
Deka baru saja selesai menunaikan salat Subuh saat ponselnya berdering. Ada telepon dari Abah yang memberitahukan bahwa siang nanti Ririn berencana pulang.
“Iya, Bah. Maaf Deka belum bisa ke rumah sakit lagi. Semalam Deka habis mengurus penguburan janin calon anak kami," terang Deka.
“Iya, enggak apa-apa. Nak Deka yang sabar ya. Insyaallah nanti dikasih kesempatan untuk memiliki anak lagi."
“Amin. Oya, keadaan Ririn sekarang bagaimana, Bah?”
“Ririn sepertinya masih syok. Semalam ia nangis terus sampai enggak bisa tidur,” ungkap Abah.
Hati Deka mencelos mendengar kabar tersebut. Deka tahu pasti, Ririn bukan menangisi tentang kegugurannya, tetapi menangisi dugaan bahwa dirinya adalah ayah biologis Tiara.
“Makanya abah minta izin sama dokter agar bisa memulangkan Ririn nanti siang. Kalau di rumah sakit mungkin suasananya kurang nyaman, jadi nangis terus. Kalau di rumah sendiri mungkin Ririn bisa lebih tenang,” ujar Abah lagi.
“Iya, Bah. Nitip Ririn ya, Bah, Deka ada pekerjaan penting di kantor yang tidak bisa ditinggal. Tapi, nanti siang insyaallah Deka ke rumah sakit jemput Ririn.”
"Iya, Nak Deka. Fokus saja sama pekerjaan. Ririn biar kami yang menjaga. Insyaallah kami memahami kesibukan Nak Deka."
"Terima kasih, Bah."
Setelah Abah mengakhiri panggilannya. Ponsel Deka berbunyi lagi, kali ini ada notifikasi pesan masuk dari Fery. Asisten sekaligus sahabatnya itu memberikan informasi tentang Tania serta tempat tinggalnya.
[Suami Tania namanya Herman, baru meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan]
[Tiara adalah anak Tania saat hamil waktu masa sekolah dulu]
[Tania baru saja menjual rumah mendiang suaminya. Sekarang tinggal di rumah kontrakan. Menurut informasi, dia akan pindah ke luar kota]
[Kalau lo mau ketemu Tania, temui secepatnya sebelum dia pergi dari Jakarta]
Rentetan pesan masuk dari Fery. Di pesan terakhir, Fery menuliskan alamat tempat tinggal Tania.
Rencananya sebelum pergi ke kantor, Deka akan mendatangi alamat Tania. Namun, kesibukan pekerjaan memaksanya untuk langsung pergi ke kantor. Baru saat siang hari, saat jam istirahat, Deka dapat mendatangi alamat rumah Tania.
Deka menghentikan mobilnya di depan sebuah halaman kontrakan. Ia turun lalu berjalan menghampiri sebuah bangunan yang berderet panjang dengan cat dinding warna berbeda-beda di setiap nomor pintu. Ia melangkah menuju pintu kontrakan nomor lima dengan cat dinding berwarna ungu. Kemudian mengetuk pintu tersebut dengan keras.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu tanpa mengucap salam, pintu itu pun dibuka oleh seorang wanita cantik.
“Deka?!” Wanita cantik yang tidak lain adalah Tania, begitu terkejut saat mendapati Deka sebagai tamunya.
“Mana anak lo!” sentak Deka tanpa aba-aba.
Tania mengerutkan kening karena tidak memahami permasalahan yang terjadi. Bagaimana bisa, mantan pacarnya dulu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu kini datang dan mencari anaknya. “Ada apa kamu datang-datang nyari anak aku?”
“Anak lo itu bikin onar di rumah tangga gue!” ketus Deka.
“Mana mungkin? Memangnya kamu mengenal Tiara?” sahut Ririn tidak percaya.
"Sebenarnya gue menyesal kenal sama anak lo! Kenapa juga gue harus berurusan lagi sama lo dan anak lo!" Deka berkata sambil menunjuk-nunjuk wanita bertubuh ramping di hadapannya.
Tania masih berdiri mematung di gawang pintu. Menatap Deka dengan kening mengerut. Bagaimana bisa Deka mengenal Tiara. Batinnya bertanya-tanya.
“Ngapain Papa ke sini. Pergi sana! Aku dan Mama gak butuh Papa!” Tiara tiba-tiba sudah berdiri di belakang Tania.
__ADS_1
Melihat Tiara, Deka langsung menerobos masuk ke dalam dengan sedikit menyenggol bahu Tania.
“Gue bukan papa lo!” bentak Deka.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Tania. “Hey, bilang sama anak lo ini, kalau gue bukan papanya!”
“Ini pasti lo yang udah cerita gak bener ke anak lo, dan bilang kalau dia anak gue!” sungut Deka sembari telunjuknya menunjuk-nunjuk hidung Tania.
