Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Ngidam


__ADS_3

Setelah insiden gelang berlian itu, hubungan Deka dan Tiara menjadi lebih baik. Deka tidak lagi berucap ketus pada Tiara.


Deka berpikir jika Ririn sangat menyukai Tiara. Maka ia pun harus berusaha menyukai gadis kecil itu. Tentu saja agar Ririn selalu merasa senang. Bukankah wanita hamil itu harus selalu senang dan bahagia.


Menurut buku yang pernah dibacanya, merasa bahagia saat hamil sangatlah penting. Sebab kesejahteraan emosional secara langsung akan mempengaruhi perkembangan neurologis dan psikologis bayi. Semakin banyak wanita hamil yang bahagia, semakin besar kemungkinan mereka mendapatkan bayi yang lahir dengan sehat dan normal. Begitu menurut penelitian para pakar.


Seperti saat ini, Deka sedang berusaha memenuhi ngidam sang istri.


“Saya bor ....”


“Enggak, enggak. Beli satu bungkus saja, Teh, yang asinan buah,” ujar Ririn kepada penjual asinan.


Tangan Ririn membekap mulut Deka, agar Deka tidak melanjutkan kalimatnya. Ririn tahu betul, pasti suaminya yang tajir itu mau mengatakan, ‘saya borong semuanya’.


Penjual asinan itu terlihat mengulum senyum sebelum akhirnya membuatkan sebungkus asinan pesanan Ririn.


“Hatur nuhun, Teh,” ucap Ririn setelah menerima sebungkus asinan dan membayarnya.


“Sami-sami,” balas sang penjual asinan.


Kemudian Deka dan Ririn meninggalkan kios penjual asinan itu. Berjalan menuju motor yang terparkir di depan kios. Ya, dengan alasan kemauan si Akachan, Deka rela jauh-jauh pergi ke Kota Bogor mengendarai si kuda besi. Melawan rasa takut dan trauma. Menerjang hangat mentari yang meresap sampai ke pori-pori. Melebur bersama debu jalanan dan pekat asap kendaraan.


“Si Akachan mau asinan Bogor,” pinta Ririn beberapa jam yang lalu.


“Siap. Aku telepon Fery.” Deka sigap meraih ponselnya.


“Jangan! Akachan mau yang beli daddy-nya.”


“Oke. Sekarang berangkat," sahut Deka penuh semangat.


“Jangan naik mobil. Akachan mau Daddy belinya naik motor dan mommy-nya ikut dibonceng.”

__ADS_1


Deka mendelik mendengar permintaan Ririn, namun akhirnya menyetujui dan menyanggupi juga. Demi si Akachan.


“Asinaaan!” sahut Deka mengganti kata Asiyaap.


Deka sudah lama tidak mengendarai motor. Ia pernah mengalami kecelakaan motor beberapa tahun yang lalu hingga menyebabkan tulang pergelangan tangannya patah. Kejadian itu menimbulkan trauma tersendiri, sehingga ia lebih memilih menggunakan kendaraan roda empat daripada kendaraan roda dua tersebut.


Sedangkan Ririn, entah mengapa sejak awal kehamilan, ingin sekali merasakan berboncengan motor dengan sang tambatan hati. Alasannya karena ia belum pernah merasakan pacaran seperti gadis lainnya, yang ke mana-mana selalu berboncengan motor dengan sang kekasih dan jalan raya serasa milik berdua.


Nasibnya terlalu mujur, dinikahi oleh seorang Radeka Bastian yang tajir melintir takiwir kiwir. Si crazy rich itu memiliki beberapa mobil mewah, tetapi tidak memiliki motor. Miris.


Saat Ririn mengatakan ingin naik motor, detik itu pula ia menghubungi dealer untuk membeli motor. Sebuah motor matic moge termahal yang menjadi pilihannya. Motor keluaran “BUNDA” The power of moms itu harganya mencapai empat ratus juta. (Pelesetan hon-da the power of dreams 😁)


“Terus mau apa lagi, Yang?” tanya Deka.


“Udah. Ini aja,” jawab Ririn.


“Yang, kita jauh-jauh ke Bogor naik motor cuma beli sebungkus asinan doang?” Deka mendelik.


Kalau mendengar maunya Akachan, Deka selalu luluh dan tidak dapat berkutik.


“Kalau mau lagi ‘kan nanti kita tinggal ke sini lagi, naik motor lagi,” kata Ririn.


“Iya, siap!” sahut Deka.


“Hai, Akacahan, baik-baik ya di dalam. Kayaknya nanti gede bakal jadi Velentino Rosi, pengennya naik motor terus.” Deka mengusap perut Ririn.


“Iya, Daddy. Kok Valentino Rosi? Memangnya Daddy yakin aku cowok ya? Kalau aku perempuan bagaimana?” sahut Ririn dengan menirukan suara anak kecil.


“Kalau cewek ya berarti Valentina Rosa,” seloroh Deka.


Kemudian Deka naik ke atas motor dan Ririn duduk di boncengan. Motor pun melaju. Inilah yang paling ditunggu oleh Ririn. Momen berboncengan motor layaknya anak muda yang tengah berpacaran. Sepanjang perjalanan pulang pergi Jakarta-Bogor, Ririn memeluk pinggang Deka dan menempelkan pipinya di punggung Deka. Romantis.

__ADS_1


Tidak hanya sekali. Selama seminggu, sebanyak lima kali mereka pergi ke Bogor dengan berboncengan motor untuk membeli asinan. Si calon daddy itu benar-benar mendedikasikan waktunya untuk kehamilan istri tercinta dan si Akachan. Menjadikan dirinya sebagai Superhusband dan Superdaddy.


“Sayang, selama kamu hamil trimester awal, Abang janji akan lebih banyak menghabiskan waktu sama kamu. Berusaha untuk pulang sore terus, kalau bisa pulang siang.” Janji Deka pada Ririn yang diucapkan menjelang tidur.


Setelah Ririn hamil, Deka pun mengubah panggilannya, tidak lagi menyebut dirinya dengan ‘aku’. Ia selalu memanggil dirinya dengan sebutan Abang setiap berkomunikasi dengan Ririn.


.


.


.


Ada lanjutannya ya


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2