
“Dulur-dulur! Ning umah Pak Haji RW ane maling jerehe.”
(Saudara-saudara, di rumah Pak Haji RW ada maling katanya)
“Wih, iya tah? Jereh sape sirane, Kemed?”
(Wih, iya tah? Kata siapa kamunya, Kemed?)
“Mau, Bu Hajine gegemberon tetulungan ane maling. Ere ngerungu tah sirane?”
(Tadi, Bu Hajinya berteriak minta tolong ada maling. Ga ngedenger tah kamunya?)
“Kayane kite wes ngeliyep, jadi ere kerungu. Ye wes geh lamun konon, yuk lah digerucuk be malinge endah kapok, tuman!!”
(Kayaknya saya udah ketiduran, jadi ga kedengeran. Ya udah kalau begitu, yuk lah digerucuk aja malingnya biar kapok, tuman!!)
“Setuju!!”
“Dulur-dulur sekalian! Kerahkan seluruh warga, ngumpul ning umah Pak Haji RW!!”
“Siap!”
“Iye!”
“Yuk lah!”
“Laksanakan!”
"Wolu enem!"
Keheningan di kampung Cibening terusik dengan berita adanya maling. Karena panik, Mami memang sempat berteriak minta tolong pada tetangga. Sehingga membuat sebagian besar warga kampung Cibening kini berkumpul di depan rumah Abah.
“Endi malinge Bu Haji?!” (Mana malingnya Bu Haji?!)
“Maling ape sih?!” (Maling apa sih?!)
“Jereh mah maling uwong.” (Katanya mah maling orang)
“Hah, maling uwong?! Wedi ne sih!” (Hah, maling orang?! Takutnya sih!)
Sementara di dalam rumah, Jefri sudah dapat dilumpuhkan oleh Abah. Setelah berhasil dilumpuhkan, dengan bantuan beberapa tetangga yang mengontrak di sebelah rumah, tangan Jefri diikat ke belakang menggunakan kain serbet.
Tak berselang lama, Dewa datang bersama Mimin dan Syad yang sudah tertidur di gendongan. Haris, anak laki-laki Abah kini tinggal di Malaysia tengah mengembangkan usaha di sana. Maka saat ada kejadian genting seperti ini, Mami langsung menelepon Dewa. Menantu sama dengan anak juga, bukan?
“Assalamualaikum. Permisi, Bapak-bapak, Ibu-ibu.” Dewa dan Mimin menerobos kerumunan warga.
“Assalamualaikum, Bah.” Dewa dan Mimin menemui Abah di ruang tamu lalu mencium punggung tangannya.
“Abah dan semuanya ga kenapa-napa?” tanya Mimin khawatir.
“Alhamdulillah, semua gak papa. Teteh masuk ke dalam aja, temenin Mami sama Ririn,” sahut Abah. Mimin menurut patuh, beranjak ke dalam rumah.
“Ding, tau sama orang ini?” Abah menunjuk Jefri yang duduk dengan tangan terikat. Pria yang wajahnya sudah babak belur itu didampingi dua orang pejabat RT kampung Cibening.
Dewa menatap Jefri sejenak untuk mengingat-ingat. “Loh, ini ‘kan ... si Jefri.”
“Iya, Ding. Abah malah baru tau. Ririn baru cerita sekarang tentang orang ini. Terus harus kita apakan orang ini?”
“Kita bawa ke kantor polisi aja, Bah,” usul Dewa.
“Iya, Abah juga berpikiran begitu.”
“Pak Haji RW, jangan langsung dibawa ke kantor polisi lah! Bolehlah kita bogemin dulu dikit,” celetuk salah seorang warga.
“Iye, Pak Haji RW. Iku uwong pading kumpul ken pading pengen ngegerucuk maling edan kien kayane mah,” celetuk warga lainnya.
