Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Mendatangi


__ADS_3

Jl. Kenari no. 17. Gg. Apel 2.


Alamat yang tertera di secarik kertas yang diberikan Ririn itu masih dapat diingat jelas oleh Deka. Lalu, ia menuliskan pada selembar kertas.


Sesungguhnya ia tidak setuju dengan keinginan Ririn untuk mengunjungi alamat rumah tersebut. Namun, karena melihat raut murung dan beban yang seolah menekan sang istri, mau tidak mau ia meloloskan kemauan Ririn.


"Fer, ke ruanganku sebentar!" titah Deka melalui sambungan telepon.


Tidak menunggu lama, terdengar suara ketukan pintu. Fery sang asisten dengan sigap segera datang ke ruangan Deka.


"Siap, Bos!" ucap Fery. Lalu duduk walau belum disuruh duduk.


Di depan Fery, Deka mengusap rambutnya yang basah. Bermaksud menunjukkan bahwa tadi pagi ia habis keramas.


"Alah, keramas doang mah, gue juga kemarin ngalamin," ujar Fery seolah paham dengan maksud Deka. "Kemarin pulang main futsal kaki gue keram-mas," guraunya.


"Barang siapa yang bangun waktu subuh lalu ia mandi dan keramas serta mengerjakan solat, mereka itu termasuk golongan orang-orang yang habis begituan," seloroh Deka sembari mengendurkan dasi, lalu membuka satu kancing kemejanya. Hingga menampakkan beberapa tanda kemerahan di leher putihnya. Tanda merah yang dibuat oleh Ririn sebagai tanda cinta.


Fery berdecak melihat tingkah polah bosnya itu.


"Sori, gue juga udah pernah," kilah Fery.


"Tapi udah kelamaan, pasti udah lupa rasanya 'kan," seloroh Deka.


"Kalau gue mau, besok juga bisa. Tapi gue masih galau." Fery menggaruk kepalanya.


"Galau kenapa lo?"


"Ini bukan galau. Ini di atasnya galau. Ini namanya mahagalau, masih sodaraan sama mahabrata."


"Maha galau?" ucap Deka mengernyitkan kening.


"Iya nih, masa mantan gue pengen balikan. Gue jual mahal aja dulu ya 'kan. Masa iya langsung nge-iyain, kesannya kayak gampangan banget, nanti dikira gue belum bisa move on dari dia."


"Move on itu pilihan, gagal move on itu cobaan, dan pura-pura move on itu pencitraan. Kalau lo masih sayang, udah balik lagi aja," saran Deka.


"Nanti lah gue harus melakukan proses perenungan dulu. Menimbang baik buruknya, suka dukanya dan untung ruginya."


"Lo kira cinta itu neraca laba rugi pake dihitung untung dan ruginya. Tapi menurut gue, lo sama Fera itu memang cocok dan tak terpisahkan. Kalian itu so sweet, tauuuu," seloroh Deka memasang wajah seimut mungkin.


"Ngomongin soal so sweet, gue jadi inget saat-saat bersamanya dulu," tutur Fery dengan tatapan menerawang entah ke mana. "Waktu itu lagi hujan, kami makan bakso berdua dan saling suap-suapan. Gue suapin dia baksonya, dia suapin gue sambelnya. Astagfirullah, so sweet 'kan kita."


"Hahaha. Ngelawak mulu, dikiranya lagi seneng padahal lagi stres," gurau Deka. 


Dua sahabat itu tergelak dalam tawa.


"Oya, ngomong-ngomong ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Fery serius.


Deka menyodorkan selembar kertas yang telah ditulis alamat tadi olehnya. "Lo cari tau alamat rumah ini!"


Fery menerima kertas itu, lalu membacanya. "Jalan Kenari nomor tujuh belas. Gang Apel dua. Alamat rumah siapa ini?" lontarnya.


"Justru itu makanya gue nyuruh lo untuk nyari tahu. Karena gue ga tahu ini alamat siapa."


"Oke, siap laksanakan. Nanti siang gue kasih jawabannya. Ada lagi?"


"Kosongkan jadwal gue. Siapkan bulan madu untuk gue!"

__ADS_1


Mendengar kata bulan madu, Fery yang berstatus jomblo hanya mampu mengelus dadanya yang tidak terlalu bidang. Bulan ramadan tinggal menghitung hari, bulan syawal sebentar lagi, bulan madu gue, kapan ya? Begitu kira-kira keresahan sang jomblo.


"Oke. Ke mana bulan madunya?" tanya Fery berusaha tegar.


"Takaoka, Toyama, Jepang."


"Siap," sahut Fery lesu. "Ada lagi?"


"Cukup."


"Oke. Saya permisi kembali ke ruangan ya, Pak."


"Ya."


Fery bangun dari duduknya.


"Kenapa sih bete banget muka lo! Gue kasih saran nih, kalau lagi bete coba tarik napas terus hembuskan. Kalau masih bete juga,  coba tarik tunai terus jajan," kelakar Deka.


"Tuhan, aku lelah dengan kejombloan ini. Bolehkah aku ngopi dulu," ucap Fery sembari menengadahkan kedua tangannya dan berjalan menuju pintu.


"Fer, Fer, masa lo kalah sama kopi. Kopi aja udah pahit, item lagi, tapi banyak yang suka," gumam Deka setelah sahabatnya itu pergi.


