Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Sakit


__ADS_3

Ulah Deka membuat heboh seluruh warga kampung Cibening. Kehadiran Pasha Ungu di tengah-tengah kampung Cibening seakan menjadi penghibur para warga dari keresahan dan kepenatan memburu minyak goreng yang mulai mengalami kelangkaan.


Mami yang ternyata nge-fans dengan Pasha Ungu sampai pingsan dibuatnya. Beruntung tidak lama-lama Mami pingsan, dalam hitungan detik ia sudah bangun lagi. Tentu dengan wajah berbinar ceria.


“Pasha, salam sama Adel ya.” Begitu yang diucapkan Mami sesaat sebelum Pasha pulang ke alamnya.


“Adel istri saya, Bu?” tanya Pasha.


“Bukan. Adel adiknya Adit di film kartun Sopo Jarwo,” sahut Mami.


Sementara Abah juga tak kalah heboh, ia jadi ikut me-request kedatangan idolanya kepada Deka. Abah minta didatangkan Iwan Sumbang dan Doel Fals.


Ups kebalik, maksudnya Iwan Fals dan Doel Sumbang.


Asal jangan minta didatangkan Hulk dan tokoh fiksi lainnya, Deka insyaallah sanggup mendatangkan siapa saja. Asalkan orang yang diminta itu masih hidup dan belum almarhum. Deka gitu loh. Gitu loh Deka.


Bahkan pernah sempat terpikirkan oleh Deka membayar Iko Uwais untuk menjadi bodyguard-nya Ririn. Tujuannya agar dapat melindungi Ririn dari niat buruk si Jefri. Namun urung karena khawatir terjadi cinlok antara Ririn dan Iko Uwais nantinya. Bahaya.


Terlebih Abah, calon mertua Deka ternyata juga jago bela diri. Tidak kalah dengan Iko Uwais. Deka sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana hebatnya Abah ketika melumpuhkan Jefri. Abah benar-benar titisan si Pitung.


Ririn tersenyum merona menatap Deka. “Abang kok bisa sih kepikiran bawa Pasha ke sini?”


Sungguh, tadi Ririn syok luar biasa. Meskipun sesaat sebelum membuka pintu ia sempat menduga itu adalah suara Pasha. Namun ia menepis dugaan itu, sebab tidak mungkin rasanya Pasha mengamen di depan rumah Abah.


"Habisnya aku telepon ga diangkat, aku chat ga dibalas. Aku chat panjaaaaaang baru deh dibales. Itu pun balesnya cuma 'oke'. Memangnya, aku RCTI," keluh Deka.


“Maafkan saya. Kemarin saya sempat ada rasa sebal sama Abang,” ucap Ririn tertunduk.


“Kamu sebel sama aku? Sebal kenapa?" Deka serius bertanya. Kemarin ia sungguh tidak mengerti dengan sikap Ririn.


Ririn kembali mengangkat wajahnya menatap Deka.”Udah ah, ga usah dibahas. Yang penting sekarang saya udah ga sebal lagi sama Abang,” ucapnya tersenyum.


“Rin, jangan pernah sebel lagi ya, sama calon suamimu yang ganteng ini,” sahut Deka.


Iya. Kapok, Bang. Khawatir Abang melakukan hal yang lebih gila dari ini. Gumam Ririn dalam hati.


 \=\=\=\=\=\=


 


Dua minggu menjelang pernikahan.


Sejak beberapa hari yang lalu kesehatan Deka mengalami penurunan. Karenanya pagi ini ia meminta Fery untuk menjemputnya. Ia merasa tak kuat jika mengemudikan mobil sendiri.


Jika saja tidak ada urusan penting, mungkin Deka memilih untuk tidak berangkat ke kantor hari ini. Lebih baik beristirahat di rumah saja. Namun, karena ada meeting bersama klien yang tidak bisa digantikan dengan yang lain, mau tidak mau ia harus datang ke kantor.

__ADS_1


“Payah, mau nikah malah sakit,” ledek Fery.


“Gue ‘kan manusia, bukan Superman. Wajarlah kalau sakit,” sahut Deka.


“Hari ini lo harus ke dokter, Bro! Jangan sampai pas hari H lo terkapar tidak berdaya.”


“Iya, iya.”


Setelahnya tak ada obrolan lagi sebab Deka sedang sakit kepala. Tak mau banyak bicara. Hanya alunan lagu dari radio mengiringi perjalanan meraka.


“Iya, kamu juga ya,” celetuk Fery tiba-tiba saat mobil berhenti karena macet.


