Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Jepang


__ADS_3

Ririn beranjak menuju toilet sesuai arahan pelayan tadi. Berjalan lurus lalu di ujung pertigaan berbelok kiri. Ia yang tengah mengayun langkah santai seketika tersentak saat matanya menangkap bayangan seorang pria yang sangat dikenalnya.


Pria masa lalu yang telah banyak menghunjamkan luka dalam hidupnya.


Ririn menghentikan langkah lalu segera berbalik badan dan mengayun langkah cepat kembali ke mejanya. Ia berharap pria itu tak melihatnya.


“Loh, kok cepet, Rin?” lontar Mimin saat Ririn kembali ke mejanya.


“Emm, iya, ga jadi ke toilet,” sahut Ririn


“Kenapa, Rin? Ga ketemu toiletnya?” timpal Mami.


“Bukan. Emm, toiletnya kotor. Nanti lagi aja deh.” Ririn beralih menatap Abah. “Bah, kalau bisa kita cepet pulang ya," pintanya.


“Boleh ... tapi habiskan dulu makanannya," sahut Abah.


“Iya, Bah.” Ririn kembali melanjutkan makan, meskipun setelah melihat pria tadi selera makannya langsung hilang.


Setelah semua selesai makan, Dewa pergi ke kasir untuk membayar tagihan. Saat hendak ke kasir, ia bertabrakan dengan seorang pria.


“Maaf, Bro, ga sengaja,” ucap Dewa.


“Hemm,” sahut pria itu dan segera berlalu dari hadapan Dewa.


Cowok tadi kayak pernah lihat, tapi ... di mana ya?? Gumam Dewa sembari menatap punggung pria tadi yang semakin menjauh.


Dewa membayar tagihan makanan, setelahnya kembali ke meja.


“Kita pulang sekarang ya, Bah,” pinta Ririn setelah Dewa kembali usai membayar tagihan di kasir. Sungguh ia sangat resah, gelisah, takut dan sebagainya. Takut pria masa lalu itu melihat keberadaannya di tempat ini.


“Rin, ada apa?” tanya Dewa yang melihat raut kecemasan di wajah Ririn.


“Iya, Rin ... ada apa? Mukanya kayak ada yang dikhawatirkan dan ditakutkan gitu,” timpal Mimin.


“Mungkin karena Ririn kebelet pengen pipis, tapi toiletnya kotor,” sahut Mami.


"Iya, saya udah kebelet." Ririn mengiyakan ucapan Mami.


“Ya sudah kita pulang sekarang! Nanti kalau ada minimarket kita turun beli apalah sembari numpang ke toilet. Atau nanti di KM. 45 ada rest area kita turun di situ,” usul Abah.


Mereka meninggalkan resto, berjalan menuju area parkir resto. Ririn berjalan menunduk di sebelah Dewa  yang tengah menggendong Syad. Sementara di sebelah kirinya adalah Abah. Semoga dengan diapit dua pria yang tubuhnya lebih tinggi darinya, Jefri tak menyadari kehadirannya di resto ini. Begitu harapnya.


Mereka masuk ke dalam mobil. Dewa duduk di jok kemudi, Abah duduk di jok depan, sementara Ririn, Mami dan Mimin duduk di jok belakang bersama Syad yang tidur di pangkuannya. Setelah menyalakan mesin, mobil pun melaju.


Mereka tak menyadari jika beberapa meter di belakang, ada seorang pria yang juga sudah duduk di belakang kemudi dan bersiap mengikuti mereka. Dialah Jefri. Mantan suami Ririn.


 \=\=\=\=\=\=


 

__ADS_1


Ririn tersenyum saat membuka update status Deka di aplikasi warna hijau.


Dibikinin kopi, malah masih ngantuk aja. Lupa, ternyata kopinya belum diminum.


Update status yang dilihat dari jamnya adalah pagi tadi. Kemudian Ririn membuka update berikutnya yang masih fresh, ter-update dua menit yang lalu. Sebuah foto yang menggambarkan situasi bandara dengan caption “Japan i’m coming again.”


