Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Setelah dari toilet, Deka bersama Ririn kembali ke gerai ponsel untuk membayar transaksi pembelian ponsel. Kemudian mereka pergi untuk makan siang. Restoran yang menyajikan menu masakan Jepang yang menjadi pilihan mereka.


"Sering ke restoran Jepang?" tanya Deka saat duduk menunggu menu pesanan. Ia lebih memilih kata 'sering' daripada kata 'pernah'. Tidak elok jika ia bertanya dengan kalimat 'pernah ke restoran Jepang?'


"Enggak sering, tapi pernah. Baru dua kali, tiga kali dengan ini," jawab Ririn.


"Sama siapa tuh?" selidik Deka. Yang terlintas di pikirannya, Ririn pergi ke restoran Jepang bersama mantan pacar atau mantan suaminya. Membayangkannya saja cukup membuat sesak di dada.


"Yang pertama sama Opi. Yang kedua sama Dewa ...."


"Sama Dewa?!" potong Deka bersungut-sungut.


"Sama Mimin juga, sama Abah, Mami, Syad dan Opi," terang Ririn.


"Oh, gitu. Kirain." Deka bernapas lega.


Ririn tersenyum melihat reaksi sang suami. Apakah ini yang namanya bucin? Kelakuan suaminya itu persis seperti cerita novel online yang sering dibacanya.


"Oh, iya. Tadi kamu habis ke mana, Yang? Aku panik nyariin kamu tadi," tanya Deka.


Ririn mengambil kertas yang diberikan gadis kecil tadi dari tas sakunya lalu menyerahkannya pada Deka. "Ini, Bang. Coba baca!" titahnya.


Deka membaca tulisan di kertas itu. "Ini maksudnya apa?"


"Jadi ceritanya, pas saya mau masuk toliet ada pasangan suami istri gitu baru keluar dari sana. Nah, suaminya itu kasar banget sama istrinya. Terus bersama suami istri itu ada gadis kecil, ga tau anaknya atau siapanya. Tapi menurut aku sih itu kayaknya anaknya. Nah, anaknya itu ngasih kertas ini ke saya. Terus saya ngikutin mereka sampai parkiran. Di tempat parkir itu saya lihat laki-laki itu menganiaya perempuannya. Saya itu kasihan lihat si mbak dan anaknya itu," tutur Ririn.


"Rin ... lain kali kalau menemukan seperti ini, ga usah diladeni ya." Deka meremas kertas itu dan hendak membuangnya. Karena kesal dengan cerita yang disampaikan Ririn, ia kembali memanggil dengan panggilan nama, bukan 'sayang'.


"Abang, jangan!" cegah Ririn. Ia merebut kembali kertas dari tangan Deka.


"Di sini ada alamatnya," ujar Ririn kemudian.


"Terus?" Deka mengerutkan kening.


"Mungkin mereka memang membutuhkan bantuan kita."


"Rin, ini Jakarta. Jakarta itu keras, Rin. Semua jenis orang dengan berbagai macam karakter ada di sini. Jangan terlalu percaya sama orang! Jangan terlalu baik sama orang yang baru kita kenal. Karena bukan tidak mungkin orang itu punya niat buruk dan malah akan menusuk kita."


"Abang, saya tuh lihat dengan mata kepala sendiri, wanita itu dianiaya suaminya. Masa iya saya ga peduli."


"Banyak orang lain yang bisa peduli sama mereka 'kan? Bisa saudaranya, temannya, tetangganya. Ga harus kamu! Jangan ikut campur urusan orang lain, Rin. Apalagi urusan orang yang tidak kita kenal. Apalagi di kota Jakarta ini."


"Saya ga sependapat dengan Abang. Saya juga perempuan, apalagi saya pernah berada di posisi seperti wanita itu, dianiaya oleh suami. Saya ...."


"Rin, sebaiknya kita ga usah bahas masa lalu," potong Deka cepat.


