
"Loh, kok Sanah?" Ririn mengernyit bingung saat Sanah masuk ke kamarnya.
"Sanah yang akan menemani Syad tidur," jawab Deka seolah memahami kebingungan Ririn.
"Tapi ...."
"Gak ada kata 'tapi' , yang ada hanya kata 'iya'," sela Deka.
"Udah Bu, sanah atuh," timpal Sanah dengan wajah merah merona sembari mere-mas ujung kausnya.
Kok, malah Sanah yang baper. Maklum namanya masih gadis, melihat sikap manis sang majikan pria pada istrinya yang gimanaaa gitu, membuatnya jadi pengen kawin juga. Ups, pengen nikah maksudnya.
"Yuk, Sayang!" Deka menarik lengan Ririn. Meski malu-malu, Ririn menuruti kemauan Deka.
Mereka beranjak menuju kamar sebelah. Kamar bernuansa putih yang difungsikan sebagai kamar tamu, sama sekali tidak ada atribut Doraemon di dalam kamar itu. Kecuali pakaian yang melekat di tubuh sang pemilik rumah. Ririn mengenakan daster bergambar Doraemon, dan Deka sudah pasti boxernya gambar Doraemon juga.
Deka merangkul bahu Ririn dan menggiringnya menuju peraduan. Ririn bergerak patuh, seolah pasrah ke mana pun Deka membawanya. Sesekali geraknya terlihat kikuk dan canggung seiring irama jantungnya yang semakin tidak beraturan.
"Rin," panggil Deka. Mereka kini telah berada di atas tempat tidur berseprai motif pelangi. Sama seperti hati mereka kini yang bagai pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, penuh warna.
"Hemm," sahut Ririn malu-malu.
"Sayang," panggil Deka lagi.
"Hemm."
Deka meraih tangan Ririn lalu dikecupnya lembut. "Aku boleh melakukannya sekarang?" tanyanya dengan tatapan penuh gelora.
Ririn menatap suaminya sekejap, kemudian segera menundukkan kepalanya karena malu.
Kenapa, Abang pake nanya sih. Terus aku harus jawab apa?
Boleh, Bang, Silakan!
Boleh, Bang, mau sekarang?
Ayo, Bang, kita mulai sekarang!
Jangan ragu-ragu, Bang, aku milikmu. Lakukan apa yang kau mau.
Mari kita lakukan, jangan lupa baca bismillah.
Hadeuh, apa jawabnya nih.
"Sayang!" seru Deka sebab Ririn tak kunjung menyahut dan malah terus menunduk.
"Eh, iya, Bang."
"Boleh?" tanya Deka lagi.
Ririn mengangguk salah tingkah. Ternyata meski malam pertamanya bukan di malam pernikahan, rasanya tetap saja berdebar-debar dag dig dug tak karuan.
Apalagi sikap Deka begitu hangat, berbanding terbalik dengan sikap Jefri dulu. Ia ingat saat malam pertamanya dengan Jefri dulu. Pria sakit itu mengikat kaki dan tangannya, serta mencambuknya dengan ikat pinggang.
Setelah malam itu, ia berusaha lari dari Jefri. Namun, sulit melepaskan diri dari pria penyiksa itu. Jefri kerap kali mengatakan bahwa sangat mencintainya. Ririn sendiri tidak memahami cinta seperti apa yang dimaksud Jefri. Karena cinta Jefri justru neraka bagi Ririn.
Sebulir cairan bening jatuh tak dapat ditahan kala mengingat kisah pernikahannya dulu.
"Sayang, kenapa menangis?" tanya Deka yang sedari tadi tak pernah putus menatap Ririn.
Ririn mengusap jejak basah di pipinya. "Saya enggak apa-apa. Saya bahagia. Abang baik sama saya. Saya sangat ... bahagia," "ucapnya lirih. Dari lubuk hati yang terdalam, Ririn memang merasa sangat bahagia.
Deka kembali mengecup tangan Ririn. "Aku juga sangat bahagia, Rin. Aku sayang kamu." Sama seperti Ririn, Deka pun merasa sangat bahagia. Impiannya untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah terwujud bersama Ririn.
"Apa Abang mencintai saya?" Ririn tahu Deka menyayanginya, tapi ia belum tahu apakah suami tampannya itu juga mencintainya.
"Tentu saja. Kalau tidak cinta, tidak mungkin aku jauh-jauh ngejar kamu ke Serang, lalu menikahi kamu."
"Seberapa besar Abang mencintai saya?" Ririn menjeda sejenak ucapannya, "kalau saya boleh tau."
"Tidak usah bertanya seberapa besar cinta aku. Karena tidak ada alat ukur yang akurat untuk mengukurnya. Cintaku adalah sebesar usahaku untuk selalu membahagiakan kamu. Dan semoga kamu selalu bahagia hidup bersamaku, Rin," jawab Deka penuh ketulusan. Begitu memang janjinya dalam hati, saat hatinya mantap memutuskan untuk menikahi Ririn.
__ADS_1
Ririn mengulas senyum, matanya lekat menatap pria yang tengah mengecup tangannya. Entah sudah berapa kali tangannya dikecup sang imam, ia tidak fokus menghitung.
"Saya pasti selalu bahagia hidup bersama Abang, jika Abang tidak pernah menyakiti saya."
"Sayang, kok kamu ga tanya, apa buktinya kalau aku ini cinta sama kamu," lontar Deka.
Ririn mengerutkan kening. "Memangnya apa buktinya?"
"Mau tau?"
Ririn mengangguk.
"Bener mau tau?"
Ririn mengangguk lagi.
