
“Masa lalu gue buruk.” Deka beralih menatap Dewa. “Menurut lo, bagaimana kalau pernikahan gue sama Ririn dibatalkan aja?”
“Apa??!” Dewa terkejut mendengar pertanyaan Deka. “Bang Deka bercanda ‘kan?”
“Gue serius. Seandainya rencana pernikahan ini bisa dibatalkan, gue mau ini dibatalkan,” sahut Deka.
“Kenapa, Bang? Ada apa?” Dewa tak habis pikir, mengapa abangnya itu bisa berubah pikiran secepat itu.
“Karena Ririn ga akan bahagia menikah sama gue! Karena gue ga akan bisa membahagiakan Ririn.”
“Abang tahu dari mana kalau Ririn ga bahagia? Ririn bahagia, Bang! Gue kenal Ririn, gue tahu tentang kehidupannya. Dan gue belum pernah lihat senyum dan tawanya sebahagia ini. Dia benar-benar bahagia dengan rencana pernikahan ini," tutur Dewa.
“Gue bukan pria baik-baik. Masa lalu gue buruk. Lo tau sendiri gimana gue dulunya. Gue ga pantas buat Ririn. Gue ga pantas buat siapa pun!”
“Bukankah Ririn udah tahu masa lalu Abang? Ririn udah menerima Abang artinya Ririn ga akan mempermasalahkan masa lalu Abang.”
“Tapi gue ... gue ga bisa. Gue ga bisa. Gue ga bisa, Wa!” sentak Deka histeris.
“Bang, please. Apapun masalah lo, membatalkan rencana pernikahan ini adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Akan banyak yang tersakiti nantinya. Mama dan papa udah senang lihat Bang Deka mau nikah, jangan buat mereka kecewa. Abah, mami, aki, nini pasti akan tersakiti dengan keputusan Abang. Dan yang paling terluka adalah Ririn. Abang tega menyakiti Ririn seperti itu?"
Deka terdiam.
"Bang, hidup Ririn itu penuh luka di masa lalunya. Jangan sampai Abang menorehkan luka baru padanya. Jangan, Bang!”
Deka bergeming, mencerna penuturan adiknya. Benar mungkin yang dikatakan Dewa, membatalkan rencana pernikahan saat persiapan sudah mencapai lebih dari sembilan puluh pesen adalah bukan solusi yang terbaik. Akan menimbulkan masalah baru lagi nantinya.
“Saran gue kalau Abang punya masalah, apalagi masalahnya adalah tentang Abang sendiri, bicarakan sama Ririn. Abang jujur aja ke Ririn, ceritakan masalah Abang. Supaya Ririn juga memahami apa yang sedang terjadi dengan Abang," saran Dewa.
Aku gak mungkin menceritakan hal ini kepada Ririn. Menceritakan kepada keluarga saja aku ga sanggup. Ini terlalu berat buatku.
Saat Deka tengah bergumam dalam hati, ponselnya berbunyi. Ada sebuah panggilan video dari Ririn.
“Angkatlah, Bang!” seru Dewa karena Deka tampak mengabaikan panggilan itu. “Dari Ririn ‘kan?” tebak Dewa.
Deka mengangguk.
“Ayo cepetan angkat nanti gosong!” kelakar Dewa.
Deka tidak menanggapi kelakaran Dewa. Sedang malas, ia tidak ingin bercanda.
Deka mengusap layar ponselnya dan menerima panggilan video dari Ririn. Sementara Dewa masuk ke dalam meninggalkan kakaknya itu.
“Ya, Rin.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
“Abang udah sehat?”
“Udah.”
“Alhamdulillah.”
“Kamu sendiri sehat, Rin?”
“Alhamdulillah sehat. Oya, Dewa ada di sana ya, Bang?”
“Iya, ada. Dewa baru datang.”
__ADS_1
“Surat undangan pernikahan udah beres, Bang?”
“Udah. Kenapa?”
“Sisakan satu, Bang. Titipkan ke Dewa.”
“Buat siapa?”
“Buat saya. Akan saya simpan sebagai pengingat dan penguat diri. Karena dalam sebuah pernikahan pasti akan ada riak-riak kecil yang menghampiri. Dan surat undangan serta atribut pernikahan lainnya itu yang akan saya kenang saat lagi sebel sama Abang nantinya.”
“Rin, apa kamu bahagia?"
"Tentu saja. Memangnya Abang ga bahagia?"
"Maksudnya bagaimana jika nantinya aku tidak dapat membahagiakan kamu?”
“Maksud Abang apa? Apa Abang berniat menyakiti hati saya nantinya, begitu?”
“Enggak, bukan begitu. Aku sayang sama kamu, Rin. Tapi aku khawatir kamu kecewa karena aku tidak seperti yang kamu harapkan. Aku bukan pria yang sempurna.”
“Abang menyayangi saya dan berperilaku baik terhadap saya itu sudah cukup buat saya. Insyaallah saya bahagia.”
“Terima kasih, Rin. Sudah mau menerimaku.”
“Terima kasih juga karena Abang telah memilih saya.”
