Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Akachan


__ADS_3

Ririn telah selesai melakukan pemeriksaan kehamilan lengkap dengan ditemani Deka. Pemeriksaan darah dan urine untuk mengetahui adanya kemungkinan gangguan kehamilan sejak dini dengan tujuan mencegah risiko terburuk komplikasi kehamilan pada ibu hamil.


Setelah menunggu beberapa menit, pihak laboratorium mengeluarkan hasilnya. Alhamdulillah, hasil tes menunjukkan semuanya baik-baik saja. Sehat dan normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ririn dan janin dinyatakan sehat.


“Sayang, please mulai sekarang harus makan makanan yang sehat. Karena sekarang yang makan bukan cuma kamu, ini yang di dalam perut juga perlu asupan gizi. Kalau kamu makannya enggak sehat, nanti anak kita jadi ikutan enggak sehat,” pesan Deka usai pemeriksaan kehamilan.


Mereka tengah berjalan di koridor rumah sakit bersalin, menuju pintu keluar. Di sepanjang langkah pulang, Deka terus merocos, mewanti-wanti Ririn tentang pentingnya menjaga kehamilan, terutama soal makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil.


Ririn memutar bola matanya, sedikit kesal. Tanpa diberitahu juga Ririn paham tentang pentingnya menjaga kehamilan.


Memangnya ini anak Abang doang apa, ini 'kan juga anak saya. Pasti saya akan menjaganya. Memangnya Abang doang yang bahagia, saya juga bahagia dengan kehamilan ini. Gumam Ririn dalam hati.


“Iya, Abang sayang. Paham, paham. Lagipula kapan saya makan makanan enggak sehat. Perasaan saya enggak pernah makan batu, kerikil, beling, dan teman-temannya." Ririn berkilah.


“Kamu itu kalau makan bakso atau mi, mesti cabenya harus sekilo. Nanti kalau anak kita di dalam perut kepedesan gimana? Kalau nanti bibirnya jontor bagaimana? Mau, punya anak bibirnya jontor?” lontar Deka.


Malah semakin mengomel seperti emak-emak kalau tupperware-nya dihilangkan oleh anaknya saat membawa bekal ke sekolah. (Ada emak-emak yang kayak gini? Mana orangnya? Mak otornya ngacung 😅)


Ririn tersenyum sembari lebih merapatkan gandengannya di lengan Deka. “Kalau jontor seksi dong, Bang.” Ririn memanyunkan bibirnya, menirukan bibir jontor.


Deka mencubit pelan bibir Ririn. “Mau dicium ya?”


“Dih.” Ririn melepaskan tautan lengannya dan mempercepat langkah menuju mobil yang terparkir.


“Yang ...! Jangan cepat-cepat gitu ih jalannya. Inget ada anak kita sebesar biji wijen!” Teriak Deka yang tentu saja mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.


Iya lah, Bang, baru sebiji wijen. Kalau usia janin lima minggu sudah sebesar naganya Bang Deka malah serem, menakutkan.


Deka berlari menyusul Ririn. Lalu membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta.


“Silakan Mommy Akachan.” Deka mempersilakan Ririn masuk ke mobil. Bergaya bak pangeran yang mempersilakan sang permaisuri.


“Akachan?” Kening Ririn mengerut.


“Yups, panggilan sayang untuk anak kita yang sebesar biji wijen itu,"" sahut Deka.


Baru beberapa jam Ririn dinyatakan hamil, Deka sudah mempunyai panggilan sayang untuk si jabang bayi yang bersemayam di perut istri tercinta. Akachan, begitu panggilan sayangnya. Sebuah nama yang kalau dalam bahasa Jepang berarti bayi.


“Oh, utun maksudnya," kata Ririn.


“Ya, semacam itulah.”


“Lucu juga kedengarannya ... Akachan.” Ririn melemparkan senyum lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah memastikan Ririn duduk nyaman di dalam mobil, Deka berjalan memutar menuju pintu kemudi. Belum sempat ia membuka pintu, ponselnya berdering. Ada sebuah panggilan telepon dari Fery. Ia jadi teringat jika Fery tengah mendaftarkan Tiara ke sekolah.


“Ya, Fer.”


“Brobos, gue mau tanya. Tiara ini anak siapa?” Kening Deka mengerut mendengar pertanyaan Fery di ujung telepon yang menurutnya aneh.


“Anak oranglah, masa anak jin!” sahut Deka asal.

__ADS_1


“Syukurlah. Yang penting bukan anak lo!”


“Masa anak ghue, sumpeh deh lo!” sahut Deka dengan dialek dan bergaya alay. Untung Fery hanya mendengar suaranya, bukan melihat gayanya. Bisa-bisa muntah kalau melihatnya langsung.


