Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Prawedding


__ADS_3

Deka pulang saat langit telah gelap. Mendekati hari pernikahan, ia lebih sering pulang malam karena ingin segera membereskan segala pekerjaannya. Agar ia bisa mengambil banyak waktu libur saat masa bulan madu nanti.


Deka tersenyum sendiri saat mengingat masa bulan madu bersama Ririn nanti. Membayangkan wanita cantik itu dasteran dan dirinya sarungan, sudah berhasil menggetarkan seluruh organ hingga sendi-sendi tubuhnya.


Ish, apa sih.


Deka terkejut saat sampai rumah mendapati sebuah sedan warna merah terparkir di garasi rumahnya.


“Mobil siapa ya? Perasaan kayak pernah nemu ini mobil. Di mana ya?” gumam Deka.


“Ada tamu ya, Bi?” tanya Deka pada Bi Siti yang membukakan pintu rumah.


“Iya, Den. Tamunya Den Deka,” sahut Bi Siti.


“Tamu saya??” Deka mengernyitkan dahi.


“Iya, Den.”


“Mana tamunya? Kok ga ada di ruang tamu?”


“Di meja makan, Den. Sedang bersama Ibu dan Bapak. Menunggu Bang Deka untuk makan malam,” terang Bi Siti.


Siapa sih tamunya? Kok kayak akrab banget sama Mama dan Papa. Batin Deka.


Ia segera pergi ke meja makan karena penasaran dengan tamu yang kata Bi Siti adalah tamunya.


“Assalamualaikum.” Deka mengucap salam.


“Waalaikum salam,” sahut Mama dan Papa kompak.


“Deka, coba lihat siapa yang datang! Masih inget ga?” lontar Papa.


“Inget lah, Pah,” sahut Deka. Ia menoleh pada si tamu lalu menyapanya. “Hai, Bel!”


Tamunya ternyata adalah Bella si Sekuter.


“Hai, Abang! Baru pulang, kamu. Rajin banget cari duitnya,” seloroh Bella dengan dialek khas bulenya.


“Iya, Bel. Dia lagi getol cari duit buat modal kawin,” timpal Mama.


“Oh, ya. Really?" Bela tampak terkejut dengan ucapan Mama.


“Ayo, Deka. Kita langsung makan malam aja! Papa udah lapar!” seru Papa. Mereka sedari tadi sengaja menunggu kepulangan Deka untuk makan malam bersama.


“Cuci tangan dulu sana!” seruan Mama mengurungkan langkah Deka yang hendak mendekati meja makan.


Deka pergi mencuci tangan. Setelahnya ia kembali ke meja makan dan duduk di sebelah Bella.


“Bel, makan yang enak ya, ga usah sungkan,” ujar Mama sebelum aktivitas makan malam dimulai.


“Iya, Tante. Thank you,” balas Bela.


Mereka menyantap makan malam sembari mengobrol santai. Bella banyak melontarkan cerita masa kecil dirinya dan Deka. Mama yang lebih antusias mendengarkan cerita Bella, sebab saat itu adalah masa-masanya jauh dari Deka dikarenakan perceraiannya dengan sang suami.


“Jadi udah berapa lama kalian ga bertemu?” lontar Mama.


“For long time ya, Bang. I think, lebih dari sepuluh tahun kita ga ketemu, " sahut Bela seraya melirik Deka.


“Iya. Habisnya, kamu ‘kan udah merintis karir jadi artis waktu itu,” sahut Deka.


“Tapi, sekarang aku udah sepi job. Makanya aku datang ke sini. Please, kasih aku kerjaan, Bang,” mohon Bela.


Deka tertawa kecil. “Kamu mau minta kerjaan? Bercanda ya, kamu?”


“Serius, Bang. Kamu pikir buat apa coba aku datang ke sini. I need a job.” Bella menjeda ucapannya untuk meneguk air minum.


“Dunia entertainment itu ga abadi, Bang. Siklusnya selalu berganti. Saat banyak bermunculan artis baru yang muda-muda, yang tua kayak aku udah ga kepake,” sambung Bella.


“Suami kamu apa kabar, Bel?” Yang Deka tahu, Bella sudah menikah dengan seorang penguasa.

__ADS_1


“I’ve divorced.”(aku telah bercerai). Bela memaksakan senyumnya.


“Too bad.” (Sayang sekali)


“So, give me a job!” (Makanya kasih aku pekerjaan)


“Kasih aja lah, Ka. Biarkan Bella kerja di kantor kamu,” timpal Papa.


“Masalahnya Deka bingung mau tempatin Bela di mana. Soalnya di kantor ga ada lowongan, Pah," sahut Deka.


“Ya, di mana kek. Masa ga ada," ujar Papa lagi.


“Mungkin Bella bisa ditempatkan di bagian sekretaris,” timbrung Mama.


“Deka ‘kan udah punya sekretaris, Mah ... si Silvi," sahut Deka.


“Bella biar suruh bantu kerjaan Silvi. Kamu ‘kan mau menikah, nanti kalau kamu cuti biar Silvi ga keteter kalau dibantu Bella, ya ‘kan?” usul Mama.


