
Deka melajukan mobilnya menuju rumah sakit, bersama Ririn yang duduk di sampingnya. Sebelumnya ia mampir ke tempat kos Opi untuk menitipkan Syad.
Sampai di pelataran rumah sakit, ia memarkirkan mobilnya di area parkir. Mereka turun dari mobil, lalu berjalan tergesa menuju gedung rumah sakit.
“Wa ...!” seru Deka saat berpapasan dengan Dewa di pintu lobi. Sepertinya Dewa habis membeli sesuatu.
“Habis dari mana, Wa?” tanya Deka.
“Nih, habis beli minyak kayu putih. Mina maunya dibalur minyak kayu putih terus,” jawab Dewa.
“Bagaimana Mimin, Wa?” tanya Ririn khawatir.
“Enggak papa. Nunggu operasi sebentar lagi,” sahut Dewa. “Kamu bisa mendonorkan darah untuk Mina ‘kan, Rin?” tanyanya kemudian.
“Iya. Bagaimana caranya?” sahut Ririn.
“Ayo, kita langsung temui dokter aja!” seru Dewa.
Mereka pergi menemui dokter yang akan menangani proses persalinan Mimin. Dokter menyuruh perawat untuk melakukan prosedur pemeriksaan darah terlebih dahulu sebelum Ririn mendonorkan darahnya.
Perawat mewawancarai seputar riwayat kesehatan dan penyakit Ririn.
“Setahu saya, saya ga punya penyakit,” ujar Ririn saat ditanyai tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya.
“Kita periksa tekanan darahnya dulu ya, Bu. Baru setelah itu kita periksa golongan darah Ibu apakah sama dengan golongan darah Bu Jasmina," tutur perawat.
"Iya, Sus."
Perawat memasangkan manset alat pengukur tekanan darah di lengan Ririn.
“Tekanan darah ibu rendah 90 per 60,” ujar perawat.
“Terus bagaimana, Sus?”
“Kalau ibu mengalami hipotensi atau tekanan darah rendah seperti ini, ibu tidak boleh mendonorkan darah,” terang perawat.
Ririn menggigit bibir bawahnya mendengar penuturan perawat. Sebagai saudara ia sangat mencemaskan Mimin.
“Kalau ada saudara atau keluarga yang lain yang kebetulan golongan darahnya sama, bisa datang ke saya," ujar perawat lagi.
“Baik, Sus. Terima kasih,” ucap Ririn.
“Sama-sama, Bu,” balas sang perawat.
Setelahnya Ririn menemui Dewa dan Deka yang menunggunya di luar.
“Gimana Rin, udah?” tanya Dewa.
“Kata perawat saya ga bisa mendonorkan darah karena tekanan darah saya rendah,” jawab Ririn sendu.
“Ya Allah.” Dewa mengusap wajahnya. “Terus gimana, dong?” ucap Dewa cemas.
“Kamu kenapa ga nyari di PMI, Wa?” tanya Deka.
“Udah, tapi di PMI sini stok darah AB lagi kosong. Pihak rumah sakit juga sedang menghubungi PMI cabang lain, cuma ya sama, stok darah AB kosong. Makanya kalau kita siap donor darah sendiri ‘kan lebih baik," tutur Dewa.
“Gue akan hubungi Fery. Siapa tahu di kantor ada yang memiliki golongan darah AB,” kata Deka.
“Bukannya golongan darah Bang Deka juga AB ya?” lontar Dewa.
__ADS_1
“Loh, jadi Abang juga golongan darahnya AB?” Ririn juga turut melontarkan tanya.
Deka terdiam.
“Kenapa enggak Bang Deka aja yang mendonorkan darah untuk Mina,” kata Dewa.
“Enggak. Gue enggak bisa!” tolak Deka cepat.
“Kenapa, Bang? Kalau Abang bisa mendonorkan darah, ya Abang aja lah!” seru Ririn.
“Aku gak bisa, Rin!”
“Kenapa?”
“Iya, gak bisa.”
“Iya, tapi kenapa?”
“POKOKNYA GAK BISA. TITIK!!” sentak Deka.
Ririn tersentak dengan reaksi Deka. Untuk pertama kali Deka menyentaknya. Ia tergugu menatap lelakinya dengan mata merelap.
“Abang! Ngomongnya biasa aja kali, ga usah nyolot!” tegur Dewa.
“Ma-maaf, Rin. A-aku gak bermaksud ...." Deka berucap terbata. Ia menyesal telah membentak Ririn, namun sungguh ia tidak bermaksud untuk membentak. Hal itu terjadi karena rasa paniknya.
