
Ririn bersama Mama dan Mimin baru saja selesai membuat kue klepon. Mereka tengah mengicip kue yang masih panas itu dengan meniup-niupnya dulu sebelum dimasukkan ke mulut.
“Bu, ini hapenya dari tadi bunyi. Telepon dari Den Deka," lapor Bi Siti seraya menyerahkan ponsel pada Bu Dewi saat mereka sedang mengicip kue.
"Hape kamu ke mana, Rin?" tanya Mama sebab Deka malah meneleponnya, bukan menelepon Ririn.
"Gak kebawa, Mah. Ketinggalan di rumah,” sahut Ririn.
"Oh, gitu. Pantas Deka nelepon mama.”
Mama mengusap layar ponsel, menjawab panggilan telepon dari Deka.
“Assalamualaikum, Mah.” Suara Deka di ujung telepon terdengar cemas.
“Waalaikum salam. Ada apa, Bang?”
“Ririn ada di sana, Mah?”
“Loh, memangnya kamu gak tahu Ririn ke mana?”
“Emmm ....”
“Ririn ada di sini sejak tadi pagi.”
“Alhamdulillah. Ya sudah, Mah. Sekarang Deka ke sana. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam," balas Mama sebelum memutus panggilan teleponnya.
Dari percakapan Mama di telepon bersama Deka, Ririn tahu bahwa suaminya itu tengah mencarinya.
"Ririn sayang, memang Deka ga tahu kalau kamu pergi ke sini?" tanya Mama.
"Tadi mau telepon Abang, tapi ga nyambung. Jadi, Ririn langsung ke sini,” jawab Ririn berbohong.
Ia sengaja tidak memberitahu Deka tentang kepergiannya ke rumah Mama. Walau tindakannya tidak benar, tak apalah, sekedar memberi pelajaran agar suaminya itu paham bahwa ia sedang marah dengan sikapnya.
"Oh, gitu. Bilangin ke Deka jangan terlalu sibuk. Biar kalian bisa cepet punya anak,” cetus Mama.
Ucapan Mama membuatnya membatin. Gimana mau punya anak, kalau Bang Deka tidak pernah menyentuhku bahkan selalu menjauhiku. Kami tidak pernah sekalipun melakukannya.
"Iya, Mah," sahut Ririn singkat. Hanya itu yang dapat diucapkan nya. Tidak mungkin ia menceritakan kepada Mama tentang masalahnya bersama Deka.
"Astagfirullah, udah jam dua. Mama belum solat duhur,” cetus Mama tiba-tiba.
“Solat dulu, Mah. Jangan gara-gara klepon Mama jadi ga solat," timbrung Dewa.
"Iya, iya. Mama solat dulu, ya." Mama berdiri dan pergi ke kamar untuk menunaikan salat.
"Syad udah tidur A?" tanya Mimin kepada Dewa, suaminya.
__ADS_1
"Udah, barusan aja tidur. Diusap-usap sebentar doang langsung tidur. Neng juga istirahat, yuk!” ajak Dewa pada Mimin, istrinya.
"Iya, Min. Istirahat sana. Bumil harus banyak istirahat.” Ririn menimpali.
"Gak papa aku tinggal, Rin?" lontar Mimin.
"Gak apa-apa,” sahut Ririn dibarengi seulas senyum.
“Tuh, kayaknya suara mobil Bang Deka,” ujar Dewa.
Seperti Dewa, Ririn pun sama, sayup-sayup mendengar deru mobil dan bunyi klakson khas mobil mewah. Mobil milik Deka.
"Ya udah, Rin. Aku tinggal ke kamar ya,” pamit Mimin.
"Iya. Hati-hati, Bumil,” balas Ririn.
Senyumnya terukir kala memperhatikan Dewa menuntun Mimin menuju kamar.
Apakah nanti aku dan Bang Deka akan seperti mereka. Merasakan bahagia karena mengandung buah cinta. Ya Allah semoga saja kebahagiaan mereka menular kepada rumah tangga kami. Amin.
\=\=\=\=\=\=\=
Deka menghentikan mobilnya di depan rumah Mama. Di sana juga terparkir mobil Agya warna hitam milik Dewa.
Oh, ada Jasmin sama Dewa rupanya. Pantas, Ririn kemari. Gumam Deka.