Ririn yang sangat menyukai Jepang dan sejak kecil bermimpi bisa pergi ke Jepang, tertarik untuk mengomentari status Deka tersebut. Hal yang tak pernah dilakukannya selama ini.


Ririn : [Asyiknya yang mau ke Jepang]


Komentar Ririn terkirim. Sedetik kemudian terdengar bunyi notifikasi ponsel balasan dari Deka. Tanggap sekali pria itu membalas pesan Ririn. Secepat kilat langsung dibalas.


Deka : [Lebih asyik lagi kalau ada yang nemenin]


Deka : [Emot tertawa dua kali]


Ririn yang bingung mau membalas apa akhirnya memilih untuk tidak  membalas pesan itu. Ia meletakkan kembali ponselnya ke meja dapur. Hendak melanjutkan memotong sayuran. Baru saja ia memegang pisau, ponselnya kembali mendapat notifikasi.


Deka : [Kamu suka Jepang?]


Ririn meletakkan pisau ke atas meja untuk mengetik balasan.


Ririn : [Suka bangeeet. Mimpiku sejak kecil bisa pergi ke sana]


Ririn : [Emot senyum malu-malu]


Deka langsung membalas kembali pesan Ririn.


Ririn kembali bingung mau membalas apa. Selama ini hubungan Deka dan Ririn terjalin dengan baik, namun ia tetap memilih menjaga jarak.


Sengaja tak ingin terkesan dirinya memberi harapan-harapan pada pria yang di matanya sangat sempurna itu. Pria tampan, baik hati, berpendidikan, berkarir bagus, kaya raya, tajir melintir. Siapa wanita yang tak mau dengannya jika kebahagiaan jelas akan tercipta bila menyandang istri seorang Deka. Sebatas itu Ririn mengenal sosok Deka. Ia tak mengetahui masa lalu pria tampan itu.


Sementara Ririn merasa dirinya hanyalah seorang janda yang tak mempunyai kelebihan apa-apa selain kenangan penuh luka. Ia hanya seorang wanita kampung yang dibesarkan oleh keluarga sederhana. Pendidikannya hanya lulus SMK dan tidak mempunyai bakat atau kelebihan yang bisa dibanggakan. Begitu pikirnya.


Ia masih termenung menatap ponsel ketika Deka mengirimkan pesan berikutnya.


Deka : [Tentu bareng bersama keluarga kamu. Ajak Syad, Abah dan Mami. Dewa sama Jasmin juga boleh kalau mau ikut]


Tuh ‘kan Bang Deka emang tajir melintir. Ririn saja tak mampu membayangkan berapa biaya akomodasi yang akan dikeluarkan Deka jika benar-benar mengajak semua anggota keluarga ke Jepang. Pasti nol belakangnya banyak. Membuat Mak othor ngiler dan pengen mungutin angka nol-nya.


Ririn membalas pesan Deka dengan emot senyum tersipu.


Deka : [Mau oleh-oleh apa?]


Ririn : [Kalau mau ngasih oleh-oleh apa pun pasti diterima dengan senang hati]


Deka : [Sip]


Deka : [Aku berangkat dulu ya]

__ADS_1


Ririn : [Iya, hati-hati]


Deka : [Doakan aku ya]


Ririn : [Iya]


Deka : [Ah, leganya]


Terakhir Deka mengirim emot gambar hati yang berdetak. Membuat Ririn uwaw uwaw jadinya.


“Ish,” desis Ririn sembari tersenyum tersipu.


Ada getaran aneh yang menggelitiki hati. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelum bertemu Deka. Ia memang tak pernah merasakan jatuh cinta. Sejuta masalah dalam kehidupannya dulu membuat ia tak tertarik untuk mengenal pria ataupun jatuh cinta.


Sekali lagi Ririn merasa harus menekan dan membuang rasa itu. Tak pernah terpikir sekalipun olehnya untuk menerima Deka. Pria tampan rupawan yang perlahan telah memesonanya.


 


Catatan : Wajah rupawan bukan jaminan rumah tangga jadi menyenangkan, apalagi yang tidak rupawan. 😂😂😂


 


.


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya.


Yang mau kasih vote jangan ragu-ragu dong. 😁


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2