
Usai sarapan, Deka dan Ririn pergi ke kantor menggunakan mobil yang dikendarai oleh Mang Pardi. Kali ini Deka tidak ingin menyetir mobilnya sendiri. Ia ingin menikmati kebersamaannya bersama Ririn di jok penumpang belakang.
“Sayang, lihat deh.” Deka menunjukkan secarik kertas pada Ririn.
“Apa ini, Bang?”
“Calon nama anak-anak kita.”
“Nama Jepang semua?”
“Iya dong, ‘kan dibuatnya di Jepang.” Deka mengklaim anaknya itu hasil usahanya saat bulan madu di Jepang.
“Oh, begitu. Jadi, kalau bulan madunya di Afrika, pakai nama Afrika dong?”
“Hahahahaha. Iya.”
“Bang, bahasa Jepangnya mencuci itu apa?”
“Eng ... kalau enggak salah mencuci itu bahasa Jepangnya ar, arau." Deka mengetuk telunjuknya di dagu. "Abang buka kamus dulu deh, agak lupa soalnya.”
“Ih, jangan! Tebak aja.”
“Apa ya?”
“Nyerah?”
“Iya deh, nyerah.”
“Bahasa Jepangnya mencuci itu Kusabuni Itunoda.”
“Hahahahaha. Bisa aja kamu, Yang.”
“Kalau bahasa Jepangnya restoran mahal apa, Bang?”
“Nyerah, ah. Apa, apa?”
“Bahasa Jepangnya restoran mahal itu Lukira Nasimura.”
“Hahahahaha." Deka tertawa lepas karena candaan Ririn. "Abang juga bisa nih. Bahasa Jepang anak kembar apa, ayo?”
“Mukae Samae.”
“Ih kok tahu sih, Yang.”
“Tahulah, saya gitu loh.”
Deka tertawa lalu mencium pipi Ririn.
“Ish, ada Mang Pardi,” protes Ririn dengan berbisik di telinga Deka.
“Enggak apa-apa sih. Bukan karena dunia milik berdua, tapi mobil milik berdua,” balas Deka berbisik pula.
Ririn menyandarkan kepalanya di bahu Deka. Bibirnya tak berhenti mengulas senyum. Hatinya tengah mensyukuri kebahagiaan mereka saat ini. “Pagi yang indah,” lirihnya.
Setelah tiga puluh menit mobil melaju, menembus kemacetan jalan raya, akhirnya mobil yang ditumpangi mereka sampai di halaman kantor. Sama seperti Deka, beberapa karyawan juga baru sampai di halaman kantor yang cukup ramai seperti pagi biasanya.
__ADS_1
Deka membuka sedikit kaca mobilnya saat mobilnya berpapasan dengan Fery yang juga baru tiba di halaman kantor dengan kuda besinya.
“Hey, jomblo!” sapa Deka meledek Fery.
Fery membalas ledekan Deka dengan membunyikan klakson motornya berkali-kali.
“Abang, enggak boleh begitu, ih!” protes Ririn.
“Enggak apa-apa, memang dia jomblo kok.”
Ririn hendak membuka pintu mobil, namun kemudian ditahan oleh Deka. “Jangan, Sayang. Kamu diam saja di situ. Abang yang akan buka pintunya untukmu. Oke, ratuku?”
“Terima kasih, rajaku,” ucap Ririn seraya mengulas senyum.
Deka turun dari mobil, lalu berjalan memutar menuju pintu penumpang sebelah, berniat membukakan pintu untuk Ririn.
Belum sampai Deka menuju pintu mobil tempat Ririn duduk, sebuah motor dengan ditumpangi oleh dua orang pria mendekat ke arahnya. Salah seorang pria yang duduk di boncengan turun dan menghampiri Deka.
“Anda yang namanya Pak Deka?”
“Iya, betul, saya Deka. Ada ap .... “
Jleb ...
Jleb ...
Deka bahkan belum menyelesaikan kalimatnya saat pria asing tersebut dengan gerakan secepat kilat menusuk perut Deka dua kali dengan senjata tajam.
“Aaaaargh.” Deka merintih memegangi perutnya.
