
Beberapa hari kemudian, Deka mendapat kabar dari pihak laboratorium bahwa hasil tesnya sudah keluar. Deka dan Ririn bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes tersebut lalu memastikannya ke dokter.
“Menurut hasil pemeriksaan, kondisi kesehatan Pak Deka bagus, sehat. Eritrosit, leukosit, trombosit, hemaglobin, dan komponen darah lainnya bagus, normal," papar sang dokter sembari membaca hasil pemeriksaan darah Deka.
Ririn dan Deka mendengarkan penjelasan dokter dengan saksama.
"Hanya tekanan darahnya 130 per 90, termasuk tinggi meski masih diambang normal. Jangan terlalu banyak pikiran, dan cukup istirahat,” pesan dokter.
“Lalu bagaimana dengan hasil tes HIV-nya, Dok?” tanya Deka.
“Pak Deka ini luar biasa loh,” puji sang dokter.
“Memang seharusnya setiap pasangan yang akan menikah wajib melakukan tes HIV. Bukan hanya mental dan keuangan saja yang harus dipersiapkan. Tes HIV ini penting dilakukan sebagai bentuk pencegahan. Memastikan status kesehatan agar tidak menularkan kepada pasangan dan anak-anak nanti,” tutur dokter yang mengira Deka dan Ririn adalah pasangan yang baru akan menikah.
“Lalu bagaimana jika salah satu pasangan positif terinfeksi virus HIV, Dok?” tanya Ririn.
“Jika memang terinfeksi HIV AIDS, obati saja dulu. Paling lama enam bulan dengan minum obat antiretroviral atau ARV secara rutin. Dengan begitu virus akan menjadi minim sekali di dalam tubuh, penyakit itu akan terkontrol dan risiko menularkan ke orang lain jadi lebih rendah. Bahkan kemungkinan memiliki anak yang bebas HIV AIDS juga sangat mungkin,” papar sang dokter.
“Jadi jika salah satu pasangan terinfeksi virus HIV, tetap mungkin untuk menjalankan pernikahan yang normal, Dok?” tanya Deka.
“Tentu, sangat mungkin. Banyak kok para ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) yang memiliki keluarga dan menjalankan kehidupan normal seperti orang sehat lainnya,” jawab dokter.
“Terus bagaimana dengan hasil tes HIV saya, Dok?”
“Dari hasil pemeriksaan di sini .... " Dokter membaca hasil tes HIV Deka beberapa jenak. "Pak Deka negatif HIV.”
“Alhamdulillah,” ucap Deka dan Ririn berbarengan. Keduanya kompak menoleh dan saling berpandangan, lalu saling berpelukan. Pelukan panjang dan penuh haru bahagia.
“Ehem.” Dokter berdehem karena pasangan di hadapannya itu berpelukan sangat lama.
“Maaf, Dok,” ucap Ririn salah tingkah. Di bawah meja, kakinya menendang kecil kaki Deka seolah sedang menegur tingkah suaminya itu.
Teguran Ririn dibalas Deka dengan menggenggam erat tangan Ririn di bawah meja. Dan tidak akan melepaskannya hingga sesi konsultasi dengan dokter usai.
“Jadi, saya tidak terinfeksi virus HIV AIDS, Dok?” tanya Deka memastikan kembali.
“Tidak,” jawab dokter.
“Saya sehat walafiat?”
“Sejauh ini saya rasa, Pak Deka sehat.”
“Alhamdulillah,” ucap Deka sekali lagi dengan penuh syukur.
“Saya akan resepkan vitamin saja untuk Pak Deka.” Dokter menuliskan sesuatu di secarik kertas resep.
“Vitamin apa, Dok?”
“Vitamin C.”
“Vitamin J aja, Dok.”
“Vitamin J, vitamin apa ya?”
“Vitamin JOS.”
__ADS_1
Jos lagi, Jos lagi.
Deka dan Ririn melangkah riang setelah keluar dari ruangan dokter. Dunia yang sempat kelabu kini menjadi cerah berwarna. Hati yang nelangsa berganti sukacita. Rasa takut dan putus asa yang mencekam jiwa, meluruh seiring harapan yang membumbung tinggi.
“Abang, ih!” protes Ririn saat Deka hendak menciumnya begitu keluar dari ruangan dokter.
“Kenapa sih, Sayang? Wajar ‘kan aku bereuforia. Aku lagi seneng banget loh.” Deka balas melayangkan protes.
“Tapi ga di sini, ini tempat umum,” sahut Ririn.
“Ya udah kalau gitu, buruan pulang!” Deka menggandeng tangan Ririn, lalu mengayun langkah lebar dan tergesa menuju pintu keluar rumah sakit hingga area parkir.
“Sabar atuh, Bang! Ga usah buru-buru.” Protes Ririn sekali lagi. Namun, tidak digubris oleh Deka. Lelaki itu terburu-buru ingin segera pulang untuk melepaskan has-rat yang terpendam selama ini.
Mereka sampai di mana mobil Deka terparkir. Deka membukakan pintu mobil untuk Ririn dengan senyum yang terus terkembang. Setelahnya ia pun masuk mobil, lalu duduk di belakang kemudi.