Tania bergeming. Berdiri menundukkan kepalanya, tak berani menatap Deka.
“Lo tau, gara-gara anak lo, yang bilang kalau gue adalah papanya, istri gue keguguran!”
“Bagaimana bisa Tiara bikin istri kamu keguguran?” timpal Tania dengan raut bingung.
“Dia suaminya tante Ririn, Mah,” sahut Tiara.
“Apa?” Tania tercengang. Jakarta sempit sekali rupanya.
“Dan sekarang lo harus tanggung jawab, jelasin ke istri gue. Kalau gue bukan papanya dia!" Deka menunjuk Tiara.
"Kalau enggak, gue bisa laporin lo ke polisi. Pasal fitnah dan pencemaran nama baik," ancamnya.
“Tapi sebelummya, lo jelasin dulu sama anak lo itu kalau gue bukan papanya!”
Tania menelan liur dan bergerak gelisah demi mendengar akan dilaporkan pasal fitnah dan pencemaran nama baik.
“Mah, benar yang dia bilang kalau dia bukan papaku?” lontar Tiara.
“Ayo, jawab Mah!” cecar Tiara.
Tania mengangguk lemah. “Dia memang bukan papa kamu, Tiara,” ungkapnya.
“Kenapa mama bohongi aku?” lontar Tiara dengan raut kecewa. .
“Terus siapa papa aku, Mah?” cecar Tiara.
“Sudah, Tiara! Enggak ada papa kamu juga kita tetap bisa hidup. Kamu enggak usah tanya-tanya lagi tentang papa kamu!”
“Mama jahat! Mama jahat!” Tiara berlari keluar rumah.
“Tiara tunggu!” cegah Tania.
Ia ikut berlari mengejar Tiara. Namun, Tiara yang pernah juara lomba lari itu tidak dapat terkejar. Sementara Deka saat perdebatan ibu dan anak tadi hanya berdiri menyaksikan sambil melipat tangan di dada.
Tania yang tertinggal jauh oleh putri semata wayangnya, akhirnya kembali masuk ke rumah.
“Deka, bantu aku kejar Tiara!” seru Tania seraya menarik tangan Deka yang tengah terlipat di dada.
“Enggak bisa. Gue harus ke rumah sakit jemput istri gue,” tolak Deka. Berbarengan dengan ponselnya berdering.
“Ayo, kejar Tiara, Deka!” seru Tania lagi.
Deka tidak mengindahkan seruan Tania. Ia mengusap layar ponsel untuk menjawab panggilan telepon dari Abah.
__ADS_1
“Kamu harus tanggung jawab, Deka!” Tania berseru sembari memukul lengan Deka yang akan mengarahkan ponsel ke telinga.
“Ssst, berisik! Mertua gue nelepon!”
“Assalamualaikum, Bah.”
“Waalaikum salam. Nak Deka lagi ada di mana?”
“Eng, masih di kantor, Bah,” jawab Deka berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa dirinya tengah berada di kediaman mantan pacarnya ‘kan.
“Ririn sudah diizinkan pulang. Dia keukeuh mau pulang sekarang. Ririn mau pulang ke Serang saja katanya. Apa Nak Deka mengizinkan?”
“Kalau Ririn maunya begitu, iya enggak apa-apa, Bah. Boleh saja, Deka izinkan,” jawab Deka setelah terdiam beberapa saat untuk berpikir.
“Cepetan, Deka!” seru Tania di saat panggilan telepon sedang berlangsung.
“Nak Deka lagi sibuk ya?” lontar Abah.
“Eng ... iya, Bah. Ada urusan sedikit."
“Kebetulan di sini ada ding Dewa. Kalau Nak Deka sibuk, kami pulang ke Serang bersama ding Dewa saja, bagaimana?”
Deka mengusap wajahnya kesal. Kesal dengan permasalahan yang membuatnya pusing. Tadinya ia berencana untuk membawa Tania bertemu Ririn di rumah sakit, tetapi tidak mungkin rasanya karena ada Abah dan Mami. Jangan sampai mertuanya itu mencium permasalahan rumah tangganya dengan Ririn.
Kemudian ia berpikir untuk membawa Tania ke rumahnya saja saat Ririn sudah pulang ke rumah, tetapi terancam gagal karena Ririn memilih untuk pulang ke rumah orangtuanya.
“Ya sudah, enggak apa-apa, Bah. Pulang bersama Dewa saja. Nanti Deka menyusul ke sana kalau urusannya, eng maksudnya kalau pekerjaan Deka sudah selesai.”
“Baik, Nak Deka. Kami pulang sekarang ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
.
.
.
Insyaallah konfliknya ga berlarut-larut. Tapi biarlah Bang Deka berusaha dulu untuk menyelesaikan masalahnya.
Terima kasih ya dukungannya.
Oya, yang belum baca extra part GBM, ayo baca dong.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1