Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bakso


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, Deka mengajak makan di sebuah restoran ayam cepat saji. Ririn menurut saja, meskipun hatinya menginginkan makan bakso.


“Habis ini kita ke mana lagi, Jagoan?” Deka menciumi puncak kepala Syad yang duduk di pangkuannya.


“Habis ini kita pulang aja, khawatir Syad ngantuk,” sahut Ririn.


“Ga mau jalan-jalan lagi?” Deka menatap Ririn. Padahal ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Ririn dan Syad.


Ririn menggeleng, menjawab pertanyaan Deka.


“Ya udah deh, kita makan dulu, yuk!" ajak Deka.


Di atas meja sudah tersedia menu pesanan mereka. Deka mendudukkan Syad pada kursi khusus balita.


“Jagoan makan dulu, ya!" Deka menyuapkan cream soup pada mulut mungil Syad.


“Biar saya aja yang suapin Syad. Bang Deka makan duluan aja," ujar Ririn.


“Ga usah, aku aja. Kamu aja yang makan duluan," tolak Deka.


“Abang aja duluan.”


“Ok, biar adil. Kita makan bareng aja, ya. Suapin Syad-nya gantian aja, gimana?”


Ririn mengangguk setuju. Mereka mulai melakukan aktivitas makan dan menyuapi Syad bergantian.


“Loh, kok ga dihabiskan makannya?” tanya Deka menatap makanan Ririn yang habis setengah saja. Sementara makanan yang disantap Deka telah habis. Hanya menyisakan tulang ayam.


“Emm, udah kenyang, Bang,” jawab Ririn. Tidak mungkin ‘kan ia menjawab, lagi ga selera makan nasi, pengen makan bakso.


“Serius makanannya ga mau dihabiskan?”


Ririn mengangguk.


“Sini, aku aja yang habiskan!" Deka menarik makanan Ririn sampai ke hadapannya. Lalu, mulai memakannya dengan lahap.


Ririn terperangah menatap Deka. Baginya, perlakuan Deka ini sungguh teramat manis. Bisa bisanya, pria tampan tajir melintir  ... Tajir?? Ya, begitulah kesimpulan Ririn setelah dua kejadian di mal tadi.


Bisa-bisanya pria tampan tajir melintir takiwir kiwir itu mau memakan makanan bekas dirinya. Sedangkan Jefri, mantan suaminya dulu belum pernah melakukan hal manis seperti yang dilakukan Deka sekarang.


“Kenapa? Kok liatin aku kayak gitu?!" tukas Deka.


“Eh ... emm ... eee ... ga kenapa-napa kok.” Ririn gelagapan. Wajahnya pun memanas karena malu. Kepergok sedang memandangi Deka dengan tatapan kagum.


“Kenapa? Ketampanan aku naik berkali-kali lipat kalau lagi makan banyak begini, ya?” Deka menggoda wanita cantik yang pipinya kini memerah karena malu.


“Iya, eh, enggak. Bukan bukan .... “ Ririn semakin terpojok. “Maksud saya, tadi cuma mau bilang ... makannya lebih cepat biar kita bisa segera pulang.” Akhirnya Ririn menemukan alasan yang logis untuk mengelak dari tuduhan Deka.


Deka hanya tersenyum menanggapi jawaban Ririn sambil terus melahap makanan dengan nik*mat. Kamu bukan guru, Rin. Jadi ga pintar nge-les. Gumam Deka dalam hati.


Ririn memalingkan wajah. Melempar pandangan tak tentu arah. Berusaha mengurai kegugupan. Seketika ia teringat dengan ponselnya. Benar, berpura-pura memainkan ponsel sepertinya cara jitu untuk melepas rasa malu.


Ririn merogoh tas, namun tak menemukan ponselnya.


“Ada apa?” tanya Deka usai menghabiskan makanannya.


“Hape saya kok ga ada ya.” Wajah Ririn pias. Bagi Ririn, ponsel adalah barang mahal. Meski ponselnya hanya produk Cina, android berharga murah dengan spek minimalis dan seadanya.


“Coba di miskol!" usul Deka.


Ririn mengangguk setuju.


“Berapa nomornya?” tanya Deka.


Ririn menyebutkan nomor ponselnya. Deka melakukan panggilan telepon pada nomor tersebut.


“Nyambung, kok,” kata Deka.


“Tapi ga ada di tas saya.”


“Tadi terakhir ada pas kapan?”


“Setelah menerima panggilan telepon dari Aki.”


“Atau mungkin terjatuh di mal?"


“Iya. Mungkin juga terjatuh di mal," ucap Ririn dengan wajah sendu.


“Habis ini kita counter beli hape buat kamu.”

__ADS_1


Ririn menggeleng cepat. “Enggak, jangan. Ga usah!"


“Aku ‘kan yang udah ngajak kamu jalan, Rin. Artinya ini adalah tanggung jawab aku. Aku akan mengganti kehilangan hape kamu itu," sahut Deka.


“Enggak usah, Bang. Makasih,” tolak Ririn. “Kalau Abang udah selesai makannya, kita pulang aja, yuk!" ajaknya.


“Ga mau pesan makanan lagi?”


Ririn menggeleng lagi. “Enggak.”


“Ya udah, yuk, kita pulang!"


Mereka bangkit dari duduk, lalu beranjak meninggalkan restoran. Mereka berjalan beriringan dengan Syad berada di gendongan Deka.


Ririn masih memikirkan ponselnya yang hilang. Ia mengayun langkah sambil melamun.


“Awaaaaas!” pekik Deka saat sebuah motor hampir saja menabrak Ririn.


