
Ririn meraba tempat tidur saat terjaga dari tidurnya. Ia terkejut karena tak mendapati Deka ada di sana. Setelah terdiam beberapa jenak untuk mengumpulkan nyawa, ia beringsut turun.
Ririn mengayun langkah menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tersebut, mencari Deka. Mungkin suaminya itu sedang di kamar mandi. Begitu pikirnya.
“Bang,” panggilnya. Namun, tak ada sahutan dari dalam kamar mandi.
Ia memutar kenop pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci. Tidak menemukan keberadaan Deka di dalam kamar mandi, ia lalu pergi keluar kamar. Turun ke lantai bawah menuju dapur, pun tak mendapati Deka di sana.
“Bang Deka ke mana, ya?” lirihnya, bertanya pada diri sendiri. Setelahnya, Ririn kembali ke kamar.
Kumandang azan subuh membangunkan Ririn dan Deka di kamarnya masing-masing. Mereka membuka pintu tepat bersamaan.
“Abang!” seru Ririn.
“Iya, Rin,” sahut Deka.
“Saya cari-cari Abang semalam. Abang tidur di kamar itu?” selidik Ririn.
“Emm ... semalam ada pekerjaan yang belum selesai. Jadi aku ... membereskan pekerjaan dulu. Eh, malah ketiduran di sini,” sahut Deka sembari menggaruk ujung hidungnya.
Kalau menyelesaikan pekerjaan tentu di ruang kerja, Bang ... bukan di kamar itu. Abang sedang membohongi saya. Gumam Ririn dalam hati.
“Mandi, Bang! Habis itu kita solat berjamaah ya,” ujar Ririn menatap lekat suaminya dengan tatapan penuh selidik.
Deka melangkah menghampiri Ririn, lalu merengkuhnya.
“Maafkan aku, ya,” ucapnya seraya mengusap lembut punggung Ririn. “Mau mandi bareng?” tawarnya.
“Ish. Abang!” desis Ririn. Deka menyambut dengan mencubit mesra dagu Ririn.
Ririn yang ingin marah karena semalam ditinggal tidur sendiri, menjadi melunak sebab sikap Deka yang hangat. Sungguh sangat membingungkan. Di satu sisi ia merasa diabaikan, namun di sisi lain ia merasa disayang. Aneh sekaligus heran.
“Udah cepet mandi! Takut kesiangan solat subuh. Abang mandi di dalam aja. Biar saya yang mandi di luar,” ujar Ririn.
“Kebalik, dong. Kamu mandi di dalam, abang yang mandi di luar,” sanggah Deka.
“Ya sudah saya ambilkan dulu handuknya,” pungkas Ririn.
Usai mandi, mereka salat berjamaah, lalu berolahraga di halaman belakang. Pantas saja tubuh Deka atletis, ia benar-benar menerapkan pola hidup sehat dan rajin berolahraga. Bahkan ia juga sengaja membeli alat olahraga seperti halter, treadmill dan sepeda statis untuk memudahkannya berolahraga di rumah. Semua alat olahraga itu ia tempatkan di ruang gymnasium.
“Capek ya,” ujar Deka. Dilihatnya Ririn telah bermandi peluh. Mereka tengah duduk di gazebo usai berolahraga.
Ririn mengangguk sambil mengatur napasnya. Kakinya dibiarkan berselonjor. Biasanya Deka hanya mengajak berolahraga ringan, namun pagi ini suaminya itu mengajak treadmill juga. Ririn yang belum terbiasa melakukannya tampak ngosngosan.
“Abang dari dulu udah suka olahraga ya?” Ririn balik bertanya.
“Iya, dong. Olahraga itu penting biar tubuh kita sehat,” jawab Deka.
“Ini minumnya, Pak, Bu.” Sanah sang asisten rumah tangga datang membawakan minuman. Setelah meletakkan minuman, keponakan Bi Siti itu kembali ke dapur.
Deka langsung menyambar gelas berisi jus jeruk itu dan meneguknya sedikit. Lalu meletakkan kembali gelas itu.
Sementara Ririn masih mengatur napas, pandangannya lurus ke depan menatap hamparan rumput Jepang nan hijau.
“Bang, saya jenuh di rumah aja. Ingin ada kegiatan,” keluh Ririn.
__ADS_1
“Boleh. Lakukan apa aja yang kamu mau. Asal jangan lupa sama aku,” sahut Deka.
“Pengen kerja, tapi ga punya ijazah.” Ririn memang hanya tamatan SMK. Saat di Subang dulu ia pernah bekerja di salon dan juga restoran.
“Ga usah kerja. Ngapain kerja. Aku bisa mencukupi kebutuhan kamu," sahut Deka.
“Terus saya harus ngapain? Saya ga suka ngelayab yang enggak jelas,” ujar Ririn. Ia menoleh pada Deka. “Coba kalau kita punya anak ya, Bang,” sambungnya.
Deka terkesiap dengan ucapan Ririn. Anak? Bagaimana kita bisa punya anak, Rin, kalau menjamah kamu aja aku gak berani. Batinnya.
