
Bulan demi bulan pun telah berlalu. Aura sudah membuka toko bunganya dan banyak dikunjungi orang-orang.
Terkadang jika di waktu senggang Alin pun ikut membantu Aura untuk melayani pelanggan. Seperti sekarang ini, Alin sedang merangkai bunga untuk salah satu pelanggan.
"Tolong tuliskan ucapannya ya mba," pinta si pelanggan.
"Siap mas. Untuk siapa?" tanya Alin.
"Nyimas Astuti," jawab si pelanggan.
Alin pun sudah menuliskan ucapan yang diinginkan oleh si pelanggan.
"Ini mas. Terima kasih sudah datang di AA Flower. Semoga mba nya suka dengan bunganya."
Si pelanggan pun mengangguk dan membayar bunga itu lalu pergi.
Alin mendekat ke kakaknya yang sedang membuang daun kering dan menanam tanaman bunga yang baru di belakang ruko toko bunga mereka. Kakaknya terlihat bahagia dan menikmati hidupnya kali ini. Alin benar-benar bersyukur untuk itu.
"Kak," panggil Alin.
"Iya dek? Apa ada banyak pelanggan di depan?"
"Tidak kak, aku hanya merasa senang saja melihat kakak yang sekarang. Selalu ceria dan melakukan apapun sesuka kakak," ujar Alin.
Aura tersenyum mendengarnya.
"Begitu kah? Yah, mungkin karena kakak mulai menjalani ini semua dengan rasa syukur. Jadi, meski masih memiliki hutang dan tanggungan biaya kuliahmu. Rasanya sekarang kakak bisa lebih menikmati hidup ini."
"Bukan karena kak Rendra?" goda Alin hingga membuat pipi Aura merah merona.
Ya, sebenarnya karena itu juga. Hanya saja Aura tidak ingin mengucapkannya.
Baru saja disebut, Rendra muncul tiba-tiba disana dan menunggu jawaban dari pertanyaan yang Alin lontarkan pada Aura.
"Astaga! Kak Rendra aku kaget tahu!" kaget Alin.
"Oh, sorry."
"Kok kau tidak menjawab pertanyaan adikmu, Au?" tanya Rendra.
Bukannya menjawab, Aura malah pergi dari sana.
"Kakakmu kenapa Lin?" tanya Rendra yang kebingungan.
__ADS_1
Alin hanya mengangkat kedua bahu dan tangannya seolah-olah mengatakan tidak tahu.
Padahal dikenyataanya Aura pergi karena malu. Tubuhnya masih bau tanah dan pupuk karena habis merawat tanamannya juga pakaian yang ia kenakan sedikit kotor.
"Haish! Lagian kenapa Rendra tidak bilang kalau mau kesini?"
Aura masih berada di satu ruangan yang sengaja dibuat untuk ruang istirahat dan menyimpan beberapa pakaian Aura. Ia berganti baju disana. Kemudian keluar dengan pakaian yang baru.
Akhirnya Alin sadar kenapa kakaknya pergi. Rupanya ia ingin terlihat cantik di hadapan kekasihnya. Alin tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa lama sekali di dalam?" tanya Rendra.
"Kau sih datang nggak bilang-bilang! Aku kan tidak mau memperlihatkan diri dengan kondisi yang kotor dan kusam seperti tadi."
Rendra mengacak-acak rambut Aura karena gemas.
"Mau kotor, mau kusam, mau bau sekalipun kau tetap cantik di mataku, Au."
"Dasar bucin!" teriak Alin yang tidak mau jadi korban dari kebucinan mereka berdua. Alhasil, ia pun kembali ke depan dan merapihkan bunga-bunga disana.
"Ish! Kau ini! Kalau ada Alin jangan dempet-dempetan begini! Jangan memujiku juga," larang Aura.
"Sekarang kan kita cuma berdua. Jadi boleh dong kalau mau dempet-dempetan?"
Sepertinya aku tadi salah bicara. Rendra kan sekarang sudah pandai membolak-balikkan perkataanku.
"Gimana sayang?" tanya Rendra lagi sambil mendekatkan tubuhnya ke Aura. Bahkan kini wajah keduanya sudah berhadapan. Ketika kurang beberapa cm lagi untuk bertemu, Aura menutup bibir Rendra dengan tangannya.
"Tolong kendalikan bibir anda ya Pak Rendra," ucap Aura.
