Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Cabe


__ADS_3

Rinai hujan mengiringi laju mobil Deka. Padahal tadi saat di rumah, tidak hujan dan tidak mendung, langit tampak cerah-cerah saja.


Belakangan fenomena cuaca semacam ini, biasa terjadi di Indonesia. Hujan dan cuaca terang terjadi bersamaan dalam radius kurang dari 5 kilometer. Bagaimana ini bisa terjadi, biar BMKG saja yang menjelaskannya. Jangan saya. Hehehe.


“Kita ke mana, Rin?” Deka melirik Ririn yang duduk di sampingnya. Kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan yang basah.


“Enggak tau.” Ririn menyahut datar.


Sebenarnya ia juga malas keluar. Ini adalah jam tidur siangnya. Namun, tiba-tiba Deka datang bertamu. Sementara Ririn hanya sendirian di rumah. Abah sedang di toko, dan Mami tengah menghadiri pengajian di Masjid Agung. Ririn yang tengah kedatangan tamu bulanan tak bisa ikut Mami menghadiri pengajian.


Setiap pagi memang Syad dititipkan di rumah Abah dikarenakan Mimin tengah mabuk berat karena sedang ngidam. Namun  sebelum Zuhur tadi Syad sudah dijemput oleh ayahnya.


“Hujan-hujan begini enaknya ngapain ya?” Deka melirik Ririn lagi.


Ririn menoleh menatap Deka. Enaknya ya tidur. Karena ada kamu jadi ga bisa tidur deh. Batinnya.


“Makan bakso mau?” lontar Deka setelah beberapa saat Ririn tak kunjung menjawab pertanyaannya.


“Boleh,” sahut Ririn.


Deka menghentikan mobilnya di sebuah restoran bakso. Sejujurnya ia tak terlalu suka bakso. Namun mengingat Ririn sangat suka bakso maka ia menawarkannya. Menarik perhatian seseorang yang kita sukai dimulai dengan menyukai yang ia sukai, bukan?


Restoran bakso yang mengusung konsep garden. Ada sebuah danau di dekatnya. Entah danau buatan atau danau sungguhan, sepertinya dulu dipakai untuk wahana air seperti sepeda air. Restoran ini kabarnya sering dikunjungi artis ibukota.


Sempat terbesit rasa cemas di hati Ririn sebab jauhnya perjalanan menuju lokasi restoran yang terletak di kota Cilegon. Namun kini rasa cemas itu berganti dengan rasa puas sebab pemandangan indah nan asri yang menyejukkan mata.


Mereka duduk di saung kecil dekat danau sembari menunggu menu yang telah dipesan.


“Tempatnya bagus ‘kan?” Deka membuka obrolan.


Ririn mengangguk kecil sembari menatap tenangnya air danau. “Baru kali ini lihat kedai bakso kayak gini," ucapnya.


Ia memalingkan wajah menatap Deka. “Bang Deka sering ke sini?” tanyanya.


“Sering sih enggak. Pernah beberapa kali ke sini bersama teman kantor,” sahut Deka.


Ririn manggut-manggut


Sesaat kemudian ponsel Deka berdering. Ada panggilan telepon masuk dari Mama. Ia menatap sebentar ponselnya lalu menjawab panggilan telepon.


“Iya, Mah.”


“Lagi ada di Serang, Mah.”


“Tenang aja, Mah. Ini ‘kan sedang berusaha. Mama doakan saja.” Deka berbicara sembari menatap Ririn yang juga sedang menatapnya. Sesaat kemudian Ririn segera menundukkan pandangannya.


“Oh, gitu. Boleh boleh. Ganti video call aja ya, Mah.” Deka mengubah setelan panggilan suara menjadi panggilan video.


“Nih, Mama mau ngomong.” Deka menyodorkan ponselnya pada Ririn.


“Loh, eh, saya, emm.” Ririn gelagapan, namun akhirnya mau menerima juga ponsel dari tangan Deka.


“Halo, Bu. Assalamualaikum,” sapa Ririn sembari menatap layar ponsel.


“Ririn ... cantik sekali kamu.” Bukan menjawab salam, Mama malah memujinya.


“Ibu bisa aja.” Ririn tersipu. “Ibu juga cantik,” lanjutnya.


“Iya kah mama cantik? Wah, dibilang cantik sama orang cantik itu uwaw waw loh, hehehehe. Oya, Sayang, gimana kabarnya?”


“Alhamdulillah sehat, Bu. Kalau ibu gimana kabarnya?”

__ADS_1


“Duh, Sayang ... jangan panggil ibu,ah! Kesannya seperti mama ini atasan kamu jadinya. Panggil Mama aja, gimana?”


“Emm, iya, Mah.”


“Nah, begitu lebih enak didengar. Oya, kabar mama sehat. Cuma ya itu, badan sih sehat tapi masih ada beban pikiran yang nyangkut di hati dan kepala.”


“Kenapa, Mah?”


“Lah itu, anak mama yang ganteng yang sedang bersama kamu itu statusnya masih jomblo.”


“Jomblo itu bukan status. Itu adalah sebuah kata yang tepat untuk mendeskripsikan seseorang yang cukup kuat di bumi,” sela Deka. Ia menggeser posisinya, berdekatan dengan Ririn agar bisa menatap wajah Mama di layar ponsel.


Ririn tersenyum mendengar ucapan Deka.


“Oya, kapan-kapan Ririn main dong ke Jakarta.”


“Iya, Mah. Insyaallah.” Ririn tersenyum sembari menatap layar ponsel.