(Iya, Pak Haji RW. Ini orang pada ngumpul itu ingin ngeroyok maling gila ini kayaknya mah)
“Aje mengkonon. Ngko dawe urusane. Wes ngko digawe ning kantor polisi bae. Siki cobe tulung tenangaken warga ning arep umah kuh,” sahut Abah.
(Jangan begitu. Nanti panjang urusannya. Udah nanti dibawa ke kantor polisi aja. Sekarang coba tolong tenangin warga di depan rumah)
“Ding, masuk ke dalam aja! Abah mau ngurusin warga dulu. Itu abangnya sekalian diperiksa, perlu dibawa ke rumah sakit atau enggak,” tutur Abah.
“Abang siapa, Bah?” tanya Dewa.
__ADS_1
“Abangnya Ding. Nak Deka," jawab Abah.
“Loh, Bang Deka ada di sini?”
“Iya, ada di dalam.”
“Ya udah, Bah. Dewa ke dalam dulu.” Dewa melenggang menuju ruang keluarga.
“Ya Allah. Astagfirullah, Bang!" Dewa terkejut ketika mendapati Deka tengah duduk dengan beberapa luka lebam di wajah tampannya.
“Bang Deka kok ada di sini? Siapa yang bikin Bang Deka kayak gini? Apa si Jefri? Kok bisa Bang Deka berantem sama dia? Memangnya pas kejadian Bang Deka ada di sini? Kok bisa Bang Deka ada di sini? Mau ngapain ke sini? Sama siapa ke ....” Rentetan pertanyaan Dewa yang panjang seperti kereta langsung dipotong oleh Mimin.
“Aa ...! Pertanyaan Aa itu kayak pertanyaan sepuluh orang wartawan sekaligus. Bang Deka kayak lagi dibombardir peluru jadinya,” tegur Mimin.
“Iya, nanyanya nanti aja. Obatin Nak Deka dulu,” timpal Mami.
"Rin, ambil salep sana di kotak obat!" titah Mami pada Ririn.
"Iya, Mih." Ririn segera melakukan perintah Mami, mengambil salep untuk Deka. Sungguh ia juga sangat khawatir dengan keadaan Deka.
"Nak Dewa tolong obatin Nak Deka dulu. Mami mau ke depan dulu lihat warga," ujar Mami.
"Iya, Mih." Mami beranjak ke depan setelah berpamitan.
"Aku mau ke kamar dulu, Syad kayaknya bangun." Mimin berpamitan pergi ke kamar untuk mengeloni Syad yang terbangun.
“Nih, obatin abang kamu dulu!” Ririn menyerahkan salep antiseptik pada Dewa.
Dewa menerima salep itu lalu mengambil posisi duduk di sebelah Deka.
“Wa, jangan bilang sama Mama dan Papa, gue ada di sini ya,” ujar Deka pelan di telinga Dewa. “Please. Gue gak mau mereka khawatir,” lanjutnya memohon.
“Iya iya. Terus kalau Mama nanya gimana?”
“Ga akan nanya. Barusan gue udah kasih kabar kalau malam ini nginep di rumah Fery.” Deka terpaksa berbohong pada mamahnya.
“Iya.” Dewa mulai mengusapkan salep ke luka lebam Deka.
“Awww! Sakit, dodol!” protes Deka sembari meringis.
“Pelan-pelan atuh!” seru Ririn ikutan meringis.
Dewa hendak mengoleskan lagi salep ke wajah Deka, namun kakaknya itu malah memundurkan wajahnya berkali-kali. Membuat Dewa gemas sendiri.
“Nih, Rin. Kamu aja yang obati Bang Deka!" Dewa berdiri lalu menyerahkan salep itu pada Ririn.
Sebelum berdiri, Dewa sempat melirik Deka dan berkata melalui isyarat mata “Itu ‘kan yang lo mau. Modus!!"
“Ish,” desis Deka yang seolah mengerti bahasa isyarat dari Dewa.
“Kenapa?” tanya Ririn memandangi Dewa dan Deka bergantian.
“Enggak,” sahut Dewa dan Deka kompak.
