Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bab 96


__ADS_3

“Deka lo harus kuat! Sebentar lagi lo mau punya anak,” ujar Fery yang menemani Deka di dalam mobil ambulans yang melaju.


“Bangun, Bro. Demi anak istri lo!” Fery menggenggam tangan Deka.


“Bangun, bangun, bangun! Gue mau diledekin jomblo setiap hari sama lo. Lo harus bangun. Lo harus lihat sampai mana ketahanan gue dalam menyandang status jomblo.” Fery terus berusaha membangunkan sahabatnya itu.


Sesaat kemudian Fery jadi teringat bahwa dirinya belum mengabari keluarga Deka. Ia meraih ponsel untuk menghubungi Pak Satya, namun panggilannya tidak dijawab. Lalu ia menghubungi Dewa. Tentu saja Dewa sangat terkejut mendengar kabar bahwa Deka menjadi korban penusukan oleh orang yang tidak dikenal.


Di dalam ambulans, dua orang tenaga medis telah memberikan pertolongan pertama kepada Deka, seperti memberikan tekanan pada area perdarahan untuk menghentikan keluarnya darah dan juga memberikan bantuan oksigen.


\=\=\=\=\=\=


Ririn tidak dapat menghentikan tangisnya. Ia terkejut sedemikian dahsyat. Tidak pernah menyangka pagi sangat indah yang dirasakannya, dalam sekejap berubah menjadi petaka.


Ini lebih sakit dari kesakitan apapun yang pernah dialaminya. Tragedi pagi tadi sangat mencekam dan menakutkan. Ia begitu tersentak saat menyaksikan orang tercinta terkapar tidak berdaya dengan bersimbah darah. Bukan hanya dirinya, dua nyawa yang bersemai dalam rahim juga turut tersentak. Seketika perutnya merasakan kontraksi hebat yang tidak biasa.


Di dalam ruang instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit bersalin, Ririn terus menangis menyebut nama Deka. Ia merasa kiamat itu terjadi saat ini. Menghancurkan segala harapan dan mimpi.


Ia merasakan kontraksi luar biasa. Dokter menjelaskan bahwa Ririn akan segera melahirkan dan akan dilakukan tindakan operasi cesar sesegera mungkin. Seharusnya Deka berada di sisinya saat ini. Menemaninya dalam mengantar buah cinta mereka lahir ke dunia. Menyambut Boy dan Girl dengan senyum bahagia seperti janjinya.


“Abang ... Huuu ... huuu ... “ Tangis Ririn di atas brankar.


“Ibu sabar, yang kuat ya. Sebentar lagi dokter akan melakukan operasi. Ibu harus berjuang. Ibu harus semangat. Sebentar lagi Ibu mau bertemu anak-anak Ibu dan Pak Deka,” ujar Silvi menyemangati Ririn.


“Buat apa saya berjuang kalau Abang, huuuu ... huuuu ....”


“Ibu enggak boleh bilang begitu. Pak Deka pasti selamat, Pak Deka pasti akan baik-baik saja. Sekarang yang penting Ibu berjuang dan semangat. Saya yakin, Pak Deka juga sama tengah berjuang agar bisa berkumpul lagi bersama Ibu dan anak-anak yang akan dilahirkan Ibu. Jadi, Ibu harus semangat ya." Silvi pun turut meneteskan air mata melihat pemandangan memilukan di hadapannya.


“Ririn ...!” Mami, Abah dan Mimin langsung menghambur memeluk Ririn.


“Abah, Mami, Bang Deka, huuu ... huuu ...” Tangis Ririn semakin pecah saat keluarganya datang menghampiri.


“Ririn enggak boleh begitu. Ririn harus semangat. Insyaallah Nak Deka enggak apa-apa,” kata Abah.


“Ririn sekarang mau melahirkan loh. Ririn harus semangat. Mami yakin, saat si kembar sudah hadir di dunia bersama kita, Deka juga pasti akan selamat dan akan langsung datang ke sini menemui Ririn dan si kembar,” ujar Mami.


“Istighfar, Rin. Ayo semangat. Buat Bang Deka senang. Bang Deka pasti akan senang kalau kamu juga senang. Bang Deka juga pasti akan semangat kalau kamu juga semangat,” ujar Mimin.

__ADS_1


"Ririn takut Bang Deka ... Ririn enggak mungkin bisa hidup tanpa Bang Deka. Huuu ... huuu ...."