“Ya sudah kalian lanjutkan acaranya. Mama mau ketemu customer. Udah dulu ya daaaaah ....” Mama memutuskan panggilan video.


Pelayan datang membawa menu pesanan. Dua mangkok bakso tetelan, dua es jeruk, dua cup puding susu serta satu porsi rempeyek kacang.


“Ayo, dimakan, Rin.”


“Iya, Makasih.”


“Memangnya Bang Deka beneran jomblo?” tanya Ririn sembari meracik kuah bakso di mangkoknya. Menambahkan kecap, dan lima sendok sambal. Tanpa saus, karena ia tak suka saus.


“Kenapa? Aku terlalu tampan ya untuk seorang jomblo,” sahut Deka. Ia mengikuti yang dilakukan Ririn. Menambahkan kecap dan lima sendok sambal.


“Kenapa Bang Deka ga menikah aja?” tanya Ririn sembari mengaduk-aduk isi mangkok.


Apa dia amnesia ya. Lupa kalau gue pernah melamarnya dan langsung ditolak. Batin Deka.


Mengapa Ririn sama dengan Mimin, sama-sama tak mampu menyadari pesona pria tampan ini. Sadarilah, pria tampan ini berpotensi menjadi imam kamu, loh.


Ririn yang hendak menyuapkan bakso ke mulut, mengurungkan dan meletakkan kembali sendoknya.


“Nah, itu. Karena saya merasa lamaran itu keinginan orangtua kamu, bukan keinginan kamu,” sahut Ririn. Setelah menjawab pertanyaan Deka, ia menyuapkan suapan sendok bakso ke mulutnya.


“Memang itu keinginan orangtuaku. Tapi kalau aku tidak menginginkannya, sekarang kita tidak mungkin ada di sini, berdua di tempat ini.” Deka terus menatap Ririn. Bakso di hadapannya hanya diaduk-aduk saja, belum dicicipi.


“Kenapa saya? Padahal Bang Deka ‘kan belum kenal saya.” Terasa kurang pedas, Ririn kembali menambahkan dua sendok sambal ke dalam baksonya.


Deka mengikuti yang dilakukan Ririn, menambahkan dua sendok sambal ke dalam mangkok baksonya. Ririn melirik dan memperhatikan aksi Deka yang mengikutinya.


“Kalau aku bilang karena kamu baik, rajin beribadah, patuh pada orangtua, suka menolong orang, tidak sombong dan rajin menabung ... itu pasti dusta. Karena saat itu kita baru sehari bertemu, bahkan kita belum berkenalan.” Deka terdiam sejenak, masih menatap Ririn.


“Kenapa kamu ... mungkin karena kebetulan aku ingin menikah, kebetulan ketemunya kamu, kebetulan kamu anak Abah Haji, dan karena kamu ... cantik.”


Ririn yang tengah mengunyah, terkesiap mendengar jawaban Deka. Cantik? Baginya cantik adalah luka. Karena cantik, maka ia dijual bapak angkatnya. Karena cantik, maka Jefri mau memilikinya. Karena cantik, maka sampai saat ini Jefri tak mau melepaskannya. Dulu ia sempat protes kepada Tuhan, kenapa dianugerahi wajah cantik. Buat apa cantik, kalau cantiknya itu justru membuatnya sengsara.


Sejak dulu Deka tak memasang kriteria setinggi langit untuk sosok wanita idamannya. Tak muluk-muluk, yang penting harus cantik. Cantik sesuai seleranya.


“Udah kita makan bakso aja, biar bisa cepat pulang,” putus Ririn.


Deka mengangguk. Lalu mulai menyendok potongan bakso bersama kuahnya.


“Wooooow.” Seketika mata Deka melotot, bibirnya jontor, telinga dan hidungnya keluar asap.


“Ini baso rasa apiiiiii. Pedeeeeees!!” Deka mengibaskan tangannya di mulut.

__ADS_1


“Minum dulu, Bang.” Refleks Ririn meraih minum dan menyodorkan ke mulut Deka. “Bang Deka, kalau ga suka pedas kenapa pakai sambal banyak-banyak?!” ujarnya lagi seraya membantu Deka minum.


“Makasih, Rin,” ucap Deka usai meneguk setengah gelas minumannya.


Ririn menatap Deka. Dilihatnya titik-titik peluh menitik di kening pria tampan itu. Ada pula air yang keluar dari hidungnya. Entah dapat bisikan dari mana, Ririn spontan meraih tisu lalu mengusap peluh di kening Deka.


Deka terkesiap akan sikap Ririn. Ia menatap Ririn yang tengah mengusapkan tisu pada wajahnya. Sorot mata keduanya bertemu. Ririn yang baru tersadar apa yang tengah dilakukannya, sontak menghentikan aksinya.


“Makasih,” ucap Deka.


Ia menarik kedua sudut bibirnya, melukiskan sebuah senyuman menawan hingga tampak deretan gigi-giginya.


Ririn mengulum senyum menatap Deka yang tersenyum lebar.


Kenapa dia senyum-senyum? Kenapa senyummya malu-malu gitu? Pasti udah mulai jatuh cinta sama gue nih. Batin Deka agak narsis.


“Bang Deka.”


“Ya.”


“Ada cabe di giginya.”


Gubraaaak.


\=\=\=\=\=


Kecap mana kecap?!


Teh Yeni, minta kecap!


Buat apa, Bang?


Buat nyuci muka, biar ada manis-manisnya.


 .


.


.


Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2