“Iya, deh. Nanti Deka tanyakan ke Fery. Siapa tahu ada posisi yang kosong di kantor,” putus Deka akhirnya.


“Nah, gitu dong.” Mama tersenyum memandang Deka.


“Oya Bell, kamar tamu udah diberesin Bi Siti. Semoga kamu betah ya, di sini,” ujar Mama yang kini tersenyum memandang Bela. .


“Loh, memangnya Bella mau nginep di sini?” lontar Deka terkejut.


“Iya. Kamu lupa ... dulu kamu sering nginep loh di rumah Bela,” sambar Papa.


“Iya, Om. Waktu itu si Abang masih suka ngompol. Hihihihihi.” Bela terkikih geli.


“Enak aja. Kamu tuh yang sering ngompol!”


“Kamu!”


“Kamu!”


“Kamu!”


Lalu keduanya terlarut dalam tawa mengenang masa kecil mereka.


 \=\=\=\=\=\=


 


Ririn terkejut saat Deka datang menemuinya bersama seorang wanita cantik dengan penampilan bak seorang artis.


“Rin, kenalin ini Bella, teman aku.” Deka memperkenalkan dua wanita itu.


“Bel, ini Ririn calon istriku.”


“Hai, Rin!” Bella mengulurkan tangannya seraya tersenyum ramah.


“Hai.” Ririn menerima uluran tangan Bela dengan ramah pula. Meskipun Bella artis, namun Ririn tak mengenalinya. Maklum Sekuter.


“Aku Bella, teman dekatnya Abang,” ujar Bela.


“Eh, maksud aku. Aku sahabatnya Deka,” ralat Bella segera karena ucapannya tadi sukses membuat senyum Ririn memudar sekaligus mendapat sorotan tajam dari Deka.


“Saya Ririn, Mbak." Ririn mengulas sebuah senyum.


“Abang, gila ya! She Is very very beautiful. Cantik banget calon istrinya," puji Bella. "Pantesan kamu semangat banget sama persiapan pernikahan ini,” lanjutnya.


“Cantik, lah! Siapa dulu dong ... Radeka Bastian,” sahut Deka sembari menepuk dada bangga.


“Ish, Abang,”ucap Ririn malu-malu.


“Emang kamu cantik loh, Sayang.”


“Ish.” Ririn memutar bola mata jengah.

__ADS_1


“Jadi, Rin. Bella ini akan memandu kita untuk foto prawedding. Dia ‘kan model, dia udah biasa difoto. Makanya aku ajak dia ke sini biar jadi pengarah gaya untuk kita.” Deka memaparkan alasannya membawa Bella.


“Kata Mimin sebaiknya ga ada foto prawedding," ujar Ririn.


“Loh, memangnya kenapa gitu? Apa alasannya?”


“Aku juga gak tahu, Bang. Akujuga belum paham tentang agama terlalu dalam.”


“Perasaan dulu pernikahan mereka juga pake foto prawedding.”


“Katanya Mimin, dulu mereka itu bukan foto prawedding tapi foto pascawedding. Karena mereka  sudah melangsungkan akad nikah sebelumnya," terang Ririn.


“Ga papa sih, yang penting fotonya ga ada pegangan tangan. Ga ada sentuhan dan sebagainya, gimana?”


“Aku ga paham sih, Bang. Ya udah terserah Abang aja, deh.”


Akhirnya mereka menyepakati untuk tetap melakukan foto prawedding. Pengambilan foto dilakukan di beberapa tempat di kawasan Banten Lama di sisi utara kota Serang.


Di antaranya di Benteng Speelwijk, benteng peninggalan Belanda yang dulu berfungsi untuk menghadapi serangan rakyat Banten. Keraton Kaibon yang merupakan reruntuhan kerajaan Banten Lama yang eksotis. Istana Surosowan, Pantai Anyer dan Gunung Pinang pun turut menjadi lokasi spot foto mereka.


Sepanjang kegiatan foto prawedding, Bela tampak selalu berusaha menempel pada Deka. Begitu kentara sekali jika Bella mencari perhatian Deka. Dan yang paling membuatnya jengkel adalah sikap Deka yang seolah tak menyadari gelagat “caper” dari Bella.


Bahkan sebelum foto prawedding dimulai, saat Ririn sedang dirias oleh tim make up, Bella malah sibuk berfoto bersama Deka untuk konten instagram miliknya. Pose fotonya pun nempel kayak perangko sama amplopnya.


“Ini yang mau foto prewedding dia atau aku sih!” geram Ririn dalam hati.


“Abang, sini! Kok jasnya miring begini sih.” Bela membetulkan jas Deka. Posisi mereka sangat dekat.


“Tuh, kalau begini ‘kan keren. You look so handsome,” ucap Bella seraya menampilkan senyum penuh pesona.


Sumpah, Ririn merasa kesal melihat tingkah Bella. Ada perasaan sesak terasa di dada. Apakah ini yang dinamakan cemburu?


 


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2