\=\=\=\=\=\=


Menjelang sore, Deka menyuruh Ririn untuk datang ke kantor dengan diantar oleh Mang Pardi. Deka berencana mengajak Ririn untuk mendatangi alamat yang diberikan gadis kecil itu.


Sebelumnya Deka telah mendapatkan informasi mengenai alamat rumah tersebut dari Fery.


"Pemilik rumah atas nama Pak Hartono. Rumah itu beberapa bulan terakhir dikontrak oleh satu keluarga dengan kepala keluarganya bernama Herman. Menurut informasi dari RT setempat, keluarga tersebut kemarin sudah pindah rumah." Begitu yang dituturkan Fery saat jam makan siang.


Sejujurnya ia sangat tidak setuju dengan pemikiran dan keinginan Ririn yang ingin mendatangi rumah tersebut. Namun, karena rasa sayangnya kepada Ririn maka ia menurut saja. Semua yang dilakukan semata-mata agar istri cantiknya itu tidak merasa terbebani dengan pesan tersurat itu.


Deka pulang dari kantor lebih awal. Kemudian segera memacu mobil bersama Ririn yang duduk di sampingnya. Membelah jalanan yang belum terlalu padat karena kemacetan, menuju alamat orang asing yang tidak dikenalnya. Sesekali ia tersenyum sendiri, rasanya sungguh aneh. Untuk apa coba mendatangi rumah itu. Gumamnya dalam hati.


Setelah lebih dari dua puluh menit, Deka menghentikan mobilnya di depan rumah berlantai dua dengan dominasi cat warna biru. Rumah yang dikurung oleh pagar tembok dengan besi pagar bercat hitam itu menjadi rumah paling besar di antara sekitarnya. Untuk ukuran pemukiman di perkampungan pinggiran Jakarta, rumah tersebut tergolong mewah


"Bener yang ini rumahnya, Bang?" lontar Ririn seraya mengamati rumah dari dalam mobil.


"Bener. Tuh baca, bener 'kan Jalan Kenari nomor tujuh belas, Gang Apel." Deka menunjuk petunjuk jalan yang menerangkan nama gang dan nama jalan.


"Ya udah kita turun, yuk!" Ririn turun dari mobil, diikuti oleh Deka.


"Pagarnya digembok, Bang."


"Itu ada bel, pencet aja."


"Rumahnya kosong, Bang," ujar Ririn. Sudah berkali-kali ia memencet bel di pintu pagar rumah tersebut, namun tidak ada tanda-tanda penghuninya yang keluar untuk membukakan pintu.


"Makanya, aku bilang apa. Mungkin anak itu cuma mau ngerjain kamu," sahut Deka yang berdiri di samping Ririn.


"Cari siapa, Neng?" tanya seorang ibu yang kebetulan melewati mereka.


Ririn dan Deka sontak menoleh pada ibu itu.


"Bu, ini rumahnya kosong ya?" tanya Ririn.


"Iya, kosong. Kemarin yang ngontrak di sini sudah pindah," jawab ibu bertubuh gemuk itu.

__ADS_1


"Oh, gitu."


"Memangnya, Neng sama Abang ini mau ngontrak?"


"Bukan. Eng, kami nyari gadis kecil yang namanya ...."


"Tiara?" tebak si ibu.


"Iya, betul, Tiara." Ririn masih ingat wanita yang dianiaya suaminya itu memanggil gadis tersebut dengan nama Tiara.


"Memangnya Neng ini ibu gurunya?"


"Emmm ...."


"Betul, istri saya ini ibu gurunya," sahut Deka cepat sebelum Ririn sempat menjawab.


"Oh, gtu. Sudah pindah Bu guru. Padahal sayang banget baru masuk SMP, malah pindah."


"Pindahnya ke mana?" tanya Ririn lagi.


"Kurang tahu. Mereka itu pindah karena kemarin Pak RT sini negur Pak Herman karena dia itu kasar suka mukulin istrinya dan si Tiara itu. Denger-denger sih Tiara itu bukan anak kandungnya Pak Herman, jadi ...."


"Jadi, ibu gak tahu mereka pindah ke mana 'kan?" potong Deka.


"Enggak." Ibu itu menggeleng.


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi. Terima kasih atas informasinya," ucap Deka.


"Sama-sama."


"Yuk, Rin!" Deka menggandeng Ririn, menggiringnya untuk kembali ke mobil.


"Makasih, Bu," ucap Ririn sebelum pergi ke mobilnya.


"Sekarang kamu sudah tenang 'kan, Yang?" lontar Deka setelah duduk di dalam mobil bersama Ririn.


Ririn mengangguk.


"Kamu ga usah mikirin orang lain lagi, ya. Cukup mikirin aku aja. Aku merasa kamu begitu jauh saat kamu mikirin orang lain." Deka menatap Ririn dan meraih tangannya, dikecupnya dengan lembut tangan halus Ririn.


"Kamu jangan jauh-jauh dari aku ya. Cukup ANTARTIKA aja yang jauh, ANTARKITA jangan."


"Iya, Abang sayang," sahut Ririn lalu mengecup pipi pria tampan itu sekali. Dan langsung dibalas kecupan oleh Deka berkali-kali.


.


.


.


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️


Aku senang dan selalu baca komen sahabat semua. Mohon maaf belum bisa membalas komennya satu-satu. Kalau sempat insyaallah nanti dibalas. Nulis satu bab sehari saja keteter.


Maklum emak-emak, sibuk nginem. 😔😔

__ADS_1


__ADS_2