
Dua hari usai resepsi, pasangan pengantin baru itu pindah ke rumah pribadi Deka. Sebuah rumah mewah yang dibelinya sebelum menikahi Ririn.
Ririn terperangah saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah itu. Luasnya mungkin sepuluh kali lipat dari rumah Aki dan Nini di Subang.
Mirip seperti rumah yang biasa ia lihat di sinetron. Ada kolam renang, ada taman, ada gazebo, bahkan ada ruangan gymnasium. Deka juga mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga, tukang kebun, sopir dan satpam.
“Ini rumah kita, Rin. Tempat berteduh dari terik matahari dan dinginnya hujan. Tempat istirahat yang nyaman untuk menepi sejenak dari penatnya dunia. Semoga kita bisa merajut kebahagiaan di sini,” ucap Deka saat pertama kali mengajak Ririn ke rumah tersebut.
“Bagi saya rumah yang nyaman sesungguhnya adalah hati dan rasa cinta Abang kepada saya,” sahut Ririn.
“Begitu pun kamu. Ibarat jantung, janganlah pernah berhenti berdetak di kehidupanku. Tetaplah di sini bersamaku, jangan pernah berpikir untuk pergi," balas Deka.
“Saya tidak akan pernah pergi, kecuali ... jika Abang menyuruh saya pergi.”
Deka mengelus puncak kepala Ririn yang tertutup jilbab. “Mana mungkin Abang menyuruh bidadari ini pergi.”
“Ish, gombal.”
“Mau lihat semua ruangan di rumah ini ga?”
Ririn mengangguk. “Mau.”
“Ayo!” Deka merengkuh bahu Ririn.
“Rumahnya luas banget, Bang. Dari depan ke dapur apa harus naik angkot,” kelakar Ririn.
“Harus naik pesawat sih kayaknya. Soalnya jarak dari depan ke dapur itu sejauh Serang-Jepang.” Deka balas berkelakar.
Deka mengajak Ririn melihat-lihat ruangan dan seluruh penjuru rumah. Terkahir, ia mengajak Ririn ke kamar mereka yang terletak di lantai dua.
Ririn tercengang saat memasuki kamar itu, bahkan mulutnya sampai terbuka menganga, dan langsung ditutupnya dengan kedua tangan. Sebuah kamar dengan nuansa Doraemon. Wallpaper, tempat tidur, seprei, lemari dan atribut lain semua bertemakan Doraemon.
"Ini kamar impian saya waktu kecil, Bang," ujar Ririn.
"Sama, dong. Aku juga dulu ingin punya kamar nuansa Doraemon begini, tapi Papa melarang. Kata Papa anak laki-laki itu ga boleh menya-menye. Padahal aku 'kan suka Doraemon ya, bukan boneka Barbie," tutur Deka.
Baru kali ini ia bisa bercerita tentang Doraemon dengan leluasa, tanpa sungkan dan rasa malu. Selain Ririn dan Papa, tidak ada yang tahu tentang kesukaannya pada Doraemon. Ia sengaja menutupinya sebab merasa malu jika sampai orang lain mengetahui hal itu.
Ririn tertawa mendengar cerita Deka. Di matanya, Deka sama sekali tak terlihat menya-menye.
"Makasih ya, Abang. Udah mewujudkan mimpi saya." Ririn memeluk Deka.
"Sama-sama, Sayang." Deka balas memeluk Ririn dan mengecup puncak kepalanya. "Aku akan selalu berusaha mewujudkan mimpi kamu, Rin," janjinya.
\=\=\=\=\=\=
Deka masih menikmati masa-masa liburnya. Meskipun ia tidak dapat melakukan seperti yang dilakukan pasangan pengantin baru pada umumnya di masa-masa indah pernikahan seperti sekarang. Namun, menghabiskan hari berdua bersama Ririn, sekedar berjalan-jalan, atau hanya dengan menikmati wajah cantiknya saja sudah membuatnya bahagia.
__ADS_1
Seperti saat ini, Deka tengah mengajak Ririn ke bioskop. Kemarin malam Ririn mengungkapkan bahwa dirinya belum pernah pergi ke bioskop, belum pernah mengunjungi Monas, Dufan dan sederet tempat wisata lainnya. Semoga saja mengajak Ririn ke tempat-tempat tersebut bisa sedikit membuat Ririn bahagia dan melupakan soal kewajiban suami istri yang belum tertunaikan.
Ia yang tengah mengantre untuk membeli tiket, melambaikan tangan serta menebar senyum pada Ririn yang tengah duduk di kursi tunggu. Ririn membalas senyum dan melambaikan tangan.
Begini ya rasanya pacaran. Disenyumin dikit aja langsung berbunga-bunga kayak riba. Gumam Ririn dalam hati. Maklum, ia memang tidak pernah merasakan pacaran.
Setelahnya mereka masuk ke ruang bioskop. Tidak lupa untuk membeli popcorn dan minuman dulu sebelumnya.
“Gelap ya, Bang,” ujar Ririn setelah duduk di kursi bioskop.
“Iya, udah mau mulai filmnya,” sahut Deka.
“Ini kita nonton film apa?” tanya Ririn.
“Gak tahu. Aku tadi asal aja pilih film yang mau diputer jam sekarang," jawab Deka.
