Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bertemu Tiara


__ADS_3

Perjalanan wisata mereka dimulai dari Plaza Takaoka tepat di depan Stasiun Takaoka. Sepanjang perjalanan yang dikhususkan untuk pejalan kaki, kedua pasangan pengantin baru itu tak henti menebar senyum ceria sebab  melihat pemandangan serba Doraemon di sekitar mereka.



Di kedua tepi plaza tersebut terdapat 12 patung karakter dari animasi Doraemon. Setiap patung dibuat dengan sangat hidup dan memiliki keunikan tersendiri. Bagaikan disambut oleh setiap karakter Doraemon dan itu tentunya akan sangat menyenangkan bagi pasangan pecinta Doraemon, Deka dan Ririn.


Di penghujung plaza pun terdapat karakter-karakter Doraemon yang disusun melingkar seolah-olah menyambut wisatawan yang datang. Semua karakternya terlihat sedang menari dengan riang. Seriang hati Ririn dan Deka.


Setelah dari Plaza, mereka berkeliling dengan menaiki Trem Doraemon Manyosen. Trem tersebut terdiri dari dua gerbong. Bagian luar dan dalam trem dipenuhi dengan gambar teman-teman Doraemon. Pintu depannya berwarna merah muda dan didesain dengan bentuk menyerupai “pintu ke mana saja”, pintu ajaib Doraemon.


Dalam kisah Doraemon, diceritakan hari lahir Doraemon adalah 3 September 2112. Jadi, tahun 2012 adalah tepat 100 tahun sebelum robot kucing masa depan itu “diciptakan”, maka pada tahun tersebut banyak diadakan berbagai macam proyek  dan event untuk memperingati Doraemon. Trem Doraemon Manyosen itu pun tercipta dalam event tersebut dan mulai beroperasi pada bulan dan tahun tersebut.


Tak mau terlewatkan, pasangan jos itu pun singgah ke taman atau  lapangan bermain ala anime Doraemon, yaitu Taman Takaoka Otogi no Mori. Taman ini dibangun dengan tema “Bermain dengan alam, Belajar dengan alam, dan Bersosialisasi dengan teman”.


Di dalam taman tersebut terdapat Giant dan teman-temannya. Saat bermain di taman itu, pengunjung akan merasakan suasana lapangan yang sering kita lihat pada tayangan serial Doraemon.



Tidak ketinggalan, mereka juga berkunjung ke museum Doraemon. Tidak ketinggalan pula, hal wajib saat traveling adalah berswafoto. Dua sejoli yang kompak mengenakan sweater gambar Doraemon itu berfoto selfie di setiap sudut kota dengan nuansa Doraemon.


Rencana awal, mereka akan menghabiskan waktu sepuluh hari di Takaoka, Toyama. Namun, mengingat ini adalah kali pertama Ririn berkunjung ke Jepang, Deka mengubah rencananya. Ia memutuskan untuk mengajak Ririn mengunjungi kota lainnya di Jepang.


Setelah puas lima hari berada di Takaoka, kemudian mereka terbang ke Tokyo. Mereka mengunjungi destinasi wisata ikonik di kota Tokyo seperti Tokyo Disneyland dan Disneysea, Imperial Palace East Gardens di komplek istana kekaisaran Jepang, Teater Kabukiza, Ginza dan masih banyak lagi.


Menjelang kepulangan, mereka mengunjungi Harajuku, distrik yang berada diantara Shinjuku dan Shibuya ini sudah lama populer sebagai salah satu tujuan wisata belanja fashion dunia.


Dalam sepuluh hari bulan madu, tujuh hari dihabiskan hanya dengan jalan-jalan. Baru saat tiga hari menjelang kepulangan, dua sejoli itu bisa mewujudkan bulan madu sesungguhnya. Mengurai malam dalam hangatnya cinta. Menciptakan kenangan indah tak terlupakan dan terasa jos-josnya. Menyemai benih dalam ikatan rasa terindah penuh kehalalan.


Sebuah harapan yang sama tersisip dalam hati pasangan pengantin baru tersebut. Semoga hari-hari semanis madu itu menuai calon buah hati segera. Membuahkan Deka junior dan Ririn junior yang bakal melengkapi kebahagiaan mereka. Amin.


 


\=\=\=\=\=\=\=


 


Dua bulan kemudian.


“Hati-hati, Yang! Ingat, langsung pulang ke rumah!”pesan Deka kepada sang istri tercinta.


Siang tadi, Ririn datang ke kantor membawakan makan siang. Wanita cantik berjilbab itu menjadwalkan untuk membawakan makan siang untuk suami tercinta dua atau tiga kali dalam seminggu. Makanan yang dibawa adalah hasil masakannya sendiri.


“Tadi ‘kan sudah bilang, mau mampir ke Dekamart dulu. Mau belanja kebutuhan rumah tangga,” sahut Ririn.

__ADS_1


“Oh iya, lupa. Habis dari Dekamart langsung pulang, ya!” pesan Deka lagi.


