
Rendra pun kini sudah duduk di samping kemudi dengan sudah dipasangkan sabuk pengaman.
"Hati-hati Au," ucap Ansel. Aura pun mengangguk dan langsung melajukan mobil Ansel itu ke resort miliki Rendra.
Di perjalanan, Aura melihat ke arah Rendra yang mabuk tapi hanya bisa terkulai lemas disana.
"Bisa-bisanya Ansel malah menghubungiku saat kau mabuk dan memintaku untuk mengantarkan mu. Dasar pria keras kepala! Menyusahkan juga!" ucap Aura.
Setelah mengatakan itu, Aura fokus menyetir kembali. Hingga ia pun sudah sampai di resort milik Rendra. Ia keluar dari mobil dan membuka pintu satunya untuk membawa Rendra keluar dari mobil.
Aura melepaskan sabuk pengaman Rendra. Ia mulai memapah Rendra yang tubuhnya pasti lebih besar dan lebih tinggi darinya. Walaupun agak susah, Aura bersusah payah membawa Rendra hingga sampailah di depan resepsionis.
Sang resepsionis yang tahu kalau pria tersebut adalah bos nya pun, membantu Aura membawa Rendra ke kamarnya hingga membaringkan Rendra hingga ke ranjangnya.
"Bukankah anda nona yang kemarin-kemarin ditampar?" tanya karyawan resepsionis itu.
"Eum ... " jawab Aura.
"Kenapa Tuan Rendra bisa mabuk seperti ini?" tanya resepsionis itu lagi.
Aura mengangkat bahunya seolah mengatakan tidak tahu.
"Baiklah, tolong lepaskan kaos kaki dan sepatu milik Tuan Rendra. Karena saya harus kembali lagi bekerja," ucap si resepsionis itu.
Aura pun hanya bisa patuh, karena memang hanya dirinya yang tidak ada kegiatan. Dengan terpaksa, Aura melepas kaos kaki dan sepatu Rendra. Kemudian memberikan selimut setengah badan pada Rendra. Saat akan melepas kedua kancing atas Rendra agar Rendra tidak kepanasan, tangan Aura tiba-tiba ditarik dan berakhir jatuh di pelukan Rendra sambil terduduk.
"Haish! Begini yang katanya tidak akan macam-macam! Dasar Ansel sialan!"
Aura mencoba melepaskan pelukan itu, akan tetapi cengkeraman tangan Rendra terlalu kuat hingga Aura pun hanya bisa pasrah. Karena hari semakin larut, Aura sedikit mengantuk dan untungnya cengkeraman itu sudah melemah. Aura pun hendak pergi, akan tetapi lagi-lagi tangannya digenggam oleh Rendra. Alhasil ia pun tertidur sambil terduduk di tepian ranjang Rendra dengan tangan mereka yang saling bertaut.
*
*
Paginya, Rendra dan Aura dikejutkan dengan suara teriakan seorang wanita yang membuat telinga mereka kesakitan karena saking kerasnya teriakan itu.
"OMG! Rendra apa yang kau lakukan bersama wanita di dalam kamar?! Astaga! Astaga! Bilangnya tidak percaya cinta! Sudah tidak percaya wanita lagi! Tapi apa yang aku lihat sekarang?! Wow! Sepertinya aku harus memberitahu mama. Kalau dia akan segera punya mantu!"
Dan benar saja, Ela langsung memberikan pesan ke mamanya kalau dia akan segera punya mantu karena kembarannya sudah memiliki kekasih lagi.
__ADS_1
Rendra yang hanya fokus pada teriakan Ela pun, akhirnya sadar jika tangannya menggenggam sesuatu. Ketika melihat ke samping, betapa terkejutnya ia ada Aura di dalam kamarnya.
"Sedang apa kau di kamarku!?" teriak Rendra.
Aura membuang muka malas. Jika bukan karena Rendra yang tiba-tiba memeluknya, ia pasti sudah pulang dan kini ada di dalam kamarnya masih rebahan.
Ela pun seketika tersadar sesuatu.
"Jadi, kalian tidak pacaran? Bukan sepasang kekasih?" tanya Ela.
Dengan lantang keduanya menjawab, "Tidak!"
