
Ririn mencoret tanggal di kalender meja. Begitulah yang dilakukannya setiap hari. Menghitung hari demi hari perpisahannya dengan Deka—suami tercintanya.
Dua kabar baik telah didengarnya. Kabar bahwa Jefri telah tertangkap dan kabar Deka yang telah bangun dari koma. Namun, kedua kabar itu tetap tidak dapat menghilangkan lara hatinya. Ia masih merundung dalam kesedihan. Menjalani hari-hari dalam kesepian dan kesunyian.
Deka memang telah bangun dari koma, namun kondisinya masih sangat memprihatinkan. Luka yang dialami Deka sangat parah dan menimbulkan kerusakan organ. Setelah mengalami koma selama tiga puluh hari, suami Ririn itu masih dirawat secara intensif di ruang ICU rumah sakit Singapura.
Ini adalah hari ke-45 Deka terbangun dari koma atau hari ke-75 setelah tragedi penusukan itu terjadi. Selama rentang waktu itu, belum sekali pun Ririn terbang ke Singapura untuk menjenguk Deka. Bukan Ririn yang tidak ingin menjenguk, namun pihak keluarga yang melarangnya.
Keluarga selalu menyarankan supaya Ririn fokus mengurus si kembar Boy dan Girl. Beberapa kali Ririn melakukan panggilan video bersama Dewa untuk mengetahui perkembangan kondisi Deka. Namun, tangis dan kesedihan selalu menghampirinya setiap kali usai melakukan panggilan video. Sungguh tidak tega melihat keadaan Deka dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuh.
Bahkan, untuk sekedar tersenyum dan menyapa Ririn saja, Deka belum mampu. Apalagi mau mengatakan sayang dan cinta. Tatapan pria yang teramat dicintai Ririn itu kosong dan hampa.
Ririn sangat merindukan Deka yang dulu. Deka yang selalu menggodanya. Deka yang selalu menyayanginya. Deka yang selalu mencintainya. Dan Deka yang selalu membanggakan naganya.
“Rin, enggak apa-apa ‘kan aku tinggal sebentar. Anak-anak pengen main keluar,” ujar Mimin.
Kembaran Ririn itu tinggal di rumah Deka bersama ketiga anaknya sehingga Ririn tidak terlalu kesepian. Sedangkan Mami, bolak-balik Serang-Jakarta. Seminggu di Serang menemani Abah, seminggu di Jakarta menemani Ririn.
Sebenarnya Ririn pun merasa kasihan pada Mimin dan ketiga anaknya. Semenjak tragedi penusukan Deka, mereka terpaksa berpisah dengan Dewa dikarenakan suami Mimin itu harus menjaga Deka di rumah sakit.
“Iya, enggak apa-apa. Keluarnya sama siapa, Min? Berani keluar sendiri?” lontar Ririn.
__ADS_1
“Berani, ke minimarket doang kok, biar anak-anak enggak jenuh,” sahut Mimin.
“Jangan berangkat sendiri, ditemani Mang Pardi.” Ririn mengingatkan.
“Iya.”
“Anak-anak, pamit dulu sama dede Raja dan dede Ratu,” titah Mimin pada ketiga anaknya.
Syad, Syakira dan Safiyaa berlari menghambur menciumi pipi bayi kembar yang berusia tujuh puluh lima hari itu. Bayi kembar itu tengah digendong oleh Ririn dan Bi Iroh.
“Dadah, dede Laja. Dadah dede Latu,” ucap Syad setelah menciumi sepupunya itu.
“No, bukan Laja Latu. Raja dan Ratu,” ralat Mimin.
“Nah, begitu. Baru benar.”
“Yeay, benarrrrrrr,” sorak Syad.
Setelahnya Mimin dan ketiga anaknya berangkat entah ke mana dengan diantar Mang Pardi.
Saat Deka masih terbaring koma, di hari ke-21, Ririn tetap melangsungkan acara aqiqah putra dan putrinya secara sederhana. Akeno Maharaja Bastian dan Akina Maharatu Bastian adalah nama kedua bayi kembarnya.
__ADS_1
Nama itu sudah dipersiapkan Deka jauh-jauh hari, saat kandungan Ririn berusia tujuh bulan. Ada tiga pilihan nama yang dipersiapkan Deka saat itu. Yaitu, nama bule, nama Jepang dan nama Indonesia. Akhirnya Ririn memutuskan untuk mengambil nama campuran Jepang dan Indonesia.
Akeno artinya anak yang bersinar cerah. Akina artinya bunga di musim semi. Semoga si kembar itu dapat menjadi penyemangat kedua orangtuanya. Begitu harapan keduanya saat itu.
Keluarga di Serang memanggil si kembar dengan sebutan Raja dan Ratu, sedangkan Mama dan Papa Deka memanggilnya Keno dan Kina. Sementara Ririn masih memanggilnya dengan sebutan yang sama saat di dalam perut, Boy dan Girl.
“Bu, dedenya tidur,” ujar Bi Iroh yang menggendong Boy.
“Girl juga tidur nih. Ayo, kita tidurkan saja,” sahut Ririn.
Lalu, keduanya menidurkan Boy dan Girl ke tempat tidurnya masing-masing.
“Ibu mau makan sekarang? Biar saya siapkan,” tawar Bi Iroh.
“Nanti saja, Bi. Saya ngantuk, ingin tidur dulu.” Semenjak punya bayi, ditambah karena memikirkan kondisi suaminya, Ririn jadi kurang tidur.
“Iya, Bu, mumpung si kembar tidur, Ibu tidur juga," kata Bi Iroh. "Saya permisi ke dapur ya, Bu," pamitnya.
“Iya, Bi, terima kasih ya.”
“Sama-sama, Bu.”
__ADS_1
Ririn membaringkan tubuhnya di atas peraduan. Saat-saat menjelang tidur adalah hal yang paling mengingatkan dirinya pada Deka. Saat di mana rasa rindunya menguasai jiwa. Ia sangat merindukan Deka. Teramat sangat rindu. Setelahnya, selalu air matanya luruh. Dan bangun tidur dengan keadaan mata sembab. Begitulah Ririn setiap harinya.
Wanita cantik itu pun tertidur setelah lelah menangis. Kerinduannya pada Deka mengantarkannya pada alam mimpi. Mimpi bertemu Deka yang sehat, segar bugar adalah mimpi terindah bagi Ririn. Ia sangat berharap mimpi indah itu datang menghampirinya.