
Keesokan paginya, Deka dan Ririn pergi ke rumah sakit. Sebelumnya mereka berpamitan pada Abah dan Mami yang tengah menginap di rumah Deka. Sempat ada drama menangisnya Syad, saat ditinggal Deka. Beruntung tangisan Syad langsung mereda saat Deka menjanjikan akan membelikan kereta Thomas untuk bocah kecil itu.
“Saya ga yakin dengan hasil tes itu. Kemungkinan hasil tes itu palsu,” tukas Ririn saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Bukan tanpa alasan Ririn mengatakan itu, semalaman ia dan Deka mencari informasi tentang Rumah Sakit Makmur Jaya melalui browsing internet dan bertanya pada orang-orang yang dikenalnya.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan rumah sakit tersebut. Bahkan, reaksi orang-orang yang ditanyai sama seperti reaksi Ririn kala pertama membaca nama rumah sakit tersebut.
“Kok kayak nama toko bahan bangunan.”
“Seperti nama toko beras langganan saya.”
“Oh, Makmur Jaya itu nama kampung halaman istri saya.”
“Rin,” Deka menoleh sekejap pada Ririn yang duduk di sampingnya, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. “Seandainya hasil lab itu benar, kamu bagaimana? Apa kamu kecewa?” tanyanya.
“Apapun yang terjadi, saya tetap mendampingi Abang,” sahut Ririn.
“Meskipun kita tidak akan memiliki anak sampai kapan pun?” lontar Deka lagi.
Menurut sepengetahuan Deka, virus HIV akan menular melalui hubungan sek-sual langsung tanpa pengaman. Jika nanti pada akhirnya mereka sepakat untuk melakukan hubungan sek-sual dengan pengaman, tentu akan sulit untuk mendapatkan keturunan.
“Kalau tentang anak, banyak solusi yang bisa kita ambil. Abang ga usah pikirkan itu," sahut Ririn.
“Maaf ya, Rin. Karena aku sudah mengecewakanmu,” sesal Deka.
“Saya ga pernah menyesal menikah dengan Abang." Bagi Ririn, Deka tetaplah pria terbaik meskipun masa lalunya tidak baik.
Deka meraih tangan Ririn, menggenggam, lalu mengecupnya. Bertepatan dengan lampu lalu lintas menyala warna merah.
“Makasih ya, Rin. Kamu sudah mau menerima keadaanku.”
Ririn tersenyum menatap Deka. “Saya juga berterima kasih karena Abang memilih saya. Pastinya banyak wanita di luar sana yang mengharapkan suami seperti Abang.”
Deka mendekatkan wajahnya pada Ririn, dikecupnya pipi putih kemerahan itu. Ririn membalasnya dengan tersenyum.
Deka menyodorkan pipinya, maksudnya agar Ririn balas menciumnya. Namun, sepertinya Ririn tidak memahami maksud Deka.
“Rin.” Deka menusuk-nusuk pipinya dengan telunjuk.
“Kenapa, Bang?” tanya Ririn dengan polosnya.
“Cium abang, Rin!”
“Ish, malu ih, dilihatin orang.”
“Malu gimana? Kita ‘kan di dalam mobil, ga akan ada yang lihatin kita.”
“Serius ga keliatan sama orang,” ucap Ririn khawatir.
“Enggak!”
__ADS_1
Pelan-pelan Ririn mendekatkan wajahnya pada Deka. Jarak mereka sudah terkikis habis. Saat bibir Ririn akan menyentuh pipi Deka, terdengar sahutan klakson di belakang.
“Jalan, Bang! Dimarahin orang nanti.” Ririn menjauhkan lagi wajahnya.
“Ga jadi cium?”
“Enggak, nanti aja di rumah.”
Deka mendesah kecewa. Selama ini memang belum pernah sekali pun Ririn menciumnya. Dikarenakan sikap Deka selama ini seolah menjaga jarak, maka Ririn enggan melakukan hal-hal romantis seperti mencium suami duluan. Salah siapa istri dicuekin lama-lama.
Beberapa menit kemudian, usai membelah padatnya jalan raya, mereka sampai di Rumah Sakit Harapan Sehat, tempat di mana dulu Deka memeriksakan dirinya. Setelah melakukan prosedur administrasi, Deka melakukan pemeriksaan darah laboratorium. Sambil menunggu hasil pemeriksaan darah, Ririn dan Deka duduk di kafetaria rumah sakit untuk sekedar minum kopi.
“Abang, jangan tegang gitu mukanya,” ujar Ririn seraya mengusap punggung tangan Deka. “Senyum, dong!” serunya sembari tersenyum.
“Waktu pertama lihat hasil lab itu aku syok luar biasa. Setelah semalam aku menceritakan semuanya sama kamu, jujur tumbuh rasa optimis bahwa ada kesalahan dalam hasil tes itu. Tapi, sekarang malah tumbuh rasa takut ... takut hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Khawatir jika hasil tes itu benar,” tutur Deka.