“Abang pulangnya jam berapa?” Ririn balas bertanya.


“Diusahakan secepatnya, Sayang.” Deka mengusap lembut puncak kepala Ririn yang terbungkus jilbab. “Insyaallah diusahakan agar bisa makan malam di rumah,” janjinya.


“Saya akan nunggu Abang, biar bisa makan malam bareng,” balas Ririn sembari tersenyum. Meskipun ada sedikit rasa kecewa di hatinya.


Biasanya jika Ririn berkunjung ke kantor, mereka akan pulang bersama ke rumah. Namun, kali ini ia harus pulang sendiri karena suaminya itu masih ada jadwal bertemu klien.


“Iya, Sayang. Tapi kalau sudah lapar, kamu makan duluan aja. Ga usah nunggu aku. Jangan sampai karena nunggu aku terus kamu masuk angin, terus nanti sakit, terus .... “


“Terus kalau sakit nanti ga bisa ngejos, terus bakal lama lagi hamilnya,” potong Ririn. Begitulah kalimat yang biasa dilontarkan sang suami.


“Pinter.” Deka mencubit pelan hidung mancung Ririn.


“Saya pulang ya.” Ririn mengulurkan tangan meminta salim.


“Hati-hati ya, Sayang.” Deka menyodorkan tangannya.


Ririn mencium takzim punggung tangan sang imam. Masuk ke dalam mobil, ia duduk di jok belakang.


“Pak Pardi, hati-hati ya bawa mobilnya. Jaga istri saya,” pesan Deka saat sang sopir membukakan pintu untuk istri sang majikan.


“Assalamualaikum.” Ririn mengucap salam sembari melambaikan tangan pada Deka.


“Waalaikum salam,” balas Deka sembari melambaikan tangan juga.


“Langsung pulang ke rumah, Bu?” tanya Mang Pardi.


“Ke Dekamart dulu ya, Mang,” jawab Ririn.


“Baik, Bu.”


Mobil pun melaju meninggalkan bangunan kantor yang menjulang tinggi. Memecah jalan raya beraspal di bawah langit yang cerah.


Lima belas menit waktu yang ditempuh untuk sampai ke sebuah minimarket bertajuk “Dekamart”. Usaha retail yang baru dirintis oleh Deka itu baru diresmikan dua bulan yang lalu.


Dekamart adalah minimarket yang dipersembahkan Deka untuk Ririn. Alasan mendirikan minimarket tersebut sangat konyol, yaitu gara-gara pernah suatu hari Ririn terjebak dalam antrean di depan kasir sebuah minimarket. Kemudian Deka memerintahkan Fery untuk mendirikan sebuah minimarket agar Ririn tidak harus mengantre lagi saat belanja kebutuhan rumah tangga.


Ririn turun dari mobil dan mengayun langkahnya menuju pintu Dekamart. Saat ia membuka pintu, ada keributan yang terjadi di depan kasir.


“Kamu mencuri ya?” tuduh seorang kasir Dekamart pada seorang gadis kecil yang menggendong tas punggung di pundaknya.

__ADS_1


Gadis itu menggeleng cepat. “Saya ga mencuri,” sanggahnya.


“Coba periksa aja tasnya!” usul karyawan berjenis kelamin laki-laki.


“Jangan!” cegah sang gadis kecil sembari melepaskan tas di punggung dan mendekapnya erat.


“Saya dari tadi perhatikan dari cctv, kamu itu mencuri!” tukas sang kasir berjenis kelamin wanita.


“Kamu ini kecil-kecil udah jadi pencuri!” tukas seorang karyawan lainnya.


“Ada apa ini?” lontar Ririn menengahi keributan yang terjadi.


“Bu, tadi saya memergoki anak ini mencuri. Anak ini mengambil barang lalu dimasukkan ke tasnya,” adu sang kasir.


Ririn menatap gadis kecil itu. “Betul kamu mencuri?” lontarnya.


Gadis kecil itu menunduk.


“Ga usah takut, saya mau kamu jujur. Kalau kamu jujur, saya tidak akan marah.” Ririn menjeda ucapannya sembari terus menatap gadis kecil dengan rambut diekor kuda tersebut.


“Betul kamu mencuri?” Ririn mengulang pertanyaannya.


Gadis itu mengangkat wajahnya menatap Ririn. Namun, mulutnya tetap terkunci tidak menjawab pertanyaan Ririn.


Ririn mengamati dengan saksama wajah gadis kecil yang kini tampak lebih jelas di matanya.


Kayak pernah lihat anak ini, tapi di mana ya. Gumamnya dalam hati.


“Nama kamu siapa?” tanya Ririn akhirnya.


“Saya Tiara,” jawab gadis kecil itu.


“Tiara?” Ririn mengerutkan kening. Angannya sedang berusaha mengingat sosok gadis kecil belia yang berdiri di hadapannya. Ia pun merasa nama gadis kecil itu seperti pernah di dengarnya.


Dia gadis kecil yang waktu itu ketemu di mal bersama orang tuanya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2