
Wanita itu sontak menoleh saat terdengar suara decit pintu terbuka. “Mbak Ririn sudah pulang?” lontarnya.
“Mbak Intan?” sahut Ririn terkejut.
Tania (Intan) yang duduk di tepi ranjang tempat Deka berbaring segera bangkit berdiri menyambut Ririn.
“Bang Deka lagi tidur,” ucap Tania pelan. “Kita ngobrol di luar aja, yuk!” ajaknya.
Ririn mengangguk, menyetujui ajakan Tania. Lalu keduanya melangkah keluar kamar.
Ririn mengajak Tania duduk di teras balkon. Teras berkonsep minimalis itu adalah tempat favorit Deka dan Ririn saat membaca buku atau bersantai. Ada satu set sofa dan banyak pot tanaman hias di sana. Menjadikan tempat itu tampak indah dan asri.
“Silakan duduk, Mbak!” Ririn mempersilakan Tania untuk duduk.
“Terima kasih, Mbak Ririn.”
Beberapa saat kedua wanita tersebut hanya saling berpandangan canggung.
“Mbak Ririn jangan salah paham ya. Aku baru hari ini kok datang ke sini,” jelas Tania. Khawatir keberadaannya di kamar Deka tadi membuat Ririn salah paham.
“Seminggu yang lalu Deka datang ke rumah dan meminta aku untuk bicara sama Mbak Ririn. Tapi kemudian ditunda karena Mbak Ririn pulang ke rumah orangtua," tutur Tania.
“Iya, saya memang pulang ke rumah orangtua saya.”
“Setiap hari aku telepon Deka untuk nanya Mbak Ririn udah pulang atau belum. Tetapi beberapa hari ini telepon Deka enggak bisa dihubungi, makanya aku langsung datang ke sini,” terang Tania.
“Aku turut berduka cita atas musibah yang dialami Mbak Ririn. Sekaligus mau memohon maaf atas ulah Tiara,” ujar Tania dengan tertunduk merasa bersalah.
“Ini memang kesalahan aku yang udah membuat cerita bohong pada Tiara, bilang kalau Deka itu papanya, padahal bukan. Aku cuma enggak mau kasih tahu dia siapa papa kandungnya."
Tania mengangkat wajahnya menatap Ririn. “Deka itu bukan papanya Tiara. Aku memang mantan pacar Deka saat masih sekolah dulu, mungkin cinta monyetnya Deka,” ungkapnya.
“Waktu zaman sekolah dulu sih, Deka itu cowok baik-baik, Mbak. Orangnya lurus-lurus aja, enggak belok.” Tania tertawa kecil. Dikuti pula oleh Ririn dengan mengulas sebuah senyuman.
__ADS_1
“Tapi aku enggak tahu tuh setelah lulus sekolah dulu dia kayak gimana." Tania menjeda ucapannya sejenak. "Yang jelas aku datang ke sini untuk menjelaskan bahwa Deka itu bukan papanya Tiara.”
Tania meraih tangan Ririn dan menggenggamnya. “Maafin aku ya, Mbak. Dan terima kasih karena selama ini sudah baik sama Tiara,” ucapnya.
Ririn hanya mengangguk dan mengulas sebuah senyuman menanggapi ucapan Tania.
“Semoga setelah ini, Mbak Ririn bisa segera hamil lagi.”
“Amin,” sahut Ririn.
“Tania! Ngapain lo ada di sini?” sentak Fery yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.
“Hey, Fer. Makin ganteng aja lo,” sapa Tania.
Fery jadi salah tingkah. Mau marah, tetapi sudah dipuji ganteng.
“Fer, dengar-dengar lo duda ya? Sama dong, gue juga janda. Mau enggak lo jadi papanya Tiara?”
“Et dah buset.” Fery melongo sembari mengernyit. Sementara Ririn mengulum senyum melihat reaksi Fery.
“Rin,” lirih Deka. Ia terkejut saat membuka mata, ada Ririn tengah berbaring memeluknya. “Ini abang mimpi atau bukan sih?”
Ririn tersenyum. “Bukan mimpi, Bang. Saya memang ada di sini. Maafkan saya, saya enggak tahu abang sakit." Ia menyesal karena kemarin telah berprasangka buruk pada Deka.
“Abang yang minta maaf. Abang belum menjelaskan soal Tiara dan mamanya.” Deka mengubah posisinya pelan dan hati-hati sebab selang infus yang membatasi pergerakannya. Kini, ia berbaring menghadap Ririn.
“Enggak usah dijelaskan lagi. Saya sudah tahu ceritanya,” sahut Ririn.
“Tahu dari siapa?” Kening Deka mengernyit.
“Dari mbak Intan, tadi dia datang ke sini.”
“Tania datang ke sini?"
__ADS_1
“Iya. Abang enggak tahu ya?”
“Enggak. Terus dia ngomong apa?”
“Maafkan saya. Seharusnya saya enggak bersikap seperti itu.” Ririn tersedu mengucapkannya.
“Abang yang minta maaf. Kamu enggak pernah salah, Yang. Abang yang salah. Cup, jangan nangis.” Deka mengusap lembut pipi Ririn.
“Saya sayang Abang. Ririn sayang Abang,” ucap Ririn terisak. Air matanya luruh membasahi pelipis.
“Abang juga sayang kamu. Abang sayang Ririn,” balas Deka mengecupi tangan Ririn berkali-kali.
"Abang juga kangen sama Ririn. Ingin cepat-cepat menghamili Ririn."
"Ish, lagi sakit masih bisa ya Abang ngomong gitu," sahut Ririn memutar bola matanya.
"Bisa lah. Abang gitu loh."
Dua sejoli itu tertawa. Merasakan bunga-bunga cinta kembali bermekaran di hati keduanya.
.
.
.
.
Setelah ini masih ada satu konflik lagi ya. Konflik pengantar tamat. Konfliknya lebih menegangkan, tapi enggak lama-lama.
Btw mau happy ending atau sad ending nih? Kalau sad ending 2 bab lagi mungkin tamat.
__ADS_1