Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bab 59


__ADS_3

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahinya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka." (QS. Al Baqarah : 262)


\=\=\=\=\=\=


Ba'da magrib, Deka dan Ririn berpamitan pulang. Bu Sari dan anak-anak panti asuhan melambaikan tangan mengiringi kepulangan pasangan serasi tersebut.


"Bang Deka, Kak Ririn, nanti ke sini lagi ya!" seru salah seorang anak panti.


"Insyaallah, Sayang!" sahut Ririn yang sudah duduk di dalam mobil.


"Kami pulang ya. Assalamualaikum." Deka dan Ririn melambaikan tangan.


Mobil melaju perlahan menembus jalan raya yang telah diterangi deretan lampu jalanan. Ada perasaan damai yang terselip di hati sepulang dari panti asuhan Ar Rahmah. Terlebih Ririn, rasanya pada sang suami menjadi semakin tinggi. Betapa beruntungnya ia menjadi pendamping pria luar biasa seperti Deka.


"Hey, ngapain lihatin aku kayak gitu?" lontar Deka saat memergoki Ririn yang duduk di samping kursi kemudi, tengah menatapnya sembari senyum-senyum.


"Saya semakin sayang semakin cinta sama Abang," ucap Ririn jujur.


"Ish, Sayang." Deka berdesis, mengikuti kebiasaan Ririn jika sedang malu, jengah ataupun tersipu.


"Semakin sayang semakin cinta, apa karena udah ga sabar pengen .... emmm." Deka menaikturunkan alisnya.


"Ish, Abang!"


"Tuh, keluar deh desisnya. Saya suka, saya suka," seloroh Deka.


"Saya kagum sama Abang. Pantas saja rezeki Abang luar biasa, ternyata itu karena Abang senang berbagi dan rajin bersedekah."


"Kalau bersedekah karena mengharapkan rezekinya bakal ditambah berkali-kali lipat, sama aja itu artinya ga ikhlas, Yang," timpal Deka.


"Iya juga ya, Bang."


"Aku ngajak kamu ke panti maksudnya agar kamu paham. Aku bukannya melarang kamu untuk menolong atau membantu orang lain. Tapi, kalau menolong ya mbok dipikirkan juga. Menolong itu jangan cuma pake hati, tapi juga pake otak dan insting. Kalau seandainya ada seorang pembunuh sadis dan bengis mau jatuh ke jurang, terus dia minta tolong sama kamu. Apakah kamu mau langsung nolongin? Tentu tidak boleh langsung menolong 'kan? Kita dapat menolongnya dengan meminta bantuan orang lain misalnya polisi. Jangan sampai niat baik kita justru akan mencelakai kita," tutur Deka panjang lebar. Ia tidak mau kebaikan Ririn dimanfaatkan oleh orang yang ingin berniat jahat.

__ADS_1


"Iya, Bang."


Beberapa menit kemudian mobilĀ  yang dikendarai Deka sampai di rumah megahnya. Satpam yang berjaga membuka pintu gerbang, tidak lupa memberi salam kepada sang majikan.


Deka dan Ririn turun dari mobil, masuk ke rumah, lalu naik ke lantai dua menuju kamar. Sampai di kamar, Deka langsung memeluk Ririn. Dan menjatuhkan tubuh bersama di atas kasur.


"Ish, Abang!" Ririn berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Deka.


"Sebentar atuh, Yang. Aku ingin peluk kamu. Agar tubuh lelah ini bisa mendapatkan suntikan energi lagi." Deka mengeratkan pelukannya.


"Udah malam, Bang. Saya mau mandi. Abang juga harus mandi," kata Ririn.


"Yuk, mandi!" Deka melepaskan pelukan Ririn lalu bangkit dari posisinya.


"Ya udah, Abang duluan aja!" Ririn juga bangkit dari posisinya, duduk bersebelahan dengan Deka.


"Bareng aja, sih," pinta Deka.


"Enggak mau, ih. Abang duluan aja!" tolak Ririn cepat. Membayangkan mandi bersama sang suami, membuat jengah sendiri.


"Ok," sahut Ririn.


Ia berdiri lalu beranjak menuju jemuran handuk yang ada di dekat balkon. Mengambil handuk, lalu ia mulai melucuti pakaiannya satu per satu.


Deka menatap Ririn yang tengah melucuti pakaian, namun akhirnya ia tidak sanggup dan memilih untuk memalingkan wajahnya. Melihat adegan yang dilakukan Ririn saja, sudah membuat adik kecilnya menggeliat.


"Heuh, coba kalau bisa mandi bareng," keluh Deka dalam hati.


Kemudian terdengar suara pintu kamar mandi. Ia melirik sekilas dan dilihatnya Ririn sudah masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.


Sesaat kemudian terdengar kembali suara pintu kamar mandi. Sepertinya Ririn membuka lagi pintunya.


"Bang ...!" seru Ririn.

__ADS_1


Kok dia manggil aku sih? Apa dia berubah pikiran dan mau ngajak mandi bareng.


"Bang Deka ...!" seru Ririn lagi.


Mau pura-pura ga dengar aja lah, biar dia yang nyemperin ke sini biar lebih jos hot jeletot.


"Abang ...!"


Deka diam tak menyahut, tapi tangannya aktif membuka kancing kemejanya.


"Bang ...!"


Deka masih diam, dan mulai membuka pengait celana panjangnya.


"Sayang ...!" Karena suaminya itu tidak menyahut juga, akhirnya Ririn memanggil dengan sebutan 'sayang'.


"Iya, Sayang," sahut Deka antusias.


"I'm coming ...!" Deka bangun dari posisinya lalu berjalan menghampiri Ririn sembari beradegan membuka kemeja layaknya Clark Kent saat berubah menjadi Superman.


"Tolong ambilkan sabun pencuci muka punya saya, yang ini udah habis," kata Ririn.


"Kirain mau ngajak mandi bareng," keluh Deka.


"Ish, Abang. Tolong ambilkan, Bang! Di laci meja paling bawah ya," ujar Ririn dari balik pintu. Tubuhnya bersembunyi di balik pintu. Hanya kepalanya saja yang melongok ke luar.


Dengan langkah gontai, Deka berjalan menuju meja lalu mengambil sabun yang dimaksud. Bayangannya untuk mandi bareng, sirna sudah.


"Sekali-kali boleh atuh, Rin, mandi bareng," ujar Deka saat menyerahkan sabun pencuci muka kepada Ririn.


"Emangnya bebek. Weee." Ririn menjulurkan lidah meledek Deka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2