Ririn menerima salep dari tangan Dewa lalu duduk di tempat Dewa duduk tadi.
“Wa, tolong amanin mobil gue!” pinta Deka pada Dewa sebelum Ririn mulai mengobati lukanya.
“Mobil Bang Deka di mana? Tadi gue ga lihat ada mobil Bang Deka.”
“Di dekat warung yang ada PERTAMINI.”
“Oh ... warung Ucok. Sini kuncinya!”
Deka melempar kunci mobil yang diambil dari saku celananya. Dewa menangkap dengan gesit kunci itu lalu beranjak meninggalkan Deka dan Ririn.
“Aku obati lukanya, ya,” ujar Ririn setelah Dewa pergi.
“Pelan-pelan, ya,” sahut Deka.
Ririn mengangguk dan mulai mengoleskan salep di wajah Deka yang lebam.
“Maaf ya. Karena saya ... kamu jadi begini,” ucap Ririn penuh penyesalan.
“Laki-laki itu siapa?” tanya Deka hati-hati.
__ADS_1
“Mantan suami saya,” jawab Ririn datar.
“Oh.” Hanya itu yang diucapkan Deka.
Kini Deka memahami mengapa Ririn menolak lamarannya dulu. Tanpa perlu dijelaskan, Deka dapat menerka bagaimana buruknya perangai mantan suami Ririn. Pastilah Ririn merasa trauma dengan yang namanya sebuah pernikahan.
“Oya, kenapa tiba-tiba kamu ada di kamar saya?”
“Eh. Oh. Itu ... emm.” Deka menggaruk kepalanya. Bingung mau mengatakan apa.
“Aku tadi bawa oleh-oleh buat kamu. Aku chat, tapi kamu ga balas. Jadi, aku berpikir untuk mengecek kamar kamu. Mau lihat lampu kamarnya masih nyala atau enggak. Eh, malah aku lihat ada orang yang sedang mencongkel jendela terus masuk ke kamar kamu,” tutur Deka.
“Makasih, ya,” ucap Ririn.
“Makasih untuk apa? Harusnya makasih pada Abah. Karena Abah hebat ... luar biasa." Deka menyaksikan sendiri bagaimana hebatnya Abah ketika melawan Jefri.
“Biasa aja, ah. Abah ga hebat dan ga luar biasa,” sahut Abah menghampiri Ririn dan Deka. “Orang itu aja yang payah,” lanjutnya.
Abah mengambil posisi duduk bersama Ririn dan Deka.
“Jefri akan abah bawa ke kantor polisi. Apakah Nak Deka bersedia memberikan keterangan, jika nanti polisi membutuhkan keterangan saksi?”
“Mau, Bah. Saya siap memberikan keterangan jika diperlukan.”
“Terima kasih ya, Nak Deka.” Abah menepuk bahu Deka.
“Sama-sama, Bah.”
Abah beralih menatap Ririn. “Rin. Kalau menurut abah, baiknya Ririn segera menikah lagi. Agar ba-jingan itu ga bisa mengganggu Ririn lagi. Agar Ririn ada yang melindungi." Abah memberi saran.
Ririn melirik Deka sekejap. “Iya, Bah. Insyaallah, kalau ada jodohnya.”
Abah beralih memandang Deka. “Nak Deka.”
“Iya, Bah," sahut Deka.
“Nak Deka dulu pernah melamar Ririn. Emm, apakah lamaran itu sekarang masih berlaku?”
Deka terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Saat binar harapan terpancar dari bening mata Ririn, hati Deka justru sedikit menciut.
.
.
.
.
Kenapa sih novel Teh Yeni latarnya kota Serang melulu? Kurang piknik ya cuma tau kota Serang doang.
Jawab : Karena aku orang Serang dan ingin memperkenalkan kotaku. Apalagi kota Serang ini jarang terekspose. Siapa tahu salah satu novelku ngeboom. Dan membuat kota Serang terkenal di Noveltoon. 😁😁
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1