“Kita langsung pulang ya, Sayang. Aku udah ga sabar. Ingin membuktikan tuduhan kamu bahwa aku tidak im-po-ten. Mau berapa ronde, hayo!" ujar Deka seraya mengerlingkan mata. Lalu mendekatkan wajahnya pada Ririn.
“Ish, Abang!" Ririn mendorong pelan tubuh Deka. Wajahnya memerah merona mendengar kalimat terakhir Deka. Jantungnya berdetak tak beraturan saat Deka mendekatkan wajahnya. Padahal hal ini yang dituntutnya dari Deka selama dua bulan pernikahannya dengan Deka, namun reaksinya malah malu-malu begini.
"Ke rumah Mama dulu, Bang,” sahut Ririn.
“Loh kok, ke rumah Mama sih?!” protes Deka. Ia terpaksa menjauhkan wajahnya kembali.
“Saya udah janji sama Mimin, pulang dari rumah sakit mampir ke sana.”
“Besok aja ya kita ke sananya. Sekarang kita pulang aja.”
“Tapi saya kangen sama si kembar.”
“Besok kita ke rumah Mama dan kamu bisa gendong si kembar sepuasnya. Lagian sekarang sudah terbukti secara medis kalau aku sehat. Nanti kita bisa bikin yang seperti si kembar!"
“Memangnya mau ngapain buru-buru pulang?” tanya Ririn.
Astaga, ini mulut malah bertanya kayak gitu lagi.
“Mau merayakan cinta, dong. Ini jadi malam pertama kita.” Deka menarik-turunkan alisnya seraya tersenyum selebar-lebarnya.
“Ish, Abang!” Ririn yang sedang menatap Deka segera memalingkan wajahnya. Lagi-lagi pipinya memerah.
Tuh 'kan gara-gara keceplosan bertanya nih.
“Tapi ini masih pagi menjelang siang, zuhur aja belum," kata Ririn.
"Pokoknya pulang ke rumah sekarang!" seru Deka.
Ia berniat untuk membulatkan tekad pulang ke rumah saat itu juga, namun kemudian ia mendapat telepon dari Fery yang mengingatkan bahwa satu jam lagi akan ada meeting dengan klien.
“Huft.” Deka membuang napas kesal. “Aku ada meeting sama klien. Padahal aku ingin cepat pulang ke rumah,” keluhnya.
“Sabar, Bang. Kalau Abang kemarin bisa sabar selama dua bulan ga nyentuh saya, masa ini nunggu sampai malam aja ga sabar.”
“Iya. Dari masalah ini aku tuh jadi banyak belajar sabar loh. Sabar itu indah, kapan indahnya ... ya sabar aja.”
Ririn tersenyum geli mendengar gurauan Deka.
__ADS_1
“Kalau Abang ke kantor, tanyakan sama si Belong itu, apa maksudnya dia membohongi Abang seperti itu,” cetus Ririn.
Euforia yang dirasakan Deka, membuat ia lupa akan ulah Bella yang sudah menipunya. Begitu Ririn mengingatkannya, seketika emosinya bangkit.
“Kurang ajar si Bella!” geram Deka. “Awas aja kalau ketemu!” Tangan kanan Deka mengepal dan ditinjukan ke telapak tangan kirinya.
“Sabar, Abang jangan sampai tersulut emosi.” Ririn mengusap lengan Deka untuk menenangkan.
“Ya udah, aku antar kamu ke rumah Mama dulu terus aku langsung ke kantor. Nanti pulangnya aku jemput.”
“Oke.”
"Rin, apa nih!"
"Mana?"
Cup ...
Deka mengecup sekilas bibir Ririn.
Kena 'kan.
Hadeuh
\=\=\=\=\=\=
Setelah mengantar Ririn ke rumah orangtuanya, Deka segera melajukan mobilnya ke kantor.
Sampai di kantor, ia langsung menghadiri meeting bersama klien. Sepanjang meeting berlangsung, sorot mata Deka tak henti menatap tajam Bella yang turut menghadiri meeting menggantikan Silvi sekretaris Deka.
“Terima kasih, Pak Budi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, melakukan yang terbaik untuk proyek ini,” ujar Fery menyalami sang klien setelah meeting selesai.
“Sama-sama, Pak Fery. Saya selalu puas dengan hasil pekerjaan Pak Deka dan tim,” balas klien yang bernama Pak Budi.
Fery menendang pelan kaki Deka sebab bosnya itu diam saja tak menyahut. Deka yang tengah memendam amarah pada Bella tidak fokus mendengar ucapan kliennya.
“Oh, iya. Terima kasih, Pak Budi. Senang mendapatkan proyek kembali dari Pak Budi.” Deka menyalami kliennya setelah menyadari isyarat dari Fery.
“Sama-sama, Pak Deka. Saya harap untuk proyek kali ini juga hasilnya akan memuaskan seperti yang sudah-sudah.”
“Insyaallah, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik.”
“Terima kasih, Pak Deka. Kalau begitu, saya permisi. Selamat siang.”
“Selamat siang,”
Setelah klien yang bernama Pak Budi itu meninggalkan ruang rapat, sorot mata Deka kembali mengarah pada Bella. Bella sampai kikuk dibuatnya sebab tidak biasa mendapatkan tatapan tajam setajam silet dari Deka.
“Bella, kamu ke ruangan aku sekarang!” titah Deka tegas.
__ADS_1