“Abang ini kenapa sih? Abang itu aneh!” Setetes buliran bening jatuh tak dapat tertahan.
Deka mendekati Ririn berusaha untuk merengkuhnya, namun Ririn langsung menghindar.
“Ada apa ini?!” timbrung Mama yang ikut menghampiri mereka sebab keributan yang terjadi.
“Ga ada apa-apa kok, Mah. Cuma Dewa belum dapat pendonor darah untuk Mina,” terang Dewa.
“Iya, Mah, makanya ini ....” Ucapan Dewa terhenti karena seruan perawat
“Pak Dewa ...! Tindakan operasi Bu Jasmina akan segera dilakukan.”
“Baik, terima kasih informasinya, Sus,” sahut Dewa.
“Bang, Please. Donorkan darah abang untuk Mina,” mohon Dewa.
“Iya, Deka! Cepetan sana kamu donorkan darah kamu. Mama ga mau terjadi apa-apa dengan Mina,” kata Mama.
“Maaf, Mah. Deka ga bisa!” tegas Deka.
“Bang, Mimin itu saudara saya, istrinya Dewa, bundanya Syad. Masa Abang ga mau mendonorkan darah untuk Mimin,” ujar Ririn.
“Aku bukan gak mau, tapi aku gak bisa! Kalian ini susah amat dibilangin!” ketus Deka.
“Deka, kamu kok begitu!” tegur Mama.
Deka mengacak rambutnya frustrasi. Ia bingung harus berkata apa lagi. Berterus terang di saat situasi seperti ini rasanya kurang tepat, rasanya sungguh tidak sanggup. Ia menatap sejenak wajah ketiga orang yang disayanginya itu. Kemudian berlalu meninggalkan mereka.
“Abang ...!” Ririn hendak melangkah mengejar Deka, namun langkahnya ditahan oleh Dewa.
“Udah, Rin. Biar aja. Biarkan Bang Deka pergi. Sepertinya dia sedang ada masalah,” sela Dewa menahan langkah Ririn.
“Terus Mina gimana, Wa?” lontar Mama khawatir.
__ADS_1
“Doakan saja, semoga semuanya lancar. Insyaallah Mina gak akan kenapa-kenapa," sahut Dewa.
“Amin,” sahut Ririn dan Mama kompak.
“Mama sama Ririn tunggu di sini saja. Biar Dewa yang mendampingi Mina. Doakan kami ya, Mah, Rin.”
“Iya, Wa. Mama doakan semoga persalinannya lancar. Mina dan anak kamu selamat, sehat walafiat,” ucap Mama yang diamini oleh Ririn.
“Ya udah, Dewa temenin Mina dulu ya,” pamit Dewa.
“Iya. Baca solawat banyak-banyak, ya,” pesan Mama.
“Iya, Mah,” sahut Dewa.
Setelah Dewa pergi, Ririn dan Mama duduk di kursi tunggu.
“Deka kenapa, Rin?” tanya Mama.
“Ririn juga gak tahu, Mah. Benar kata Dewa, sepertinya Bang Deka sedang ada masalah,” jawab Ririn.
“Masalah apa?”
“Ririn enggak tahu, karena Bang Deka ga pernah cerita.”
“Itu anak, kalau ada masalah, seharusnya dia cerita sama kamu.”
“Mungkin Bang Deka belum sempat aja untuk cerita, Mah.”
“Tapi pernikahan kalian baik-baik aja ‘kan?” selidik Mama.
Ririn mengulas senyum seraya menatap Mama.
“Insyaallah baik, Mah. Ririn bahagia bersama Bang Deka. Dia suami yang baik, sangat baik,” ucap Ririn.
Tidak mungkin ia menceritakan kepada sang mama mertua bahwa hingga saat ini anak sulungnya itu belum pernah sekali pun men-jamah dirinya.
“Alhamdulillah, mama senang dengarnya. Semoga kalian selalu bahagia dan cepet nyusul untuk mendapatkan momongan seperti Dewa dan Mina."
“Amin ya Allah.”
“Ya ampun, mama lupa belum kasih tahu Papa kalau Mina udah mau lahiran.” Mama merogoh ponsel di tasnya. “Mama mau telpon Papa dulu ya.”
“Iya, Mah.”
Ririn juga melakukan hal yang sama dengan Mama, merogoh ponsel di tasnya. Mengusap layar ponsel, lalu ia mulai mengetikkan sesuatu.
[Saya sungguh kecewa sama Abang!]
[Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mimin. Saya ga akan pernah memaafkan Abang!!]
Dua pesan itu langsung dikirimkan kepada kontak yang tertulis di ponselnya dengan nama, ‘Abang Sayang’.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️