
Langit sedang cerah-cerahnya, matahari tengah terik-teriknya ketika mobil Deka melaju pulang ke arah rumahnya. Saat jam istirahat, ia langsung meninggalkan kantor. Jika tidak ada hal urgensi, Deka menyerahkan urusan pekerjaannya pada Fery sang asisten dan Silvi sang sekretaris.
Baru saja sampai rumah, Ririn langsung menyambutnya dan menuntunnya masuk ke kamar. Wanita cantik yang selalu memesona itu menahannya untuk tidak segera mandi. Sejak dinyatakan hamil, Ririn begitu menyukai aroma parfum yang bercampur dengan keringat sang suami.
Maka beginilah, saat Deka pulang kerja ia akan bermanja-manja. Merebahkan kepalanya di pangkuan sang pemilik hati. Menghirup aroma keringat yang sedap-sedap gimana gitu.
“Hai, Akachan, tumben nih ga minta dibelikan asinan lagi?” tanya Deka sembari mengelus perut Ririn.
“Udah bosan Dadddy, pengen yang lain,” jawab Ririn tetap menirukan suara anak kecil.
“Apa? Bilang aja, Superdaddy pasti akan mewujudkannya.”
“Daddy, Akachan ingin es ABCD uncle Muthu," ucap Ririn manja.
Deka mengerutkan kening. “Memangnya ada?”
“Enggak tahu. Tapi Akacahan mau es ABCD.” Setiap menonton serial si kembar Upin dan Ipin, Ririn selalu ngiler saat melihat es ABCD yang dijual Uncle Muthu.
"Oke." Deka langsung meraih ponselnya menghubungi Fery.
“Fer, siapkan tiket penerbangan ke Malaysia. Sekarang!”
Berburu Es ABCD tentu hal mudah bagi Deka. Tinggal terbang ke Malaysia. Asalkan pergi ke Malaysia-nya tidak disuruh naik motor atau jalan kaki. Terbayang kalau jalan kaki, sampai di Indonesia mungkin Ririn sudah berojol. Atau bahkan si Akachan sudah berkumis.
Fery dengan sigap segera melaksanakan perintah Deka.
“Mau ngapain sih Bro, mendadak dan buru-buru amat ke Malaysia?” lontar Fery saat menyerahkan tiket pesawat kepada Deka.
“Bini gue ngidam es ABCD yang ada di film Upin dan Ipin,” sahut Deka.
“Ya ampun, aneh banget sih ngidamnya. Semoga habis ini bini lo ngidam puding tubby teletubbies,” kata Fery.
__ADS_1
“Waduh, jangan! Kalau itu susah nyarinya.”
“Btw, salam sama sappy, ya (baca : Sepi, sapinya uncle Muthu)” ujar Fery sebelum Deka dan Ririn terbang ke Malaysia.
Di Malaysia, mereka mengunjungi Menara Kembar Petronas, salah satu ikon negara tersebut.
“Abang, mungkin enggak anak kita kembar?” tanya Ririn saat memandang menara kembar di hadapannya. Sepertinya si kembar Upin dan Ipin terinspirasi dari menara tersebut.
“Enggak, Sayang. Karena dokter bilang, kantung janinnya Cuma satu. Tapi karena kamu ada keturunan kembar, mungkin saja nanti anak kedua kembar, kayak Syakira dan Syafira,” sahut Deka.
Kalau soal keinginan, sesungguhnya Deka pun ingin Ririn melahirkan anak kembar. Tentu saja maksudnya agar cepat banyak memiliki anak. Satu kali persalinan saja dapat dua anak. Kalau tiga kali persalinan berarti tinggal dikuadratkan. Jadi, tidak perlu hamil berkali-kali untuk mendapatkan banyak anak, bukan?
“Abang maunya si Akachan ini laki-laki atau perempuan?”
“Apa saja lah, yang penting sehat. Habis anak ini lahir, kita gaspol bikin lagi. Setuju?”
“Abang ayo kita tebakan, kira-kira anaknya laki-laki atau perempuan?”
“Kata saya, Akacahan itu perempuan.”
“Kita taruhan, berani?” lontar Deka.
“Ayo, siapa takut!” sahut Ririn.
“Kalau anaknya perempuan, Abang harus mau makan kalau saya masak teri, tumis kangkung dan tahu tempe,” kata Ririn.
Selama enam bulan berumah tangga, Ririn hafal sekali kesukaan Deka. Suaminya itu hanya mau makan di rumah jika ia memasak ayam dan daging. Deka kurang suka ikan, apalagi ikan yang banyak durinya.
“Oke. Tapi kalau ternyata anaknya cowok, kamu harus nurutin maunya Abang.” Deka mendekatkan bibirnya di telinga Ririn. “Selama satu tahun kamu di atas ya,” bisiknya.
“Ish, Abang!”
__ADS_1
“Takut?”
“Enggak.”
“Deal ya.” Deka menyodorkan jari kelingkingnya.
“Deal.” Ririn menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Deka.
“Ayo, dinikmati es ABCD-nya!” kata Deka.
“Ternyata es ABCD itu es campur biasa,” sahut Ririn kecewa.
“Makanya, tadi Abang itu mau bilang kalau mau es ABCD enggak usah jauh-jauh ke Malaysia. Di depan komplek perumahan kita juga ada.”
Setelah asinan Bogor, es ABCD uncle Muthu, beberapa hari kemudian Ririn merasa sangat ingin memakan sesuatu yang sejak menikah dengan Deka tidak pernah lagi memakannya.
“Abang, kok saya ... eh maksudnya si Akachan tiba-tiba pengen makan ....” Ririn mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu.
“Mau apa lagi, Yang. Ayo, bilang aja!” sahut Deka antusias.
“Pengen makan ... jengkol.”
“What?”
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih dukungannya