Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Jalan


__ADS_3

Esok harinya Deka sudah berada di kota Serang. Ia benar-benar mengambil alih pengawasan proyek kelas teri tersebut dan melimpahkan sementara proyek kelas kakap kepada Fery yang adalah asistennya.


Semua yang dilakukannya adalah karena rasa penasarannya pada Ririn. Ia sesungguhnya juga tak yakin telah jatuh cinta pada wanita cantik itu. Namun, entah mengapa seakan ada rasa yang menggelitiki hati yang ia sendiri tak mengerti rasa apakah itu.


Tok ... tok ... tok


Deka mengetuk pintu rumah Abah. Beberapa kali pintu diketuk, terdengar derap langkah kaki dari dalam rumah. Lalu, pintu dibuka. Dewa yang ternyata membukakan pintu untuknya.


“Bang, kalau bertamu ke rumah seorang muslim itu wajib hukumnya mengucap salam!" tegur Dewa


“Abang ucapkan ‘assalamualaikum’. Kalau mau lengkapnya assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Ini hal paling dasar sebagai identitas diri kalau Abang itu muslim dan pemilik rumah atau orang yang Abang akan temui itu juga muslim,” nasihat Dewa.


“Iya iya. Salam likum, gitu ‘kan?”


“Bukan salam likum! Harus benar ngucapinnya. Assalamualaikum.” Sejujurnya Dewa juga bingung, kenapa keluarganya bagai tak mengenal agama bahkan untuk hal-hal dasar seperti mengucapkan salam. Beruntung dirinya pernah menempuh pendidikan di pesantren, sehingga tidak terlalu buta akan agama.


“Assalamualaikum, begitu?”


“Nah, begitu ... baru bener. Terus kalau ada yang bilang ‘assalamualaikum’, Abang harus jawab ‘waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh’ atau minimalnya jawab ‘waalaikum salam.”


“Assalamualaikum. Terus jawabnya waalaikum salam, gitu ‘kan?”


“Ya, begitu. Harus diingat ya, Bang. Jangan sampai lupa!”


“Iya.”


“Apalagi kalau Abang mau jadi mantu abah.” Dewa menaik turunkan alis menggoda Deka.


“Ish.” Deka berdesis, salah tingkah.


“Ririn lagi ke warung kayaknya. Abang tunggu aja, bentar lagi juga datang,” ujar Dewa sembari senyum-senyum menggoda.


“Ish, siapa yang kangen sama Ririn. Gue tuh kangen sama Syad,” sanggah Deka.


“Tuh kan, tuh kan, Abang yang bilang sendiri loh, kalau Abang kangen sama Ririn.”


Ya ampun, keceplosan.


“Gue ga disuruh masuk nih.” Deka mengalihkan pembicaraan. Tak mau menanggapi pernyataan Dewa barusan.


“Astagfirullah, ampe lupa. Masuk, Bang!"


Deka masuk lalu duduk di sofa ruang tamu. Bertepatan dengan Ririn masuk ke rumah sembari menggendong Syad.


“Assalamualaikum,” ucap Ririn saat memasuki rumah.


“Waalaikum salam,” jawab Dewa dan Deka kompak.


“Daddy, Daddy.” Syad yang sedang berada di gendongan Ririn, meronta mengulurkan tangan minta digendong Deka.


Deka berdiri dari duduknya lalu menyambut uluran tangan Syad. “Hai, Jagoan. Miss you.”


Deka mendekati Ririn yang sedang menggendong Syad. Sebelum meraih Syad dalam gendongan, ia sempat melirik Ririn. Dan sorot mata keduanya bertemu meski hanya sekejap.  


“Loh, ada Bang Deka,” ujar Mimin yang baru tiba di ruang tamu. “Kapan datang, Bang?”


“Ini, barusan datang,” sahut Deka.


“Gimana, A, jadi kontrol ke rumah sakit sekarang?” tanya Mimin pada Dewa.


“Ayo. Mumpung ada Bang Deka,” sahut Dewa. Kemudian melemparkan pandangan pada Deka. “Bang, nitip Syad, ya.”


“Siap.”

__ADS_1


“Rin, ga papa ‘kan kalo kami tinggal dulu,” kata Mimin.


“Ga papa. Ga usah khawatir,” sahut Rirn.


“Nitip Syad, ya,” kata Mimin lagi.


“Iya, tenang aja,” sahut Ririn.


“Baiknya, selama kami ke rumah sakit, mending Bang Deka ajak jalan-jalan Syad dan Ririn deh," usul Dewa.


"Soalnya rumah lagi sepi. Khawatir ada warga yang julid terus mikir macam-macam, kalau kalian berduaan di rumah,” tutur Dewa selanjutnya. Maklum, ia pernah mengalami hal itu. Difitnah dan dituduh yang macam-macam oleh warga kampung sebab berduaan di rumah bersama Mimin yang kini telah menjadi istrinya.


“Memangnya abah sama mami ke mana?” tanya Deka.


“Abah sama mami lagi nganter Opi ke Jakarta.” Dewa yang menjawab pertanyaan Deka.