Karena mulutnya yang ditutup, Aura pun memanfaatkan tangannya untuk mendekap tubuh Aura. Kemudian satu tangannya ia gunakan untuk membuka tangan yang menutup mulutnya.
"Bibirku ini hanya lepas kendali padamu, Au. Makanya jangan cantik-cantik dan mempesona supaya aku diam."
Tanpa diduga Rendra lalu mengecup kening Aura dalam-dalam. Ia tahu, Aura sangat tidak nyaman dikecup di bagian bibir karena mereka masih berpacaran bukan suami istri. Apalagi jika dilihat orang, duh! Tidak tahu lagi deh bagaimana malunya Aura. Ya, kejadian itu sudah terjadi sekali. Ketika mereka yang berciuman di rumah Rendra dan dilihat oleh Ela. Aura sampai malu ketika bertemu dengan Ela. Bahkan ia sampai menghindar dari Rendra untuk beberapa waktu.
"Aku kesini karena rindu. Pekerjaanku setiap harinya selalu bertambah. Jadi, tidak bisa selalu menghabiskan waktu bersamamu. Maka dari itu, aku ingin menyempatkan waktu untuk sesekali datang di jam istirahat seperti sekarang. Jadi, mulai sekarang kalau aku datang tiba-tiba kau tidak usah kaget lagi dan tidak usah mengganti baju. Kau bahkan terlihat sangat cantik tadi."
Lagi-lagi Aura dibuat merona oleh Rendra. Laki-laki itu jadi semakin suka memuji Aura dns mengutarakan apapun yang ada di pikirannya. Dan hal itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantung Aura. Aura merasa lebih baik Rendra jadi seperti dulu dan tidak seperti sekarang. Namun, Rendra selalu menolak dan bilang, "Kalau soal cinta dan kasih sayang. Aku bukanlah orang yang bisa menyembunyikannya. Aku selalu ingin menunjukkan bagaimana aku menyayangi orang tersebut dengan perlakuanku padanya. Jadi, jangan memintaku untuk menjadi aku yang dulu karena jawabannya tidak bisa. Paham sayang?"
"Inilah yang aku takutkan, kau akan semakin pintar merayu. Hih! Aku kan kesal jadinya," ujar Aura yang tidak ingin mengakui bahwa dirinya sebenarnya tidak kesal tapi senang.
"Kesal apa kesal? Hm?" goda Rendra sambil menaikan rambut Aura.
__ADS_1
"Ih!" Aura menggembungkan pipinya.
"Hihi, kau ini lucu sekali seperti ikan fugu. Haha," ujar Rendra lalu mengecup pipi itu.
Tiba-tiba ponsel Rendra berbunyi. Rendra pun langsung membukanya dan melihat isi pesannya.
"Aku kembali ke kantor dulu. Kak Elnan membutuhkanku," pamit Rendra.
Aura jadi sedih. Padahal mereka baru saja berbicara dan bertemu sebentar. Bahkan tidak ada setengah jam pun.
"Secepat itu?" tanya Aura yang tidak rela Rendra pergi.
"Iya sayang. Kau tidak rela ya aku pergi?"
"Ya sudah sanah pergi!"
Bukannya menjawab pertanyaan Rendra, Aura malah menyuruh Rendra sekalian pergi saja.
"Sebagai gantinya, besok malam kita kencan. Bagaimana? Mau?"
Dengan spontan Aura mengangguk.
"Dasar!" Rendra kembali mengacak-acak rambut Aura.
"Bagaimana aku tidak pandai merayu? Kau saja suka sekali ngambek begini. Bagaimana coba caranya meredakan emosimu itu kecuali dengan merayu? Jadi kalau aku pandai merayu itu semua karena mu sayang."
"Iya, iya. Sana pergi! Pasti kak Elnan menunggumu!"
"Tidak ada salam perpisahan dulu gitu?"
"Memangnya kau mau berpisah denganku?"
"Haish! Bukan itu maksudnya Aura! Gemas aku tuh!"
Akhirnya Rendra pun memberi kecupan di bibir Aura meskipun hanya beberapa detik saja kemudian pergi dan melambaikan tangannya.
Aura jadi kesal juga tersenyum senang. Ia bahkan masih agak tidak percaya kisah cintanya bisa semulus ini dengan Rendra. Bahkan dari keluarga Rendra pun tidak ada yang membencinya. Mereka menerima Aura dengan sangat baik. Bahkan saking baiknya, Aura tidak ingin membuat mereka kecewa padanya dan bersedih karena dirinya.
*
*
TBC
__ADS_1