Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Mirip Papa


__ADS_3

"Tiara?” Ririn mengerutkan kening. Angannya sedang berusaha mengingat sosok gadis kecil belia yang berdiri di hadapannya.


Dia gadis kecil yang waktu itu ketemu di mal bersama orang tuanya. Gumam Ririn dalam hati.


"Cek aja, Bu, tasnya!" usul kasir wanita yang menuduh gadis kecil itu pertama kali.


"Iya, Bu, periksa tasnya!" usul karyawan yang lain.


"Kalian fokus bekerja saja. Banyak konsumen yang datang, layani dengan baik. Biar masalah anak ini, saya yang mengurusnya," sahut Ririn.


"Iya, Bu," sahut pegawai yang berjumlah empat orang dalam sif sore ini.


"Tolong siapkan ini, ya." Ririn memberikan catatan barang-barang rumah tangga yang dibutuhkannya kepada salah seorang karyawan.


"Baik, Bu. Nanti disiapkan."


Ririn mengalihkan pandangan pada gadis kecil yang masih berdiri mematung sembari mendekap tasnya.


"Kamu ikut saya, yuk!" ajaknya pada sang gadis. Gadis itu mengangguk patuh.


Ririn mengayun langkahnya menuju lantai dua yang adalah gudang penyimpanan barang. Di sudut gudang ada sebuah meja dan kursi yang biasa digunakan Ririn dan Deka untuk mengecek laporan keuangan minimarket. Gadis bernama Tiara itu patuh mengikuti langkah Ririn di belakangnya.


Ririn mengambil posisi duduk di kursi di balik meja. Setelahnya ia mempersilakan Tiara duduk di hadapannya dengan bersekat sebuah meja antara keduanya. Ia terdiam memandangi gadis belia berwajah cantik itu. Membiarkan agar Tiara bercerita lebih dulu.


Tiara membuka perlahan resleting tas di pangkuannya sambil sesekali menatap Ririn. Lalu, ia mengeluarkan cokelat bermerek itu dari dalam tasnya satu per satu dan meletakkannya di atas meja. Hingga cokelat dengan berbagai macam merek itu tidak tersisa satu pun di dalam tasnya. Ada lebih dari sepuluh batang cokelat terjejer di atas meja.


"Sudah tidak ada lagi cokelat di tas aku. Semuanya sudah aku kembalikan," ucap Tiara pelan dan ragu.


"Jadi benar kamu mencuri?" Ririn menanggapi ucapan Tiara dengan sebuah pertanyaan.


Tiara mengangguk, lalu segera menundukkan kepalanya.


"Kenapa sebanyak itu? Kalau kamu mau makan cokelat, satu atau dua batang cukup 'kan?"


Tiara mengangkat kepalanya, menatap Ririn yang tengah menatapnya. "Mau aku jual ke teman. Uangnya buat bekal aku kabur dari rumah," jawabnya jujur.


"Kamu tahu mencuri itu perbuatan yang dilarang?"


Tiara mengangguk.


"Apakah kamu sering melakukannya?" selidik Ririn.


Tiara menggeleng. "Baru kali ini. Dan juga karena terpaksa."


"Terpaksa?" lontar Ririn yang semakin menatap Tiara, berusaha menyelami hati gadis itu melalui sorot mata.


"Aku tadi udah bilang 'kan kalau aku mau kabur."

__ADS_1


"Kenapa mau kabur?" cecar Ririn.


"Memangnya Tante harus tau alasannya? Atau memang Tante yang kepo!" ketus Tiara.


"Kamu benar. Saya memang tidak harus tahu alasan kamu." Ririn melemparkan pandangannya ke tempat lain.


Entah atas dasar apa, Ririn meyakini gadis yang kini berwajah murung itu memang baru pertama melakukan pencurian seperti ini.


"Tante mau bantu aku?" tanya Tiara lirih.


"Bantu apa?" Ririn balik bertanya.


"Berikan aku uang, atau ... berikan aku tempat tinggal. Bantu aku untuk kabur." Tiara menatap Ririn dengan wajah memohon.


Ririn terdiam sejenak sembari menatap Tiara. Hatinya tengah menimbang-nimbang permohonan gadis kecil itu.


"Ok. Saya akan bantu kamu. Ayo ikut saya!" Ririn bangkit dari duduknya. Tiara mengangguk sembari mengulas senyum.


Ririn turun ke lantai bawah dengan membawa belasan cokelat batang yang dimasukkan ke dalam kantong plastik. Tiara mengekori langkah Ririn di belakang.


Setelah sampai di lantai bawah, seorang karyawan memberikan dua kantong plastik berisi barang-barang kebutuhan rumah tangga yang ditulis dalam catatan Ririn tadi.