“Gimana kalau kamu mengurusi gerai martabak aku aja. Mau?” usul Deka setelah terdiam beberapa saat.
“Atau kamu mau buka usaha, nanti aku bantu. Kamu mau buka usaha apa?” lontar Deka karena Ririn tak menanggapi ucapan sebelumnya.
Ririn tak menyahut ucapan Deka. Ia meraih gelas minuman bekas Deka.
“Jangan!” jerit Deka panik, ketika Ririn hendak meneguk minuman dari gelasnya.
Deka segera merampas gelas minuman yang berada di tangan Ririn. “Ini punyaku. Jangan diminum!” serunya.
Deka meraih gelas minuman lainnya, lalu menyodorkannya pada Ririn. “Ini punyamu. Kamu minum yang ini aja,” ujarnya.
Ririn menerima gelas minuman itu dari tangan Deka, namun sorot matanya tajam menatap Deka. “Abang ini kenapa, sih?!” sentaknya.
Deka bergerak gugup mendengar ucapan Ririn.
“Abang itu aneh!” kata Ririn sebelum Deka membalas ucapannya yang pertama. Setelahnya ia melenggang pergi meninggalkan Deka.
“Rin ...! Maksud aku bukan gitu!” teriak Deka saat Ririn telah melangkah jauh meninggalkannya.
Mereka makan dalam diam. Bahkan suara dentingan sendok pun tidak terdengar karena mereka makan tidak menggunakan sendok. Menu sarapan mereka roti dan susu. Sesekali Deka melirik wajah cantik Ririn yang sedikit merengut.
“Alhamdulillah,” ucap Deka setelah menghabiskan makannya.
“Sayang, hari ini aku ada meeting pagi. Jadi, aku harus berangkat pagi,” ujar Deka.
“Ya,” sahut Ririn datar. Tatapannya menerawang entah ke mana, sedangkan mulutnya masih mengunyah roti.
“Aku berangkat ya.” Deka menyodorkan tangannya menyuruh Ririn untuk mencium tangan seperti kebiasaannya.
Menatap Deka sejanak, Ririn meraih tangan suaminya itu lalu mencium punggung tangannya takzim. Deka tersenyum melihat istrinya patuh meski sedang cemberut. Kemudian Deka mencium puncak kepala Ririn yang masih duduk menikmati sarapan.
“Habiskan sarapannya. Kalau kamu jenuh di rumah, kamu ke butik Mama aja. Minta Pardi untuk mengantarkan kamu,” tutur Deka.
Ririn diam tak menyahut. Selama ini memang begitulah kegiatannya, membantu Mama di butik, tapi sekarang Mama saja sudah jarang pergi ke butik. Mama lebih banyak di rumah dan mempercaykan butik pada karyawannya. Sedangkan Ririn belum tahu menahu urusan butik. Mamahnya itu hanya menyuruhnya duduk dan mengobrol saat Ririn berkunjung ke butik.
“Ya udah, aku berangkat ya, Assalamualaikum,” pamit Deka.
“Waalaikum salam," balas Ririn.
"Abang ...!” panggil Ririn setelah Deka mengayun beberapa langkahnya.
“Ya!” sahut Deka sembari memutar tubuhnya menghadap pada Ririn.
“Abang mau ke kantor dengan penampilan seperti itu?” lontar Ririn.
__ADS_1
“Maksudnya??” sahut Deka bingung.
“Jangan lupa pakai celananya!” seru Ririn sambil mengulum senyum.
Deka melirik ke tubuh bagian bawahnya. Astaga hanya boxer Doraemon yang dipakainya. Karena memikirkan sikap Ririn pagi ini, ia sampai lupa memakai celana panjang. Atasannya memakai jas rapi, sedangkan bawahnya boxer Doraemon ... warna pink.
Beruntung di rumah hanya ada mereka berdua. Karena dua asisten rumah tangga mereka sedang pergi ke pasar.
“Tadinya sengaja mau pakai begini. Mau bikin tren baru, mempopulerkan Doraemon di kantor aku,” kilah Deka sembari melipat tangan di dada.
“Tapi karena istri cantik abang ga suka begini, ya udah aku pakai celana deh,” lanjutnya.
“Begitu aja deh ga papa, Bang. Men-doraemonkan Doraemon,” sahut Ririn dengan melipat tangan di dada juga.
“Eh, jangan, Sayang! Kamu mau, suami gantengmu ini dibully sama si Fery yang sama sekali tidak ganteng itu," kilah Deka. Kemudian mengayun langkah menuju tangga.
“Celananya udah ada di sini, Bang!” seru Ririn. Saat tahu Deka melupakan celananya, Ririn menyiapkan celana itu dan menaruh di kursi meja makan, namun sepertinya Deka tidak menyadari itu.
Deka menghampiri Ririn lalu segera memakai celananya.
“Makasih, Sayang,” ucapnya setelah selesai memakai celana. Lalu, mengecup mesra pipi Ririn.
“Kalau Abang ada masalah ... tolong cerita sama saya. Karena saya adalah istri Abang,” ucap Ririn seraya menatap lekat bola mata Deka.
.
.
.
.
.
Insyaallah nanti sore up lagi ya.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1