
“Hati-hati ya, Sayang. Dijaga kandungannya. Jangan terlalu capek. Terus tentang acara empat bulanan, nanti Ririn kabari mama ya,” pesan Mama saat Ririn berpamitan untuk pulang membeli sepatu. Mumpung suaminya tidak bisa pulang cepat. Sudah pasti tidak mudah jika meminta izin membelikan sepatu untuk Tiara saat Deka sudah ada di rumah. Begitu pikirnya.
“Iya, Mah. Pasti nanti dikabari acara empat bulanannya.” Ririn meraih punggung tangan Mama kemudian berpamitan pulang dengan diantar Mang Pardi.
Hanya sepuluh menit saja waktu tempuh dari rumah sang mertua menuju rumahnya. Begitu sampai rumah, ia pergi ke kebun belakang menghampiri Sanah dan Bi Iroh yang tengah merapikan bunga-bunga dikarenakan Mang Uus—tukang kebun yang bekerja di rumah Deka tengah libur.
“Nah, Bi Iroh, tadi saya beli siomay buat semua yang ada di sini. Nanti dimakan ya, dan dibagi sama Mang Pardi, sama Pak Satpam dan Tiara juga. Siomaynya saya taruh di meja makan,” ujar Ririn saat menghampiri Sanah dan Bi Iroh.
“Kebetulan sekali, saya sedang ingin menyantap siomay. Terima kasih banyak ya, Bu,” sahut Sanah.
“Iya, sama-sama.”
“Bu, ini pot yang sudah jelek boleh diganti?” lontar Bi Iroh.
“Boleh, Bi. Ganti aja biar cantik. Kita punya stok pot banyak ini.”
“Baik, Bu.”
“Oya, Tiara mana, Bi?”
“Tiara kalau enggak di kamarnya ya nonton tivi, Bu,” sahut Bi Iroh.
“Tadi Tiara meminta izin untuk meminjam kamus di ruang kerja Bapak. Dia mengatakan jika sudah meminta izin pada Ibu,” timpal Sanah.
“Oh iya, memang saya yang nyuruh. Ya sudah, saya mau ke Tiara dulu.” Ririn berlalu meninggalkan kedua asisten rumah tangganya menuju kamar Tiara.
Ririn mengetuk pintu kamar Tiara, namun tiada sahutan dari dalam kamar. Ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Sempat berbalik badan karena tidak menemukan Tiara di dalamnya. Namun, sesaat kemudian ia mengurungkan niat sebab ingin melihat hasil belajar Tiara di sekolah.
Selama Tiara tinggal di rumahnya , Ririn belum sempat menanyakan perihal sekolah gadis kelas tujuh tersebut. Ririn pun belum tahu tentang prestasi Tiara di sekolah. Apakah gadis kecil itu termasuk anak pintar, biasa saja atau anak bodoh, Ririn belum dapat menyimpulkan.
Ririn masuk ke kamar tamu yang kini menjadi kamar Tiara. Ia melangkah menuju meja belajar dan meraih tas sekolah milik Tiara yang tergeletak di atasnya.
Membuka resleting tas, Ririn mulai membuka buku satu per satu. Ririn menatap kagum tulisan tangan Tiara yang menurutnya bagus dan rapi untuk ukuran anak seusianya. Sedangkan nilai yang didapatkan termasuk biasa-biasa saja, tidak istimewa, tetapi tidak bisa dikatakan buruk juga. Begitu kesimpulan Ririn setelah melihat nilai-nilai pelajaran sekolah Tiara.
Puas melihat hasil belajar Tiara, Ririn memasukkan kembali buku-buku ke dalam tas. Saat buku terakhir hendak dimasukkan ke dalam tas, tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari dalam buku.
Ririn meraih dua lembar foto yang terjatuh di atas lantai. Seketika ia tercengang saat melihat foto tersebut. Foto seorang pria muda berwajah tampan, yang sangat ia kenal.
“Ini foto Bang Deka waktu muda,” gumamnya.
Merasa yakin itu foto Deka sebab sebelumnya ia pernah melihat album foto sang suami saat muda di ruang kerjanya.
“Kenapa Tiara menyimpan foto Bang Deka?” Batinnya bertanya-tanya.
Ririn lebih tercengang lagi saat melihat foto yang kedua. Foto Deka muda bersama seorang gadis dengan pose saling berpelukan pinggang. Ia mengamati dengan teliti wajah gadis yang tidak terasa asing. Rasanya seperti pernah bertemu dengan gadis itu.
“Ini, ini ‘kan Mbak Intan, mamanya Tiara. Ada apa dengan mereka? Kenapa Mbak Intan bersama Bang Deka? Mereka ada hubungan apa?” Sebuah rasa tidak nyaman mendadak hadir menyesak di dada.
“Enggak, Rin. Mungkin Bang Deka memang dulu berteman dengan Mbak Intan. Tidak ada yang salah dengan foto itu ‘kan. Pelukan pinggang bisa saja dilakukan dalam hubungan pertemanan atau persahabatan.” Ririn meyakinkan diri sendiri.