"Saya bayar pake debet ya. Sekalian dengan cokelat ini tiga. Cokelat yang lainnya tolong taruh lagi di rak," suruh Ririn pada seorang karyawannya.


Meskipun minimarket itu adalah miliknya, agar tidak merecoki laporan keuangan, Ririn tetap membayar setiap barang yang diambil dari minimarket tersebut.


Selesai bertransaksi, Ririn keluar dari minimarket dan masuk ke dalam mobil dengan diikuti Tiara.


"Bawa," sahut Tiara singkat.


"Boleh saya pinjam?"


Tanpa menjawab pertanyaan Ririn, Tiara menyerahkan ponsel yang diambil dari dalam tasnya. Lalu, memberikannya pada Ririn.


Ririn membuka kontak dalam daftar ponsel Tiara, bermaksud untuk mencari kontak orangtua atau keluarga Tiara.


"Tante mau ngapain?" tanya Tiara.


"Saya mau telepon mama kamu. Saya akan antarkan kamu pulang," jawab Ririn.


"Jangan!" Tiara merebut ponsel miliknya yang berada di tangan Ririn. "Kalau Tante ga mau nolong aku, ya udah! Aku gak mau pulang ke rumah! Lebih baik aku jadi pengemis atau gelandangan daripada harus pulang ke rumah!" tegasnya.


Tiara turun membuka pintu mobil lalu segera keluar.


"Tunggu, kamu mau ke mana!" seru Ririn.


Tiara tidak menggubris seruan Ririn.

__ADS_1


"Mang Pardi, kejar anak itu!" titah Ririn.


Dengan sigap sopir Ririn itu mengejar Tiara dan menangkapnya.


"Tante mau apa sih? Biarkan aku pergi, aku gak mau pulang ke rumah!" tegas Tiara.


"Baik, saya ga akan bawa kamu pulang ke rumahmu. Sudah hampir petang, sebentar lagi malam, saya tidak mungkin membiarkan kamu keluyuran di jalan," putus Ririn akhirnya.


"Benar Tante ga akan bawa aku pulang ke rumahku?" tanya Tiara memastikan.


Tidak saat ini, Tiara. Sahut Ririn dalam hati.


"Iya," jawab Ririn. "Pulang ke rumah tante mau?" tawarnya kemudian.


Tiara mengangguk senang.


Ririn memeluk bahu gadis belia itu dan menggiringnya masuk ke dalam mobil.


Setelah keduanya duduk di dalam mobil. Ririn memberi instruksi kepada sang sopir untuk melajukan mobilnya menuju rumah.


Terpaksa Ririn mengambil keputusan sendiri, tanpa meminta pendapat Deka. Nanti saja kalau sudah di rumah, ia akan menjelaskan kepada Deka. Begitu pikirnya.


"Kenapa kamu mau ikut sama saya? Kamu gak takut kalau saya akan menjahati kamu?" lontar Ririn saat dalam perjalanan menuju rumah.


"Karena aku percaya Tante baik. Dari wajahnya saja, aku bisa melihat kalau Tante adalah orang baik," sahut Tiara seraya mengulas senyum.


Setelahnya terjadi obrolan ringan dan hangat. Ririn menanyai tentang sekolah, teman, hobi dan sebagainya. Ia memilih untuk tidak bertanya tentang keluarga Tiara, karena khawatir akan mengubah raut cerah ceria gadis kecil itu menjadi murung kembali.


Tidak berselang lama, mobil pun sampai di kediaman Ririn. Keduanya turun dari mobil.


"Ini rumah Tante?" tanya Tiara.


"Rumah suami tante," jawab Ririn.


Tiara mengedarkan pandangan kagum ke seluruh penjuru rumah sejak turun dari mobil. Baru kali ini ia menginjakkan kaki di rumah semegah itu. Rumah mewah yang biasanya hanya bisa dilihat di televisi.


Rumahnya bagus banget. Pujinya dalam hati.


"Ayo, masuk!" ajak Ririn pada Tiara.


Keduanya masuk ke dalam. Tiara terus mengedarkan pandangannya ke segala sudut rumah. Saat baru masuk ruang tamu, langkahnya terhenti karena mendapati sebuah foto besar dalam pigura yang terpajang di dinding. Foto pernikahan Deka dan Ririn.


"Itu foto siapa, Tan?" tanya Tiara. Matanya tidak lepas memandangi foto Deka.


"Oh, itu suami tante," jawab Ririn seraya mengulas senyum. Padahal sudah jelas itu foto pengantin, tetapi Tiara malah memberikan pertanyaan seperti itu. "Kenapa? Ganteng ya?" selorohnya.


"Iya. Suami Tante ganteng, mirip ...." Tiara menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Mirip siapa?"


Mirip papa aku. Gumam Tiara dalam hati.


__ADS_2