
Pukul 19.40 mobil Deka sampai di rumah. Ririn tersenyum menyambut kedatangan Deka di pintu yang menghubungkan garasi dengan rumahnya.
Seperti kebiasaan istri-istri lainnya, ia mencium takzim punggung tangan sang suami. Dan setelahnya, sebuah kecupan di kening, kedua pipi serta bibir didapatkannya dari pria paling romantis di dunia menurut Ririn.
Mmuach ... mmuach ... mmuach.
Seperti biasa kecupan yang diberikan Deka adalah tiga putaran. Kening, pipi kanan, pipi kiri, bibir, lalu diulang sampai tiga kali. Bagaimana tidak, Ririn menobatkan Deka sebagai suami paling romantis di hatinya. Paling uwu uwu pokoknya.
“Abang belum makan?” tanya Ririn saat menggandeng tangan suami, masuk ke rumah.
“Belum. Aku ‘kan udah janji mau makan malam di rumah. Kamu udah makan belum?” Deka balik bertanya.
“Belum. Saya ‘kan nungguin Abang.”
“Padahal kalau lapar, kamu makan duluan aja.”
“Enggak. Saya masih kuat kok sampai nunggu Abang pulang.”
“Yang penting kamu jangan sampai sakit, Yang.”
“Iya. Insyaallah.”
“Oya, Bang. Di rumah, ada tamu loh.”
“Tamu siapa? Abah sama Mami?”
“Bukan. Nanti saya ceritakan. Dia lagi makan Tapi Abang janji jangan marah ya.”
“Siapa sih tamunya, misteri amat.” Deka berdecak.
Ririn menuntun Deka menuju ruang makan. Bertepatan dengan Tiara yang baru menyelesaikan santap malamnya.
“Tiara, ini om Deka, suami tante,” ujar Ririn memperkenalkan keduanya.
Tiara berdiri dari duduknya, menatap Deka beberapa jenak. Jantungnya bertabuh saat menatap pria yang dicarinya selama ini. Ia yakin pria yang berdiri di hadapannya kini adalah sama seperti pria yang fotonya selalu ia simpan selama ini.
Perasaan hatinya bercampur aduk. Ingin memeluk, ingin bilang sayang, ingin memaki, ingin mengumpat, dan sebagainya.
"Tiara!" tegur Ririn. Melalui isyarat mata menitahkan gadis itu untuk salim mencium tangan Deka.
Tiara berjalan menghampiri Deka dengan sorot mata fokus menatap Deka. Ia meraih tangan Deka dan mencium punggung tangannya, seperti yang dititahkan Ririn tadi.
“Malam, Om,” sapa Tiara. Ia memutuskan untuk memendam segala rasa yang berkecamuk di hati kecilnya. Peliknya hidup, sedikit banyak menuntunnya memiliki pemikiran lebih dewasa dari anak-anak lainnya. Mampu mengendalikan emosi dalam tahapan yang sangat baik.
“Kamu siapa?” tanya Deka. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Matanya memicing mengamati wajah Tiara.
“Bang, ini namanya Tiara.” Ririn yang menjawab pertanyaan Deka.
“Kamu udah selesai makannya?” tanya Ririn pada Tiara.
“Udah, Tan. Makasih, masakan Tante enak. Sama seperti MAMA aku,” jawab Tiara. Kalimat terakhir yang menyebut kata mama diucapkannya sembari menatap tajam Deka. Tatapan keduanya beradu.
Kenapa anak ini liatin gue kayak gitu. Batin Deka.
__ADS_1
“Tiara kalau udah selesai makan, boleh istirahat di kamar atau nonton tivi,” ujar Ririn.
“Iya, Tan. Aku ke kamar aja.”
“Iya, boleh.”
“Permisi.” Tiara berpamitan dan berlalu meninggalkan meja makan.
“Siapa sih dia?” lontar Deka setelah Tiara pergi.
“Abang mau mandi dulu apa makan dulu?” Bukannya menjawab, Ririn malah memberikan penawaran.
“Makan dulu aja deh. Kasihan kamunya, Yang ... takut udah laper. Kalau mandi dulu, nanti lama lagi,” sahut Deka. Ia langsung mengambil posisi duduk di meja makan.
“Cuci tangan dulu, Bang!” seru Ririn.
“Oh iya, lupa.”
“Bilang aja Abang yang udah laper,” seloroh Ririn.
“Laper sih, tapi bukan perutnya yang laper.” Deka mendekatkan bibirnya di telinga Ririn. “Naganya yang laper,” bisiknya.
“Ish, Abang!” Ririn mendelikkan mata dan sedikit mendorong pelan tubuh Deka.
Jika Deka menyebut kata “naga” tubuh Ririn sontak menggeriap dari ujung kaki hingga ujung kepala. Naga adalah sebutan yang Deka ciptakan sendiri untuk bagian tubuh kebanggaannya. Bukan ular apalagi cacing. Menurut Deka yang tepat adalah naga, sesuai bentuk dan ukurannya.
