Sang Mantan Cassanova

Sang Mantan Cassanova
Buka Dikit Jos


__ADS_3

Sekembalinya dari kamar mandi, Deka mendapati Ririn dan Syad telah terlelap. Istri cantik dan keponakan tersayangnya itu tidur dalam posisi saling berpelukan.


Melihat pemandangan itu, ada perasaan senang dan sedih yang hadir bersamaan. Senang karena bisa kembali menatap wajah cantik yang selalu memesonanya. Sedih karena teringat nasib rumah tangganya. Apakah kelak mereka bisa memiliki anak? Bagaimana caranya?


Mungkin saja, ia bisa melakukan hubungan suami istri menggunakan pengaman agar tidak menularkan virus tersebut kepada Ririn. Namun, bukankah itu artinya mencegah istrinya hamil. Lalu, bagaimana mereka akan mendapatkan buah cinta?


Sama sekali tak terpikirkan akan seperti ini jadinya. Ia merasa seperti sedang dikutuk oleh masa lalu. Dan Ririn, wanita cantik baik hati itu terpaksa mendapatkan imbasnya. Kebahagiaan yang dulu ia janjikan pada Ririn, belum dapat tertunai sempurna.


Duduk di tepi ranjang, ia menghela napas panjang. Menatap wajah Ririn saja telah membuat hatinya menghangat. Apalagi jika dapat menjalankan pernikahan ini sebagaimana mestinya. Meneguk manis dan pahit berumah tangga. Mendekap suka dan duka berkeluarga bersama orang tercinta. Rasanya pasti sungguh luar biasa.


"Ya Allah akankah aku merasakan itu semua," lirihnya.


Deka mengecup pipi Ririn yang tidur dengan posisi berbaring miring, berhadapan dengan Syad. Tidak lupa, ia juga mengecup pipi Syad, keponakan tersayang. Setelahnya ia turut berbaring, memeluk Ririn dari belakang. Hingga rasa lelah membuat dirinya memejamkan mata lalu terlelap.


Ririn merasakan hangat pelukan Deka saat membuka mata. Benar saja lengan kokoh itu tengah memeluknya. Embusan napas Deka juga terasa meniup-niup tengkuk, merembas hingga ke pori-pori. Membuat sekujur tubuhnya meremang. Membuat aliran darahnya terasa hangat berdesir mengaliri seluruh tubuh.


Dari ritme helaan napas, lengkuran halus, juga lengan Deka yang terasa berat dan membebani tubuhnya, Ririn dapat memastikan suaminya itu telah terlelap. Ia mengangkat pelan lengan Deka yang melingkari tubuhnya lalu bergeser posisi pelan.


Ia memalingkan wajah pada Deka yang telah pulas di sampingnya. Ditatapnya raut tampan suaminya itu. Alis hitam, hidung mancung, warna bibir yang tidak hitam sebab Deka memang tidak merokok. Kulit wajah yang putih, namun tidak tampak kemayu. Semuanya itu terbingkai dalam garis rahang yang kuat.


Sesungguhnya ia merasa tersanjung dan berbunga kala mengingat pria rupawan itu memilihnya. Mempercayakan separuh hidup, separuh jiwa kepadanya. Namun sayang, jika pernikahan ini diibaratkan sebuah kapal, dirinya tengah berada di kapal yang sangat mewah, namun kapal itu urung berlayar sebab sang nahkoda yang masih ragu dan kebingungan.


Saat Ririn masih merenungi hubungan pernikahannya, terdengar bunyi dering ponsel Deka yang tergeletak di atas nakas. Ririn beringsut turun untuk melihat siapa yang menelepon. Gerakan Ririn dan suara dering ponsel malah membangunkan Syad dan Deka.


“Huaaa ... huaaa.” Syad menangis histeris.


Ririn yang sudah turun hendak meraih ponsel, kembali naik ke tempat tidur untuk menenangkan Syad.


“Abang, angkat telponnya!” seru Ririn.


“Hemm, iya.” Deka menyahut dengan mata terkantuk-kantuk. Baru ia akan meraih gawainya, dering ponsel itu telah terhenti.


“Nda ... Yayah ...” Syad meraung mencari ayah bundanya dengan mata terpejam.


“Syad, jangan nangis. Ada mommy, ada Daddy juga di sini.” Ririn berbaring memeluk menenangkan Syad.


“Ciluk ... baaaaa.” Deka yang bersembunyi di belakang tubuh Ririn, menyembulkan kepalanya.


“Daddy, Daddy, Daddy,” sahut Syad riang. Bocah itu memang sangat dekat dengan Deka.


“Bobo lagi, Jagoan!” seru Deka sembari memeluk tubuh Ririn dari belakang.


“Ish, Abang!” Ririn hendak melepaskan tangan Deka yang melingkar di dadanya.


“Kenapa sih, Sayang? Ga boleh gitu, meluk kamu begini.” Deka semakin mengeratkan pelukannnya.