Ia mengayun langkah gegas masuk rumah. Semangat yang tadi telah melorot ke titik nol karena drama kepergian Ririn, kini telah bangkit ke titik puncak tertinggi. Layaknya anak remaja yang sedang jatuh cinta, tidak sabar bertemu dengan sang pujaan hati.
"Aku tadi istirahat pulang ke rumah, kamu ga ada. Aku khawatir. Takut kamu pulang ke Subang," ujar Deka dengan raut cemas. Lalu mengambil posisi duduk di sebelah Ririn.
"Saya memang berpikir mau pulang ke Subang aja,” sahut Ririn pelan dan datar, tapi terasa tak nyaman di pendengaran Deka.
"Jangan, Sayang. Nanti siapa yang ngurusin aku,” ujar Deka pelan dan lembut, seperti berbisik. Sengaja agar penghuni rumah tak mencium aroma ketegangan yang terjadi antara dirinya dan Ririn.
"Sepertinya Abang ga butuh aku,” tukas Ririn.
"Sayang, jangan kayak gitu. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Aku butuh kamu." Deka meraih tangan Ririn. Sorot matanya membingkai wajah cantik dengan raut murung itu. Ini semua adalah kesalahannya. Seandainya saja ...
Hufht. Masalah tidak akan selesai dengan kata seandainya. Berandai-andailah untuk masa depan, bukan untuk masa lalu.
“Aku minta maaf. Aku memang ada masalah. Sungguh aku enggak ....” Deka menarik napas pelan. “aku enggak bermaksud mengabaikan kamu.”
“Iya, saya tahu. Tapi, saya ini istri Abang. Kalau Abang ada masalah, cerita!” seru Ririn tajam, tapi pelan sebab sama seperti Deka, ia pun tidak mau keluarga mendengar perdebatannya dengan Deka. .
“Oke oke ... aku akan cerita. Aku ...”
"Maaah. Si Neng kenapa nih?!" teriak Dewa dari dalam kamar.
Banyak yang ingin disampaikan Deka kepada Ririn. Namun urung karena teriakan Dewa.
__ADS_1
Semua panik karena teriakan Dewa. Air ketuban Mimin pecah. Dewa dan Mama segera membawa Mimin ke rumah sakit saat itu juga. Sementara Ririn dan Deka tetap tinggal di rumah menjaga Syad.
Syad yang sedang tertidur, ikut menangis histeris karena kepanikan yang terjadi di rumah. Beruntung Deka bisa membujuknya. Bocah tampan itu memang sangat dekat dengan Deka.
“Ayo Syad bobo lagi sama daddy.” Deka meraih Syad dalam gendongan Ririn.
Deka membawa Syad ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ririn berjalan mengikuti di belakangnya. Perasaan marah ia sampingkan dulu di situasi seperti ini.
“Syad sama Mommy dulu, ya. Daddy mau mandi dulu, soalnya bau acem.” Syad mengangguk patuh.
“Rin, abang mandi dulu sebentar ya,” ujar Deka.
Ririn mengangguk. “Kok tumben, udah pulang?” tanyanya dengan intonasi datar. Deka tahu Ririn sedang kesal terhadapnya.
“Karena abang kangen sama Neng Ririn,” sahut Deka.
Ia melangkah mendekati Ririn. Setelah dekat nanti, ia berencana untuk memeluk. Lalu melontarkan kata-kata manis andalannya. Berusaha merayu dengan sentuhan dan ucapan. Begitu niatnya.
“Ish. Jangan dekat-dekat!” Ririn mundur menghindari Deka.
Membuat rencana merayu Deka gagal sebelum dimulai.
“Ya udah, aku mandi dulu aja,” ucap Deka pasrah tidak berdaya.
Ia melangkah gontai keluar, hendak ke kamar mandi. Saat tangannya menyentuh pintu, Ririn menyerunya. “Abang ...!”
Deka menoleh. “Iya, Sayang,” sahutnya dengan mata berbinar.
“Maaf ... karena pergi dari rumah tanpa izin,” ucap Ririn.
Biar bagaimanapun seorang istri yang keluar rumah tanpa izin suami adalah berdosa. Bahkan akan mendapatkan laknat dari malaikat. Begitu yang Ririn ketahui.
“Aku akan selalu maafkan kamu, asal ... perginya jangan jauh-jauh ya!” seru Deka seraya melemparkan senyum.
Ririn balas tersenyum. Senyum kaku. “Ya udah mandi sana!” titahnya.
Deka kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Kali ini dengan langkah yang lebih segar.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1