
Deka dan Ririn mengayun langkahnya memasuki kantor. Jam masuk kantor sudah lewat beberapa jam, sehingga saat mereka tiba, para karyawan sedang disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.
Deka menggandeng mesra lengan Ririn yang berjalan di sampingnya. Bibirnya tak henti menebarkan senyum kepada para karyawan yang menyapanya.
Beberapa karyawan berbisik-bisik usai menyapa sang General Manager bersama istrinya.
“Itu istrinya Pak GM ya? Cantik banget.”
“Ya ampun cantik ya istrinya Pak Deka.”
“Ternyata istrinya Pak GM pake jilbab ya, enggak nyangka.”
Begitu bisik-bisik beberapa karyawan. Maklum saja, ini adalah kali pertama Deka membawa Ririn ke kantor. Bukan karena Deka tidak mau, tapi Ririn selalu menolak saat Deka mengajaknya ke kantor. Alasannya karena khawatir mengganggu pekerjaan Deka, juga karena sikap Deka kemarin yang sedikit menyebalkan.
“Selamat siang Pak, Bu,” sapa Silvi sang sekretaris.
“Siang.”
“Loh, Ririn?!” Bella yang meja kerjanya bersebelahan dengan Silvi tampak terkejut melihat kedatangan Deka bersama Ririn. “Tumben Rin, kamu ikut ke sini?” lontarnya.
“Sekali-kali menemani suami bekerja di kantor, boleh dong? Biar lebih semangat kerjanya, iya ‘kan Sayang?” lontar Ririn meminta dukungan dengan tatapan matanya pada Deka.
Ayo, Bang, buat dia kepanasan.
“Iya, Sayang.” Deka mencium tangan Ririn yang berada dalam genggamannya.
Perlakuan Deka sukses membuat Bella berdecak sebal. Ririn hanya tersenyum melihat tingkah Bella.
“Oya, Vi. Hari ini apa ada meeting?” tanya Deka pada sekretarisnya.
“Untuk hari ini tidak ada, Pak,” jawab Silvi, sang sekretaris.
“Saya sedang tidak mau diganggu, sedang mau berdua dengan istri saya. Untuk hal yang tidak urgen kamu saja yang tangani sendiri ya, Vi.”
“Baik, Pak.”
“Ayo, Sayang!” Deka menatap Ririn genit.
“Iya, Sayang,” balas Ririn tersenyum genit pula.
Kemudian keduanya melangkah masuk ke ruangan Deka.
“Ya ampun istrinya Pak Deka cantik banget ya, adem lihatnya,” ujar Silvi setelah Deka dan Ririn masuk ke ruangannya.
“Biasa aja kaleee ... ga cantik-cantik amat, cantikan juga gue!” timpal Bella.
“Mbak Bella juga cantik sih, kulit putih mulus. Cuma sayang ... hidungnya kebesaran untuk ukuran orang Indonesia," ucap Silvi jujur.
“Kamu!” geram Bella sampai menggemeretakkan giginya. Sementara gerak tangannya dalam posisi hendak mencakar Silvi.
“Ada apa kalian?!” sentak Deka yang tiba-tiba sudah berada di hadapan kedua sekretarisnya.
“Eh, enggak, Bang ... eh, Pak,” kilah Bella.
“Bell, tolong antarkan Ririn ke pantry!” titah Deka.
“Iya, Bang, eh Pak.”
"Ayo, Rin." Bella berakting manis.
Ririn mengikuti langkah Bella menuju pantry.
“Kamu mau bikin apa?” tanya Bella saat melihat Ririn mempersiapkan dua buah cangkir.
“Mau bikin kopi,” jawab Ririn.
“Abang itu sukanya latte karena kopinya ga terlalu kuat. Abang itu ga terlalu suka kopi," ujar Bella yang merasa sangat mengetahui segala tentang Deka.
"All about him, i know," ujarnya lagi.
“Kalau sekarang, suamiku itu sukanya kopi gingseng. Biar stamina lebih gerrr. Biar lebih JOS," sahut Ririn dengan ekspresi genit, meledek Bella.
“Masa sih,” cibir Bella.
"Hahahahaha, aku gak percaya. Jangan-jangan Abang belum pernah nyentuh kamu. Iya 'kan?" Bella tak mau kalah, balas meledek Ririn.
Ririn menatap sebal wanita berambut merah, berkulit mulus, berhidung besar itu. “Kamu tolong bawakan ini!” titahnya.
“Kamu itu bukan siapa-siapa jadi ga bisa nyuruh aku!” tolak Bella.
__ADS_1
“Kamu lupa, saya ini istrinya Bapak Radeka Bastian, General Manager di sini."
Bella berdecak sebal, namun akhirnya menuruti juga perintah Ririn. Berjalan mengekor di belakang Ririn sembari membawa nampan berisi dua cangkir gelas kopi untuk Deka dan Ririn.
“Abang, nanti kita makan siang bareng, yuk!” ajak Bella manja saat meletakkan cangkir kopi di meja Deka.
Deka melirik pada Ririn. “Sayang, nanti mau makan siang sama Bella ga?” tanyanya.
“Kita makan siang di sini aja, gimana? Biar Bella yang beli makanannya untuk kita,” usul Ririn.
“Boleh,” sahut Deka. Lalu pandangannya beralih pada Bella. “Bell, aku nitip makan siang ya.”
“Hah? Nitip apa?”
“Iya, nitip apa aja. You know me so well, dong.”
“Okay.” Bella beranjak keluar ruangan.
Saat jam makan siang, Bella kembali datang ke ruangan Deka dengan membawa makanan.
“Abang, aku bawa sate khusus untuk Abang. I know, Abang sangat suka sate,” ujar Bella.
“Wow, mantap!” seru Deka.
