Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Gelang


__ADS_3

"Abang nyari apa sih?” lontar Ririn yang sedari tadi memperhatikan kesibukan Deka seperti tengah mencari sesuatu.


“Gelang.”


“Gelang apa?”


“Gelang buat kamu.”


“Abang tadi taruh di mana?”


“Di lemari.”


“Yakin?”


Deka terdiam sejenak untuk berpikir. “Jangan-jangan anak itu. Tadi anak itu masuk ke kamar ini. Sialan,” umpatnya. Lalu, segera keluar kamar.


“Abang mau ke mana?!" seru Ririn sedikit berteriak karena langkah Deka yang sangat cepat.


Deka tidak menghiraukan seruan Ririn. Dengan tergesa, ia turun ke lantai bawah untuk menemui Tiara. Menyadari perubahan raut sang suami, Ririn segera membuntuti Deka.


“Hey, kamu! Kamu nyuri gelang yang mau saya kasih ke istri saya, ya,” tuduh Deka.


“Gelang apa, Pah?” sahut Tiara dengan raut bingung.


“Jangan panggil saya Papa! Saya bukan papa kamu!” bentak Deka.


“Abang, ada apa sih? Ga usah bentak-bentak Tiara!” Ririn menegur keras Deka.


“Anak ini udah nyuri gelang yang mau aku kasih ke kamu,” tukas Deka.


“Sumpah, Tante. Aku gak tahu gelang apa. Aku ga nyuri. Aku bukan pencuri.” Tiara membela diri.


“Tadi ‘kan kamu masuk kamar, kamu yang lihat saya pegang gelang itu,” tukas Deka.


Benar, Tiara masuk ke kamar tepat saat Deka memegang gelang itu dan membuka brankas.


“Tapi bukan berarti aku mencuri, Pah.” Tiara hampir menangis mengatakannya.


“Sudah saya bilang, jangan panggil saya Papa. Saya bukan papa kamu!” bentak Deka entah untuk yang keberapa kali.


Bentakan Deka kali ini benar-benar membuat air mata Tiara tumpah. Gadis kecil itu langsung lari ke kamarnya.


“Abang, jangan bentak-bentak begitu ngomongnya!” Ririn merasa geram melihat Deka membentak Tiara terus menerus.


"Tapi anak itu sudah mencuri gelang. Gelang berlian, loh, Yang. Ini bukan cokelat lagi yang dicuri, tapi gelang berlian."


"Belum tentu Tiara yang mencuri!" sanggah Ririn.


"Kalau bukan dia lalu siapa? Belum ada hitungan jam gelang itu aku pegang. Dan dia yang melihat aku megang gelang itu."

__ADS_1


Pasangan suami istri itu malah berdebat.


“Coba diingat dulu. Siapa tahu Abang lupa nyimpan."


“Tadi aku cuma di kamar habis itu ke ruang kerja terus ke kamar lagi.”


“Udah dicari di ruang kerja Abang?”


“Belum.”


“Coba Abang cari dulu di sana!”


Deka dan Ririn naik lagi ke lantai dua menuju ruang kerja Deka. Kemudian pandangan keduanya tertumbuk pada sesuatu yang berkilau di atas meja kerja Deka.


“Ini gelangnya?” lontar Ririn meraih gelang cantik bertabur berlian sekian karat.


“Eh iya, gelangnya ada di sini ya. Ya ampun, kok aku sampai lupa begini." Deka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi bukan Tiara 'kan?" Ririn menatap tajam Deka sembari kedua tangannya dilipat di dada.


"Iya, bukan," sahut Deka sembari meringis.


“Abang keterlaluan!” Ririn geleng-geleng kepala. “Abang udah tuduh Tiara, bentak-bentak Tiara sampai dia nangis.”


“Iya, maaf. Aku kira tadi dia yang ngambil. Soalnya tadi pas aku pegang gelang ini, dia masuk ke kamar.”


“Jangan minta maaf sama saya. Minta maaf sama Tiara!”


“Iya, iya. Nanti saya minta maaf sama anak itu.”


"Sekarang!” sentak Ririn.


“Iya, iya, sekarang.”


Deka bergerak patuh. Keluar dari ruang kerja, turun kembali ke lantai satu bersama Ririn. Kakinya telah menyentuh anak tangga terakhir saat Tiara melewatinya dengan menggendong tas punggung yang tampak penuh berisi.


“Tiara, kamu mau ke mana?” lontar Ririn.


Tiara menoleh sekejap pada Ririn dan Deka. Tanpa menjawab pertanyaan Ririn atau mengucap satu kata pun kepada kedua orang yang berdiri di anak tangga itu, Tiara segera melanjutkan langkahnya.


“Tiara, tunggu!” seru Ririn.


Tiara tidak mengacuhkan seruan Ririn, terus melangkah cepat menuju pintu keluar.


“Abang, kejar Tiara sana!” Titah Ririn pada Deka.


Deka menurut, ia mengayun cepat langkahnya menyusul Tiara lalu menahannya. “Kamu mau ke mana?”


“Mau pergi dari rumah ini. Lebih baik aku jadi gelandangan aja!” sahut Tiara.

__ADS_1


“Jangan, Tiara. Jangan pergi,” larang Ririn.


“Terima kasih karena Tante selalu baik sama aku. Tapi, Om enggak suka aku ada di sini. Biar aku pergi aja, Tan,” sahut Tiara dengan suara bergetar menahan tangis.


Tiara merasakan sakit hatinya berlipat-lipat. Tidak diinginkan sejak di dalam kandungan, dan tidak disukai saat sudah berdekatan dengan pria yang diyakini sebagai papanya itu.


“Abang!” Ririn menegur Deka, melalui isyarat mata meminta suaminya itu untuk meminta maaf pada Tiara.


“Tiara.” Untuk pertama kalinya Deka menyebut nama gadis kecil itu. Biasanya memanggil dengan sebutan “Hey” atau “Kamu” atau "Anak itu".


“Maafkan saya. Saya sudah keterlaluan sama kamu. Tolong maafkan saya,” mohon Deka.


Tiara bergeming, namun sesaat kemudian tangisnya pecah. Bahunya bergerak naik turun karena terisak. “Hiks ... hiks ... hiks.”


Deka merengkuh gadis kecil itu dalam pelukannya. “Maafkan saya. Saya janji akan bersikap lebih baik sama kamu," ucapnya.


Tiara masih menangis dalam pelukan Deka.


“Cup, cup, sudah ya nangisnya. Kalau kamu nangis terus kayak gini saya jadi merasa bersalah sama kamu,” ujar Deka sembari mengelus kepala Tiara yang sedang berada dalam dekapannya.


Dekapan dan sentuhan lembut tangan Deka memberikan kehangatan. Hangatnya meresap hingga ke hati yang terdalam. Ini adalah mimpinya sejak dulu, bisa dipeluk oleh sang “Papa”.


Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Deka serta mengulas sebuah senyum.


“Nah, gitu dong. Kalau sudah senyum berarti sudah memaafkan saya ‘kan?” lontar Deka.


Tiara mengangguk.


“Makasih ya, udah memaafkan saya,” ucap Deka sembari mengusap jejak air mata di pipi Tiara.


Tiara mengangguk lagi seraya tersenyum.


Terima kasih, Pah. Semoga setelah ini, Papa mau menyayangi aku. Gumam Tiara dalam hati.


.


.


.


.


Aku inginnya, sebelum lebaran cerita ini udah tamat. Tapi apa daya saya hanya mampu up satu bab tiap hari.


Btw, terima kasih dukungannya ya sahabat semua.


 


 

__ADS_1


__ADS_2