“Ngomong sama siapa lo?!” lontar Deka. Sebab merasa aneh tiba-tiba Fery berceletuk sendiri.


“Tuh!” Fery menunjuk sebuah rambu lalu lintas. “Tiap baca rambu lalu lintas yg bertuliskan ‘hati-hati di jalan’ gue tuh bawaannya pengen bales, 'iya, kamu juga ya,” sambungnya.


Deka geleng-geleng kepala mendengar penuturan Fery. “Dasar jomblo!”


“Tolong jangan libatkan stutus jomblo dalam hal ini! Gue tuh dari orok udah memiliki hati selembut sutra. Gue nih, kalau ketemu polisi tidur, gue selimutin biar ga kedinginan," kelakar Fery.


“Kirain kalau ketemu polisi tidur, lo tidurin,” timpal Deka.


“Ya ga segitunya kaleee! Mentang-mentang gue jomblo masa iya nidurin polisi tidur. Huh!”


“Kali aja lo khilaf.”


Mereka turun dari mobil dan mengayun langkah menuju kantor. Sebelum sampai lift, mereka berpapasan dengan Bella. Mantan artis itu kini bekerja di kantor Deka. Membantu pekerjaan Silvi, sekretaris Deka.


“Abang, kamu pucat sekali. Are you okay?” tanya Bella. Tangannya menyentuh kening dan leher Deka bergantian untuk mengecek suhu. “Kamu demam loh, Bang!”


“Bell, Please call him ‘Pak’ not Abang!”cetus Fery. “Khawatir ada karyawan lain yang dengar panggilan kamu ke Deka. Kecuali kalau di luar kantor, terserah kamu mau panggil apa,” sambungnya.


Bella mencebikkan bibir di belakang Fery, tanda tak suka dengan ucapan Fery. Kemudian mereka masuk ke dalam lift bersama.


“Bang, kalau sakit, kamu periksa ke dokter dong!” seru Bella.


“Apa! Ini di dalam lift. Ga ada karyawan yang denger, terserah gue mau manggil Deka apa!" sungut Bella saat Fery membuka mulut hendak melayangkan protes kembali soal panggilannya pada Deka.


“Mau ya, Bang, ke dokter. Sebentar lagi acara pernikahan kamu loh,” ujar Bella lagi.


“Iya, Bell. Habis meeting dengan pak Gunawan, kamu antar aku ke dokter ya,” pinta Deka.


“Oke,” sahut Bella senang.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Deka telah berada di rumah sakit dengan diantar oleh Bella. Dokter baru selesai melakukan pemeriksaan kepada Deka.


“Sudah berapa hari Bapak demam?” tanya dokter.


“Seminggu ada, Dok. Tapi naik turun demamnya. Kadang demam,  nanti reda, terus demam lagi,” sahut Deka.


“Terus apa lagi yang dirasakan?”


“Badan kayak lemes aja, Dok. Dan sakit kepala juga.”


“Saya sarankan Bapak untuk cek darah karena demamnya sudah seminggu. Saya belum bisa mendiagnosa Bapak sakit apa. Karena sebetulnya demam itu adalah tanda bahwa tubuh tengah mencoba melawan penyakit atau infeksi. Saat suhu tubuh demam biasanya tubuh memang terasa lemas,” papar sang dokter sambil menuliskan sesuatu. Deka mendengarkan saja pemaparan dokter.


“Jadi, ini saya buatan surat rujukan untuk cek darah ke laboratorium ya, Pak. Untuk sementara saya hanya memberikan parasetamol untuk obat penurun demamnya," tutur sang dokter.


"Ini surat rujukan untuk melakukan pemeriksaan darah.” Dokter menyerahkan selembar kertas kepada Deka untuk rujukan pemeriksaan laboratorium.


“Nanti kalau sudah ada hasil laboratoriumnya, Bapak kembali ke sini ya." Dokter itu mengingatkan.


“Baik, Dok. Terima kasih.”


“Iya, sama-sama, Pak. Jangan lupa ke lab ya, Pak,” pungkas sang dokter sebelum Deka keluar ruangannya.


“Gimana, Bang? Sakit apa?” tanya Bella saat Deka keluar ruangan. Ia menunggu di luar dan tidak ikut masuk ke dalam ruangan dokter karena Deka yang melarangnya.


“Belum tahu. Ini harus cek darah ke lab dulu,” jawab Deka. “Lab-nya di mana ya?”


“Gampang, tinggal tanya ke petugas. Aku antar kamu ke lab. Come on.” Bella menarik tangan Deka untuk mengikutinya.


 


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2