Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Bab 97


__ADS_3

Dewa sudah mengantongi sebuah nama terduga pelaku. Meskipun Fery hanya menyebutkan inisial J sebagai otak pelaku penikaman sang kakak, Dewa dapat memastikan J yang dimaksud adalah Jefri, mantan suami Ririn.


Seandainya saja Jefri ada di hadapannya, Dewa pasti akan membalas menikamkan belati pada pria biadab itu. Tidak usah sampai mati, kalau sampai mati, ia bisa dipenjara nanti. Yang penting pria antagonis itu dapat merasakan kesakitan yang Deka rasakan.


Kondisi Deka yang terbaring koma, membuat Pak Satya berpikir untuk menerbangkan putra sulungnya itu ke rumah sakit terbaik di Singapura agar mendapatkan penanganan yang lebih baik dan maksimal.


Maka dari itu, Dewa pergi menemui Ririn untuk mengutarakan keinginan papanya. Mengingat Ririn adalah istri Deka, tentu saja keinginan Pak Satya harus mendapatkan persetujuan Ririn juga.


“Bagaimana keadaan Bang Deka?” lontar Ririn saat Dewa mengunjunginya.


Deka menarik napas pelan sebelum menjelaskan kondisi Deka pada Ririn. “Rin, aku yakin Bang Deka itu sangat kuat. Dan aku punya keyakinan Bang Deka akan kembali pulih seperti sedia kala. Makanya Papa ingin membawa Bang Deka untuk menjalani perawatan di Singapura. Tapi tentu saja harus dengan persetujuan kamu,” tutur Dewa dengan setenang mungkin.


“Apakah itu artinya kondisi Bang Deka parah dan kritis?” tanya Ririn kembali.


“Masih besar kemungkinannya Bang Deka untuk pulih, Rin. Kamu enggak usah khawatir.”


“Kamu enggak menjawab pertanyaan saya Dewa. Apakah Bang Deka kritis?” Suara Ririn bergetar menahan tangis.


Dewa terdiam sejenak untuk menimbang apakah memberitahu keadaan Deka sebenarnya kepada Ririn atau tidak. “Bang Deka sekarang masih belum sadarkan diri. Bang Deka koma,” ungkap Dewa akhirnya.


Tangis Ririn pecah seketika. “Ya Allah, Bang Deka. Huuu ... saya mau ketemu Abang. Huuu ....”


“Tenang Rin, istighfar. Bang Deka pasti sadar kembali dan sehat lagi. Bang Deka pasti kuat. Kita semua selalu berdoa untuk keselamatan Bang Deka.” Mimin yang berada di sana mencoba menenangkan Ririn.


“Ririn harus tenang. Kasihan si kembar kalau Ririn terus-terusan menangis seperti ini. ASI Ririn enggak keluar kalau Ririn terus seperti ini. Kasihan si kembar, belum dapat ASI.” Mami menimpali.


Mengingat bayi kembarnya, Ririn berusaha meredakan tangis. Betul yang dikatakan Mami, sampai saat ini ASI-nya belum keluar mungkin karena terlalu sering menangis.


Ririn meraup napas panjang, untuk mengurangi rasa sesak yang menyeruak di dada.


“Kalau memang itu yang terbaik, saya setuju saja jika Papa mau membawa Bang Deka ke Singapura. Lakukan yang terbaik untuk Bang Deka.”

__ADS_1


“Kita semua sayang dengan Bang Deka, Rin. Kita semua pasti mengharapkan yang terbaik untuk Bang Deka. Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Bang Deka," sahut Dewa.


“Wa, apakah pelakunya sudah ketemu?” tanya Ririn.


“Dua pelaku penikaman itu sudah ditangkap. Sekarang polisi sedang memburu otak pelaku.”


“Siapa otak pelakunya, Wa?” cecar Ririn.


Dewa terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ririn. "Pelakunya ... Jefri.”


“Sudah saya duga, pasti orang itu pelakunya. Kenapa orang itu enggak pernah berhenti mengusik hidup saya. Kenapa dia menyakiti Bang Deka? Kenapa dia enggak bunuh saya saja sekalian!" sahut Ririn penuh emosi.


"Istighfar, Rin, istighfar." Mimin mengingatkan.


"Astagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim," ucap Ririn dengan napas terengah-engah menahan emosi.


