Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Dilema


__ADS_3

Hasil pemeriksaan laboratorium itu menyatakan bahwa Deka teinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, yang selanjutnya dapat melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit.


Deka terkejut bukan main dengan hasil laboratorium itu. Bagaimana bisa ia sampai terinfeksi HIV. Di saat ia sedang dalam masa pertobatan, mengapa justru masalah besar yang menimpa hidupnya.


“Enggak. Ini, enggak mungkin.” Deka berucap kalut sambil menggelengkan kepalanya frustrasi.


“Enggak mungkin. Enggak mungkin. Enggak mungkin. Huaaaa ....” Deka menjambak rambutnya sendiri. Tangisnya pecah manakala teringat rencana pernikahannya bersama Ririn.


“Hey, Bang! What’s wrong? Ada apa?” Kedua tangan Bella menyentuh wajah Deka. Mengarahkan Deka agar menatap matanya . “Hey, apa yang terjadi?” tanya Bella lagi.


Deka balas menatap Bella. “A-apa ini benar hasil laboratorium pemeriksaan darah aku, Bell?” tanyanya.


“Yes, of course. Bukankah di situ tertera nama kamu. Memangnya ada apa?”


“Ta-tapi ini gak mungkin. I-ini pasti salah,” ucap Deka terbata. Suaranya terdengar gemetar.


Bella melirik surat hasil laboratorium yang masih digenggam Deka. “May I know that? Aku boleh baca hasil lab itu?”


Deka mengangguk lemah. Bella mengambil surat hasil laboratorium dari tangan Deka lalu membacanya.


“Oh my God.” Mulut Bella terbuka menganga. “HIV?!”


“Kamu yang sabar, Bang.” Bella merengkuh Deka dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut punggung Deka.


“What should I do, Bell?” Deka menangis dalam pelukan Bella.


“Aku akan selalu ada di sampingmu. Karena aku sahabatmu.” Deka melepas pelukan dan menatap Bella.


“Bell, aku mohon ... don’t tell this to anyone, termasuk keluargaku. Aku enggak mau keluargaku tahu hal ini. Please,” mohon Deka.


“Ok. Aku tidak akan mengatakan ini kepada siapa pun. I promise.” Bella mengusap lengan Deka untuk memberikan kekuatan.


“Thanks, Bell. Sekarang kamu pulang aja. Aku pengen sendiri.”


“Terus, kamu ga mau pergi ke dokter setelah mendapatkan hasil lab ini?”


Deka menggeleng. “Enggak, Bell. Bukankah jika terinfeksi virus ini tidak bisa disembuhkan. Lalu untuk apa ke dokter," sahutnya datar.


“Bang, boleh aku berpendapat?”


“Ya. Silakan.”

__ADS_1


“Kamu harus tetap tenang menghadapi masalahmu ini. Jangan sampai terpuruk. Life doesn’t end. Hal yang sekarang kamu pikirkan adalah tentang rencana pernikahanmu. You have to cancel it. Kamu harus membatalkan atau setidaknya menunda," tutur Bella.


“Tidak mungkin, Bell. Aku sangat mencintai Ririn. Marrying her is my dream," sahut Deka.


“Because you love her, so you have to cancel it. Kasihan Ririn, Bang.”


Deka tertegun mendengar ucapan Bella.


“Kamu pulang aja, Bel! Please leave me alone. Biarkan aku sendiri!”


Bella menarik napas pelan. “Oke. Aku pulang ya, Bang,” ucapnya.


“Kalau perlu teman bicara. Call me, please.” Bella mengusap pundak Deka. Kemudian berlalu meninggalkan Deka.


Deka merebahkan kembali tubuhnya. Berbaring miring, ia menarik selimut hingga pundaknya.


Ya Allah, katanya Engkau tak akan memberikan ujian di luar batas kesanggupan hambaNya. Lalu mengapa Engkau memberikan ujian yang berat ini kepadaku. Apakah Engkau menganggapku sanggup untuk menghadapinya. Atau apakah ini adalah hukuman sebagai balasan atas dosa-dosa yang telah kuperbuat di masa lalu. Tidak cukupkah usahaku untuk bertobat. Ataukah Engkau memang tak menerima tobatku.


Air mata Deka luruh seketika, manakala mengingat segala dosa. Seandainya ia memiliki mesin waktu Doraemon, ia akan pergi ke masa saat Deka kuliah di London dulu. Saat awal mula ia terjerumus dalam dunia bebas.