Tidak lama kemudian film pun mulai diputar. Diawali dengan suasana malam yang mencekam diiringi alunan musik yang membuat bulu kuduk berdiri. Ternyata film yang diputar bergenre horor.
“Salah pilih film ini mah. Malah film horor,” ucap Deka.
“Saya suka film horor, Bang,” sahut Ririn.
“Enggak takut lihat setan?”
“Enggak.” Ririn menggelengkan kepala. “Soalnya kehidupan saya dulu, lebih menyeramkan dari film horor,” lanjutnya.
Bagi Ririn, Jefri lebih menyeramkan daripada setan, pocong, gondoruwo, kuntilanak, wewe gombel, tuyul, suster ngesot, nenek gayung, kakek pacul dan segenap penghuni alam gaib di negeri ini.
“Iya, Abang.” Ririn menoleh sekejap pada Deka lalu kembali fokus pada layar super besar di depannya.
Deka menatap Ririn, istrinya itu tampak sangat antusias menatap layar. Membuat Deka gemas ingin melakukan seperti kebiasaannya dulu saat mengajak pacarnya nonton. Memanfaatkan gelapnya ruang bioskop untuk melancarkan aksi ciu-man. Begitu dulu yang sering dilakukan Deka.
Tangan kiri Deka mengambil tangan Ririn lalu digenggamnya. Sementara tangan kanannya merengkuh kepala Ririn, membimbing agar bersandar di bahunya.
“Ih, Abang. Malu banyak orang.” Ririn mengelak, ia berucap dengan berbisik.
“Kenapa malu? Udah halal kita mah. Coba kamu lihat di belakang kita, lagi ngapain mereka,” sahut Deka dengan berbisik pula.
Ririn menoleh ke belakang mengikuti arahan Deka. Ia melihat sepasang muda-mudi yang tengah berciu-man.
“Astagfirullah,” ucapnya pelan. Lalu kembali menatap ke depan.
“Mereka masih muda, kayaknya masih sekolah, kok udah begitu-begitu sih?” lontar Ririn.
“Udah biasa,” sahut Deka.
“Termasuk Abang berarti,” tukas Ririn.
__ADS_1
“Itu ‘kan masa lalu, waktu aku masih ...." Deka mengingat-ingat kata yang sering diucapkan Dewa, adiknya. "jahiliyah. Begitu kalau si Dewa bilang.”
“Iya, ga papa. Masa lalu biarlah masa lalu," sahut Ririn sembari tersenyum. “Abang tonton dong filmnya, seru loh!” Ririn berseru lagi.
Deka memalingkan wajahnya ke depan menatap layar, seketika ia melompat dari tempat duduk sebab terkaget mendapati pocong tengah cilukba di layar lebar itu. Ririn tertawa-tawa melihat reaksi Deka.
“Rin, kamu jahat ih! Pocong lagi cilukba aku disuruh lihat,” keluh Deka. “Aku tuh paling serem sama pocong. Asli dia tuh setan paling serem sejagat raya,” ungkapnya.
Biasanya saat menonton film horor, sang wanita yang ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh si pria. Namun, ini kebalikannya. Sepanjang film diputar, Deka yang meringkuk ketakutan di balik pundak Ririn sembari menciumi pundak yang menebar aroma harum semerbak itu.
\=\=\=\=\=\=\=
Detik terus berdetak, menit terus merangkak, jam terus bergulir, hari terus berganti. Genap tiga puluh hari sudah Deka dan Ririn menjadi sepasang suami istri.
Sejatinya pernikahan ini indah. Sikap Deka begitu hangat dan manis. Tak pernah sekalipun Deka menyakiti Ririn. Namun, terasa aneh sebab sampai saat ini Deka belum pernah “menyentuhnya”.
Bukankah secara alamiah pria lebih sulit untuk menahan hasrat biologisnya dibanding wanita. Lalu mengapa Deka seolah tak ingin menyentuhnya padahal mereka sudah halal. Begitu yang menjejali pikiran Ririn.
Ririn meyakini ada sesuatu yang terjadi dengan Deka. Namun, ia menyesalkan sikap suaminya yang tidak mau jujur dan terbuka untuk menceritakan masalahnya.
Untuk bertanya, Ririn belum berani. Ia memilih untuk menunggu Deka sendiri yang menceritakan masalahnya.
Seperti malam biasanya, Deka dan Ririn tidur saling berpelukan. Hanya itu yang dapat Deka lakukan. Tidak berani untuk melakukan hal lainnya.
Deka membuka mata saat terdengar dengkuran halus Ririn. Sesungguhnya ia hanya berpura-pura tidur agar Ririn lekas tidur.
Perlahan Deka melepaskan pelukannya pada Ririn. Ditatap sejenak wajah cantik istrinya itu. Lalu, dikecupnya sekilas pipi putih kemerahan itu. “Maafkan aku, Sayang,” lirihnya.
Deka beringsut bangun. Geraknya sangat halus saat turun dari tempat tidur. Setelahnya ia beranjak keluar, pergi ke kamar sebelah dan tidur di sana.
Deka tak mau malam ini sakit kepala lagi. Tidur bersama Ririn tanpa melakukan apa-apa itu sungguh membuat kepalanya berdenyut-denyut.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1