"Siap-siap untuk menerima bukti cintaku!"
Deka semakin mendekatkan wajahnya pada Ririn. Tatapan mereka bersua. Pendar cinta dari sorot mata keduanya menembus hingga jiwa. Degup jantung Ririn semakin bertalu kencang seperti genderang mau perang. Aliran darah Deka mengarus lebih cepat, lalu masuk ke jaringan kapiler. Desirannya mengalir hangat di seluruh organ, membuat tubuhnya semakin bergejolak.
Deka mendekatkan bibirnya ke telinga Ririn, lalu berbisik lembut, "I love you."
I love you too. Ingin rasanya Ririn mengucapkan kalimat itu, membalas bisikan kata cinta sang mantan cassanova. Namun, bibirnya mendadak kelu tak dapat berucap. Sebab embusan napas Deka yang terasa meniup pipi tak ayal memberikan sensasi luar biasa. Senyar-senyar yang diciptakan Deka membuatnya terombang-ambing dalam lautan gelora.
Setelah membisikkan kata cinta, Deka meraup lembut bibir Ririn dengan bibirnya. Mengecup dan mengecap hingga terasa manis-manisnya.
Ini adalah ciuman pertamanya bersama Ririn. Ciuman pertama di usia dua bulan pernikahan. Sesapan bibir itu dibarengi dengan sentuhan-sentuhan pada tiap jengkal tubuh. Keduanya terlarut dalam has-rat cinta. Lalu sampai pada gerak saling menyatukan.
"Abang, jangan lupa baca doa," bisik Ririn sesaat sebelum menyatukan diri, menyerahkan segalanya pada sang suami.
"Apa doanya?" tanya Deka.
"Kalau belum tau doanya, baca bismillah aja ga papa," sahut Ririn.
"Ayo, kita baca bismillah bareng-bareng!" ajak Deka, yang diangguki oleh Ririn.
"Bismillahirohmanirohim," ucap keduanya berbarengan.
"Oke, kita baca sama-sama ya."
"Iya."
"Audzubillahiminassyaitonirrojiim. Bismillahirrohmanirrohiim."
Kemudian dua sejoli itu saling menyatukan diri. Menyatu dalam cinta hingga menerbangkan pasangan berlabel halal itu ke puncak rasa tertinggi. Menuju kenikmatan yang tak terperi.
"Makasih Sayang," ucap Deka dengan napas yang belum teratur.
Tuh 'kan, dia ngomong lagi. Aku harus jawab apa coba.
Sama-sama, Sayang.
Makasih juga Sayang.
Saya juga mau bilang terima kasih sama Abang.
Tidak usah bilang terima kasih, karena aku milikmu.
Terima kasih juga karena sudah memberikan ... memberikan apa coba?
Abang sungguh luar biasa.
Apakah Abang mau nambah?
Ish. Apa sih pikiranku ini.
Ririn hanya tersenyum seraya menarik selimutnya hingga ke leher. Beberapa opsi jawaban di kepalanya tak ada satu pun yang terucap.
Deka mendekap tubuh Ririn. Membenamkan wajah Ririn ke dadanya. Ririn tersenyum malu sembari memandangi roti sobek. Mengingat tragedi roti sobek dan boxer Doraemon seringkali membuatnya tersenyum sendiri.
"Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Deka sembari menciumi puncak kepala Ririn dalam dekapannya. Mengendus aroma wangi dari rambut hitam kemilau itu.
__ADS_1
"Iya," sahut Ririn singkat. Ia sedang meresapi nyamannya dekapan Deka. Meskipun posisi ini sudah sering ia rasakan. Tetap saja beda rasanya, dekapan malam biasa dan dekapan usai bercinta. Rasanya itu berlapis-lapis. Berapa lapis? Ratusan ... lebih.
"Katakan yang jelas dong, jangan cuma iya," protes Deka.
"Saya bahagia," ucap Ririn.
Deka mengurai dekapannya. Ia mengangkat dagu Ririn, agar dapat menatap matanya.
"Bahagia karena apa? Apa bahagia karena saya ganteng, apa bahagia karena saya luar biasa, atau bahagia karena apa?"
"Bahagia karena semuanya. Karena Abang ganteng, baik hati, hangat, dan ... luar biasa," sahutnya tersipu. Mau menunduk lagi, tapi Deka menahannya. Memaksanya untuk terus menatap wajah tampan sang suami.
"Tadi itu ngeJos enggak?" goda Deka seraya tersenyum nakal.
"Ish, Abang." Pipi Ririn semakin memerah.
Deka mengusap lembut pipi kemerahan itu. "Rin, kamu cinta sama aku enggak?"
"Cinta. Cinta sekali sama Abang."
"Sebesar apa cinta kamu sama aku?"
"Lebih besar dari cinta Abang kepada saya."
"Lebih besar aku kali cintanya."
"Lebih besar saya cintanya."
"Aku, Rin."
"Saya, Bang."
"Aku!"
"Saya!"
"Aku!"
"Saya!"
"Oke. Kalau lebih besar cinta kamu, buktikan!"
"Bagaimana membuktikannya?"
"Ronde dua, kamu di atas ya."
"Ish, Abang."
"Ayo dong!"
"Gak mau, enggak bisa!"
"Aku ajarin!" Deka mengangkat tubuh Ririn ke atas tubuhnya.
"Abang, ih!" Ririn berusaha untuk turun. Namun, Deka menahannya.
"Gak mau!"
"Coba dulu!"
.
.
.
.
Hadeuh. Semoga ga terlalu horor ya.
Terima kasih dukungannya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️