"Rin, Nak Deka pasti selamat, kamu harus yakin itu. Nak Deka pasti akan datang ke sini menyambut anak-anak kalian nanti. Ayo, sekarang lebih baik Ririn banyak beristighfar dan mengingat Allah. Berdoa semoga diberi kelancaran dalam persalinan. Dan semoga Nak Deka selamat, sehat walafiat seperti semula," tutur Abah.


"Ririn jangan bersedih, ada kami di sini. Kami semua menyayangi Ririn," timpal Mami.


"Astagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim." Mimin beristighfar sembari menggenggam tangan saudara kembarnya itu. Pelan dan pasti Ririn ikut beristighfar dengan lirih.


Tidak lama kemudian, dua orang perawat datang dan memberitahukan jadwal operasi persalinan Ririn akan dilakukan sebentar lagi. Setelahnya, kedua perawat itu mendorong brankar yang ditempati Ririn menuju ruang operasi.


 \=\=\=\=\=


Dewa mengantar Abah, Mami dan Mimin ke rumah sakit bersalin untuk menemani proses persalinan Ririn. Setelahnya, ia mengantar anak-anaknya bersama pengasuh ke kediaman Mama.


Mama syok luar biasa dan menangis histeris saat Dewa menyampaikan kabar tentang Deka. Namun, Dewa pun tidak dapat bercerita banyak karena belum mengetahui pasti kejadian yang dialami Deka. Kemudian Mama dan Dewa bergegas pergi ke rumah sakit tempat penanganan Deka.


Pak Satya datang ke rumah sakit bertepatan dengan kedatangan Dewa dan Mama. Pak Satya sangat murka saat mendengar kabar penusukan putra sulungnya.


“Fer, cari pelakunya sampai dapat! Kalau dia saingan bisnis kita, saya tidak segan-segan untuk menghancurkannya!” murka Pak Satya.


"Siap, Pak."


“Untuk sementara, pekerjaan kantor kamu yang handle, Fer. Perintahkan seluruh karyawan untuk melakukan doa bersama mendoakan keselamatan Deka,” pesan Pak Satya kepada asisten Deka itu.


"Siap, Pak."


Dokter telah selesai melakukan tindakan operasi untuk memberikan pertolongan pada luka tusukan di perut Deka. Dokter menyatakan luka yang dialami Deka dalam dan cukup parah.


Luka tusukan itu mengenai dan merusak multi organ pada perut sehingga menyebabkan metabolisme tubuh serta kesadaran Deka terganggu.


Usai menjalani operasi, Deka belum sadarkan diri dan dinyatakan koma. Kemudian Deka dipindahkan ke ruang ICU untuk menjalani penanganan intensif.


“Sudah, Mah, jangan nangis terus. Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Deka,” ujar Pak Satya kepada sang istri yang tak henti-hentinya menangis.


“Mama sama Papa mending jenguk Ririn deh. Tadi Mina mengabari kalau proses persalinan Ririn sudah selesai. Alhamdulillah Ririn sudah melahirkan putra-putrinya. Biar Dewa saja yang menunggu Bang Deka di sini,” ujar Dewa.


“Ya Allah, Ririn bagaimana keadaannya? Pasti dia syok sekali,” sahut Mama.

__ADS_1


"Ririn sangat syok, Mah. Beruntung keluarganya ada di sana."


“Benar kata Dewa, lebih baik kita jenguk Ririn saja, Mah. Kita harus menyemangati dia, kasihan Ririn," ujar Pak Satya yang dibalas anggukan istrinya.


Baru saja Papa dan Mama akan beranjak pergi, kemudian langkahnya tertahan karena dering ponsel Dewa.


“Dari Bang Fery, Pah,” ujar Dewa sembari melihat layar ponselnya.


“Cepat dijawab teleponnya. Mungkin Fery ingin mengabarkan sesuatu,” sahut Papa.


“Iya, Bang Fer.”


“Wa, gue lagi ada di kantor polisi. Pelaku penusukan Deka sudah tertangkap.”


“Alhamdulillah. Semoga pelakunya segera dihukum seberat-beratnya.”


“Polisi sudah mengorek keterangan dari pelaku. Informasi yang didapatkan, kedua pelaku itu hanya sebagai eksekutor. Ada dalang dari kasus penyerangan Deka ini. Dan polisi sudah mendapatkan nama terduga pelaku atau dalang dari kasus ini," terang Fery di ujung telepon.


“Siapa dalanganya, Bang?”


.


.


.


.


Apakah ada yang bisa nebak siapa pelakunya?


Btw, terima kasih banyak dukungannya.


❤️❤️❤️❤️


 


 

__ADS_1


__ADS_2