“Abang tenang ya, kita berdoa saja. Dan serahkan semuanya sama Allah. Apapun ketetapan Allah yang ditakdirkan untuk kita, semoga kita akan kuat bersama. Saling menguatkan, saling menyayangi, saling mencintai,” tutur Ririn.
Deka tersenyum menatap bidadarinya. “Ya Allah, aku semakin sayang dan semakin cinta sama kamu, sekaligus .... “
“Sekaligus apa?” tanya Ririn sebab Deka tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
“Sekaligus semakin merasa bersalah sama kamu.”
“Jangan pernah merasa bersalah, karena nyatanya Abang tidak pernah berbuat salah sama saya.” Ririn melirik penunjuk waktu yang melingkar di tangannya. “Kayaknya hasil tesnya udah keluar deh, Bang.”
“Udah minumnya?”
“Yuk!”
Mereka beranjak menuju laboratorium tempat Deka melakukan pemeriksaan darah. Pihak lab hanya memberikan hasil pemeriksaan darah rutin. Hasil tes tersebut hanya untuk mengetahui jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih, kadar hemaglobin dan komponen darah lainnya.
Sementara untuk tes HIV, hasilnya akan keluar beberapa hari bahkan bisa sampai beberapa minggu, begitu menurut keterangan pihak laboratorium.
“Jadi hasil tes HIV enggak bisa keluar sehari?” tanya Deka.
“Tidak bisa, Pak. Beberapa hari bahkan beberapa minggu untuk prosedur pemeriksaan yang lebih akurat,” jawab petugas lab.
“Oh, begitu.”
“Jika hasilnya sudah keluar, nanti kami akan menghubungi nomor Bapak.”
“Baik, terima kasih.”
“Sama-sama, Pak.”
“Tuh ‘kan, hasilnya ternyata ga bisa selesai sehari. Saya semakin yakin, hasil lab kemarin itu hanya akal-akalan si Belong,” tukas Ririn. Mereka kini sudah berada di dalam mobil.
“Kalau sampai terbukti ini ulah Bella yang sengaja mengelabuiku. Aku ga akan memaafkan dia!” geram Deka.
“Sabar, Bang.” Ririn mengusap pelan lengan Deka.
__ADS_1
“Aku jadi ga sabar ingin mencecar Bella. Sekarang kita ke kantor aja, yuk! Aku mau labrak dia,” ujar Deka.
“Jangan, Bang. Lebih baik kita bersabar dulu sampai hasil labnya keluar,”usul Ririn.
“Tapi jelas dia berbohong. Waktu itu aku cek darah pagi, sore sudah ada hasil lab yang menyatakan positif HIV. Bodohnya aku enggak teliti. Enggak baca nama rumah sakitnya. Dasar bego!” Deka menoyor kepalanya sendiri.
“Abang ga boleh bilang begitu. Abang bukan bego, hanya ceroboh. Kalau bego, Abang ga akan jadi sultan. Lagian kalau Abang bego, saya ga mau sama Abang. Hehehehe.”
Ririn tertawa, Deka pun ikut tertawa.
“Mungkin karena saat itu aku lagi sakit, kepala pusing, tubuh lemah, udah gitu tegang karena menjelang hari pernikahan kita, jadinya aku gak teliti bacanya. Aku cuma baca nama sama hasilnya. Habis itu karena syok aku simpan rapat surat itu dan gak pernah aku buka-buka lagi,” tutur Deka.
“Ini pelajaran buat Abang, lain kali lebih teliti. Gimana kalau itu tentang proyek triliunan, misalnya Abang asal aja tanda tangan sehingga itu merugikan perusahaan Abang.”
“Kalau soal pekerjaan, soal proyek, soal perusahaan aku pasti teliti.”
“Iya, percaya. Oya, apa sebaiknya Abang cek darah di rumah sakit lain juga, agar lebih yakin sama hasilnya," usul Ririn.
“Iya, baiknya seperti itu, biar lebih yakin. Sekarang kita ke rumah sakit lain, habis itu kita ke kantor. Kamu mau ikut aku ke kantor 'kan?"
“Abang ga malu bawa saya ke kantor?"
“Enggak, dong. Kamu ‘kan istriku.”
“Tapi Abang janji, jangan tanya-tanya ke Bella dulu tentang hasil lab itu. Kita ikuti saja permainan Bella, dia maunya apa.”
“Ok, aku janji.”
“Saya yakin, Bella itu ga suka Abang menikah dengan saya.”
“Kenapa?”
“Abang tanyakan saja langsung ke Bella. Tapi nanti, kalau hasil lab yang baru sudah keluar dan terbukti Abang negatif HIV.”
“Ok. Sepakat.”
Kemudian Deka melajukan mobilnya menuju rumah sakit lain untuk memastikan keraguannya. Setelahnya mereka pergi ke kantor Deka.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1