Deka menarik lengan Ririn. Membuat tubuh Ririn tertarik hingga membentur dada liat Deka. Refleks, tangan kiri Deka mendekap tubuh Ririn. Sementara tangan kanannya tetap menggendong Syad.


Ririn mendongakkan wajah menatap Deka. Sorot mata keduanya bertemu, saling mengunci. Meski hanya sekejap, tak pelak membuat desiran halus merambat di dalam dada. Ia segera melepaskan diri dari dekapan pria tampan itu.


“Maaf,” ucap Deka. Merasa tak enak hati dengan aksinya barusan.


“Gak papa,” sahut Ririn.


Mereka melanjutkan langkah menuju tempat Deka memarkirkan mobilnya.


“Ya Allah, ternyata hapenya ada di sini.” Ririn terkejut mendapati ponselnya tergeletak di jok mobil saat membuka pintu mobil.


“Hapenya ketemu?”


“Iya, Bang. Ternyata ga ilang,” sahut Ririn dengan raut semringah.


Deka tersenyum. Insiden hilangnya ponsel Ririn memberikan keuntungan tersendiri bagi Deka. Sebab nomor ponsel Ririn sudah masuk daftar kontaknya.


 


\=\=\=\=\=\=\=


Deka menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Ririn. Deka turun dari mobil, lalu membukakan pintunya untuk Ririn.


“Sini, aku aja yang gendong Syad,” tawar Deka.


Ririn mengarahkan Deka untuk menidurkan Syad di kasur lantai di depan TV karena Dewa dan Mimin belum pulang. Abah dan Mami, kemungkinan malam baru pulang.


“Kita duduk di teras aja, yuk!" ajak Ririn. Orang dewasa di rumah itu hanya mereka berdua, jadi sebaiknya memang tidak berada di dalam rumah berduaan. Khawatir menimbulkan fitnah.


“Yuk.” Deka mengangguk setuju.


Mereka baru duduk di kursi teras ketika suara denting mangkok dan sendok yang beradu melintas di depan rumah.


“Maaas, bakso!” teriak Ririn.


“Bakso, Neng Ririn?”sahut tukang bakso yang bernama Mas Jono.


“Iya.”


“Siap, Neng.” Mas Jono menghentikan gerobak baksonya di depan halaman rumah.


“Kamu, mau bakso?” tanya Deka.


“Iya.”


“Kenapa tadi kita ga makan bakso di luar aja?”


“Saya suka baksonya Mas Jono.”


Deka mengernyit. Otak mesumnya hampir saja mikir ke mana-mana.


“Aku juga mau baksonya Mas Jono,” sahut Deka.


“Kamu duduk aja, biar aku aja yang belikan.”


Ririn mengangguk setuju. Toh, Mas Jono juga sudah hafal bakso kesukaannya.


“Bang Deka!” Seruan Ririn menghentikan langkah Deka yang baru satu seperempat langkah.


“Ya.”

__ADS_1


“Gerobak baksonya jangan dibeli juga ya ... baksonya aja.” Mengingat hal gila yang dilakukan Deka di mal tadi, bukan tak mungkin ia akan melakukan hal gila dengan membeli gerobaknya juga.


“Oh, oke!" Deka mengacungkan jempol tangan kanannya kayak RCTI.


Setelah memesan bakso, Deka kembali duduk di kursi teras bersama Ririn. Tak menunggu lama, Mas Jono membawakan dua mangkok bakso pesanan mereka. Usai mengantar pesanan, Mas Jono pergi meninggalkan gerobak baksonya.


“Bang Deka, ga beli gerobak Mas Jono ‘kan?” tukas Ririn.


Deka menggelengkan kepalanya. “Enggak.”


“Oooh." Ririn bernapas lega."Itu Mas Jono mau ke mana ya? Kok gerobaknya ditinggal?” tanyanya kemudian.


Deke mengedikkan bahu. “Enggak tau.”


Mereka melanjutkan makan. Saat Ririn tengah asyik menyantap bakso dengan kuah super pedas, terdengar suara seseorang mengumumkan sesuatu dari speaker musala.


“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Bapak-bapak, Ibu-ibu, seluruh warga kampung Cibening. Saya Mas Jono, tukang bakso yang mirip Aliando. Siapa yang mau makan bakso gratis silakan datang ke rumah Pak RW Haji Zaenudin. Persediaan terbatas. LI-MI-TID-E-DI-SI-YON. Disponsori oleh ... Neng Ririn. Sekian pengumuman dari saya, Mas Jono Aliando ganteng. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh."


Mata Ririn membola menatap Deka.


“Aku gak beli gerobaknya, cuma baksonya doang,” sahut Deka santai menanggapi reaksi Ririn.


Ririn masih terbengong-bengong dengan aksi pria tajir itu saat ponsel Deka berbunyi.


"Iya Fer, ada apa?" lontar Deka saat menerima panggilan telepon.


"...."


"Wah, strategis dong lokasinya. Berapa katanya harganya?"


"...."


"5 M? Terhitung murah kalau segitu. Beli aja! Sepuluh menit lagi gue transfer uangnya!" pungkas Deka mengakhiri panggilan teleponnya.


Ririn menelan liur mendengar percakapan Deka di telepon. 5 M itu tidak mungkin 5 Ember, 5 Embek atau 5 Mmuach mmuach 'kan??


.


.


.


Bang Deka ini sultan ya? Atau jangan-jangan titisan Rafi Ahmad.


Bang Deka, please beli PERSERANG, biar ketularan sukses seperti Cilegon United yang dibeli Rafi Ahmad dan kini berganti nama jadi RANS Cilegon FC.


BTW, Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2