"Kamu jangan membahas masa lalu kamu di depan aku. Aku pun tidak akan membahas masa lalu aku di depan kamu. Kita sudah saling tahu masa lalu kita masing-masing. Itu sudah cukup. Jangan pernah mengungkit, membahas, apalagi mengenangnya. Kita fokus saja kepada kehidupan yang kita jalani sekarang dan rencana untuk masa depan kita," tegas Deka. Intonasinya sedikit meninggi saat memaparkan pandangannya tentang masa lalu.


Ririn bergeming menatap Deka dengan hati yang tidak karuan. Antara sebal, kesal, setuju dan tidak setuju. Memang betul apa yang diucapkan Deka, tetapi apa yang dilakukannya pun tidak salah. Begitu menurut Ririn.


"Sumimasen (permisi)," ujar seorang pelayan yang datang menghampiri meja mereka dengan membawa menu makanan yang dipesan.


Penampilan dan bahasa yang digunakan pelayan menjadi salah satu daya tarik restoran ini. Pelayan di restoran ini adalah asli orang Indonesia yang dibekali sedikit bahasa Jepang untuk hal-hal yang umum saja.


"O matase itashi mashita (maaf sudah membuat Anda menunggu)," ucap sang pelayan sembari menata pesanan di meja.


Ririn dan Deka memperhatikan pelayan laki-laki dengan hachimaki di kepalanya. Hachimaki adalah ikat kepala yang biasa dipakai orang Jepang dan menjadi salah satu budaya orang Jepang.


"Gochuumon wa de yoroshii deshoo ka (pesanan Anda sudah tersedia semua dengan benar)," kata pelayan setelah selesai menghidangkan menu pesanan di meja pendek khas restoran Jepang.


"Hai (Ya)," sahut Deka.

__ADS_1


"Goyukkuri o meshiagari kudasai mase (selamat makan dengan santai)."


"Arigatogozaimasu (terima kasih)," ucap Deka.


"Iie, douitashimashite," balas sang pelayan. Setelahnya berlalu meninggalkan meja yang ditempati pasangan Deka dan Ririn.


Beberapa menu makanan Jepang seperti sushi, chicken katsu, tempura dan yakitori sudah tersaji di  atas meja. Untuk sushi Ririn memilih tatsumaki roll, varian sushi yang menggabungkan isian daging cincang pedas dan jamur kancing, lalu dibalut adonan tepung untuk kemudian digoreng hingga renyah.


Sementara Deka memilih crunchy spicy tuna roll dengan isian ikan tuna tentunya. Sementara untuk minuman, minuman sejuta umat setelah teh manis yaitu jus jeruk yang menjadi pilihan mereka.


"Itadakimasu (Selamat makan)," ucap Deka seraya melemparkan senyum kepada Ririn.


Ririn menarik sedikit bibirnya, tersenyum tipis dan singkat menanggapi ucapan Deka.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Rembulan tersenyum indah, seindah rasa yang memenuhi hati dan jiwa. Bintang berkedip mesra, semesra pasangan yang tengah dimabuk cinta. Semilir angin berbisik merdu, semerdu suara desau dua sejoli yang tengah berkasak-kusuk dalam kegiatan romantis yang penuh kehalalan. Deka dan Ririn.


Deka menjatuhkan tubuhnya di samping Ririn. Dadanya naik turun karena tengah mengatur napas usai melakukan kegiatan menguras energi sekaligus menyisakan rasa sukacita sampai ke puncaknya.


Sementara Ririn yang telah berada dalam posisi duduk, menurunkan kakinya hendak turun dari peraduan.


"Mau ke mana, Yang?" Deka menahan Ririn dengan memeluk pinggang ramping itu dari belakang.


Ririn menoleh pada pria yang entah sudah berapa kali melambungkan dirinya sampai ke puncak.


"Mau ambil baju, mau pake baju," jawabnya.


"Nanti aja pakai bajunya. Kalau aku mau lagi, gimana?"


Ririn membulatkan mata. "Udah tiga kali tadi, masa mau lagi."


"Sini, sini, aku mau peluk kamu!" Deka menarik selimut yang menutupi tubuh polos Ririn hingga turun sampai ke bawah dada.


