
“Ya Allah, Ibu!” Sanah terpekik kaget saat masuk ke rumah dan mendapati Ririn tergeletak di lantai.
Dengan langkah gegas, Sanah menghampiri Ririn.
“Bu, Bu, bangun, Bu!” serunya sembari menepuki lengan sang majikan.
“Bu, Ibu, bangun!” Sanah menepuki pelan pipi Ririn.
“Bi Iroh! Bi Iroh!” teriak Sanah memanggil Bi Iroh saat usahanya membangukan sang majikan tidak berhasil.
“Astagfirullah, Ibu kenapa, Nah?” Bi Iroh berlari menghampiri Ririn yang tidak sadarkan diri.
“Tidak tahu, Bi. Saat saya masuk, Ibu sudah tergeletak di sini.”
“Astagfirullah, ada darah, Nah,” ujar Bi Iroh menunjuk darah yang mengalir ke kaki Ririn.
“Ya Allah, Ibu,” ringis Sanah.
“Cepat telepon ambulans, Nah!” titah Bi Iroh. “Kita harus cepat bawa Ibu ke rumah sakit.”
“Kalau telepon ambulans akan membutuhkan waktu yang lama, lebih baik panggil Mang Pardi saja.”
“Ya sudah, sana kamu cepat panggil Pardi!”
“Iya, iya.” Sanah berlari cepat ke halaman samping, tempat biasa Mang Pardi duduk untuk minum kopi.
__ADS_1
“Mang Pardi, tolong Ibu. Ibu harus segera dibawa ke rumah sakit.”
“Loh, Ibu kenapa, Nah?”
“Sepertinya jatuh dari tangga. Sudah capat tolong Ibu!”
Sanah dan Mang Pardi gegas berlari menghampiri Ririn. Mereka juga meminta bantuan Syarif—satpam rumah Deka.
“Mang Pardi, Syarif, cepat gotong Ibu ke mobil!” titah Bi Iroh.
“Telepon Pak Deka dulu, harus tanya dulu mau dibawa ke mana ibunya,” sahut Mang Pardi.
“Mang Pardi gotong ibu saja, saya yang akan telepon Bapak,” kata Bi Iroh.
“Iya, Bi. Ayo, Mang Pardi, Kang Syarif ayo gotong ibunya!”
Sementara Mang Pardi, Sanah dan Syarif membawa Ririn ke dalam mobil, Bi Iroh menghubungi Deka.
“Pak, Ibu pingsan. Keluar darah juga. Ini mau dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit mana ya?”
\=\=\=\=\=
Deka sebenarnya ingin menahan Ririn untuk menunggunya menjemput pulang. Namun, kesibukan di kantor yang tidak mungkin ditinggalkan membuatnya terpaksa mengizinkan Ririn pulang duluan. Toh, Ririn pulang dijemput Mang Pardi. Begitu pikirnya.
“Targetnya satu bulan selesai loh, kenapa sampai sekarang proyeknya masih lima puluh persen, padahal seharusnya sampai hari ini targetnya adalah tujuh puluh persen,” omel Deka kepada para stafnya.
__ADS_1
“Maaf, Pak. Memang ada kendala yang membuat proyek ini tidak mencapai target,” sahut salah seorang staf.
“Jadi, apa kendalanya?”
“Kendalanya tentang pengiriman bahan bangunan, Pak. Beberapa kali kita mendapat keterlambatan dari pemasok dengan alasan transportasi mereka mengalami hambatan karena ada jembatan yang roboh di lintasan menuju titik proyek kita.”
“Kalau memang begitu, seharusnya kalian sigap mencari solusi, dan laporkan kepada saya!”
“Iya, Pak, maaf.”
“Bagaimana sih kalian ini, jangan sampai klien kecewa karena waktu proyek yang molor! Ruginya dobel-dobel, mereka kecewa, kita pun rugi jika waktu pengerjaan proyek itu molor.”
“Iya, Pak.”
“Sekarang, tentang pasokan bahan bangunan alihkan ke pemasok bahan bangunan yang lain, yang lebih dekat dengan titik. Tidak masalah harganya lebih mahal sedikit yang penting target tercapai. Dan harus diingat, pekerjaan kita harus rapi jangan sampai karena mengejar target, kerjanya jadi asal-asalan.”
“Baik, Pak.”
Deka baru saja menutup rapat bersama beberapa stafnya ketika ponselnya berdering. Ia mengernyitkan kening melihat panggilan yang masuk adalah nomor telepon rumah.
Hal yang jarang atau hampir tidak pernah terjadi. Biasanya panggilan dari rumah masuk ke nomor kantor bukan ke ponselnya. Baru saja mengusap layar, bahkan ia belum mengucap halo, sebuah berita yang disampaikan seseorang di ujung telepon begitu mengejutkannya.
“Pak, Ibu pingsan. Keluar darah juga. Ini mau dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit mana ya?”
__ADS_1