Ririn jadi teringat ucapannya saat berdebat tentang masa lalu Deka ketika ia mengalami keguguran setahun yang lalu.


Nyatanya kini, justru masa lalu dirinya yang telah menyakiti Deka. Bahkan, membuat suami tercintanya sampai kesakitan bertaruh nyawa.


\=\=\=\=\=\=


Tiga puluh hari sudah Deka terbaring koma di sebuah rumah sakit di Singapura. Dewa—sang adik yang menunggu di sana. Kadang-kadang Bu Dewi—mamanya Deka juga turut datang ke negeri singa tersebut untuk menjaga putra sulungnya.


“Abang kapan sih bangunnya? Gue udah sebulan loh di sini menemani Abang. Gue kangen sama Mina, kangen sama anak-anak. Abang enggak kasihan sama istri dan anak-anak gue yang juga pasti kangen sama gue.” Dewa yang duduk di kursi tunggu di samping hospital bed, berbicara pada Deka yang terbaring koma dengan berbagai macam peralatan medis menempel di tubuhnya.


“Mama juga kasihan kadang bolak-balik ke sini dan ninggalin Papa sendiri di rumah. Kasihan Mama pasti capek, lelah mikirin Bang Deka terus. Abang enggak kasihan sama Mama apa? "


“Papa juga kasihan karena harus mengurus perusahaan sendiri. Papa tuh sudah tua, seharusnya sudah pensiun. Ini malah harus mengurusi perusahaan sendirian. Kebayang deh gimana pusingnya Papa. Abang enggak kasihan sama Papa?"


"Belum lagi Bang Fery. Dia itu udah jomblo, eh semakin jomblo aja karena ditinggal Abang. Setiap hari dia bengong aja katanya, enggak ada yang ngeledekin dia lagi. Biasanya Abang 'kan yang selalu ngeledekin dia."

__ADS_1


“Yang paling kasihan adalah Ririn dan kedua anak Abang. Abang enggak kasihan apa sama Ririn yang nangisin lo setiap hari. Abang enggak kasihan apa sama kedua anak lo yang sampai saat ini belum melihat kegantengan daddynya. Ririn nangis terus Bang, dia kangen sama Abang. Abang enggak kasihan gitu sama Ririn? Abang enggak kangen sama Ririn apa?"


Dewa terdiam sejenak memandangi kakaknya. Ia berpikir keras bagaimana cara membangunkan Deka dari koma. Sampai kemudian terlintas sebuah ide di benaknya.


“Baiklah, kalau Abang enggak bangun-bangun juga. Terpaksa ... gue akan mengambil keputusan penting dalam hidup gue.”


“Dengan terpaksa dan berlapang dada serta hati bahagia berbunga-bunga, gue akan BERPOLIGAMI saja. Mina pasti akan setuju-setuju saja, daripada melihat Ririn nangis terus ya’ kan?”


“Gue akan nikahi Ririn!" Dewa sengaja menggoda Deka dengan berbicara seperti itu untuk mengetahui reaksinya.


Tit ... tit ... tit ... tit ... tit ...


Usai Dewa berbicara, bedside monitor menunjukkan reaksi. Dewa terperangah dengan reaksi Deka.


“Iya, gue akan nikahi Ririn. Gue akan jadi suami Ririn dan daddy dari anak-anaknya! Ririn akan jadi istri kedua gue!" Dewa berkata lebih keras dari sebelumnya.


Tubuh Deka bereaksi lagi, ditandai dengan denyut jantung yang semakin meningkat yang tampak pada layar monitor.


“Aaaaargh,” lirih Deka.


Dewa bangkit dari duduknya karena terperangah. Ia sangat yakin, Deka tadi bersuara meskipun lirih.


“Abang, sudah bangun ya?” lontarnya sembari menggenggam tangan Deka.


“Aaaaargh.” Terdengar lagi lirih suara Deka.


“Abang sudah sadar ya? Ayo, buka matanya, Bang! Ayo bangun, Bang!" seru Dewa penuh semangat.


Kemudian Dewa merasakan pergerakan tangan Deka dalam genggamannya. Ia meremas tangan Deka lebih keras lagi. Deka membalas dengan menggerakkan jemarinya.


“Abang sudah bangun? Tunggu, Bang, gue akan panggil dokter," pungkas Dewa lalu menekan nurse call untuk memanggil perawat dan dokter.

__ADS_1


 


__ADS_2