
“Pengen makan ... jengkol.”
“What?”
“J-e- je, ng, k-o- ko, l, jengkol,” sahut Ririn dengan mengeja kata jengkol.
“Abang sering dengar nama makanan itu, tapi abang belum pernah lihat seperti apa yang namanya jengkol itu," ungkap Deka.
“Menyedihkan sekali hidup Abang tuh, udah umur segini belum pernah lihat jengkol. Apalagi makan jengkol, pasti belum pernah ya?” lontar Ririn.
Sungguh miris sekali, ada orang yang tidak mengenal makanan sejuta umat orang Indonesia. Makanan yang baunya menyengat, namun memiliki banyak kandungan gizi. Meskipun makanan ini juga terkenal banyak pantangannya.
“Baiklah Akachan, mari kita berburu jengkol. Ayo, kita sekarang ke supermarket!” seru Deka.
“Ke supermarket mau apa, Bang?”
“Beli jengkol.”
“Kayaknya di supermarket enggak ada jengkol.”
“Terus beli di mana dong?”
“Di pasar tradisional.”
“Oke. Ayo, sekarang kita ke pasar!” Deka bangun dari duduknya.
“Abang mau ke pasar pakai baju itu?” lontar Ririn sembari memandangi penampilan Deka yang mengenakan kemeja lengkap dengan dasi. Suaminya itu memang baru pulang kerja.
“Memangnya kenapa kalau pake baju begini?” Deka balik bertanya. Rasanya tidak ada yang salah dengan penampilannya. Begitu pikirnya.
“Kalau Abang ke pasar tradisional dengan penampilan seperti itu, nanti Abang dikira sales panci dari Korea. Solanya yang berdasi itu bukan hanya pejabat dan direktur, sales juga berdasi.”
Ririn terkikih geli kala mengingat kekasih Sanah yang bernama Situh. Pernah suatu hari kekasih sang ART itu datang ke rumah dengan memakai pakaian kemeja lengkap plus dasi. Saat itu Ririn bertanya, “Mas Situh ini direktur atau manajer?”
“Bukan, Bu. Saya sales panci Granit serba guna. Ibu mau beli panci granit? Ini produk dari Korea loh, Bu. Panci granit ini terbukti lebih aman dibanding teflon. Karena bahan anti lengket terbuat dari pelapis granit yang terbukti aman, tidak mengandung zat kimia berbahaya. Sehingga membuat makanan yang dimasak aman dikonsumsi dan gizinya tetap terjaga. Bisa dicicil selama dua belas bulan kok, Bu. Jadi, tidak membebani suami. Panci ini serba guna loh. Bisa buat menggoreng, memanggang, mengukus, merebus dan lainnya. Panci ini .... “ Situh terus merocos layaknya sales.
Dalam hati Ririn menyesal telah menanyakan pekerjaan Situh jika jawabannya akan sepanjang kereta api Indonesia itu. Berasa sedang diberikan tausyiah oleh kekasih Sanah tersebut. Tausyiah tentang panci.
“Jangan lupa, panci itu bisa untuk memukul kepalamu jika kamu mengkhianati diriku,” timpal Sanah saat Situh menuturkan kelebihan-kelebihan sang panci.
Deka mengembuskan napas lega sepulang dari pasar tradisional. Itu adalah kali pertama ia masuk ke pasar tradisional. Sekaligus kali pertama melihat penampakan jengkol.
Beruntung tadi ia mengikuti saran Ririn untuk mengganti celana panjangnya dengan celana pendek. Dan mengganti sepatu mahalnya dengan sandal jepit. Meskipun sempat protes di awal.
“Masa, abang pakai sandal begini sih? Ini ‘kan sandal buat di musala kalau mau wudu,” protes Deka.
“Kalau ke pasar tradisional dilarang keren maksimal, Bang.” Jawaban Ririn membungkam protes Deka.
Ririn mempercayakan jengkol yang dibelinya dimasak oleh Sanah. Karena ia sedang malas memasak, ingin langsung makan saja.
__ADS_1
“Ini bau apa sih?” tanya Deka sembari mengendus aroma menyengat di seantero dapur.
“Memangnya Bapak mencium aroma apa gerangan?” lontar Sanah.
“Sini kamu!” titah Deka. Sanah menurut, melangkah menghampiri Deka.
Deka mengenduskan hidungnya begitu Sanah mendekat. “Kamu belum mandi ya?” tukasnya.
“Sudah, Bapak. Mandi bagi saya adalah kebutuhan, Pak. Bukan sekedar kegiatan membasuh tubuh dengan air lalu dilengkapi dengan menggunakan sabun agar tubuh bersih,” sahut Sanah.