Seandainya bisa ia akan pergi pada malam di mana untuk pertama kalinya ia tidur bersama seorang wanita. Seandainya bisa ia akan menghampiri Deka muda yang bodoh itu agar tidak menginap di apartemen kekasihnya. Bersama Kimberly Richardson pacarnya saat kuliah, ia melepaskan keper*jakaanya.


Rasa penyesalan yang kini menghampiri Deka. Mengobrak-abrik rencana bahagianya. Menghancurkan mimpi-mimpinya.


Sudah tiga hari Deka tidak pergi ke kantor. Sebenarnya tubuhnya sudah membaik. Sudah tidak demam dan lemas lagi. Boleh dikatakan tubuhnya dalam kondisi fit, namun jiwanya yang kini tidak fit.


Deka juga tidak pernah menghubungi Ririn seperti biasanya. Ririnlah yang lebih dulu menghubungi Deka untuk sekedar bertanya kabar setiap harinya.


Ririn tidak curiga atas sikap Deka. Ia berpikir mungkin Deka tengah sibuk dengan pekerjaan di kantor sehingga jarang menghubunginya.


Deka tengah duduk di kolam belakang rumah bersama kura-kura kesayangan Dewa, sambil melihat ikan-ikan cantik yang berenang bebas ke sana kemari di dalam kolam.


Tampak sekali ikan-ikan itu bergerak lincah dan riang setiap Deka melemparkan pakan ikan. Seharusnya saat ini, ia pun seperti itu. Lincah dan riang menyambut hari pernikahan yang tinggal menghitung hari. Namun yang ada kini, justru rasa dilema yang mendera hati dan pikirannya.


Dilema antara harus melanjutkan rencana pernikahan atau membatalkannya. Ia merasa apa yang dikatakan Bella itu benar adanya. Jika ia terus maju, Ririnlah yang akan menjadi korban. Ririn tidak akan bahagia dengan pernikahan ini.


Kebahagiaan apa yang dapat dijanjikan oleh seorang yang terinfeksi virus mematikan seperti dirinya. Meskipun angka kematian karena virus HIV relatif lebih kecil jika dibandingkan kanker dan jenis penyakit degeneratif lainnya. Namun tetep saja belum ada obat yang dapat menyembuhkan atau mematikan virus ini.


Hal yang paling membuat Deka  cemas dan menyita pikirannya adalah tentang penularan virus ini. Ia tak mau menularkan virus ini pada Ririn. Itu yang membuatnya terus-terusan melamun.


“Bang!” seru Dewa yang baru tiba. Deka diam saja tak menyahut sebab hati dan pikirannya tengah menyusuri dilema yang ada.

__ADS_1


“Bang Deka!” seru Dewa lagi, tapi Deka belum juga tersadar dari lamunannya.


“Dooorr!!!”


“Astagfirullah!” Deka terlonjak kaget karena ulah Dewa. Masalah yang menimpa membuatnya selalu beristigfar dalam hati. Sehingga saat kaget kalimat ‘astagfirullah’ yang keluar dari mulutnya.


“Masyaallah terhura aku tuh. Abangku ini kegetnya aja sekarang udah pake istighfar. Pantesan tadi pas masuk rumah udah kecium bau-bau surga gimanaaa ... gitu,” seloroh Dewa.


Deka hanya tersenyum getir menanggapi selorohan adiknya itu. Mana mungkin tercium bau surga dari dirinya yang adalah seorang pendosa. Setelahnya ia kembali menatap ikan warna-warni yang menari-nari.


“Abang kenapa? Lagi ada masalah?” Dewa mengambil posisi duduk di pinggir kolam berhadapan dengan Deka.


“Bentar lagi jadi pengantin loh! Seneng napa, jangan menyedihkan begitu mukanya,” gurau Dewa.


Dewa mengerutkan kening sebab Deka tak menyahuti ucapannya. Bahkan, wajahnya tampak semakin menyedihkan.


“Tapi memang sih, kalau mau nikah itu berjuta rasanya . Banyak pikiran, takut inilah, takut itulah. Dulu juga gue gitu. Gue takut ga bisa membahagiakan Mina karena kerjaan gue yang belum mapan. Tapi kalau Bang Deka ‘kan mapan udah, ganteng udah, harusnya ga ada lagi yang perlu ditakutkan,” tutur Dewa.


“Masa lalu gue buruk.” Deka beralih menatap Dewa. “Menurut lo, bagaimana kalau pernikahan gue sama Ririn dibatalkan aja?”


“Apa??!” Dewa terkejut mendengar pertanyaan Deka.


.


.


.


.


Kehidupan Deka ini akan seperti roller coster, masalah datang silih berganti.


Yang sabar ya, bacanya.


Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2