“Gimana, sudah mendaftarkan sekolah anak itu?”


“Udah beres, Bos. Ini sedang mau mengantar anak jin ini ke sarangnya," seloroh Fery.


“Thanks ya.”


“Oke. Oya, lo udah tau nama ibu kandungnya Tiara?”


“Udah. Kenapa gitu?"


“Ibunya Tiara itu ...."


"Udah dulu ya, Bos. Ada telepon masuk dari Bos besar.” Fery memutuskan panggilan telepon karena ada panggilan telepon dari Pak Satya, papanya Deka.


\=\=\=\=\=\=


Deka membuka brankas yang berada di kamarnya, selagi Ririn tengah berada di kamar mandi. Ia berniat untuk memberikan hadiah spesial untuk istri tercinta. Ia jadi teringat gelang berlian yang dibelinya saat awal pernikahan mereka. Gelang yang dibeli untuk membujuk Ririn yang tengah marah padanya dulu, tetapi sampai sekarang belum diberikannya.


“Cantik sekali gelangnya, pasti Ririn suka,” gumamnya sambil mengamati gelang yang berada di tangannya.


Terdengar suara pintu diketuk saat ia masih sibuk dengan brankasnya. Ia melangkah menghampiri pintu, lalu membukanya.


“Pah, aku bawakan susu buat Tante,” ucap Tiara di depan pintu. Tangannya memegang sebuah nampan yang terdapat segelas susu di atasnya.


Tiara meletakkan susu itu di atas meja. Setelahnya ia menghampiri Deka yang tengah buru-buru menutup brankas sebelum Ririn keluar dari kamar mandi.


“Pah, makasih ya, udah daftarin aku ke sekolah,” ucap Tiara.


“Iya, iya, udah sana kamu cepetan keluar!” ketus Deka.


Tiara melangkah keluar dari kamar dengan hati membatin. Papa bisa ga sih ngomong lembut sama aku, sekali aja.


Setelah membereskan brankas, Deka beranjak ke ruang kerjanya. Ia berniat menulis surat, ucapan terima kasih atau apalah kepada Ririn.


“Gue nulis apa ya?” Deka berbicara sendiri.


Tangannya sudah memegang bolpoin dan selembar kertas. Berpikir sejenak, lalu ia mulai menuliskan sesuatu di atas meja kerjanya.


Teruntuk : Calon Mommy anak-anakku.


Terima kasih sayang, atas kado terindah yang kau berikan untukku. Terima kasih karena telah menjadikan diriku sebagai suamimu dan sebentar lagi akan menjadikan diriku seorang daddy.


Tentu saja ini adalah hadiah dari-Nya. Aku tahu itu. Tetapi tanpa kasih sayang, cinta dan pengabdian seorang istri, tidak mungkin aku mendapatkannya.


Tidak sabar rasanya menanti saat pertemuan dengannya. Dan kita berdua akan menyambutnya dengan penuh cinta.


Bejanjilah untuk selalu bersabar. Membersamainya dengan kasih sayang selama dia bersemayam dalam perutmu. Dan aku berjanji akan selalu menjagamu, dia dan cinta kita.

__ADS_1


Dari : Pria yang hatinya luluh lantak karenamu.


Selesai menulis surat, Deka kembali ke kamar. Dilihatnya Ririn baru selesai berganti pakaian. Deka segera mendekati dan memeluknya dari belakang, mengecup bahu, lalu pindah ke tengkuk. Menghirup wangi sabun beraroma buah kesukaan Ririn. “Terima kasih ya, Sayang,” ucapnya.


Ririn memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Deka. “Iya, Abang sayang. Saya juga harus bilang terima kasih sama Abang nih.”


“Terima kasih apa?”


“Terima kasih karena sudah bikin saya hamil,” ucap Ririn tersipu.


“Abang, gitu loh,” sahut Deka dengan senyum penuh arti.


“Oh, iya, Abang mau kasih sesuatu sama kamu, Yang," kata Deka.


“Mau kasih apa? Mana coba?” todong Ririn.


“Sebentar.” Deka beranjak menuju lemari untuk mengambil gelang berlian untuk Ririn.


“Loh kok enggak ada. Perasaan aku tadi taruh di sini.”


Deka beralih menuju meja, nakas dan seluruh sudut kamar. Akan tetapi, gelang itu tidak ditemukannya. Terakhir ia membuka brankas, khawatir gelangnya tadi dimasukkan kembali ke brankas. Nihil, gelang berlian yang akan dihadiahkan untuk Ririn itu pun tidak ada di dalam brankas.


“Abang cari apa sih?”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2