“Kenapa baunya begini? Kamu salah pakai sabun, kali.”
“Tidak, Pak. Saya tidak memakai sabun yang salah. Sejak dahulu saya selalu memakai sabun yang bintang iklannya adalah wanita cantik, agar ketularan cantiknya. Kalau tidak salah, saat ini bintang iklannya adalah model cantik yang wajahnya sebelas dua belas dengan saya," tutur Sanah dengan gaya khasnya.
“Siapa model cantik yang wajahnya sebelas dua belas dengan kamu?” tanya Deka dengan kening mengerut.
“Maudy Ayunda, Pak,” jawab Sanah tersipu.
“Maudy Ayunda, Maudijitak palalo baru bener!”
“Hihihihihi.” Sanah meringis keki. “Masa Maudijitak, Pak.”
“Apa dong? Atau Maudikubur besok.”
“Ih, Bapak, kok makin serem. Yang benar itu Maudisayang Maudicinta sama Situh,” sahut Ririn.
“Apa?” Deka melotot., “Mau disayang sama ghue. Sumpek deh lo. Cih.” Deka mengedikkan bahunya.
“Cocok banget sih, Sanah sama Situh. Nanti kalau punya anak namanya Inih sama Onoh."
“Ada apa sih, Bang?” lontar Ririn yang mendatangi dapur karena mendengar keributan antara suaminya dan Sanah.
“Ini, si Sanah bau banget, coba cium deh,” sahut Deka.
Ririn mengendus tubuh aroma tubuh Sanah. “Enggak bau, Bang. Orang dia baru mandi.”
“Terus ini bau apa sih? Baunya menyengat di sekitar dapur.”
“Oh, ini namanya bau jengkol, Bang,” sahut Ririn setelah mengendus aroma yang tercium di dapur.
“Sanah, bagaimana, apakah sudah matang jengkol yang aku berikan padamu?” lontar Ririn dengan menirukan cara berbicara Sanah.
“Sudah, Bu. Apakah Ibu mau memakannya sekarang?”
“Iya, dong.”
“Baiklah, Bu. Akan saya siapkan.”
Sanah beranjak untuk menyiapkan jengkol masakannya. Sementara Ririn mengajak Deka untuk duduk di meja makan.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Sanah datang dengan membawa semangkok jengkol. “Apakah Ibu ingin memakan jengkol dengan disertai nasi?”
“Boleh. Sedikit saja, Nah. Ambilkan sepiring nasi untukku," sahut Ririn.
Deka memutar bola matanya. Mendengar dialog antara Ririn dan Sanah, tak ubahnya menonton teater.
“Baik, Bu.” Sanah mempersiapkan nasi dan lainnya, lalu menatanya di atas meja makan.
“Abang belum pernah makan jengkol ‘kan?” lontar Ririn.
Deka menggeleng. “Belum.”
Tentu saja belum, hari ini adalah pertama kali ia melihat wujud jengkol. “Bentuknya mirip kancing baju.” Begitu yang diucapkan Deka saat pertama kali melihat jengkol di pasar tadi.
“Sekarang Abang makan jengkol nya, ya,” kata Ririn.
“Enak enggak nih?”
“Enak, dong. Makan ya.” Ririn menyuapkan satu biji jengkol ke mulut Deka.
Begitu jengkol masuk ke dalam mulut dan mengunyah sedikit, Deka langsung meraih tisu dan melepehkan jengkol dari dalam mulutnya. “Hoek. Rasanya aneh!”
“Ini enak, Bang.”
“Bukan enak, tapi aneh.”
Raut wajah Ririn seketika berubah sendu. “Akachan mau Abang makan jengkol,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Melihat wajah sendu sang istri, mau tidak mau, suka tidak suka, Deka menuruti kemauan Ririn untuk memakan jengkol. Pelan namun pasti, pada akhirnya Deka mampu menghabiskan sepuluh kancing jengkol. Sementara Ririn hanya makan sedikit saja, sekedar mengicip.
Usai menyantap jengkol, mereka duduk santai di depan televisi.
Deka mengelus perut Ririn. “Yang, si Akachan bagaimana kabarnya?” Ia berucap tepat di depan wajah Ririn. Tentu saja dengan mulutnya yang bau jengkol.
“Abang habis makan jengkol enggak langsung gosok gigi ya?” Ririn refleks menjauhkan wajahnya sebab mencium aroma jengkol dari mulut Deka.
“Enggak. Memang kenapa?”
“Coba Abang cium sendiri aroma mulut Abang.”
“Hah.” Deka mengembuskan napasnya ke telapak tangan yang didekatkan pada mulut.
Gubrak ...
Deka langsung pingsan.
__ADS_1