Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Hamil


__ADS_3

Tepat saat azan subuh berkumandang, Ririn membuka mata. Sejenak ia menatap wajah rupawan Deka yang tengah terlelap sambil memeluknya. Perlahan ia melepaskan diri dari dekapan suaminya, lalu beringsut turun.


Ia meraih kalender meja di atas nakas. Saat membujuk Deka yang menyebutkan Tiara adalah pancingan untuk mendapatkan anak, ia jadi teringat siklus menstruasinya. Baru menyadari sudah lebih dari lima hari terlambat mendapatkan siklus bulanan itu. Biasanya kalaupun terlambat, tidak pernah lebih dari lima hari.


Membuka laci nakas, ia mengambil tiga buah alat uji kehamilan. Biasanya seperti itulah yang sering dilakukan, menggunakan alat uji kehamilan saat terlambat mendapatkan menstruasi meski baru telat satu hari pun.


Ia masuk ke kamar mandi. Menampung urin pada wadah kecil lalu melakukan prosedur penggunaan alat uji kehamilan. Hatinya selalu dag dig dug setiap kali melakukan tes kehamilan sederhana ini. Selalu terselip doa dan harapan kala menunggu hasil tespek.


Sesaat kemudian senyumnya mengembang sempurna dengan sorot mata berbinar saat membaca hasil alat uji kehamilan tersebut. Ketiga tespek yang digunakannya menunjukkan hasil positif.


“Kamu udah ada di sini, Dek?” Ririn mengelus perutnya yang rata dengan mata berkaca-kaca.


“Yang ...!” Suara Deka memanggilnya seraya mengetuk pintu kamar mandi.


“Yang ... masih lama enggak? Mandi bareng aja sih, biar cepat. Takut terlewat waktu subuhnya,” ujar Deka dari depan pintu kamar mandi.


Tidak menunggu lama, Ririn membuka pintu kamar mandi. “Abang, mau mandi bareng?”


“Iya.” Deka mengangguk ceria.


“Ayo!” seru Ririn dengan senyum yang mengembang sempurna.


“Hah, beneran?” lontar Deka seolah tak percaya. Tumben sekali istri cantiknya itu mau diajak untuk mandi bersama. Biasanya selalu menolak ajakannya.


Ririn mengangguk. “Iya, cepetan masuk!”


Deka masuk ke kamar mandi masih menggunakan boxer-nya. Di dalam kamar mandi, Ririn pun masih mengenakan dress tidur dan pakaian dalam lengkap.


Tangan Ririn memegang tespek dan disembunyikan di belakang tubuhnya. Sementara Deka sudah berdiri di hadapannya.


“Akhirnya, mau juga mandi bareng.” Dimulai dengan menyentuh bahu, Deka menurunkan tali bahu dress tidur berwarna pink itu.


“Taraaaa ...!” Sebelum tali bahu dressnya turun sempurna, Ririn menunjukkan tangannya yang memegang tespek.


“Apa itu?” Mata Deka memicing melihat sesuatu yang dipegang Ririn.


“Mantan cassanova pasti tahu benda ini dong,” seloroh Ririn.


Deka mengambil tespek itu dari tangan Ririn. Matanya berbinar cerah saat melihat tanda positif yang tertera dalam salah satu alat uji kehamilan itu. “Positif?” tanyanya ragu.


“Iya, Bang.” Ririn mengangguk senang.


“Po-positif ... berarti kamu ha-hamil, Sayang?” Sampai tergagap Deka berbicara.


“Iya, Bang. Saya hamil anak Abang,” sahut Ririn sembari tersenyum cerah.


“Terima kasih, ya Allah.” Deka menghambur memeluk Ririn.


“Iya, Bang. Alhamdulillah,” sahut Ririn dalam pelukan Deka.


Setelah puas mengekspresikan kebahagiaan dengan saling berpelukan, kini Deka berjongkok dengan kedua lutut sebagai tumpuannya. Ia mendekatkan wajahnya pada perut Ririn.


“Hay kamu, sayangnya daddy, selamat datang. Baik-baik ya di dalam sini,” ucap Deka seolah berbicara dengan calon bayi yang berada di perut Ririn.


“Iya, Daddy. Daddy juga baik-baik ya, jangan nakalin mommy!” sahut Ririn dengan menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


“Siap, Sayang!” Deka mencium perut Ririn yang masih rata.


 “Ayo kita mandi bareng!”ajak Ririn.


“Kamu duluan aja, Yang. Nanti aku mandinya habis kamu,” tolak Deka. Ia bangun dari posisinya berjongkok.


“Loh, katanya mau mandi bareng? Kok sekarang nolak?”


Tumben sekali suaminya itu menolak padahal itu keinginan Deka sejak dulu.


