
Bersama Ustaz Arif, Deka membawa calon bayinya. Pengurusan penguburan dan lain-lain dilakukan di pesantren milik Ustaz Arif. Calon anak Deka itu berusia empat bulan lebih. Diperkuat dengan keterangan dokter yang menyatakan usia janin adalah 21 minggu.
Ustaz Arif memutuskan untuk melakukan pengurusan calon anak Deka layaknya janin keguguran usia setelah empat bulan. Janin tersebut diberi nama, dimandikan, dikafani, dan dimakamkan bersama kaum muslim lainnya.
Calon anak Deka itu diberi nama Annisa yang berarti perempuan. Ustaz Arif yang memberikan nama itu, sebab Deka belum mempersiapkan nama untuk calon anaknya. Janin Annisa dikuburkan di pemakaman sekitar kawasan pondok pesantren. Tujuannya agar hidayah Deka tetap terjaga. Agar Deka selalu singgah di pondok pesantren tersebut saat menjenguk janin Annisa.
“Sabar ya, Bang Deka. Ingat, ada balasan yang indah untuk setiap muslim yang sabar dan ikhlas atas musibah yang menimpanya,” ujar Ustaz Arif.
“Insyaallah, Ustaz.”
“Bang Deka mau saya ceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang diberikan ujian kehilangan anak?"
Deka menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
“Pernah ada seseorang yang bertanya kepada Abu Hurairah. Kedua putraku telah meninggal ya Abu Hurairah, apakah kamu pernah mendengar sebuah hadis yang dapat engkau bacakan untuk kami. Agar kami dapat menenangkan hati kami dari kesedihan atas sepeninggalnya anak-anak kami. Abu Hurairah menjawab pertanyaan orang tersebut. Ya, anak-anak kecil mereka berlarian di surga dengan bebas. Salah seorang dari mereka berjumpa dengan bapaknya atau orangtuanya, lalu dia meraih ujung bajunya. Dia tidak akan berpisah dengan bapaknya atau orangtuanya sehingga Allah memasukkan dia dan bapaknya atau orangtuanya ke dalam surga.”
Deka menyimak cerita Ustaz Arif dengan antusias.
“Tidak hanya itu, Allah juga telah menyiapkan bangunan indah dan kokoh yang bernama Baitul Hamdi. Bangunan tersebut untuk ibu dan orangtua yang sabar menghadapi bingkisan cobaan dari-Nya berupa keguguran. Subhanallah, sungguh luar biasa ‘kan Bang Deka?”
“Semoga saya dan istri saya termasuk golongan orangtua yang sabar,” sahut Deka.
“Insyaallah. Pasti Bang Deka dan istri bisa melewati cobaan ini. Dan insyaallah, nanti akan diberikan kesempatan untuk memiliki anak lagi. "
“Amin.”
\=\=\=\=\=\=
Langit telah gelap dan pekat saat Deka sampai ke rumahnya, sepulang dari pondok pesantren. Ia memutuskan pulang ke rumah daripada kembali ke rumah sakit. Ririn sedang tidak baik-baik saja hatinya dan sejujurnya ia pun merasa kecewa dengan sikap sang istri yang menuduhnya sedemikian rupa.
Deka sudah menghubungi Mama dan Mama mengatakan Ririn sedang ditemani kedua orangtuanya di rumah sakit. Biarlah, biar Ririn tenang dulu. Dirinya pun sama, ingin menenangkan pikiran dulu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang tadi, ia teringat akan tuduhan Ririn yang mengatakan bahwa Tiara adalah anaknya. Bahwa ada foto dirinya bersama mamanya Tiara yang bernama Intan.
“Intan, Intan, Intan, siapa sih Intan itu!” geram Deka.
Saat masuk ke rumah, ia disambut oleh Sanah. Kedua asisten rumah tangganya itu sudah pulang dari rumah sakit sejak Ririn masuk kamar perawatan.
“Pak, sewaktu saya masuk ke ruang kerja, saya mendapati ruang kerja Bapak porak-poranda,” lapor Sanah.
“Hah, kenapa? Siapa yang sudah memorakporandakan ruang kerja saya?” lontar Deka.
“Setelah saya menelusuri lewat cctv, ternyata pelakunya adalah Tiara, Pak,” adu Sanah.
“Anak itu lagi. Sekarang mana anak itu? Suruh anak itu ke sini!” titah Deka.
“Tiara sudah pergi dari rumah ini, Pak. Saya sudah mengecek kamar dan lemarinya. Baju-bajunya sudah tidak ada di lemari,” lapor Sanah lagi.
“Sial,” umpat Deka. “Ya sudah, terima kasih informasinya.”
“Bapak mau saya buatkan minum?” tawar Sanah.
“Kopi susu, Pak?”
“Ya.”
“Baik, Pak.”
Deka menghempaskan bokongnya di sofa. Ia duduk sambil memijit pelipisnya. Hari ini sungguh hari yang melelahkan, menyedihkan sekaligus mengesalkan. Lelah karena urusan kantor, sedih karena berita keguguran, kesal karena tuduhan nista dari seorang anak kecil.
Tiara itu anak Abang. Abang itu papanya Tiara.
Abang masih enggak paham kalau saya bilang Abang itu papanya Tiara. Laki-laki yang sering diceritakan oleh Tiara, yang tidak mau bertanggung jawab menikahi mamanya. Yang membuat Tiara itu berstatus anak haram. Laki-laki itu adalah Abang. Papanya Tiara itu Abang.
__ADS_1
Saya juga tadinya enggak percaya. Tapi, saya lihat sendiri foto Abang sama Mbak Intan, mamanya Tiara.
Enggak mungkin kalau Abang enggak kenal. Ada foto Abang berdua sama Mbak Intan lagi berpelukan.
Ucapan Ririn terngiang-ngiang di telinga Deka.
“Sial, siapa sih Intan itu!” umpatnya.
Deka jadi teringat dengan Fery. Sahabatnya itu pernah mengantar Tiara untuk mendaftar sekolah. Mungkin saja Fery tahu sesuatu tentang Tiara. Begitu pikirnya.
Deka meraih ponselnya lalu menghubungi Fery. Semoga saja Fery belum tidur karena penunjuk waktu menunjukkan pukul 23.00. Atau semoga Fery tidak sedang dugem. Harapnya.
“Halo, Fer.”
“Iya, Bro. Baru juga mau merem, lo nelepon. Gimana kabar Ririn?”
“Ririn keguguran.”
“Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Yang sabar ya, Bro. Semoga setelah Ririn pulih, Ririn bisa segera hamil lagi.”
“Amin.” Deka terdiam sesaat. “Fer, lo tau siapa ibunya Tiara?”
“Ibunya Tiara kalau enggak salah namanya Intan ... Intania apa gitu gue lupa.”
“Intania Larasati?”
“Ya. Kalau gak salah, begitu namanya.”
“Berarti Tiara anaknya Tania.”
“Gue ‘kan enggak tahu nama lengkap Tania karena enggak pernah sekelas sama dia. Tapi kalau gue perhatikan, memang si Tiara itu mirip Tania, sih.”
__ADS_1
“Tiara pasti anak Tania. Fer, cari tahu alamat Tania, secepatnya!” titah Deka sebelum mengakhiri panggilannya.