Tiba-tiba Ela menelan ludahnya sendiri. Sudah salah memberikan informasi kepada mamanya. Takut kembarannya akan sadar karena ulahnya, Ela pun pamit dan membiarkan kedua orang itu melanjutkan perdebatan mereka.
"Aku pergi. Lanjutkan lagi perdebatan kalian. Aku datang karena mama memintaku untuk mengecek keadaanmu," ucap Ela kemudian berlari keluar dari kamar Rendra.
"Aku harus bersikap bagaimana sekarang? Haduh! Mulut ini! Tangan ini! Kenapa sih tidak bisa diam saja ketika melihat sesuatu yang tidak terduga! Bisa gawat kalau ikan Lendra itu marah. Bahaya! Dunia pasti akan berantakan! Haish!" kesal Ela.
Kembali pada Rendra dan Aura di dalam kamar Rendra, Aura pun menjelaskan semuanya, tentang bagaimana ia bisa berada di dalam kamar Rendra dari A sampai Z. Rendra pun jadi sedikit malu, tapi ia mencoba tidak memperlihatkan rasa malunya itu.
"Karena kau sudah baik, aku akan mentraktir mu untuk sarapan di resort ini," ucap Rendra.
Rendra pun mengangguk.
"Aku tunggu di meja makan dekat kolam renang ya. Aku akan memesan makanan apapun yang aku inginkan. Awas saja kalau kau berbohong! Aku akan ceritakan apa yang kau lakukan padaku semalam pada wanita tadi."
"Wanita tadi adikku," ucap Rendra.
"Oh, iya kah? Tapi benar juga, kau kan masih tidak percaya cinta dan wanita. Tidak mungkin jika wanita tadi adalah pacarmu."
Setelah mengatakan itu, Aura benar-benar keluar dari kamar Rendra tanpa mencuci wajahnya terlebih dulu. Hal itu membuat Rendra terheran-heran.
"Dasar wanita aneh!"
Rendra pun turun dari ranjangnya, ia melihat kaos kaki dan sepatunya yang sudah rapih di dekat tembok. Ia pun menyangka hal tersebut Aura lah yang melakukannya. Seketika senyum tipis pun mengembang. Entah apa artinya senyuman itu, hanya Rendra lah yang tahu.
*
*
__ADS_1
Di ruang makan yang berada dekat dengan kolam renang, Aura menantikan makanan yang sudah ia pesan sambil melihat anak-anak berenang disana. Pemandangan di pagi hari yang sangat indah.
Ia bahkan tidak peduli dengan penampilannya yang sudah tidak karuan dengan make-up yang sudah acak-acakan. Lebih tepatnya, Aura belum sadar.
Tak lama kemudian, Rendra datang dan duduk di depan Aura.
"Kau tidak ingin cuci muka dulu?" tanya Rendra.
"Untuk apa?" tanya Aura.
Rendra pun mengambil kaca kecil dalam saku bajunya dan mengarahkannya ke wajah Aura.
"Astaga! Wajahku! Pantas saja dari tadi aku dipandang aneh dan ditertawakan sepanjang jalan mau kesini! Oh tidak!" panik Aura.
Rendra menahan tawanya agar tidak keluar melihat tingkah Aura.
"His! Kenapa kau tidak bilang sih sebelum aku keluar dari kamarmu tadi!" kesal Aura kemudian berdiri dan berlari kecil ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Setelah kepergian Aura itu, Rendra tertawa. Ia tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran Aura itu.
"Benar-benar wanita aneh!"
Sadar kalau sikapnya berlebihan, Rendra pun seketika terdiam.
"Kenapa aku tertawa?" ucap Rendra bertanya-tanya.
Ia pun kembali bersikap seperti biasanya. Tak lama kemudian pelayan datang dan membawakan semua pesanan Aura. Mata Rendra terbelalak karena pesanan yang Aura pesan sangatlah banyak.
"Apa kau tidak salah membawakan semua makanan ini kesini?" tanya Rendra.
"Tidak Tuan. Nona yang tadi duduk disinilah yang memesan," jawab si pelayan.
"Baiklah, kau boleh kembali bekerja," ucap Rendra.
"Badan sekecil itu mau menghabiskan makanan sebanyak ini? Yang benar saja!" ucap Rendra tidak percaya.
*
*
__ADS_1
TBC