\=\=\=\=\=\=\=
Keluarga Deka menginap di kediaman Dewa dua hari menjelang acara pernikahan Deka. Sementara beberapa keluarga dari Pak Satya dan Bu Dewi, ada yang menginap di hotel sehari sebelum dilaksanakan akad nikah. Dan ada juga yang akan datang saat akad nikah saja. Mengingat Jakarta-Serang juga bukan jarak yang jauh.
“Anak mama ganteng amat,” puji Mama saat Deka tengah mematut diirinya di cermin.
“Itu karena papa ganteng, Mah. Coba kalau papa jelek, anak kita ga ganteng-ganteng kayak begini,” timpal Papa.
Deka tersenyum menanggapi selorohan papahnya. Sementara Mama mencebikkan bibir seraya tangannya aktif membetulkan pakaian Deka.
“Mah, doakan Deka ya.” Deka memeluk mamahnya.
“Sayang, kenapa sesedih ini, sih!” protes Mama, usai melepas pelukan dan mendapati mata Deka yang mengembun berkaca-kaca. “Harus senang, dong! Ini hari bahagia kamu,” lanjutnya.
“Deka terharu aja gitu, Mah. Ga nyangka Deka hari ini mau nikah,” kilah Deka.
Mama menyentuh wajah Deka. “Mama akan selalu mendoakan kamu,” ucapnya.
Kemudian Deka menghampiri Papa lalu memeluknya. “Makasih ya, Pah,” ucapnya.
“Hemm.” Papa hanya menjawab hem.
“Udah siap, Bang? Yuk lah, takut penghulunya datang duluan!” seru Dewa yang nongol di balik pintu dan melihat Deka dan Papa tengah berpelukan. “Kenapa jadi peluk-pelukan gini, kayak orang yang mau berangkat ke medan perang,” selorohnya.
“Sini, Wa!” seru Deka.
Dewa patuh berjalan mendekati kakaknya itu. Lalu, Deka langsung menghambur memeluk Dewa. “Thanks ya, Wa,” ucapnya.
“Thanks untuk apa, Bang? Gue yang makasih nih. Udah dikasih rumah, dikasih mobil,” balas Dewa.
__ADS_1
Kakaknya itu memang baik hati. Rumah yang ditempati dan mobil yang digunakan Dewa adalah pemberian kakaknya.
“Makasih karena udah menuntun gue menuju jalan yang lurus," ujar Deka.
“Itu karena kemauan Abang, bukan karena gue.” Dewa menepuk pundak Deka setelah melepaskan pelukan. “Yuk lah, berangkat sekarang! Tadi Mina telpon di sana udah siap," ujarnya.
“Tunggu-tunggu! Ini mama udah cantik belum nih, Pah?” lontar Mama.
“Cantik!” sahut ketiga pria itu kompak.
“Eh iya, mama ‘kan memang paling cantik ya di sini. Anaknya cowok semua,” sahut Mama yang disambut tawa yang lainnya.
Setelahnya mereka berangkat ke tempat berlangsungnya akad nikah.
Akad nikah dilaksanakan di kediaman Haji Zaenudin. Hari ini hanya diadakan akad nikah saja. Sementara resepsi akan dilaksanakan esok harinya di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.
Seandainya saja ada hotel bintang tujuh. Mungkin Deka akan memilih untuk melaksanakan resepsi di hotel bintang tujuh. Maklum, sultan gitu loh.
Dari mana harta dan kekayaan Deka, apakah dari ngepet? Oh, tentu tidak. Saat berkuliah di London dulu, Deka bersama seorang temannya membuka gerai bertajuk Nasi Goreng Indonesia. Tak disangka, tak diduga dan tak dikira, usahanya maju pesat. Bahkan gerai nasi goreng tersebut kini juga hadir di beberapa negara lainnya.
Selain menduniakan nasi goreng, kini Deka bersama temannya itu tengah menduniakan sate.
Yang terbaru Deka membuka gerai martabak kekinian. Black vs Red , gerai yang menjual martabak hitam dan merah. Usaha ini menggunakan sistem waralaba. Kini usaha tersebut telah memiliki ratusan gerai di kota-kota besar di Indonesia.
Selain itu, anak perusahaan dari Satya Group yang dikelola Deka juga berkembang pesat. Tidak hanya dalam bidang konstruksi namun juga mencakup consultant building, arsitektur juga desain interior.
Bayangkan berapa penghasilan Deka dalam sebulan dari berbagai macam usahanya itu dan menjadikannya sultan di dunia halu. Bikin otornya ngiler pengen ngehalu juga setinggi-tingginya.
Kembali ke amplop, eh laptop, eh kembali ke detik-detik menjelang pernikahan Deka dan Ririn.
Keluarga Deka telah sampai di tempat acara. Ia sudah duduk besila di ruang tamu yang akan menjadi tempat sakral dirinya mengucapkan janji setia kepada Ririn di hadapan penghulu, keluarga besar keduanya, tamu yang hadir dan yang paling utama adalah berjanji di hadapan Allah SWT.
.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1