“Ya udah kami siap-siap dulu ya.” Dewa merangkul pundak Mimin dan menggiringnya menuju kamar. Meninggalkan Ririn dan Deka yang tengah menggendong Syad.


“Bang Deka, mau minum apa?”


“Emm, apa aja deh."


Ririn mengangguk lalu beranjak menuju dapur. Tidak sampai sepuluh menit, ia kembali dengan membawa secangkir teh dan gorengan sebagai camilan. Gorengan yang ukurannya menjadi imut setelah harga minyak goreng melambung tinggi.


“Silakan diminum, Bang.” Ririn mempersilakan. Lalu, mengambil posisi duduk di hadapan Deka, bersekat sebuah meja sofa.


“Iya, makasih, Rin.” Deka menghentikan aksinya yang tengah menggelitiki Syad.


“Enak teh-nya ... manis,” ujar Deka setelah menyereput teh buatan Ririn.


Ririn mengerutkan kening. “Masa manis, padahal ga dikasih gula karena gulanya habis.”


“Ee, kok bisa gitu, ya?” Deka pura-pura menggaruk kepalanya. “Mungkin karena kamu duduk manis di situ, manisnya merambat sampai ke teh ini.”


Dipergoki tengah menggombali Ririn, membuat raut wajah Deka merona dan merana.


“Rin, ga papa aku nitip Syad?” lontar Mimin.


“Iya, ga papa,” sahut Ririn.


“Insyaallah Syad anteng kok, apalagi ada Bang Deka," kata Mimin lagi.


Ririn mengangguk setuju. Meski baru beberapa kali melihat interaksi antara Deka dan Syad, namun terlihat jelas bagaimana kedekatan keduanya. Saling menyayangi layaknya anak dan ayah.


“Kayaknya bener kata A Dewa tadi, mending Syad diajak jalan-jalan aja," ujar Mimin.


“Aku sih, iyes. Ga tau kalau Ririn,” sahut Deka dengan logat khas Anang.


“Gimana Rin, mau? Jangan takut, Abang saya ini, udah divaksin lima kali,” seloroh Dewa.


Meskipun ragu, akhirnya Ririn menyetujui. Benar kata Dewa dan Mimin, tak baik jika dirinya dan Deka menjaga Syad di rumah berduaan. Khawatir menimbulkan fitnah.


“Ya udah. Saya ganti baju dulu.” Ririn bangkit dari duduk, lalu beranjak ke kamar.


Ririn tampak cantik dengan penampilan sederhananya. Memakai celana kulot warna coklat susu dan blouse warna putih. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai. Ditambah polesan make up simpel, agar wajahnya tak terlihat pucat.


“Kita berangkat sekarang?” Kalimat yang meluncur dari bibir Deka, setelah sempat terpana dengan sosok wanita yang berdandan sederhana, namun cantiknya membahana.


Ririn mengangguk.


Mimin menyerahkan tas berisi keperluan Syad kepada Ririn. Tas berisi susu, diapers, dan satu setel baju Syad.


Menggendong Syad, Deka berjalan menuju mobil. Ririn mengikuti langkah Deka di belakangnya. Kalau dilihat mereka sudah seperti sebuah keluarga utuh. Layaknya ayah, ibu dan anak.

__ADS_1


Deka sudah duduk di belakang setir. Sementara Ririn duduk di sebelahnya sembari memangku Syad.


“Dadah Ayah. Dadah Bunda.” Ririn melambaikan tangan mungil Syad, berpamitan kepada ayah bundanya Syad.


Dewa dan Mimin balas melambaikan tangan. “Hati-hati.”


Melirik pada Ririn sekejap, Deka mulai melajukan mobilnya. “Kita ke mana nih?” tanyanya.


“Tadi kata Mimin, Syad suka main mandi bola di Ramayana. Tapi, saya gak tau di mana lokasinya. Saya ‘kan baru di kota ini," sahut Ririn.


“Oh, ok.”


“Bang Deka tahu tempatnya?”


“Tau, dong. Aku pernah tinggal di sini. Aku dulu sekantor sama Jasmin.”


“Ooh.”


“Kamu gimana? Betah tinggal di sini?”


“Pasti betah dan bahagia, tinggal bersama keluarga yang sebenarnya.” Belum sebulan Ririn tinggal bersama keluarga kandungnya, ia sudah merasa betah dan bahagia.


“Tinggal bersama keluarga itu bahagia. Apalagi bisa berkeluarga, pasti lebih bahagia," ucap Deka.


“Belum tentu berkeluarga itu bahagia. Tergantung bagaimana pasangannya memperlakukan kita,” tutur Ririn bertepatan dengan lampu lalu lintas menyala merah.


Deka menolehkan kepala, menatap Ririn di sampingnya. “Itu alasan kamu menolak lamaran orangtuaku kemarin?”


Ririn menunduk, enggan menjawab pertanyaan Deka.


Deka mencondongkan tubuhnya mendekati Ririn.


Ririn terkesiap saat kepala Deka begitu dekat dengan wajahnya. Degup jantungnya mulai tak teratur karena resah. Ia bahkan menahan napas, agar embusan napasnya tak menerpa pipi Deka. Mau apa dia. Batinnya.


 .


.


.


.


Jangan lupa di Like ya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2