“Soalnya kasihan sama ini, Yang. Aku gak mau dia kenapa-kenapa.” Deka mengelus perut Ririn yang masih rata.


“Cuma mandi bareng doang mah ga papa kali, Bang!”


“Ya ga bisa lah. Lihat kamu mandi, aku gak mungkin ga ngapa-ngapain, Yang,” sahut Deka jujur. Mana mungkin pesona Ririn tidak membangkitkan anunya.


Menyadari ada benih di dalam rahim sang istri mendadak has-ratnya menjadi mudah dikendalikan. Keselamatan sang janin lebih utama. Soal has-rat bisa dikondisikan nanti. Begitu pikirnya.


Setelah selesai mandi, salat dan aktivitas lainnya. Kini keduanya telah duduk di meja makan. Deka dan Ririn telah berpakaian rapi. Setelah sarapan nanti, mereka berencana untuk pergi ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan kehamilan Ririn.


“Anak itu mana?” tanya Deka saat sudah duduk di meja makan.


“Tiara maksudnya?” lontar Ririn seraya mempersiapkan sarapan Deka.


“Iya. Siapa tadi namanya? Tiara?”


Dasar Deka. Rupanya, nama Tiara saja dia tidak ingat. Atau sengaja tidak mengingatnya.


“Tumben Abang nyariin Tiara. Biasanya juga Abang ketus sama dia.”


Kebetulan sih lebih tepatnya.


“Bukan Tiara yang membawa keberuntungan. Tapi kebaikan hati Abang sendiri yang membawa keberuntungan buat kita. Tidak ada perbuatan baik yang sia-sia, Allah akan membalas dengan kebaikan yang lebih banyak lagi. Asalkan niat kita ikhlas," tutur Ririn bijak.


“Kenapa dia ga sarapan bareng sama kita di sini?”


“Memangnya boleh?”


“Boleh dong, Sayang.”


“Kirain ga boleh, makanya saya ga ajak dia sarapan bareng. Saya kasihan lihat dia selalu dipelototi Abang. Padahal yang saya lihat, Tiara itu sepertinya suka sama Abang. Maksudnya, dia seperti menemukan figur seorang papa dalam diri Abang.”


“Iya, iya, Aku minta maaf. Mulai sekarang Aku ga akan ketus lagi sama dia.”


“Nah, gitu dong. Sekarang saya panggil Tiara dulu ya.” Ririn berdiri dari posisinya lalu beranjak untuk memanggil Tiara.


Tidak lama kemudian Ririn kembali ke meja makan bersama Tiara.


“Duduk, Ra!” titah Ririn pada Tiara yang hanya berdiri memandangi Deka.


“Iya, Tan, makasih.” Tiara duduk, seperti biasa ia mengambil posisi duduk persis di hadapan Deka.


“Ga usah takut sama Om. Om Deka udah jinak sekarang.” Ririn melirik Deka. “Ya ‘kan Om?” lengannya menyenggol lengan Deka.


“Hemm.” Deka menoleh pada Ririn dan berhemm.

__ADS_1


Melalui isyarat mata seolah Ririn berseru, “ayo, ngomong!”


“Tiara, kamu enggak sekolah?” tanya Deka. Ini kali pertama Deka ber-intonasi lembut pada Tiara.


“Aku udah pindah rumah, Om. Jadi aku putus sekolah. Mama belum daftarin aku ke sekolah baru,” jawab Tiara.


“Jadi kamu gak sekolah lagi?” lontar Deka.


“Mama aku bilang, percuma sekolah kalau ujung-ujungnya jatuh ke pergaulan bebas, terus hamil, terus di DO dari sekolah, terus ga dapat ijazah.”


“Kok mama kamu begitu ngomongnya. Mama kamu itu stres atau apa? Ngomong sama anak kok kayak gitu!”


“Mungkin iya, mama aku memang stres. Sejak laki-laki yang seharusnya jadi papa aku itu gak bertanggungjawab menikahi Mama,” tutur Tiara.


Deka dan Ririn saling melempar pandang mendengar penuturan Tiara.


“Tapi sekolah itu penting. Kamu masih harus sekolah,” timpal Ririn.


“Iya, Tan. Aku juga pengennya sih gitu, bisa sekolah lagi.”


“Terus kalau saya daftarin sekolah di dekat rumah ini, kamu mau?” lontar Deka.


Tiara tersenyum semringah. “Serius, Om mau daftarin aku sekolah?”


“Hemm.”


“Aku mau, aku mau Om," sahut Tiara ceria.


“Ya.”


“Makasih, Pah,” ucap Tiara.


“Apa?” Deka tersentak kaget mendengar Tiara memanggilnya dengan sebutan ‘papa’.


“Kamu panggil saya apa tadi?”


“Papa.”


“Kapan saya kawin sama mama kamu!” sentak Deka


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2