon tah?” (Seperti KTP begitu ya?)


“Iye tapi lamun dipanjingaken ning mesin bise metu picis.” (Iya, tapi kalau dimasukkan ke mesin bisa keluar uang)


“Kartu sakti berarti ATM kuen ye? Kite jadi pengen due ATM.” (Kartu sakti berarti ATM itu ya? Saya jadi ingin punya ATM)


“Tuku ne ning endi ATM kuen ning onlen tah?” (Belinya di mana ATM itu, di onlen kah?)


“Udu lah mase tuku ng onlen. Tuku ne ning bank!” (Bukan masa beli di onlen. Belinya di bank)


“Pirahan hargane?” (Berapaan harganya?)


“Lah embuh pirahan.” (Enggak tahu berapaan)


“Kisuk kite rep tuku kartu sakti ATM lah.” (Besok saya mau beli kartu sakti ATM lah)


Setelah ijab kabul, pengantin wanita digiring untuk menghampiri pengantin pria. Deka menatap takjub Ririn yang tampak sangat cantik dengan baju pengantinnya.


Deka memasangkan cincin di jari manis Ririn. Setelahnya, Ririn meraih tangan Deka dan menciumnya takzim.


Usai prosesi akad nikah seluruh tamu yang adalah saudara dan kerabat dekat serta warga kampung Cibening dipersilakan untuk menyantap hidangan yang tersedia.

__ADS_1


“Selamat ya Brobos, setelah tersesat akhirnya bertemu juga sama jodoh lo,” ucap Fery seraya menyalami Deka.


Deka hanya tersenyum menanggapi ucapan Fery.


“Doakan gue napa! Diem bae!” seru Fery.


“Kan lo udah pernah. Salah sendiri lo udahan. Sono balikan lagi sama mantan!” cetus Deka.


“Balikan sama mantan itu kayak sendal swallow yang udah putus. Mau dipaku, dikaretin, dilem korea tetep aja rasanya ga senyaman dulu ... hambar,” tutur Fery.


“Kalau hambar tambahin garam sama mecin,” seloroh Deka.


“Rin, kalau dia mulai nakal tusuk aja lubang hidungnya pake tusukan cilok,” kelakar Fery ketika menyalami Ririn.


“Bang Deka mah baik, ga mungkin nakal,” sahut Ririn.


“Wah, Ririn ini istri solehah rupanya. Cocok sama suami solehah kayak si Deka.”


“Suami soleh, kampret!”


“Udah ah gue mau makan, mau ngicip rabeg khas Serang.” Fery beranjak menuju meja perasmanan bergabung dalam antrean para tamu undangan.


“Maafin temen aku tadi ya, emang rada sinting dia,” gurau Deka.


Ririn tersenyum menanggapi gurauan Deka. “Abang belum makan ‘kan? Saya ambilkan makan untuk Abang ya,” ucapnya. Kemudian berlalu meninggalkan Deka.


Saat Ririn telah beranjak untuk mengambil makan, Bella datang menghampiri Deka.


“I’m sure, of course,” balas Deka yakin.


“It’s up to you. Semoga keputusanmu untuk tetap menikahi Ririn ini adalah benar,” ucap Bella.


“Hai, Bell. Udah makan?” Ririn yang hendak mengambilkan makan, kembali lagi ke tempat semula karena melihat Bella menghampiri Deka.


“Nanti saja. Aku masih kenyang.” Bella tersenyum.


“Oya, selamat ya, Rin. Semoga kamu bahagia. Semoga Deka bisa memberikan kebahagiaan yang kamu harapkan dan impikan,” ucap Bella sembari menyalami Ririn dan bercipika-cipiki.


“Makasih, Bell. Makasih doanya,” balas Ririn seraya tersenyum.


“Well, sepertinya aku ga bisa lama-lama di sini. I’m so sorry, i have to go.”


“Loh, kok buru-buru. Kamu belum makan ‘kan? Aku siapkan berkat untuk kamu, ya," tawar Ririn.


"Berkat? Berkat Tuhan Yang Maha Esa maksudnya?"


"Berkat Itu apa ya. Berkat itu, emmm .... " Ririn menjeda ucapannya sejenak, sedang berpikir bagaimana menjelaskan 'berkat' kepada Bella.


"Berkat itu semacam nasi box atau tentengan yang kita dapatkan habis selesai acara pengajian dan sebagainya. Kayak gitu deh pokoknya," terang Ririn


“No. Tidak usah repot-repot. Aku tidak mau berkat. Sekali lagi selamat ya untuk kalian.” Bella kembali menyalami Ririn dan Deka. Setelahnya ia buru-buru pergi.

__ADS_1


Meskipun acara hari ini hanya akad nikah, tak disangka tamu yang hadir lumayan banyak. Lebih banyak yang datang artinya banyak yang mendoakan. Betul 'kan?


Malam telah tiba, menyisakan rasa lelah dan bahagia untuk pasangan pengantin baru ini. Lelah setelah seharian menerima tamu hingga sore. Bahagia karena telah menyandang status baru sebagai pasangan halal.


Ririn telah mengganti pakaiannya dengan piyama. Begitu pun dengan Deka. Pria yang telah sah menjadi suami itu tengah duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan punggungnya pada headboard sembari menatap Ririn yang tengah menyisir rambut hitamnya di depan cermin.


Seharusnya ini adalah malam bahagianya. Malam yang sangat di nantinya. Untuk melepas dahaga has-rat setelah sekian lama berpuasa. Namun, kini semuanya terenggut begitu saja sebab dirinya yang terinfeksi virus lak-nat itu.


Meskipun sesungguhnya bisa saja ia melakukannya dengan menggunakan pengaman misalnya. Akan tetapi ia tak mau, ia sedang  menghukum dirinya sendiri untuk tidak sampai melakukannya, entah sampai kapan.


“Bang!”


“Astagfirullah.” Deka terkejut karena mendapati Ririn sudah duduk di sampingnya.


“Abang melamun?” tanya Ririn.


Deka menggeleng. “Enggak.”


“Sepertinya Abang banyak pikiran,” tukas Ririn.


“Enggak. Hanya ada yang aku pikirkan sedikit,” sahut Deka sembari menatap Ririn. Mereka saling bertatapan mata. “tentang pekerjaan,” lanjutnya.


“Jangan terlalu banyak  memikirkan pekerjaan, Bang. Nanti sakit,” saran Ririn.


“Kalau banyak mikirin kamu, boleh?” Deka mendekatkan wajahnya pada Ririn.


.


.


.


.


Kalau di sini, tentengan yang biasanya didapat setelah pulang ngeriung dinamakan 'berkat'.


Terima kasih dukungannya.


 


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2