Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Balon


__ADS_3

Ririn terkesiap saat kepala Deka begitu dekat dengan wajahnya. Degup jantungnya mulai tak teratur karena resah. Ia bahkan menahan napas, agar embusan napasnya tak menerpa pipi Deka. Mau apa dia. Batinnya.


“Tolong berikan sama badut itu.” Deka memberikan selembar uang seratus ribuan kepada Ririn. Membatalkan niatnya untuk menyerahkan langsung kepada badut itu sebab posisi yang tak terjangkau olehnya.


Ririn memang tak menyadari jika sedari tadi ada badut dengan kostum Doraemon menari-nari di luar kaca mobil pada sisi tempat duduk Ririn.


“Syad, ada badut Doraemon, tuh.” Ririn memiringkan kepalanya agar bisa melihat reaksi Syad, namun ternyata Syad malah tertidur.


Ririn menyerahkan uang itu kepada badut melalui kaca pintu mobil yang terbuka sedikit.


Lampu lalu lintas berubah hijau. Deka kembali melajukan mobilnya. Tak sampai sepuluh menit mobil sudah melewati alun-alun. Mal yang mereka tuju, persis berhadapan dengan alun-alun.


Deka menghentikan mobilnya di depan deretan pertokoan dan memarkirkannya di sana. Sebab merasa ribet jika harus parkir di area parkir mal, harus berputar-putar dulu untuk mencapai area parkir. Belum lagi jika tempat parkir penuh.


“Yon yon yon,” oceh Syad. Saat turun dari mobil, bocah kecil yang tadi tertidur itu malah bangun.


“Oh, balon. Syad kayaknya mau balon itu, Bang,” tunjuk Ririn pada tukang balon yang berdiri di trotoar seberang jalan.


“Oh, itu. Ok. Aku beli balon dulu, ya. Kamu tunggu di sini aja,” sahut Deka. Ririn membalas dengan sebuah anggukan.


Deka menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Setelah memastikan aman, barulah ia menyeberang jalan. Karena penjual balon itu ada di seberang jalan.


Sementara menunggu Deka membeli balon, Ririn memilih untuk mengamati setiap toko yang berderet di hadapannya. Mulai dari toko baju, counter hp, toko alat olahraga, salon, dan optik.


“Yon yon yon.” Syad mengoceh riang. Membuat Ririn melemparkan pandangannya pada Deka yang sedang menyeberang jalan.


Ririn terlonjak kaget sebab pria tampan berpenampilan keren itu tengah menyeberang jalan sembari memegang balon. Bukan hanya sebuah, tapi segerombolan balon warna-warni.


Rupanya Deka memborong semua balon itu. Terbukti dari pedagang balon yang sedang nyengar-nyengir kesenangan sambil mengibaskan uang.


“Bang Deka beli semuanya?” tanya Ririn dengan mengerutkan kening.


“Iya, habisnya bingung Syad suka warna apa. Jadi beli aja semuanya,” sahut Deka santai kayak di pantai.


“Yuk, kita mandi bola, mau?”


“Mau mau mau.” Syad bersahut riang.


Mereka mengayun langkah menuju mal. Ririn berjalan sambil menggendong Syad. Sementara Deka berjalan sambil memegang balon.


“Maaf, Pak. Dilarang berjualan di dalam mal!” tukas seorang satpam, menghentikan langkah mereka.


Tuh kan, tuh kan, disangka tukang balon jadinya.


“Siapa yang mau jualan!” geram Deka.


“Ini, Bapak bawa balon banyak sekali, untuk dijual ‘kan?!”

__ADS_1


“Anda pikir saya ini tukang balon!” sentak Deka.


“Saya pikir, Bapak ini tukang balon paling keren yang pernah saya temui,” sahut satpam.


“Mana ada tukang balon ganteng dan keren begini,” sanggah Deka.


Sementara Ririn tampak mengulum senyum melihat kesalahpahaman yang terjadi.


“Begini, Pak. Kami mau ke arena bermain anak. Dan membagikan balon-balon ini untuk anak-anak di sana,” ujar Ririn menengahi.


“Oh, gitu. Kalau begitu, maafkan saya, Pak. Silakan Bapak dan Ibu masuk.”


“Gue sekeren Ji Chang Wook gini malah dikira tukang balon,” gerutu Deka.


“Maaf, Pak. Sekali lagi saya minta maaf. Semoga Bapak dan Ibu selalu sehat, bahagia, rumah tangganya sakinah mawadah warahmah dan segera mendapatkan momongan lagi, biar adik ganteng ini cepat punya adik.”