“Aku ambilkan untuk Abang ya,” tawar Bella.
“Boleh. Sekalian kita makan bareng ya,” sahut Deka.
Ririn mendelik mendengar ucapan Deka. Bisa-bisanya malah mengajak Bella makan bersama. Bisa bikin si Belong itu besar kepala jadinya. Batin Ririn.
Dengan penuh antusias, Bella menyiapkan sate serta lontong. Membuat dua porsi piring untuknya dan Deka dengan mengabaikan Ririn.
“Yang banyak Bell, lontong dan satenya.”
“Okay.” Bella menambahkan lontong dan sate.
“This is for you.” Bella menyerahkan piring berisi lontong dan sate untuk Deka.
“Thanks, Bell. Maaf sudah merepotkan kamu,” ucap Deka.
“It’s okay. No worries,” balas Bella.
“Porsi makanmu banyak sekali, Bang,” kata Bella.
“Ini ‘kan untuk berdua,” sahut Deka. Kemudian, ia melirik pada Ririn. “Sayang, ayo kita makan bareng. Sepiring berdua biar romantis. Ayo, buka mulutnya! Aaa ...."
Ririn yang tadi cemberut, berubah semringah. Ia membuka mulut, Deka menyuapinya lontong dan sate.
"Ini sate kambing ya, Bell?" tanya Ririn sembari mengunyah makanan di mulutnya.
"Iya," jawab Bella datar.
"Tau aja kamu. Katanya sih daging kambing itu bisa meningkatkan libido pria, dan menambah stamina biar lebih JOS." Ririn melirik genit pada Deka. "Iya, kan Bang?"
"Iya, Sayang. Aku tuh bawaannya pengen keramas tiap kamu bilang JOS," seloroh Deka.
Selorohan Deka disambut tawa oleh Ririn.
Setelahnya, mereka melanjutkan menikmati makan siang romantis, sepiring berdua dan saling suap.
Bella mendengkus sebal melihat keromantisan pasangan di hadapannya.
Deka dan Ririn begitu romantis, makan sepiring berdua. Sedangkan Bella, dua piring sendiri. Karena sebal, Bella malah jadi banyak makan.
\=\=\=\=\=\=\=
Usai mengerjai Bella di kantor. Mereka pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mimin. Sebelum masuk ke ruang perawatan, mereka berpapasan dengan Dewa yang sedang menutup pintu ruangan, hendak keluar.
“Assalamualaikum,” sapa Ririn dan Deka.
“Waalaikum salam. Wah kebetulan kalian datang. Tolong jagain Mina ya, gue belum solat nih,” kata Dewa.
“Ya udah sana, kamu solat dulu,” sahut Ririn. Lalu masuk ke ruang perawatan Mimin.
Sementara Deka tidak langsung masuk. Ia menarik lengan Dewa menjauh dari pintu.
“Wa, gue mau minta maaf soal yang kemarin. Sesungguhnya gue juga khawatir sama Jasmin, tapi kondisi gue yang ga memungkinkan untuk melakukan donor darah,” terang Deka.
Dewa menepuk pundak sang kakak. “Ga papa, Bang. Ga usah dibahas lagi. Toh, alhamdulilah Mina dan bayinya udah selamat dan sehat wal afiat.”
__ADS_1
“Gue memang ada masalah tapi sampai kemarin gue belum berani cerita kepada siapa pun tentang masalah gue. Tapi sekarang, gue udah cerita sama Ririn. Ririn udah tahu masalah gue," kata Deka.
“Memang harus seperti itu Bang. Kunci keharmonisan rumah tangga itu di antaranya adalah menjaga komunikasi dengan baik, tidak ada rahasia dan saling terbuka,” ujar Dewa menasihati. Deka mengangguk mendengar nasihat adiknya itu.
“Ya udah Bang, gue ke masjid dulu ya, takut habis waktu. Abang udah solat belum?”
“Udah, tadi di kantor.”
“Ya udah Abang masuk, deh. Keponakan barumu menunggu angpao,” kelakar Dewa.
"Nolnya mau berapa butir?" Deka balas berkelakar.
Setelahnya Dewa gegas pergi ke masjid. Sementara Deka masuk ke ruangan menyusul Ririn.
“Jasmin, gimana keadaan kamu?” sapa Deka.
“Alhamdulillah baik, Bang,” sahut Mimin.
“Abang, sini geh!” panggil Ririn yang sedang memandangi si kembar putri Dewa dan Mimin.
Deka menghampiri Ririn. Ia pun sama antusiasnya ingin melihat keponakan barunya.
“Cantik-cantik ya, Bang?” lontar Ririn.
“He em, cantik.” Deka tersenyum memandangi si kembar.
“Aku boleh gendong?” tanya Deka sembari menoel-noel pipi merah si kembar.
“Boleh,” sahut Mimin.
“Memangnya Abang bisa gendong bayi?” tanya Ririn.
“Bisa, dong,” sahut Deka. Ia mengangkat salah satu dari si kembar.
“Dulu waktu Syad bayi, aku loh yang banyak gendong Syad. Mama sama Papa malah takut-takut gitu gendongnya karena udah lupa, udah lama ga gendong bayi katanya,” ungkap Deka sembari menimang bayi cantik keponakannya.
“Benar, Min?” tanya Ririn.
“Iya, waktu itu ‘kan A Dewa ga ada. Bang Deka juga yang bawa aku ke rumah sakit pas mau lahiran," ungkap Mimin.
“Apa Bang Deka juga yang menemani kamu dalam proses persalinan?”
“Enggak lah. Aku waktu lahiran Syad ditemani Opi.”
“Oh, kirain.” Ririn bernapas lega.
Selanjutnya tercipta obrolan hangat di antara mereka sampai Dewa tiba.
__ADS_1