
“Pak, Ibu pingsan. Keluar darah juga. Ini mau dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit mana ya?”
“Siapa ini?” Deka harus memastikan si penelepon. Bukankah sekarang banyak telepon penipuan dengan modus seperti itu. Menyatakan salah satu anggota keluarganya masuk rumah sakit.
“Saya Bi Iroh, Pak.”
“Ada apa, Bi Iroh?”
“Ibu pingsan, Pak.”
“Istri saya pingsan kenapa?” Raut wajah Deka tampak panik.
“Enggak tahu, Pak. Tadi saya dan Sanah sedang berkebun, pas masuk ke rumah, lihat Ibu udah pingsan.”
“Bawa ke rumah sakit sekarang!”
“Iya, Pak. Ibu udah digotong ke mobil sama Mang Pardi. Bawa ke rumah sakit mana?”
“Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda.”
"Baik, Pak," sahut Bi Iroh sebelum memutuskan teleponnya.
“Ada apa, Bro?” tanya Fery setelah Deka mengakhiri panggilan teleponnya.
“Gue harus ke rumah sakit sekarang. Ririn pingsan. Fer, bereskan pekerjaan gue!” titah Deka.
"Siap. Semoga Ririn ga kenapa-kenapa ya, Bro."
"Amin."
Deka bergegas keluar ruangan rapat. Dengan langkah terburu-buru, ia pergi meninggalkan kantornya. Mengendarai mobil dengan kecepatan lebih cepat dari biasanya. Meliuk-liuk menerjang kemacetan jalan raya.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, beberapa kali Deka menghubungi nomor ponsel Sanah untuk menanyakan keadaan Ririn.
__ADS_1
“Gimana istri saya?”
“Sedang ditangani dokter, Pak.”
“Sekarang kamu di mana?”
“Di depan IGD, Pak.”
“Oke. Saya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kalau ada keadaan darurat segera hubungi saya.”
“Baik, Pak.”
Hampir tiga puluh menit setelahnya, Deka sampai di Rumah Sakit Mutiara Bunda. Mengayun langkah lebar dan cepat, Deka beranjak menuju IGD.
“Sanah, Bi Iroh, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Deka panik saat bertemu kedua ART-nya di depan IGD.
“Masih ditangani dokter, Pak.”
“Bagaimana ceritanya istri saya bisa pingsan?” cecar Deka.
“Memangnya di rumah gak ada orang, sampai gak ada yang tahu apa yang terjadi dengan istri saya!” Intonasi Deka meninggi karena rasa panik yang luar biasa.
“Maaf, Pak, kami sedang berkebun di halaman belakang. Ibu juga baru pulang dan sempat menghampiri kami. Kemudian Ibu masuk lagi ke rumah.” Takut-takut Sanah bercerita.
“Ibu bilangnya mau ke Tiara,” timpal Bi Iroh.
“Sekarang anak itu mana?”
Bi Iroh menyenggol lengan Sanah. “Tiara ke mana, Nah?”
Sanah menggeleng. “Tidak tahu, saya tidak melihatnya.”
“Pas kejadian Ibu pingsan ini, tadi Tiara gak ikut nimbrung, Pak. Kita juga gak memperhatikan Tiara ada enggak. Kita langsung bawa Ibu ke rumah sakit karena panik,” tutur Bi Iroh.
__ADS_1
Kemudian seorang dokter keluar dari ruang IGD. Deka segera menghampiri dokter tersebut.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?”
“Bapak ... “ Dokter itu mengamati Deka.
“Bapak ini suaminya Bu Ririn yang tadi kami bawa ke sini,” terang Sanah kepada dokter wanita yang tadi menangani Ririn.
“Oh, iya.” Dokter itu mengangguk. “Dengan bapak siapa?” lontarnya.
“Saya Deka, Dok.”
“Begini Pak Deka, mohon maaf jika kami memberikan kabar yang kurang enak. Tetapi, kami tetap harus mengabarkan bahwa janin yang dikandung Bu Ririn tidak dapat kami selamatkan.” Dokter itu menjeda sejenak ucapannya. “Bu Ririn mengalami keguguran.”
“Ya Allah. Astagfirullah.” Bagai disambar petir rasanya, Deka terkejut bukan main. Tidak menyangka kondisinya akan separah ini, tadi ia mengira Ririn hanya pingsan.
Sanah dan Bi Iroh yang turut mendengar kabar keguguran Ririn, langsung menangis dan saling berpelukan. Kedua ART itu juga seakan merasakan kesedihan yang sama dengan sang majikan. Sebab mengingat bagaimana kebahagiaan Deka dan Ririn saat menjalani hari-hari kehamilan.
“Pak Deka yang sabar, ya. Pak Deka harus lebih kuat dari Bu Ririn. Pak Deka yang harus menguatkan Bu Ririn," ujar dokter dengan bijaknya.
Deka menggeleng tak percaya. Masih tidak percaya dengan kabar yang didengarnya.
__ADS_1