Baru saja ia berusaha untuk berpikir positif. Jantungnya dibuat terlonjak lagi saat membaca tulisan di balik foto tersebut. Mama love Papa, begitu kalimat itu ditulis.
__ADS_1
Tulisan tangan itu bagus dan rapi seperti ... tulisan Tiara.
“Ada apa ini? Jangan suudzon Rin, tetap berpikir positif,” gumamnya menenangkan diri sendiri.
“Nanti saya harus tanya sama Tiara.” Ririn membereskan semuanya ke tempat semula. Lalu pergi meninggalkan kamar Tiara.
Ia naik ke lantai dua, tujuannya adalah ke kamar sebab belum menunaikan salat Asar. Hatinya sedang kacau meskipun berusaha untuk tenang dan berpikiran positif. Semoga salat dapat membuat hatinya tenang. Begitu pikirnya.
Saat Ririn mencapai pintu kamar, lamat-lamat terdengar suara Tiara seperti tengah memaki-maki seseorang.
“Papa jahat! Kenapa Papa lupa sama Mama! Kenapa Papa meninggalkan Mama! Kenapa Papa membiarkan aku menjadi anak haram! Kenapa Papa menelantarkan aku. Aku benci Papa! BENCI, BENCI, BENCI!”
Ririn gegas melangkah menuju ruang kerja. Tepat saat sampai pintu ruang kerja Deka, ia melihat Tiara melemparkan pigura yang diraihnya dari meja kerja Deka.
Praaangg ...
Pigura itu hancur berantakan di lantai.
“Tiara! Ada apa?” lontar Ririn yang telah berdiri di depan pintu ruang kerja Deka.
Tiara sontak menoleh ke arah Ririn dan berdiri dari tempat duduknya.
“Tiara, kenapa kamu menghancurkan pigura foto saya sama suami saya?”
“Ini gak ada apa-apanya dibanding kelakuan suami Tante yang sudah menghancurkan hidup aku dan Mama!” tukas Tiara.
“Aku benci dia! Aku benci RADEKA BASTIAN!” Tiara meraih satu lagi pigura foto Deka dari atas meja kerja lalu membantingnya dengan keras ke lantai.
Praaangg ...
“Tante tahu siapa Radeka Bastian itu? Dia papaku, Tan! Laki-laki yang tidak bertanggungjawab untuk menikah mamaku setelah menghamilinya!” ungkap Tiara dengan berapi-api.
Ririn menggelengkan kepala berkali-kali. “Enggak mungkin!”
“Laki-laki yang udah membuat aku berstatus anak haram! Laki-laki yang sudah menelantarkan aku sejak dalam perut Mama!” ucap Tiara berteriak.
“Itu enggak mungkin, Tiara!” Ririn berusaha untuk tidak mempercayai ucapan Tiara.
“Itu benar, Tante! Mama aku udah ngasih tahu nama papaku dan memberikan fotonya. Dan itu adalah dia, Radeka Bastian sialan itu!
“Kenapa dia jahat sekali, Tan! Meninggalkan Mama, menelantarkan aku dan sekarang, saat aku udah dekat sama dia, dia tetap jahat sama aku. Dia gak suka sama aku, dia selalu bentak-bentak aku!”
“Aku benci dia! Aku benci Papa! Aku benci Radeka Bastian!” teriak Tiara meluapkan emosinya.
“Kenapa dia gak bisa menyayangi aku sedikit aja. Kenapa dia gak bisa baik sama aku sebentar aja. Kenapa, Tan? Kenapa?” Napas Tiara memburu karena emosi.
“Aku benci, benci, benci.” Tiara melemparkan semua barang-barang yang ada di atas meja kerja Deka.
Buku-buku, tempat bolpoin beserta isinya, kalender meja, semuanya ia lempar dengan penuh amarah.
“Hentikan Tiara!” pekik Ririn.
__ADS_1
Tiara tidak peduli, ia terus melempar barang apa saja yang dipegangnya. Membuat ruang kerja Deka porak poranda.
“Cukup Tiara! Hentikan!” teriak Ririn lagi.
Setelah puas meluapkan amarah, Tiara pergi meninggalkan ruang kerja Deka.
“Tiara, tunggu!” seru Ririn.
Tiara tidak mengindahkan seruan Ririn. Gadis kecil itu berlari-lari menuruni tangga.
“Tunggu Tiara!”
Ririn berusaha mengejar Tiara. Sedikit berlari ia menyusul Tiara. Tentu saja Tiara tidak dapat dijangkau karena larinya lebih cepat dan gesit dibandingkan Ririn.
Saat Ririn menuruni tangga yang tersisa tiga anak tangga, naas kakinya tergelincir lalu jatuh. “Astagfirullah,” lirihnya.
Seketika ia merasakan sakit luar biasa di perutnya. Meringis menahan sakit, ia mengaduh dalam diam, suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Hingga sesaat kemudian semuanya menjadi ... gelap.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1