Dua sejoli itu berbaring miring saling berhadapan dalam jarak yang hampir terkikis habis. Deka menumpangkan sebelah kakinya di atas kaki Ririn. Sementara tangannya membelai lembut rambut hitam bak mayang terurai yang harumnya sangat ia suka.


"Kamu kenapa, Sayang? Perasaan sejak pulang dari mal tadi, wajahnya murung terus?" selidik Deka yang merasakan perubahan sikap Ririn. Beruntung saat kegiatan ibadah suami istri tadi, perempuan cantik itu masih dapat mengimbangi dirinya. Masih terasa jos-josnya. Uhuy.


"Saya mikirin anak itu dan mamahnya," ungkap Ririn jujur. Pesan tersurat dari gadis kecil saat di toilet mal sungguh membebani pikirannya.


"Orang asing yang kamu gak kenal itu?" sungut Deka.


Ririn mengangguk.


"Astaga, Rin. Aku udah bilang kamu ga usah ngurusin hidup orang lain!" Deka menghentikan aksi tangannya yang tengah memainkan rambut Ririn.


"Tapi, pesan si gadis itu sungguh membebani saya," kilah Ririn.


"Ya kamu lepaskan dong, ga usah dipikirin! Ingat mereka itu orang asing yang ga kita kenal. Kita gak tahu mereka itu orang baik atau orang jahat."


"Tapi, Bang ...."


"Stop! Kita ga usah bahas mereka!" seru Deka tegas.


Kemudian ia mengusap lembut pipi Ririn dengan punggung tangannya. "Lebih baik kita bahas tentang bulan madu kita. Kamu mau bulan madu ke mana?" ucapnya lembut. Berbeda dengan intonasi ucapan sebelumnya.


Ririn terdiam sejenak menatap Deka. "Terserah Abang," ujarnya kemudian.


"Cappadocia mau?" tawar Deka.


Ririn menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa gak mau?"


"Itu tempatnya Mas Aris sama Lidya."


"Mas Aris? Lidya? Mereka itu siapa?" Deka mengernyitkan kening.


Ririn tersenyum. "Ga penting. Saya kasih tahu juga Abang pasti ga akan tahu."


"Kalau ke Eropa?" tawar Deka lagi.


Ririn menggeleng.


"Amerika?"


Ririn menggeleng lagi.


"Jepang?"


Ririn mengangguk. "Takaoka, Toyama," cetusnya.


"Kota kelahiran Doraemon 'kan? Oke, kita bulan madu ke sana," putus Deka. Yang disambut senyum sumringah oleh Ririn.


Setelah membahas tentang bulan madu, pasangan pengantin yang baru mengecap manisnya pernikahan itu saling pandang, saling melempar senyum, dan saling yang lainnya.


"Abang, saya boleh ...." cetus Ririn


"Boleh," sahut Deka sebelum Ririn menyelesaikan kalimatnya.


"Boleh apa coba?"


"Minta lagi 'kan?"


"Ish. Bukan!"


"Apa dong?"


"Saya boleh nyemperin alamat itu?" Ririn terdiam sejenak memperhatikan reaksi Deka. "Tapi ga sendiri. Sama Bi Iroh, atau Sanah, atau Mang Pardi," lanjutnya.


Deka meraup napas banyak-banyak demi mengetahui keinginan Ririn. Istri cantiknya itu masih saja memikirkan orang lain. Benar-benar bidadari yang berhati malaikat. Begitu menurut Deka.


"Oke. Boleh, tapi ... harus sama aku ke sananya," ujar Deka. Akhirnya ia mengiakan kemauan Ririn.


Ririn mengangguk, bibirnya melengkungkan senyum lega. "Kapan?" tanyanya antusias.


"Kalau aku ada waktu luang. Atau sehabis kita berbulan madu," jawab Deka.


"Oke."


"Tapi ada syaratnya," kata Deka.


"Apa?"


"Ayo lanjut ngejos ronde keempat."


"Siapa takut," sahut Ririn.


.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih dukungannya


__ADS_2