Deka tertawa melihat reaksi Ririn. Ia selalu senang dan merasa gemas melihat wajah putih Ririn itu memerah seperti kepiting rebus setiap Deka menyebut kata ‘naga’.
Usai mencuci tangan, Deka kembali ke meja makan. Ririn menyiapkan piring untuk Deka. Menyentong sedikit nasi merah, sayur kacang merah, dan potongan daging sebagai menu santap malam Deka. Berbeda dengan Ririn yang mau makan apa saja dan sekenyangnya, suaminya itu memang pilah-pilih makanan dan membatasi porsi makannya.
“Anak perempuan yang tadi itu?” sahut Deka sembari mengunyah makanannya.
“Iya, Bang.”
“Memangnya anak itu siapa? Saudara kamu dari Subang, ya?” tebak Deka.
Kalau saudara dari Serang, ia hampir mengenal semuanya. Karena hubungan Deka dengan keluarga Abah terhitung sangat dekat, apalagi saat peristiwa menghilangnya Dewa–sang adik. Sebaliknya kalau saudara Ririn dari Subang, ia belum mengetahui semuanya kecuali Aki dan Nini.
“Bukan. Tadi saya ketemu Tiara di Dekamart,” jawab Ririn jujur.
“Maksudnya?” Deka menoleh pada Ririn yang duduk di sampingnya.
“Abang inget ga, dulu saya pernah cerita kalau ketemu gadis kecil sama kedua orang tuanya di toilet mal waktu beli hape. Gadis kecil yang ngasih pesan tulisan sama saya itu.”
“Iya, inget. Yang ngasih alamat itu ‘kan, terus kita sampai ke sana mendatangi alamatnya.”
“Betul, yang itu. Nah, gadis kecil itu ya Tiara ini. Saya tadi ketemu dia lagi di Dekamart.”
“Jadi anak tadi itu bukan saudara kamu dari Subang?”
“Bukan.”
Deka meletakkan sendok dan garpu di piring. “Rin, ngapain kamu bawa orang asing ke rumah ini!” Ia sungguh tidak suka dengan kelakuan Ririn yang membawa orang asing ke rumah apalagi tanpa izinnya.
__ADS_1
“Dia bukan orang asing, Bang! Dia cuma anak kecil!” sangkal Ririn.
“Tapi kita ga kenal dia. Ga kenal keluarganya. Lagian kamu bawa orang asing masuk ke rumah tanpa seizin aku!” Intonasi Deka mulai meninggi.
“Saya minta maaf karena belum meminta izin sama Abang. Saya pikir minta izinnya pas ketemu Abang langsung. Tadi mau telepon, takut Abang lagi sibuk," terang Ririn apa adanya.
“Terus maksud kamu bawa anak itu ke sini apa, Hah? Anak itu ‘kan punya orangtua. Bagaimana kalau orang tuanya nyariin. Terus kalau orangtuanya lapor polisi, kamu bisa dituduh melakukan penculikan, Rin!” Jelas sekali dari nada bicaranya, Deka sangat geram dengan keputusan Ririn membawa Tiara menginap.
“Saya juga niatnya mau mengantarkan dia pulang ke rumahnya. Tapi dia menolak dan sempat mau kabur. Saya ga mungkin membiarkan dia berkeliaran di jalanan. Bagaimana kalau dia dijahatin orang. Saya ga tega, Bang!”
“Apapun alasannya, aku ga setuju, Rin!”
“Tapi, Bang .... “
“Aku gak ngerti kenapa kamu bisa berpikir segampang itu. Kamu gak berpikir tentang risikonya. Bagaimana kalau orangtua anak itu adalah penjahat. Dengan sengaja mengumpan anak itu untuk datang ke rumah kita lalu mereka menjahati kita.”
“Abang jangan berpikiran buruk seperti itu. Saya ga melihat aura jahat di dalam diri Tiara. Saya justru kasihan sama dia. Melihat dia itu mengingatkan pada masa kecil saya dulu.”
“Aku tetap ga setuju! Malam ini juga kita pulangkan dia ke rumahnya. Kalau dia tidak mau, kita bawa aja ke kantor polisi. Biarkan polisi yang membantu masalahnya. Kita ga usah ikut campur urusan anak itu dan keluarganya.”
“Satu malam aja, Bang. Saya mohon.” Ririn bermohon sembari mengusap lengan Deka.
.
.
.
.
.
Selamat menunaikan ibadah puasa untuk sahabat yang menjalankannya. Mohon maaf lahir batin semuanya. (maaf telat ya ngucapinnya, saking kemarin fokus ke nulis)
Mohon maaf kalau selama ini ada kata-kata yang mungkin menyakiti.
Jujur nih otor remahan ini merasa kesulitan menulis di bulan puasa. Jadi mohon maaf kalau up nya ga teratur.
Semoga di bulan Ramadhan ini kita semua selalu diberikan kesehatan sehingga dapat menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Semoga rezekinya lancar biar bisa beli sirup marjan 😁😁.
Terakhir saya ucapkan terima kasih banyak untuk dukungan sahabat semua. Love U. ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1