Ucapan satpam yang panjang lebar itu sedikit meredam kekesalan Deka. Disangka sebagai pasangan suami istri bersama Ririn, hidung Deka kembang kempis dibuatnya. Sementara Ririn justru merasa jengah.


Deka dan Ririn kembali melanjutkan langkah. Sepanjang perjalanan, Deka membagikan balon kepada setiap anak kecil yang ditemuinya. Bahkan ia sempat dikerubuti oleh emak-emak berebut balon untuk anaknya.


Ririn tersenyum hangat memperhatikan aksi Deka. Meskipun belum terlalu mengenal sosok Deka, namun jelas sekali pria tampan itu berbeda dengan Jefri, mantan suaminya yang berperangai kasar.


Sekitar satu jam, mereka bermain di arena mandi bola. Deka yang lebih banyak banyak bermain dengan Syad. Sementara Ririn lebih banyak duduk menyaksikan interaksi paman dan keponakan itu.


Bukan karena malas bergabung bersama Deka dan Syad, namun karena Ririn merasa jengah sendiri. Beberapa orang di sana mengira mereka adalah pasangan ayah, ibu dan anak.


“Ganteng amat anaknya. Lah ya pantes, orang mama papahnya cantik dan ganteng.” Seperti itu yang dikatakan beberapa orang kepada mereka.


“Bu, naik mobilan itu gimana caranya?” tanya Ririn pada seorang ibu yang anaknya sedang naik mobilan.


“Ini nyewa, Neng. Terminalnya di sebelah sana. Tiga puluh ribu selama tiga puluh menit. Muter-muter mal ini,” terang si ibu.


“Oh, begitu. Terima kasih, ya, Bu.”


“Sama-sama, Neng.”


Setelah bertanya kepada ibu itu, Ririn menghampiri Deka. “Mobilan itu katanya nyewa, Bang ... di sebelah sana.”


“Ya udah, yuk, kita ke sana!" Mereka berjalan beriringan. Syad digendong oleh Deka.


“Yang itu kayaknya, Bang,” tunjuk Ririn pada deretan mobil mainan yang ditunggui tiga orang mengenakan seragam kaos warna oranye.


Ponsel Ririn berbunyi ketika mereka sedang melangkah menuju penyewaan mobilan. Ririn meraih ponsel, ada panggilan telepon dari Aki.


“Bang, maaf, saya mau terima telepon dulu,” pamit Ririn.


Mencari posisi yang nyaman dan tak terlalu bising, baru Ririn menjawab panggilan dari Aki.

__ADS_1


Aki menanyakan kabar Ririn, dan memberikan nasihat agar Ririn segera menikah.


“Iya, Ki, insyaallah. Aki doakan saja.” Hanya itu yang diucapkan Ririn, ketika Aki menyarankan untuk segera menikah.


Setelah sekitar lima belas menit bertelepon dengan Aki, Ririn kembali menghampiri tempat penyewaan mobilan. Dilihatnya Syad telah duduk manis, di atas mobilan tersebut.


Deka dan Ririn berjalan mengiringi laju mobilan yang ditumpangi Syad. Deka di posisi sebelah kanan, Ririn di posisi sebelah kiri. Sementara petugas berseragam kaos oranye itu berjalan di belakang mobilan sembari memegang remot, mengendalikan laju mobilan Syad. Jadilah Syad seperti presiden, dikawal dari kanan, kiri dan belakang.


Ririn mengernyit bingung, karena mobilan yang ditumpangi Syad malah melaju menuju pintu keluar mal. Tidak seperti rute mobilan yang ditumpangi anak kecil lainnya.


Sampai di pintu keluar mal, Deka mengangkat Syad yang duduk di mobilan. “Udah sampai. Ayo kita turun, Jagoan!"


“Mas, tolong bawakan mobilan ini sampai ke mobil saya, ya.” Deka memberikan dua lembar uang berwarna merah sebagai uang tips.


“Siap, Pak,” sahut petugas itu semringah. Matanya memerah semangat, sebab melihat dua lembar uang berwarna merah.


Deka berjalan menggendong Syad. Sementara Ririn berjalan di belakang dengan langkah bingung.


“Mas, memangnya nyewa mobilan ini boleh dibawa pulang, gitu?” tanya Ririn kepada petugas yang juga berjalan di belakang Deka.


“Iya, Mbak. Mobilan nya boleh dibawa pulang, soalnya bapak tadi ga jadi nyewa mobil ini tapi dibeli cash.”


“Hah??!” Ririn terkejut sampai melongo.


Tadi borong balon, sekarang beli mobilan sewaan.


Ngeluarin uang kayak orang ngeluarin kentut pas lagi sendiri. Santai, tanpa rasa cemas dan tak ada keraguan di dalamnya.


.


.


.


.


Btw Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2