Kemarin ditingalin. Sekarang peluk-peluk. Ririn berdecak dalam hati.


Syad yang tengah dalam posisi berbaring, beringsut bangun, lalu duduk di tengah-tengah Ririn dan Deka. Sontak membuat Deka melepaskan pelukannya pada Ririn.

__ADS_1


“Eh, kok Syad duduk di sini, sih," keluh Deka.


Ririn mengangkat tubuh kecil Syad lalu didudukkannya pada perut Deka. “Syad, duduk di sini aja,” ucapnya.


Syad tertawa kegirangan. “Yey, naik kuda.”


Ririn terkekeh melihat raut murung Deka.


“Naik kudanya nanti, dong! Daddy yemes (lemes), nih,” ujar Deka menekuk wajahnya.


“Huaaa ... Daddy nackal! Huaaa ....” Syad menangis karena ucapan Deka.


“Abang, sih!” tegur Ririn.


“Eh, boleh boleh boleh. Boleh Syad, boleh.” Deka meralat ucapannya.


“Huaaa .... “ Syad tetap menangis.


“Gendong aja, yuk!” Deka bangun lalu menggendong Syad.


Ponsel Deka berdering lagi. Ririn yang berada paling dekat dengan letak ponsel, segera meraihnya. Dilihatnya ada panggilan telepon dari Dewa.


“Dari Dewa. Saya aja yang jawab , ya,” kata Ririn.


“Iya, jawab aja, mungkin penting,” pinta Ririn sembari menggendong Syad.


“Halo, Wa. Bagaimana keadaan Mimin? Bayinya udah lahir? Selamat dan sehat semuanya 'kan?" Ririn langsung memberikan berondongan pertanyaan.


"Aku ga pernah cek golongan darah. Tapi mungkin saja sama karena kami 'kan kembar."


"Mau ya Rin, kamu mendonorkan darah untuk Mina?"


"Ya ampun Wa, ga usah diminta juga pasti aku bersedia. Terus gimana? Aku harus ke rumah sakit sekarang?"


"Syad, lagi apa?"


"Baru bangun tidur, tuh lagi digendong sama Abang."


"Ya sudah kalau Syad udah dimandiin, nanti kamu ke sini ya. Kalau bisa Syad ga usah diajak ke rumah sakit. Kalau Opi ga ada kegiatan kampus, Syad titipin ke Opi aja."


"Iya, sebaiknya gitu."


"Ya udah gitu aja ya, Rin. Makasih ya."


"Sama-sama. Semoga persalinannya lancar, Mimin dan bayinya sehat dan selamat."


"Amin Allahumma Amin. Makasih ya, Rin. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."

__ADS_1


Setelah panggilan telepon terputus, Ririn menghampiri Deka yang sedang mengajak Syad bermain mobil-mobilan.


“Bang, kita harus ke rumah sakit. Dewa butuh donor darah untuk Mimin,” ujar Ririn.


“Memangnya Jasmin kenapa? Apa ada masalah dalam proses persalinannya?” tanya Deka khawatir.


“Enggak kenapa-kenapa sih. Katanya untuk jaga-jaga aja kalau ada kondisi darurat.”


“Ya udah, kita berangkat sekarang aja.”


“Iya. Saya mau mandi dulu sekalian mandiin Syad.” Ririn meraih Syad dalam gendongan Deka.


“Kita mandi, Sayang,” ucap Ririn seraya menciumi pipi Syad.


“Mau dong dimandiin kamu,” goda Deka.


Ririn berdecak menanggapi godaan suami tampannya. Ia berjalan melenggang menuju kamar mandi sambil menggendong Syad.


“Abang mau ngapain?” Ia mengerutkan kening saat mengetahui Deka ternyata mengikuti langkahnya di belakang.


“Enggak. Cuma pengen tahu istri abang yang cantik ini kalau lagi mandi, lagu pengiringnya lagu apa?”


“Lagu pengiring apa sih?” Ririn memutar tubuh dan melanjutkan langkahnya kembali.


“Kan kalau kita mandi itu biasanya sambil nyanyi. Nah, abang pengen tahu, kamu kalau mandi, sambil nyanyi lagu apa?”


Ririn masuk ke kamar mandi, lalu diturunkannya Syad. “Bener, Abang mau tahu?” tanyanya seraya memegang daun pintu.


“Iya, lagu apa?” Deka tersenyum antusias.


“BUKA DIKIT JOS!” seru Ririn lalu menutup pintu. Braaaak ...


Deka terbengong-bengong di depan pintu kamar mandi.


“Buka dikit jos? Lagu apa itu?” Deka menggaruk kepalanya.


Deka tidak mengetahui lagi itu, tapi mendengar Ririn mengucap kalimat ‘buka dikit jos’ membuatnya ingin keramas.


Sampo, mana sampo?


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2