“Hey, ANJIIIIIIIING!” Fery yang melihat kejadian itu langsung berteriak. “Kejar orang itu!”
“Abaaaang ...!” Ririn yang semula tidak menyadari, langsung menoleh ke belakang saat terdengar kegaduhan orang-orang berteriak.
“Bapak, Bu,” ucap Mang Pardi lalu langsung keluar mobil menghampiri Deka.
“Abaaaang ...!” Ririn berteriak histeris. Membuka pintu mobil, ia turun tergesa dari mobil.
Dengan susah payah karena perutnya yang telah membesar, Ririn duduk bersimpuh di atas tanah memeluk Deka yang jatuh terkapar dengan perut bersimbah darah.
“Abang. Huuu ... huuu ...” Tangisnya pecah menyeruak keramaian.
Orang-orang yang berada di tempat kejadian juga turut bersahut dalam kepanikan.
“Pak Deka!”
“Pak Deka kenapa?”
“Astagfirullah, Pak Deka.”
“Ambulans mana ambulans?”
“Cepat telepon ambulans!”
“Ya Allah darahnya.”
__ADS_1
“Buka bajunya.”
“Sudah telepon ambulans belum?"
“Ini lagi telepon ambulans.”
"Telepon ambulans rumah sakit terdekat."
Begitu kepanikan para orang-orang yang turut berkerumun yang sebagian besar adalah karyawan Deka.
“Astagfirullahaladzim. Abang istighfar ya. Astagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim.” Ririn menciumi kepala Deka yang berada dalam pangkuannya.
Deka mengangkat tangannya yang memegangi perut. Dilihatnya darah berlumuran di tangan bahkan mengenai lengan kemejanya.
“Sa-yang, a-bang sa-kit,” ucap Deka terbata-bata.
“Abang harus kuat, abang harus tahan. Sebentar lagi ambulans datang. Abang kuat ya,” ucap Ririn dengan air mata yang jatuh berderai menganak sungai.
“A-bang sa-yang Ri-rin. A-bang cin-ta Ri-rin." Deka berucap lemah menatap Ririn.
“Ririn juga sayang Abang. Ririn cinta Abang. Abang harus kuat," sahut Ririn dengan suara serak bergetar.
“Ja-ga B-Boy dan G-girl.”
“Huaaa ... Abang harus kuat, Abang harus selamat. Abang sudah janji akan menemani Ririn lahiran. Abang sudah janji akan menyambut kelahiran anak kita dengan selamat. Abang harus menepati janji! Harus menepati janji Abang. Huuu ... huuu ...” Air mata Ririn semakin luruh dengan derasnya.
“Di-dingin, Yang.”
“Enggak, Abang enggak boleh nyerah. Abang enggak boleh tinggalin Ririn! Huuu ... huuu ... huuu.”
“Pak Deka nyebut. Laa ilaaha illallahu muhammad rosulullah,” kata salah seorang karyawan mengingatkan.
“Pak Deka sebentar lagi ambulans datang. Bapak yang kuat,” ujar Silvi yang juga berada di situ.
“Yang, ci-um a-bang,” lirih Deka.
Ririn menurut mendekatkan wajahnya pada wajah Deka. Mencium pipi. Mengecup bibir Deka dengan lembut. Air mata keduanya yang bercampur membuat rasa asin terasa di indra pengecap mereka.
“Abang kuat. Boy dan Girl mau ketemu Abang sebentar lagi. Astagfirullahaladzim. Laa ilaah illallah,” bisik Ririn di telinga Deka.
“As-tag-fi-ru-loh. La-ila-ha-ilalahu.” Deka berhasil mengucap kalimat agung tersebut dengan terbata. Seiring tubuhnya yang semakin melemah karena perdarahan di perutnya.
Sesaat kemudian dunia serasa berputar mengelilinginya. Sakit dan rasa perih karena tusukan benda tajam semakin kuat terasa. Rasa dingin seketika menyergap tubuhnya. Membuatnya semakin lemah tidak berdaya.
“Abaaaang ...!” pekik Ririn histeris karena kemudian Deka memejamkan matanya.
.
.
.
.
Tamat enggak nih?
__ADS_1