
"Jadi, Ririn itu istri kamu?” lontar Tania.
“Ya, cantik dong istri gue,” sahut Deka dengan bangganya.
“Cantik banget. Hatinya juga cantik. Terbukti dia mau nolongin anak aku. Aku jadi merasa bersalah kalau Ririn keguguran karena Tiara. Maafin aku dan Tiara ya, Deka.”
“Maaf pun tetap gak bisa mengembalikan calon anak gue.”
“Itu namanya takdir, Deka. Seperti gue yang memiliki anak saat masih belia. Ya sudah lah, mungkin takdir gue begini.”
“Itu sih takdir buruk karena kesalahan lo sendiri.”
“Aku menyesal dulu telah mengkhianati kamu, Deka,” lirih Tania sembari meremas jari jemarinya.
“Itu namanya takdir. Yang baik akan berpasangan dengan yang baik. Yang buruk akan berpasangan dengan yang buruk,” sindir Deka.
Tania hanya men-desah menanggapi sindiran Deka.
Kemudian hanya keheningan yang menyela di dalam mobil mewah Mercedes Benz maybach s class yang berharga miliaran itu. Seiring suara klakson dan bising deru kendaraan yang terdengar bersahutan di jalan raya.
Deka yang belum makan siang merasakan perutnya sangat lapar. Kalau mengajak Tania makan siang tidak mungkin, bisa besar kepala mantan pacar Deka itu. Sehingga ia memutuskan untuk membeli camilan di Dekamart. Kebetulan mobil yang dikendarai tengah melaju ke arah minimarket miliknya itu.
“Gue laper dan haus, mau beli camilan dan minuman dulu,” ujar Deka sebelum turun dari mobil. Tania menjawab dengan sebuah anggukan. Namun, Ibu muda itu memilih untuk diam di dalam mobil saja.
Saat membuka pintu minimarket, Deka dikejutkan dengan keributan antara pegawainya dengan seorang gadis kecil yang tidak lain adalah Tiara.
“Ada apa ini?” tanya Deka.
“Anak ini ngambil roti sama susu UHT, Pak. Rotinya sudah dimakan, susunya sudah diminum, tapi enggak mau bayar karena enggak punya uang katanya,” lapor salah satu pegawai yang tengah mencekal lengan Tiara.
Deka bergeming sejenak sembari menatap Tiara. “Biarkan saja, dia keponakan saya. Roti dan susunya masukkan ke tagihan belanja saya.”
“Oh, ini keponakan Bapak. Maaf, Pak, kami tidak tahu. Kami kira pencuri." Pegawai minimarket itu melepaskan cekalan tangannya pada lengan Tiara.
“Ya sudah tidak apa-apa. Kalian lanjutkan kerja saja!”
"Baik, Pak." Para pegawai minimarket itu membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaan mereka.
“Tiara, ikut saya!” Deka meraih tangan Tiara dan menuntunnya keluar minimarket.
__ADS_1
Tania yang duduk di dalam mobil, namun pandangannya sedari tadi mengarah pada pintu minimarket sontak berseru histeris saat melihat Tiara bersama Deka. “Tiara ...!” serunya.
Tania segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri Tiara lalu menghambur memeluk putrinya.
“Tiara jangan kabur-kaburan terus, dong! Mama enggak punya siapa-siapa lagi selain kamu,” ujar Tania sembari memeluk anak perempuannya dengan penuh haru.
“Maafin Tiara, Mah,” ucap Tiara dalam pelukan sang mama.
“Iya, enggak apa-apa, yang penting Tiara jangan kabur lagi. Jangan tinggalkan mama!” Tania melepaskan pelukan lalu menciumi Tiara dengan sayangnya.
Setelah ibu dan anak itu puas berpelukan, Tania mengalihkan pandangannya pada Deka.
“Deka, makasih ya,” ucap Tania.
“Hemm.” “Deka melipat tangan di dada.
“Makasih Om, tadi udah bilang kalau aku keponakan Om,” ucap Tiara dengan gestur sedikit ketakutan.
“Deka, ayo kita temui Ririn. Aku akan menjelaskan semuanya ke istri kamu,” ujar Tania.
“Enggak sekarang. Karena istri gue sudah pulang ke rumah orangtuanya,” sahut Deka.
“Awas lo jangan kabur sebelum masalah gue sama istri gue selesai.”
“Iya. Aku janji. Nih, kamu save nomor aku.” Tania menyebutkan nomor ponselnya. Deka menyimpannya ke daftar kontak telepon.
Setelahnya, Deka melakukan miss called pada nomor tersebut untuk memastikan nomor itu adalah benar nomor Tania.
“Benar, Deka. Aku enggak bohong. Itu nomor aku,” kata Tania sembari tersenyum.
“Ya udah, anak lo ‘kan udah ketemu. Pulang sana!” kata Deka.
“Deka, boleh aku minta tolong sekali lagi?” lontar Tania.
“Apa?”
“Antarkan kami pulang. Aku enggak bawa uang untuk ongkosnya,” pinta Tania.
Deka berdecak. Namun, pada akhirnya ia mengiyakan juga permintaan Tania.
__ADS_1
“Tapi nanti, gue laper dan haus.” Deka masuk kembali ke minimarket. Sementara Tania dan putrinya, duduk di kursi tunggu depan minimarket.
Setelah beberapa menit, Deka keluar dari minimarket.
“Nih, buat kamu.” Deka menyodorkan kantong plastik berisi makanan dan minuman kepada Tiara.
“Makasih, Om,” ucap Tiara meski tidak enak hati menerimanya.
Setelahnya Deka mengantar ibu dan anak itu pulang sampai ke tempat tinggalnya.
“Om, maafin aku ya,” ucap Tiara saat Deka telah menghentikan mobilnya di depan kontrakan Tania. “Salam juga buat Tante. Aku minta maaf.”
“Hemm.”
“Deka, sekali lagi aku minta maaf ya. Dan terima kasih sudah mengantrkan kami pulang." Ibu dan anak yang duduk di kursi belakang itu membuka pintu dan bersiap untuk turun.
“Tiara!” seru Deka sebelum gadis kecil itu turun.
“Ya, Om.”
“Kamu mau ketemu papa kamu? Mau saya bawakan papa kamu ke hadapan kamu?” tawar Deka.
Saat berita kehamilan Tania belasan tahun silam, diam-diam Deka juga mencari informasi tentang pria yang menghamili Tania. Pria itu adalah Riko, kakak kelas mereka yang juga adalah teman main futsal Deka.
Tiara menatap mamanya sejenak. “Enggak usah, Om. Berdua sama Mama aja, aku udah senang,” sahutnya dengan penuh keyakinan.
.
.
.
Setelah konflik ini selesai akan ada satu masalah lagi yang dihadirkan ya, tapi gak berlarut-larut kok. Konflik pengantar tamat aja. Semoga sebelum lebaran sudah tamat ya.
Terima kasih dukungannya
__ADS_1